Nona Pemilik NISN 0022041937
•Rangkum 23 Mei 2023
•Karangan NyanaLyn
Aula SMA dipenuhi SIBA (siswa baru) angkatan 2020. Hari ini bertepatan dengan diselenggarakannya tes psikologi yang akan menentukan posisi tiap murid akan ditempatkan di jurusan IPA atau IPS.
Berbekal handphone bekas pemberian adik, aku mengikuti serangkaian kegiatan acara tes dengan khidmat. Menyimak serius sajian materi silih berganti dari beberapa guru dan panitia tes jurusan.
Ditangan ku terselip selembar kertas yang sebelumnya telah dibagikan para panitia perorangan pada murid yang mengikuti tes.
Aku duduk dibarisan kiri, terjebak di tengah-tengah dengan wajah para SIBA yang baru kulihat. Di depan ku bahkan juga ada seorang gadis dengan rambut tergerai, masih dengan setia mengenakan masker di kondisi wabah yang terus merambah. Akan tetapi aku dapat dengan jelas melihat kemulusan kulit wajahnya yang berwarna kuning langsat.
Dengungan mic terdengar melengking, atensi tiap murid fokus ke depan. Menerka-nerka apa yang akan dilakukan dengan kertas yang sudah dibagikan.
"Assalamu'alaikum, selamat siang anak-anak," seru salam panitia menggema dengan bantuan pengeras suara yang langsung mendapat balasan salam serempak dari kami semua.
"Ibu selaku pembicara di hari tes ini akan menjelaskan penyelenggaraan tes psikologi jurusan yang kali ini akan dilaksanakan dengan 3 tahap tes. Bisa dilihat kertas yang sudah kalian kantongi. Di sana tertera 3 jurusan yang kami sediakan di sekolah ini. Namun kami juga melakukan seleksi ulang untuk menentukan posisi kalian," lanjut wanita yang bernama tag Annie Wahyuni-selaku panita dan pembicaraan acara.
Tes dilangsungkan dengan cepat dan serempak, suasana aula tetap tenang, tidak ada yang menyela. Semua memilih duduk diam ditempat masing-masing menunggu tiap deretan tes yang masih berlangsung dan kami ikuti semua dengan penuh keseriusan.
•••
Melewatkan beberapa hari kemaren setelah tes psikologi terlewati dengan lancar. Kini tiba masa MPLS SIBA dengan deretan kegiatan full selama tiga hari berturut-turut.
Sejak hari pertama mendaftarkan sekolah, aku juga diajak berkenalan dengan beberapa SIBA perempuan.
Orang pertama yang aku kenal dan menyapaku lebih dulu waktu itu, pada saat aku tengah duduk mengisi biodata pendaftaran. Perempuan berjilbab instan putih dengan seragam putih biru dari SMP nya. Perempuan itu menghampiriku untuk meminjam pena, kami juga sempat berteguran sebentar dan aku hanya sekilas mengingat rupa wajah dan namanya-Ainum, itu pun kalau tidak salah dengar.
Dihari itu pula aku berkenalan lagi dengan satu perempuan, perawakannya tinggi kurus, bahkan tinggi badanku hanya sebatas bahunya saat bersanding. Kami berkenalan nama dan mendadak langsung menjadi sangat akrab, bahkan sudah sampai bertukar nomor WhatsApp.
Dia- Rifdah teman perempuan yang menjadi teman kedua dari awal mendaftar sekolah hingga pelaksanaan MPLS berlangsung dan masih tetap care dan akrab dimasa itu.
Dihari pelaksanaan pertama MPLS dengan anggota kelompok yang sudah ditentukan, kami semua menjalaninya dengan suka cita dan gembira. Sedikit manis dan berakhir banyak nelangsanya.
Antara membandingkan PLS semasa awal masuk SMP dan sekarang MPLS masa SMA tidaklah sama. Dimana dulu saat masih menjadi SIBA di SMP disambut hangat dan sikap friendly para kakak kelas yang sangat care.
Berbeda dengan masa sekarang, beberapa para anggota OSIS dan MPK di SMA sangat jauh sikapnya dari kakak kelas alumni SMP. Wajah-wajah kakak kelas dimasa SMA ku, lebih banyak yang terlihat sok tegas, sombong dan songong. Mungkin itu hanya dari sudut penglihatanku saja. Dibenarkan pula dengan bukti saat kegiatan MPLS berlangsung, ada beberapa wajah yang aku sebutkan perangainya terlihat semua belangnya saat bertugas memimpin.
