[Wanita dunia lain]
Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu, tentang kisah cintaku dengan seorang perempuan yang muncul tiba-tiba. Seperti sebuah anugrah, dia datang dalam kehidupan ku yang monoton.
"Jadi, dari mana asal mu?"
Aku bertanya padanya yang ku temukan di tepi sungai, dia memiliki gaya baju yang berbeda dan belum pernah aku lihat sebelumnya.
'Mungkin dia datang dari kerajaan lain'
Aku berpikir demikian karena penampilannya itu.
Dia tidak menjawab apapun. Aku pikir dia bisu, karenanya aku berbicara padanya dengan isyarat.
Saat memintanya untuk makan aku akan melakukan pose seperti makan dan dia mengangguk lalu ikut makan bersamaku, saat memintanya untuk tidur aku meragakan pose tidur dan dia mengangguk lalu tidur di kamarku—akhirnya aku tidur di sofa.
Kami tinggal bersama. Aku mencoba bertanya pada beberapa pelancong yang datang dari kerajaan lain ke desa kami, namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui gaya baju yang perempuan itu gunakan.
Jadi aku pikir, apakah dia berasal dari dunia lain seperti dalam dongeng? Itu agak masuk akal kalau mempertimbangkan tentang dia yang tidak tahu apapun tentang desa ini.
Aku pikir dia bisu. Namun suatu hari aku memergoki dirinya sedang berbicara dengan seekor kucing, dia memakai bahasa yang tidak aku ketahui. Sudah ku duga, dia bukan berasal dari dunia ini karena itulah dia berbeda.
Terbesit dalam pikiran ku untuk melaporkannya pada tuan tanah, tapi kalau aku melaporkannya apa yang akan terjadi pada perempuan itu? Sejenak otak ku langsung memutar kembali momen saat kami bertemu untuk pertama kalinya.
Dia memiliki banyak luka lebam dan bertelanjang kaki, selain itu tubuhnya juga gemetar dan dia tidak langsung bersahabat denganku. Awalnya bahkan dia ketakutan padaku, seburuk apa kehidupannya sampai dia seperti itu? Saat memikirkannya aku pun menjauhkan niatku untuk melaporkan perempuan itu ke tuan tanah.
Sejak aku mengetahui kalau dia tidak bisu, aku mulai mengajarinya membaca dan menulis. Meskipun hanya rakyat biasa tapi aku cukup kaya dengan menjual hasil buruan ku yang selalu laku di pasaran, karena itu membeli buku yang mahal tidak masalah untukku.
Aku bisa membaca dan menulis, dulu teman mendiang kakek ku adalah bangsawan karena itu dia dengan senang hati membagikan ilmunya padaku selaku cucu dari sahabatnya.
Dia pintar. Dalam waktu dua bulan kami sudah bisa berbicara dengan lancar. Dia menceritakan asalnya padaku, nama negara yang dia tinggali, keluarganya juga nama dirinya.
Dia bilang namanya Layla. Nama yang cantik dan asing di telingaku.
Layla banyak membantu ku di rumah. Sejak kakek ku meninggal dunia aku tinggal sendirian di rumah dalam hutan itu, sebagai seorang penjaga hutan aku tidak memiliki teman karena itu perasaan sepi kadang hinggap dalam diriku.
Namun sekarang berbeda. Layla selalu menyambut ku saat kembali berburu, dia akan cerewet padaku saat aku lupa membersihkan darah di tangan atau dia akan memujiku saat aku pulang membawa buku untuknya.
Dia suka membaca dan mahir mengarang cerita, aku suka mendengarkan celotehan dia waktu malam. Tanpa sadar itu menjadi kebiasaan kami sebelum tidur.
Wajahku terkesan tegas dan seram, karena itu saat aku turun ke desa para warga selalu menghindari tatapan ku—tapi Layla berbeda.
Dia tidak menghindari tatapan ku, malahan dia selalu berbicara dengan menatap lurus padaku.
Saat aku bertanya padanya.
"Mengapa kamu tidak takut padaku?"
Dia menjawab seperti ini.
