Hari ini adalah hari yg sangat menyebalkan.
Knp ?
Karena hari ini, semua siswa melaksanakan ujian matematika. Mendengar nya saja membuat ku jengah.
Apalagi mengerjakan nya, otak kami bisa - bisa pusing dan menyerah.
Oh ya perkenalkan nama ku Clarissa Amber. Ya, aku adalah keturunan Amerika- Indonesia. Namun, disini aku tidak memiliki banyak teman.
Aku pun tak tau alasan nya, aku hanya memiliki dua sahabat baik ku, yaitu Niko Setiawan dan Dinda Julia. Mereka sudah ku anggap saudara ku.
"Risa, niko, kalian udh belajar." Tanya Dinda sambil memakai dasi nya.
"Aku sih blom, kamu gimana nik?." Balas ku sambil mentap Niko.
"Hehe, aku juga belum. Malas sekali aku belajar, otak ku sudah penuh dengan cerita horor itu." Ucap Niko dengan memasang muka serius.
"Cerita horor ?." Tanya Dinda
"Iya, kalian tidak tau ya, salah satu guru kita kan ada yg meninggal disini, rumor nya sih dia itu capek jadi guru disini, selain gaji kecil dia juga sering mendapat perlakuan yg tidak dari murid- murid nya. Aku mendengar nya dari Kak Angel." Jelas Niko sambil menatap kami berdua dengan wajah serius dan sedikit takut.
"Memang nya kenapa, kalau dia meninggal disini, apakah dia akan menggentayangi kita gitu." Ucap ku dengan nada remeh. Jujur aku memang tidak mempercayai keberadaan hantu.
"Iya lah, asal kalian tau nih ya, Kak Angel sendiri udh yg pernah ngalamin. Dan katanya dia muncul setiap Ujian Matemika, dia itu juga guru matematika." Tambah Niko.
"Aduh, jadi takut nih aku kalau ujian, apalagi hari ini ujian matematika." Ucap Dinda takut.
"Sudah lah, itu kan cuma rumor, kalian jangan berfikir negatif terus. Ehh, itu guru udh dateng." Ucap ku sambil menunjuk ke arah pintu.
Niko dan Dinda pun langsung balik ke tempat duduk nya. Namun, aku heran kenapa hari ini Pak Ahmad diam trus. Biasanya setiap masuk kelas, Pak Ahmad itu yang paling semangat.
Awal nya aku tidak terlalu memikirkan nya, namun saat aku melihat wajah Pak Ahmad dia tersenyum miring. Melihat ku, Niko dan Dinda.
Tatapan nya seram sekali.
"Tidak ada mencontek dan gunakan alat tulis masing - masing." Ucap Pak Ahmad dengan wajah dingin dan juga tatapan nya yang seram.
Aku melirik kearah Dinda dan Niko, mreka juga kemudian melirik ku. Seperti nya kita merasakan hal yang sama, tentang perubahan sikap Pak Ahmad.
Pak Ahmad pun kemudian membagikan kertas ujian.
Seketika fikiran tentang perubahan Pak Ahmad terahlikan dengan soal - soal matematika yang rumit dan menyebalkan.
Waktu mengerjakan tersisa 30 menit lagi. Namun, dari tadi aku melihat Pak Ahmad melirik ke arah Aku, Dinda dan Niko. Aku yang menyadari itu langsung memfokuskan lagi kepada soal.
Tapi, tatapan nya itu membuatku tidak fokus. Sangat menyeramkan, bahkan ku pikir itu bukan Pak Ahmad guru ke sayangan murid - murid.
Akhirnya Dinda membuka suara. "Maaf pak, kenapa dari tadi bapa melihat ke arah kami terus. Kami tidak mencontek pak." Ucap Dinda, sahabat ku ini memang terkenal berani dengan siapa pun kecuali hantu.
Semua murid pun menatap Pak Ahmad dengan wajah bingung. Pak Ahmad yg menyadari itu, langsung membuang muka ke arah jendela luar.
Tidak beres ini. Batin ku
Waktu ujian sisa 15 menit. Aku dan yang lain ada sudah yg selesai.
Hey, jangan berfikir aku ini pintar. Aku cepat selesai itu karena menjawab asal.
"Untuk yang sudah selesai silahkan keluar. Dan untuk Niko, Dinda dan Clarissa. Kalian ikut bapa, sekarang. " Ucap Pak Ahmad
"Tapi pak, saya dan Niko belum selesai." Balas Dinda dengan wajah serius.
