"Jadi...masih belum ada kabar soal Dito ya?" Ujar Ocha yang kini tertunduk sedih.
Ocha tidak sendiri, ia ditemani oleh sahabatnya.
"Ini sudah 1 bulan sejak Dito menghilang, bahkan polisi hampir menyerah" ujar Tara.
Dito, mahasiswa universitas x, dikabarkan menghilang sejak 1 bulan yang lalu, polisi sudah menyelidikinya, tapi tidak ada petunjuk apapun kecuali selembar kertas, berisi angka yang acak.
Ocha terus menunggu kabar, Dito adalah orang yang berharga dalam hidupnya, ia dan Dito sudah berteman sejak kecil, rumah mereka bersebelahan, sehingga hilangnya Dito benar-benar membuat Ocha merasa terpukul.
Tara pun merasa begitu, ia mulai berteman dengan Ocha, dan Dito sejak sma, dan sejak saat itu mereka tidak terpisahkan.
"Tar...gimana kalo Dito nggak berhasil ditemukan? Gue...gue gak sanggup kalo Dito menghilang, dia berharga buat gue...hiks...gue nggak mau kehilangan Dito...hiks" Ocha mulai putus asa, air mata perlahan mengalir di pipinya.
Sebagai sahabat tentunya Tara tak tega jika harus melihat Ocha menangis, tangannya terulur untuk mengusap punggung Ocha, kemudian menghapus jejak air mata, lalu merengkuh nya dalam pelukan.
"Shhh...Cha, gue tau lu sedih, kita bakal temuin Dito kok, udah jangan nangis lagi, air mata nggak cocok buat lu" Tara mencoba menenangkan Ocha.
Perlahan Ocha membalas pelukan Tara, tanda kalau ia mulai tenang, membuat Tara tersenyum tipis.
"Bagus, sekarang kita pulang, gue anter lu balik ya, istirahat...besok kita cari petunjuknya lagi oke" ajak Tara.
"Iya, Thanks ya Tar" balas Ocha.
"Good girl" ujar Tara sambil mengelus puncak kepala Ocha.
-malamnya-
'Lo dapat salinan angka acak dari polisi?' Beo Tara tak percaya.
Tara tak habis pikir, tiba-tiba Ocha menelponnya, padahal jam sudah menunjukan pukul 9 malam, gadis itu harusnya sudah tidur.
'Iya Tar, gue dapat salinannya, besok gue ke rumah lu ya, kita pecahin teka-teki ini sama-sama' ujar Ocha antusias.
'Oke deh kalo gitu, udah tidur sana' balas Tara.
'Okee byee, besok gue dateng jam 11, Dah'
Piiiippp
Telpon terputus, Tara tersenyum tipis, lalu menghela nafasnya.
"Hahhh oke" gumam Tara.
-besoknya-
Sesuai janji Ocha datang ke rumah Tara, tapi ia tak sendiri, ia bersama Dion, kakak laki-laki Dito.
"Loh, kak Dion juga ikut?" Tanya Tara yang sedikit kaget melihat kehadiran Dion.
"Yo'i bro, gue juga mau ngebantu, lagian ini kan tentang adek gue" jawab Dion.
"Halah bilang aja kak Dion mau sekalian minta bantu Ocha ngerjain tugas kimianya kakak, Iya kan?" Balas Ocha.
"Haha, ya itu juga sih, habisnya otak kamu sama Dito kan sama, sama-sama lancar kalo soal kimia, fisika, pokonya yang bikin gue pusing dah" ujar Dion sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya udah ayo masuk" ajak Tara.
Singkat cerita, akhirnya mereka bertiga berkumpul diruang tamu, ditemani minuman, dan cemilan, serta kertas yang berserakan dimana-mana.
"Duhhh!!! Pecah juga lama-lama nih otak, lagian kalo Dito sempet nulis nih angka, kenapa nggak langsung nulis nama orang yang nyulik dia aja sih???" Gerutu Dion.
"Gimana sih kak?, kalo Dito nulis namanya langsung, pasti penculiknya bakal nge buang kertas itu duluan!" Balas Ocha kesal.
