Hari ke-29
Aku bosan hanya duduk tegak disini. Tubuh yang tak dapat kugerakkan, ingin rasanya ku merentangkan tanganku sejenak dan menghirup wangi bunga di taman. Tentu saja aku tak bisa melakukannya, ruangan sempit berukuran 20cm x 20cm x 30cm ini membuatku tak bisa bergerak bebas. Jangankan merentangkan tangan, kaki bergeser sedikit pun tidak bisa kulakukan.
Mungkin memang akan seperti ini dan terus seperti ini. Ingin rasanya aku dijemput tuanku. Hari ini adalah hari ke-29 aku di tempat ini, 1 hari menjelang hari ke-30. Ya... peraturan disini begitu membingungkan, bagi siapa pun disini pada hari ke-30 belum bertuan, maka akan dipindahkan ke ruangan pojok itu. Ruangan itu menjadikan ruangan yang menyeramkan, itu adalah ruang kegelapan. Tak seorang pun tahu ruang seperti apa itu, namun selalu senyap dan sunyi. Tentu saja aku tahu, meskipun aku tak bisa menoleh ruangan itu berada disampingku.
Bubby, itulah namaku. Aku tak pernah tahu seperti apa wajahku, rambutku, mataku dan seluruh tubuhku. Aku berada di ruangan sempit yang berdinding transparan ini. Semuanya sama sepertiku. Pada bawah dinding transparan ini terdapat kertas berbentuk pita yang tak kutahu warnanya. Bonni dan Burry, itulah temanku disini. Tentu saja mereka berada di ruangan yang berukuran sama sepertiku. Bonni ialah sosok lelaki tampan, bertopi baret berwarna hitam, memiliki rambut pirang sebahu, memakai jas jeans berwarna hitam dengan kaos berwarna serasi, tak lupa sepatu botnya berwarna hitam dengan hiasan seperti duri dari logam. Sedangkan Burry ialah sosok perempuan manis nan imut, berambut panjang sepinggang dan dikucir dibelakang tak lupa hiasan di rambutnya berbentuk kupu-kupu berwarna pink muda, memakai jaket jeans berwarna biru tua dengan kaos putih polos, menggunakan rok bawahan jeans berwarna hitam selutut, tak lupa sepatunya yang imut yaitu sepatu boots cokelat berhak tinggi 3cm.
Temanku sangat baik dan humoris. Bonni sudah disini 10 hari dan Burry 8 hari. Meskipun aku dan mereka berbeda selisih hari, namun kami sangat senang. Mereka mengatakan bagaimana bentuk tubuhku ini. Kata mereka aku berwajah bulat, memiliki warna mata biru tua, berambut oranye di kepang dua, dengan tubuhku yang sedikit gemuk, aku memakai rok selutut dan bersepatu oranye tanpa hak. Kami bersenda gurau dengan tempat kami masing-masing. Setiap pagi hingga sore selalu saja ada cerita yang kami lontarkan.
Kata mereka, aku imut dan lucu. Namun, aku begitu menyeramkan saat malam hari. Setiap pukul 00.00 aku menjerit dan berusaha merusak dinding ini, semakin berontak tubuhku semakin terasa panas sekali, mereka hanya menatapku tanpa berbicara sedikit pun. Aku kesal dan tidak tahu kenapa aku begini, mereka bilang dinding atasku terdapat kertas kuning bertuliskan simbol-simbol aneh yang mereka tidak ketahui. Namun, aku tak pernah tahu apakah aku benar-benar melakukannya.
Pagi harinya badanku terasa pegal dan lelah. Pipiku basah karna air mata. Dinding ini begitu kuat menahanku di dalam. Dan ini adalah hari terakhirku diruang cahaya, hari ini adalah hariku ke-30. Aku berharap ada seseorang yang mengambilku dan bahagia atasku. Aku hanya berharap dan menanti. Temanku berusaha menghiburku agar tak sedih. Aku hanya tersenyum sambil menahan sakit di badan. Tidak biasanya aku secapek ini.