•••
Dihari ketiga, hari terakhir pelaksanaan MPLS sekaligus pengumuman jurusan, aku dibuat ketar ketir. Masa-masa dimana aku baru memiliki ponsel walau bekas, dengan pengetahuan dangkal yang belum terlalu luas dengan serangkaian aplikasi digital.
Sebelumnya, saat dirumah kakak ku sudah membekaliku dan menjelaskan apa saja ang harus aku masukan nanti saat MPLS menggunakan aplikasi online. Kakak juga sudah mengirimkan alamat e-mail dan sandinya yang nanti akan aku gunakan untuk login.
Namun saat hari itu tiba, dimana saat hari terakhir pelaksanaan MPLS, selaku panitia-bapak Padiya mengenalkan aplikasi Classroom yang digunakan untuk tinjauan data siswa dan juga wadah pembelajaran berbasis daring karena wabah virus semakin merajalela, aku malah hampir menangis dibuatnya.
Ponsel dengan fungsi yang tidak begitu canggih bahkan dikategorikan ketinggalan dan juga daya batrei yang cepat habis membuat aku sengsara sendiri. Di tempat luas, satu atap dengan ratusan SIBA, aku terpojok di barisan belakang. Keringat menggulir di wajahku yang cemas tidak karuan. Mencoba tenang dengan aplikasi yang sudah kakak ku dowloadkan sebelumnya saat dirumah. Memasukan alamat e-mail dan sandinya, dan aku berhasil. Namun rasanya masih abu-abu sekali harus melakukan apa saat berhasil login dengan aplikasi tersebut.
Dengan kebingungan ku, Rifdah teman baru ku itu bersedia membantu aku yang kesusahan, dibantu pula dengan gadis disampingnya yang aku tau namanya adalah Azira. Dia sendiri yang mengenalkan namanya itu, dan bahkan mengajak bertukar nomor ponsel.
Hari yang cukup menguras otak kampungan ku dan terlaksana dengan lambat walau akhirnya selesai tanpa kendala. Di penghujung pintu yang tertempel deretan kertas SIBA yang ditempatkan di jurusan IPA maupun IPS, aku hanya melewatinya tanpa berniat melihat.
Daya ponsel ku sudah habis, berniat ingin memotret dan membacanya dirumah tertahan apalagi dengan gerombolan SIBA yang berkerumun. Aku keluar ditengah cuaca mendung, berjalan menuju gerbang dan terus menuju halte depan-menunggu jemputan dari Bapak kesayangan ku.
Sesampainya dirumah, dengan tubuh yang gemetar menahan lapar, aku langsung menyantap bekal ku yang tertunda. Salah ku sendiri mendengarkan ucapan sepupuku yang juga teman alumni SMP itu gengsi dan malu saat melihat aku makan dikerumunan ruangan aula yang penuh dengan SIBA saat MPLS terakhir berlangsung. Dan imbasnya aku sendiri yang lemas dan kelaparan, beruntung bapak dengan kepekaan tinggi pada anak perempuannya itu menyuruhku lekas mengisi perut dan hari itu pula aku menutup kisah masa tes jurusan dan MPLS dengan kenangan terpotong-potong bersama teman-teman yang baru ku kenal.
Send Rifdah
"Ana, ini nomor ponsel teman ku. Namanya Randi. Dia juga satu jurusan dan satu kelas sama kamu. Chat aja orangnya langsung, bilang kamu kenal dari aku." Pesan Rifdah dimalam sebelum aku hendak tertidur.
Melirik sekilas deretan pesan dan membacanya. Aku menimbang-nimbang apa kah harus, berkenalan dengan sosok teman Rifdah yang bernama Randi itu?
Ragu-ragu aku men-save nomor Whatsapp nya, tanpa ada niat akan menghubungi. Dan buru-buru pula aku membalas pesan Rifdah.
"Thanks Rifdah, nanti kapan-kapan aku hubungi teman kamu itu." Balasku cepat dan menyimpan ponsel di meja lalu melanjutkan dengan menutup mata. Pola pikir ku melayang membuka kisah lembaran baru di sekolah menengah akhir yang akan aku emban selama 3 tahun ke depan.
Menerka-nerka dengan kisah apa yang akan aku hadapi selanjutnya dengan teman baru di sekolah, menjalani pendidikan daring dengan kondisi wabah yang terus merambah luas.
End...
Thanks 🙏🙇
Sekilas cerita dimasa lampau, dan perjuangan aku menamatkan pendidikan SMA
2021 Daring online 1,5 tahun
2022 Sekolah sore ( Sift ) 6 bulan
2023 Tatap muka 1 tahun