"Hehe iya juga yak"
"Hmm...73-88...maksud Dito apa sih?" Ujar Tara.
"Mungkin angkanya dikurang dulu? Baru dijadiin huruf?" Balas Dion asal.
"Minus dong hasilnya, tapi coba deh Hmm 73-88...-15, abjad ke 15...O? Insialnya o?" Ocha mengira-ngira.
"Gimana kalau 7 artinya G, terus 3 C, 8 H, GCHH??" Tebak Tara.
"Hadehhh makin ngawur" komen Dion.
1 jam berlalu tanpa hasil apapun, Dion terlihat mulai menyerah, begitu pula dengan Tara, sedangkan Ocha masih terus berusaha mengartikan maksud dari angka acak yang Dito tulis.
"Cha, Udahan dulu yok, gue laper nih, nanti kita lanjut lagi" tawar Dion.
"Bener juga ya, ini udah masuk jam makan siang, kalian mau makan disini atau gimana?" Tanya Tara.
"Makan disini aja, lu bisa masak kan? Gue lagi bokek" jawab Dion.
"Ya udah iya"
Tara berjalan menuju dapur, kemudian membuka kulkasnya, tidak ada bahan makanan, hanya ada sisa makan malamnya kemarin, dan beberapa minuman dingin, Tara menghela nafasnya kasar, lalu menutup kulkasnya.
"Gue lupa belanja, nggak ada bahan" ujar Tara.
"Iya ya, lu kan tinggal sendiri, Ya udah, Cha bagi duit"
"Nih" balas Ocha sambil menyodorkan selembar 20 ribu.
"Hehe nih gue tambah 10ribu, lu tambahin 20 ribu lagi yak, biar jadi 50 ribu" ujar Dion.
"Nggak usah yang mahal-mahal Tar, beli aja telur sama mie instan, itu udah cukup kok" sambung Ocha.
"Oke, jaga rumah ya, gue pergi dulu" pamit Tara.
Begitu Tara pergi, Ocha tetap saja fokus dengan kertas yang ada dihadapannya.
"Udah dulu ngapa sih, gue tau lu sayang ama Dito, tapi istirahat bentar kagak salah kok" ujar Dion.
Ia senang melihat ada yang peduli pada adik, tapi tidak tega juga melihat Ocha yang sampai rela begadang demi memecahkan teka-teki membingungkan ini.
"Cha Udahan dulu yok, ajarin gua kimia dulu yok, abis itu gue bantu deh" ujar Dion lagi.
Ocha terdiam, benar juga, kenapa sampai tak terpikirkan, pasti angka ini berhubungan dengan pelajaran kesukaan Dito, kimia.
"Kak, bener juga! Pasti angka ini ada hubungannya sama kimia!" Sahut Ocha girang.
"Wih iya yak, terus gimana itu?" Tanya Dion.
"Yang paling umum aja, mungkin Dito ngambil angka dari tabel periodik, kalo gitu artinya..."
"Gue kadang suka penasaran, lu ama Dito kalo gabut, ngemil tabel periodik ya? Sampe tuh otak encer banget Dah perasaan" gerutu Dion.
"73 itu tantalum, atau Ta, terus..88 itu radium.. atau..." iris Ocha melebar, kaget dengan maksud dari petunjuk yang Dito tulis.
"Radium? Ra?" Tebak Dion.
Keduanya terdiam...
"Tunggu, Ahahaha tebakan gue salahkan Cha? Pliss bilang kalo tebakan gue salah" ujar Dion panik.
Cklek
Terdengar suara pintu terkunci, spontan Dion, dan Ocha berdiri, tanpa ragu Dion mengambil posisi untuk melindungi Ocha.
Keduanya sama-sama menoleh kearah pintu masuk, dan mendapati atensi Tara yang berdiri menghadap mereka, dengan tatapan yang... sulit diartikan.
"Gimana? Udah dapat petunjuk?" Tanya Tara.
Entah kenapa tiba-tiba suasananya berubah menjadi berat, ditambah tatapan Tara yang semakin lama semakin membuat siapa saja yang menatapnya, bergidik ngeri.
"Kita mau pulang" ujar Dion memberanikan diri.