"Kenapa aku takut pada seseorang yang menyelamatkan ku? Lagipula kamu cukup tampan, jika di dunia ku kamu sudah terkenal menjadi atlet lho"
Aku tidak tahu apa itu atlit, tapi itu adalah ucapan pujian tentang penampakan paling tulus yang pernah aku terima.
Waktu yang kami habiskan semakin panjang. Sesekali aku membawanya ke desa, untuk membeli beberapa baju karena tidak mungkin dia hanya memakai bajuku yang kebesaran itu.
Dia tampak seperti seorang anak saat aku mengajaknya ke desa. Matanya yang haus akan informasi dan ketertarikan membuatku tersenyum, dia benar-benar perempuan yang menarik.
Aku pikir hari-hari damai ini akan berlangsung lama, namun suatu ketika saat kami pergi ke desa Layla menghilang begitu saja. Dengan panik aku mencarinya ke sana kemari, mencari sosok dirinya yang entah ke mana.
Aku takut terjadi sesuatu pada Layla. Bagaimana kalau dia tersesat? Apa yang akan aku lakukan jika dia dibunuh seseorang? Beberapa orang jahat yang tidak menghargai perempuan selalu ada di desa kami, aku takut dia menjadi salah satu korban dari mereka.
Aku terus mencarinya, tak peduli hari sudah malam dan dingin aku tetap mencarinya. Sampai saat aku melewati gang sempit dan sepi, suaranya terdengar olehku.
"Tidak! Lepaskan aku! Pian!! Pian!! Tolong!!"
Mendengar suaranya yang panik dan ketakutan sukses membuatku hilang akal. Aku langsung mendobrak pintu, alangkah terkejutnya aku saat melihat Layla hampir dilecehkan oleh orang-orang biadab itu.
Tanpa pikir panjang aku langsung menghajar mereka. Terima kasih pada ilmu bertarung yang aku miliki, mereka sangat lemah saat aku menghabisinya.
"Pian!? Pian!!"
Layla langsung memelukku erat. Tangannya bergetar, dia kedinginan karena bajunya sudah robek sebelah. Aku mengeratkan gigiku. Maaf, jika saja aku lebih cepat mungkin dia tidak akan seperti ini.
Kakek benar. Untuk melindungi seseorang, aku masih belum bisa.
Setelah kejadian itu aku jadi tidak pernah mengajak Layla ke desa, kalaupun dia memaksa ingin ikut aku menggandeng tangannya sepanjang jalan hingga kami disangka sebagai pengantin baru.
Wajahku merona padam saat kami dianggap sebagai pengantin. Apakah kami sedekat itu? Aku tidak tahu, tapi yang pasti anggapan dari orang-orang desa membuatku menyadari sesuatu.
"Aku mencintainya"
Perasaan hangat saat kami bersama, keinginan untuk melindungi dan memiliki. Aku baru menyadarinya saat dia tidak ada, bahwa aku amat sangat mencintai Layla.
Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan ini. Apakah Layla juga menyukaiku? Kami sudah tinggal di satu atap yang sama, dia tahu semua sisi buruk ku begitu pula sebaliknya.
Apakah dengan mengetahui semua itu dia bisa mencintaiku? Aku tidak yakin, aku tidak percaya diri.
Saat malam tiba kami mengobrol seperti biasa. Ketika itu aku begitu terpesona oleh wajahnya yang entah kenapa terlihat lebih cantik dari biasanya, dia memang cantik tapi malam itu dia tampak memabukkan.
Tanpa sadar aku mendekatkan wajahku dengannya.
"Pian?"
"Ah! Layla, maaf! Maafkan aku!"
Aku hendak pergi karena malu hampir menciumnya tanpa izin. Apa bedanya aku dengan pria brengsek waktu itu? Kami tidak ada bedanya kalau aku melakukan hal tadi.
Saat aku akan pergi dari sana, Layla menarik ujung bajuku. Aku berbalik, menatapnya yang tampak gugup.
Dia membuka mulutnya dan berbicara.
"Kamu mau ke mana? Tidak bisakah kita melanjutkan yang tadi?"
Aku terdiam untuk memproses ucapannya. Yang tadi?