H-1 sebelum aku di tempat ini
Aku memiliki teman yang begitu cantik nan lucu. Ia persis sepertiku, berambut oranye dan bermata biru. Ia selalu memakai rok berwarna putih. Aku sangat senang bersamanya. Setiap pagi kami selalu bermain bersama di taman. Saat siang hari kami bermain ayunan dan memakan makanan di teras rumah. Saat malam menjelang tidur, aku selalu dipeluknya erat. Namun, temanku semakin hari semakin lemah tak berdaya, di lengan dan kaki terdapat sayatan yang setiap harinya ada 3. Ia hanya berbaring lemah dikasur empuknya. Aku hanya bisa melihatnya dari kursi yang tak jauh darinya. Hari itu, temanku tiada. Semua orang menangis tak henti-hentinya. Aku melihat darah segar dimana-mana dan temanku tewas mengenaskan. Sejak kematian temanku, orang tuanya selalu membenciku dan mereka membawaku ke tempat ini.
Hari ke-30
Sore hari, pemilik tempat ini datang mengambilku. Aku didekapnya dan dibawa ke ruangan kegelapan. Bonni dan Burry hanya menangisiku tanpa bersuara. Aku mengatakan kepada mereka jika aku sayang kepada mereka. Dan aku berterima kasih kepada mereka, karena mereka mau berteman dengan diriku serta menghiasi hari-hariku yang suram disini.
Seperti namanya, ruangan kegelapan begitu gelap nan sunyi. Aku dibawanya ke sebuah meja dan aku diletakkannya disitu. Pemilik ini menyalakan lampu yang menggantung diatas meja. Lampu yang tak begitu terang menambah nuansa ngeri disini. Pemilik ini mengeluarkanku dari dinding transparan itu. Ia meletakkanku di meja, ia juga mengikatkan tali rantai di kedua tanganku dan kakiku. Ia mengeluarkan sebuah benda tajam yang nampak tak asing, lalu memotong rokku lurus dari atas ke bawah. Kemudian, ia meletakkan benda itu di tubuhku dan disayatnya pelan membelah tubuhku. Aku tak merasakan sakit, lalu aku tertidur. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang dilakukannya.
Keesokan paginya, aku terbangun dan tubuhku pulih seperti semula. Tanpa sayatan, tanpa adanya robekan lurus pada rokku. Tangan dan kakiku pun sudah tidak terikat tali rantai lagi. Namun, darah berceceran dimana-mana, seluruh badanku terdapat darah. Tanganku... oh ya benda tajam itu ada di genggaman tanganku. Pemilik itu tertidur dilantai dengan posisi tengkurap. Lalu, darah siapa ini?. Ruangan gelap ini membuatku tak bisa melihat segalanya. Semuanya nampak samar-samar.
Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu. Aku membuka pintu, namun semuanya tampak hancur berantakan. Dinding transparan itu sudah terkoyak dan berhamburan dimana-mana. Sosok mereka ada yang berdiri mematung, menangis, berpelukan dan ada pula yang menggantung di langit-langit atap. Semua melihatku ketakutan, aku yang masih bingung mencoba mencari temanku. Aku menemukan mereka berdiri di tempat yang sama tanpa dinding transparan itu. Bonni bersembunyi dibelakang punggung Burry. Burry hanya menatapku marah dan mulutnya mengucapkan sesuatu yang singkat.
Ingatan itu kembali. Dulu sebelum aku bersama temanku yang tewas, aku adalah teman dari seorang wanita tua. Dia begitu menginginkan anaknya kembali. Namun entah mengapa, dia melakukan ritual pemindahan roh anaknya ke tubuhku. Aku yang selalu berubah setiap pagi dan malamnya seakan memiliki dua roh di dalam diriku. Saat pagi sampai sore aku menjadi gadis periang namun saat malam aku menjadi gadis yang menyeramkan. Aku membunuh wanita tua itu, tanpa orang lain tahu. Dan temanku tewas karena perlakuanku dimalam hari. Dimana saat dia sakit, aku selalu mengajak dia bermain, namun aku yang pemarah selalu membuat sayatan ditubuhnya sebanyak 3x.
Hal yang terus kulakukan itu ternyata jatuh juga pada pemilik tempat ini. Aku membunuhnya karena dia mencoba membelahku. Aku mengamuk dan merusak ruang teman-temanku. Aku membunuh mereka dengan menggantungkan kepala mereka dilangit-langit atap ini. Aku antara menyesal dan puas hanya terdiam. Sebab bukan aku pelakunya, tapi dia yang ada di dalam diriku.
Aku adalah boneka pembawa sial, kenapa tuanku berbuat jahat kepadaku. Aku hanya ingin bermain, jika mereka menurutiku aku tak akan melukai mereka. Apa yang dikatakan oleh Burry itu benar aku yang tak lain ialah “Boneka Pembunuh”.