"Ehh? Hahahahahaha setelah kalian tau maksud dari petunjuknya, kalian pikir gue bakal lepasin kalian begitu aja? Jangan becanda" balas Tara santai, tapi tatapannya sama sekali tidak santai.
Tara mengeluarkan sesuatu dari sakunya, iris dion melebar begitu melihat pisau lipat sudah ada ditangan Tara.
Dion takut, tapi ia tidak boleh terlihat lemah didepan Ocha, ia harus melindungi Ocha yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, dan ia harus bisa membuat Ocha keluar dari jebakan yang telah Tara pasang.
Tara mulai melangkah, membuat Dion semakin waspada, tapi semua terasa begitu cepat, Dion dibuat seolah tak sadar tentang apa yang baru saja terjadi, dan begitu ia sadar, pisau lipat yang tadinya ada di genggaman Tara, kini bersarang tepat didada sebelah kirinya.
Dion ambruk ke lantai, membuat Tara bisa melihat Ocha dengan lebih jelas lagi.
Ocha menatap horor kearah tubuh Dion yang sudah terbaring, darah perlahan menggenangi tubuh itu, Ocha merasa kaki nya lumpuh, ia jatuh terduduk.
"Ah...gue lupa kalau lu hemophobia, Sorry ya lu harus liat yang beginian" ujar Tara sambil terus melangkah mendekati Ocha.
Begitu tiba dihadapan Ocha, Tara berlutut, lalu meraih dagu Ocha, membuatnya mendongak, dan menatap langsung tepat ke mata tatap milik Tara, air mata Ocha mulai mengalir, campuran rasa takut, sedih, kecewa, dan marah.
"Shhh...jangan nangis, kenapa? Gue bikin lu takut? Sorry ya, gue gak bermaksud, tapi mau gimana lagi? Kalo gak begini, lu nggak bakal pernah ngerti" ujar Tara.
Dengan keberanian terakhirnya, Ocha mendorong tubuh Tara, membuat Tara kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh, melihat kesempatan Ocha pun berlari, ia tidak menuju pintu depan karena ia tahu itu terkunci, ia harus bersembunyi, walau kemungkinan untuk selamat hanya sebesar 0,1 % Ocha harus bisa memanfaatkan itu.
Ocha bersembunyi dikamar Dion, lebih tepatnya lemari pakaian Dion, untung tubuhnya kecil, hal itu memudahkan Ocha untuk mencari tempat bersembunyi.
Samar, tapi Ocha yakin kalau itu adalah suara tawa Tara, Ocha hanya bisa terus bersembunyi, sambil berdoa, semoga keberuntungan berpihak padanya hari ini.
"Hahahaha...Cha lu lucu banget deh, lu mau main perak umpet? ini rumah gue, jelas gue yang bakal menang" ujar Tara.
...
"Gimana kalau kita buat kesepakatan? Kalo lu keluar sekarang gue bakal berbaik hati sama lu, tapi kalo lu tetap bersikeras buat sembunyi, dan nunggu sampe gue nemuin lu... gue bakal jahat sama lu?"
...
"Haah, jadi lu pilih opsi kedua ya, oke...siapin diri lu" nada suara Tara menjadi dingin.
Ia mulai mengelilingi rumahnya, sambil membawa sesuatu di tangannya, ya...pisau, cukup tajam, Tara tak main-main mulai sekarang.
Semakin dekat...semakin dekat...dekat....
"Oh, bukan dibawah kasur ya?" Ujar Tara.
"Oke, gue bakal cari di ruangan lain" sambungnya.
.
.
.
"Becanda...
Brak
"Ketemu~"
Ocha kehilangan harapannya, ia tidak bisa apa-apa saat ini.
"Maaf... tapi lu sendiri yang pilih ini tadi, sesuai kesepakatan, gua bakal jadi jahat" ujar Tara.
Iris Ocha melebar, ia bisa merasakan logam itu mulai menembus perutnya, rasanya sakit, sangat sakit, darah mulai mengalir, nafas Ocha mulai tak beraturan, hingga akhirnya pandangannya berubah menjadi gelap.
"Kalo gue gak bisa dapetin lu, maka semua orang gak bisa, i love you my girl~"