"M—maksud mu?"
Layla tak menjawabnya. Dia berdiri dan mengalungkan tangannya di leherku, berjinjit, kemudian menempelkan bibirnya begitu saja.
Aku terbelalak kaget. Kami berciuman!?
Saat dia melepaskan ciumannya dia kembali berbicara.
"Aku mencintaimu. Perasaan ini entah kapan hadir, tapi aku yakin bahwa aku mencintaimu."
Aku menatapnya terkejut saat mendapatkan pengakuan cinta. Jadi, selama ini perasan ku terbalas?
"Apa kamu mau menerimaku?"
Aku tertawa mendengarnya. Konyol, yang ada aku bersyukur karena dia mau menerimaku.
"Kamu tidak bisa lari lagi saat sudah mengatakan itu Layla"
"Aku tidak akan lari"
"Sungguh?"
"Tentu saja"
Senyuman mengembang di wajah ku. Untuk pertama kalinya malam itu aku bertindak seperti binatang yang gila, terbawa nafsu duniawi dan menghabiskan malam bersama Layla seolah hari esok tak akan terjadi, saling berbisik kata cinta yang manis dan memabukkan.
"Aku hamil!"
Satu bulan kemudian Layla mengatakan hal itu dengan wajah sumringah. Kami menikah setelah mengetahui perasaan masing-masing dan menghabiskan malam bersama lalu saat ini aku akan menjadi seorang ayah.
'Ah—kakek, lihatlah cucu mu ini. Aku akan menjadi seorang ayah'
Rasanya kebahagiaan kami tak akan pernah habis. Aku merawat Layla dengan penuh kasih, berharap anak dalam kandungannya tetap sehat selalu.
Sembilan bulan terasa lama dan panjang. Layla berkali-kali menangis karena mengingat rumah lamanya, aku tidak bisa membantu banyak dan hanya menenangkan dirinya.
Mengatakan bahwa aku akan melakukan semua hal terbaik untuknya, dan selalu menjaganya sepanjang waktu.
Waktu berjalan lagi dan anak kami lahir dengan sehat. Dia adalah anak perempuan yang cantik, dengan rambut persis seperti diriku tapi memiliki warna mata hitam seperti ibunya.
Lia kecil kami yang berharga, kehidupan kami berjalan dengan damai dan indah selama lima tahun saat Lia lahir. Namun pada tahun keenam, tiba-tiba saja Layla menghilang bak tertelan bumi.
Aku mencarinya kemana-mana namun dia tak kunjung ku temukan. Dia pergi meninggalkan ku dan putri kami tercinta, aku menangisi kepergiannya yang tiba-tiba itu.
"Setidaknya, jika aku berbuat salah tolong katakanlah. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu, bagaimana dengan putri kita? Aku kira kita akan hidup bersama selamanya"
Saat itu aku berpikir Layla sudah kembali ke dunia asalnya. Dunia menakjubkan yang selalu dia bangga-banggakan, kehidupan sekolah yang dia idamkan dan keluarga kecilnya yang sederhana di sana.
Kebahagiaan Layla sudah berbeda, kini tak ada aku dalam cerita kehidupannya.
Aku terus melanjutkan hidup dengan berkelana. Mencari sosok Layla dibelahan bumi lain, bersama putri ku Lia yang kini tumbuh dewasa.
Cerita ku tentang ibunya selalu dia anggap sebagai dongeng, tapi dia percaya bahwa ibunya masih hidup di belahan dunia lain.
Aku pun percaya itu.
Sayang. Andai kau tahu berapa hancurnya hatiku ketika kau menghilang, mungkin kau akan mempertimbangkan untuk tetap hidup bersamaku dan anak kita.
Sayang. Jika kau kembali ke sini, tolong panggil namaku sekali lagi. Aku merindukan suaramu yang indah itu, aku merindukan semua hal tentang dirimu.
Sayang. Jika itu memungkinkan, ayo kita bangun keluarga bersama lagi. Entah di dunia ini ataupun dunia yang lain, aku akan tetap mencintaimu dan menunggu mu untuk kembali.
End