"Tinggalkan saja, saya tidak akan memberi nilai kecil." Ucap Pak Ahmad
Awal nya, aku dan Niko juga Dinda tidak ingin ikut. Namun, lagi - lagi tatapan Pak Ahmad yang menyeramkan itu muncul. Cepat - cepat lah kami menyusul Pak Ahmad.
Teman - teman di kelas, juga bingung dengan sikap Pak Ahmad.
Aku, Niko dan Dinda pun keluar kelas menyusul Pak Ahmad.
Kelas...
Setelah Clarissa, Niko, Dinda dan Pak Ahmad keluar keadaan kelas sangat kacau. Bahkan mereka contek - contekan.
Tiba - tiba datang Bu Ratna dengan wajah sedih. Langsung, satu kelas diam dan menatap Bu Ratna.
"Anak - anak, mohon maaf hari ini Pak Ahmad tidak bisa datang karena sakit, skrang ibu yang akan menggantikan nya." Ucap Bu Ratna.
"Loh, kalo Pak Ahmad sakit, berarti tadi yang masuk kelas siapa." Ucap ketua kelas, Alex.
"Iya bu benar, tadi Pak Ahmad datang kesini terus mereka membawa pergi Dinda, Clarissa dan Niko." Tambah Nikita.
"Bahaya ini, Alex dan Raka ayo ikut ibu membantu mencari mereka." Ucap Bu Ratna dengan raut wajah khawatir.
"Iya bu." Ucap Raka dan Alex.
Clarissa pov...
Setelah kami dibawa keliling oleh Pak Ahmad yang jauh dari pandangan. Kami baru sadar, ini bukan lah area sekolah. Tapi ini...
HUTAN BELAKANG SEKOLAH.
Tempat jarang ada yang kesini, tepat saat kita datang. Pak Ahmad sudah tidak keliatan lagi.
"Kemana sih Pak Ahmad, tadi nyuruh ngikutin sekarang ninggalin." Gerutu Niko
"Tau nih, padahal aku belum selesai mengerjakan ulangan." Tambah Dinda
"Iya aneh banget." Ucap ku sambil mencari keberadaan Pak Ahmad.
Saat kami sedang mencari Pak Ahmad. Kami menemukan jasad Pak Ahmad dan seorang guru yang tak ku kenal.
"Astaga." Ucap kami serempak. Jasad mereka di gantung terbalik di sebuah pohon besar.
"Ini Bu Sari, guru yang tadi aku ceritain." Ucap Niko sambil menatap ku dan Dinda.
"Ayo cepat, kita kembali ke sekolah dan bilang kepada yang lain." Kata Dinda sambil menarik tangan ku dan Niko.
Aku dan Niko hanya mengikuti Dinda. Tadi nya aku merasa janggal. Kalau itu jasad Pak Ahmad, lalu yang dari tadi bersama kami di kelas itu siapa ?...
Namun, ya sudah lah nanti pun Dinda dan Niko yang akan membicarakan masalah ini.
Tiba di sekolah, aku dan kedua sahabat ku langsung memanggil Bu Ratna dan 2 teman ku. Mereka kaget dengan keberadaan kami, setelah berbicara. Kami menuntun Bu Ratna dan 2 teman ku itu. Ke tempat jasad Bu Ratna dan Pak Ahmad.
Mereka sangat kaget. Bagaimana pun juga Pak Ahmad dan Bu Sari adalah guru yang sangat dihormati di sekolah kami. Aku pun merasa sedih, karena Pak Ahmad adalah guru yang sangat baik juga humoris.
Aku jadi ingin menangis...
"Kalau itu jasad Pak Ahmad, lalu yang dari tadi ada di kelas kita itu siapa ?." Tanya Raka
"Aku juga masih penasaran." Tambah Niko
"Mungkin saja, itu arwah Pak Ahmad yang meminta pertolongan kita untuk menemukan jasad nya dan Bu Sari." Ucap Dinda, sahabat ku yang satu ini memang sangat suka dengan hal - hal yang berbau horor.
"Tapi tunggu, yang membunuh mereka itu siapa ?." Ucap ku dengan nada bertanya.
Sampai aku menulis cerita ini pun, belum sama sekali ditemukan pembunuh dari dua guru yang sangat di hormati di sekolah ku. Namun, aku berfikir...
Kenapa akhir - akhir ini Niko selalu senang dan tidak berhenti tersenyum, padahal tidak seperti biasanya ?...