Wajahnya putih pasi. Matanya merah membara. Rambut panjangnya yang menjuntai hingga ke lantai menutupi hampir separuh wajah. Tangan kanannya hanya sampai siku. Sisanya entah kemana. Sementara tangan kirinya berjari dan berkuku panjang.
Kutanya padanya, "Siapa kau? Tolong jangan ganggu, aku sedang tak bergairah saat ini."
Sosok misterius itu tak menjawab. Dia diam seribu bahasa.
"Pergi sana!"
Dia tetap membisu.
Kulirik sekali lagi. Tak ada gerakan. Tak ada ucapan. Aku siap-siap beranjak pergi. Baru satu langkah kakiku melintas, dia bergerak tanpa suara ke arah depanku dan menutupi jalan. Jarak diantara kami kini hanya beberapa centi.
"Miiinnggiiirrrr!!!" teriakku dalam hati.
Dia tak bergeming.
Habis sudah kesabaranku. Aku sebenarnya lelah. Aku ingin segera rebahan di kasur sambil menutup kedua mataku dengan bantal dan menyumpal telingaku dengan headset. Apa daya keinginan tak selalu searah dengan realita. Apalagi hari ini tanggal 11 November. Tanggal dimana kemampuan supranaturalku mencapai puncak. Jangan tanya bagaimana aku bisa menyimpan kekuatan yang tak semua orang memilikinya. Aku seperti ini sejak lahir. Dari kecil, aku sudah berteman akrab dengan rasa takut, gelisah, waswas yang berlebihan.
Makhluk-makhluk tak kasat mata gentayangan di depan mataku. Mulai yang bertubuh sempurna nyaris serupa manusia normal hingga berwujud mengerikan dengan sisik, tanduk, ekor dan 'hiasan-hiasan' lain yang melekat ditubuh menjadi pemandangan keseharianku tanpa mengenal waktu.
Sebagian besar orang menilai kemampuanku ini keren. Tapi masih bisakah mereka berucap keren jika tiba-tiba puluhan pocong melompat mendekat. Atau kuntilanak cekikikan yang tak hanya mengganggu indra penglihatan tapi juga indra pendengaran. Belum lagi kejutan berupa kepala berapi yang mendadak jatuh dari langit di depan mata. Atau monster-monster berbadan tak lazim yang sanggup merangsang rasal mual bila menatapnya.
Sosok di depan mataku ini berwujud seperti perempuan. Ada beberapa faktor yang mendorong kemunculannya. Bisa karena usil, ingin menyampaikan pesan, mengincar aura murniku atau karena ingin meminta bantuan.
Dilihat dari gelagat yang ingin menempel terus padaku, sepertinya dia mau menyampaikan peaan atau meminta bantuan.
"Kutanya sekali lagi, kamu siapa dan mau apa?"
Dia mengacungkan jari panjangnya ke arah mataku. Bisa kulihat jemarinya yang tak beraturan dan jelek. Teramat jelek. Tak lama jarinya dilemparkan ke arah berlawanan. Perlahan dia melayang seakan ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.
Saat ini pukul 11.11 WIB. Siang yang terik. Aku berada di toilet pria di kampusku. Ditilik dari struktur bangunan, toiletnya tergolong tua. Meski sudah direnovasi berulang kali tapi penglihatanku tak bisa tertipu. Banyak kisah yang telah terjadi di kamar mandi tua ini. Termasuk kisah si sosok di depanku. Bisa jadi.
Sosok itu berhenti di kamar mandi paling ujung. Ruang paling singup. Jarinya menunjuk ke arah lantai. Jujur, aku malas menanggapi. Tapi samar-samar kudengar suara lirih berbisik ditelingaku.
"Tolong aku."
"Kamu siapa, dari tadi kutanya."
"Aku perempuan muda dahulunya. Mati karena diperkosa beramai-ramai. Jasadku dikubur sini tapi tanganku tertinggal. Aku tak bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang."
"Lalu kamu mau aku melakukan apa? Mombongkar seluruh ruangan ini? Tak mungkin kan. Lagian bisa jadi tanganmu sudah menjadi abu."
"Tolong upacarakan tanganku secara layak. Itu saja permintaanku. Kumohon."
"Baik, tapi tidak hari ini. Energiku terkuras. Besok saja. Lagian aku harus menyiapkan segala sesuat..."
"Tak bisa. Harus sekarang!" dia memotong omonganku.
"Terserah. Cari saja orang lain yang bisa," jawabku enteng.
"Tolong. Hari ini tepat 1000 tahun peringatan kematianku. Aku sudah menanti lama. Kumohon, tolong!"
Aku berpikir keras. Bukan tak mau menolong. Tapi apa yang kuutarakan sebagai alasan itu benar adanya. Energiku cepat terkuras setiap tanggal 11 November. Aku tak mengerti mengapa bisa demikian. Sudah takdirku mungkin.
"Baiklah, beri aku waktu menyiapkan perlengkapan upacaranya."
"Harus dilakukan sebelum sandikala."
"Iyaaa tahu...tak perlu cerewet, suuudaaah minggiiiirrr sana!!"
Sosok itu menghilang. Aku bergegas keluar, melangkah cepat menuju parkiran dan pulang. Sampai di rumah, aku langsung menuju kamar dan tidur. Lemas rasanya tubuh ini. Seperti tak bertulang. Aku tertidur hingga azan maghrib berkumandang dengan indahnya.
***
"Kau melanggar janji!!!!" jerit sesosok makhluk tanpa wajah berambut panjang. Dia menggelantung di dinding dengan posisi kepala di bawah.
"Aah siaaal, kaget aku. Berhenti mengikutiku!" tegasku. Rasa kejutku bukan sandiwara. Aku memang benar-benar kaget. Terkutuk toilet ini. Kalau bukan karena toilet di sisi lain gedung kampus sedang diperbaiki, takkan sudi aku buang air kecil di sini.
"Kau melanggar janjiiii!!! ulangnya lagi.
"Aku tak pernah mengumbar janji apapun."
"Kau bilang mau membantuku!" hardiknya.
"Kau tak dengar ya. Kubilang tak bisa kemarin. Aku terlalu lemah. Tak lihat apa auraku redup."
"Peeembooohooonggg!!!" jerit histeris sosok itu. Rambutnya menegang dan kulihat wajah polosnya penuh dengan lubang luka seperti tersundut rokok. Kuperkirakan, dia disiksa juga selain dilecehkan secara seksual.
"Terseraah, minggir. Aku mau keluar."
Pintu toilet terbanting tertutup. Aku diam. Bukan takut, melainkan waspada. Aku tak mau sampai terpancing emosi. Karena bila emosiku tak terkendali, aku bisa membakar jiwa roh halus di hadapanku itu. Kasihan. Jangan sampai terjadi.
"Gara-gara kau, aku harus menanti seribu tahun lagi!"
"Bukan salahku, kau mati penasaran."
"Kuuraaangg aaajjaaaaarrr kaaauu...!!!"
Cermin di dinding toilet pecah berhamburan dan kutangkis serpihan-serpihannya dengan kedua tangan. Ternyata energi dalam yang keluar terlampau besar bagi sosok itu. Dia terpental jatuh dan menghilang. Selama beberapa detik, keadaan hening. Dan beberapa detik sesudahnya, kudengar rintihan pilu suara wanita. Aku membuka pintu toilet dan melenggang keluar. Dalam hati, aku minta maaf karena tak bisa memenuhi permintaannya.
*** tamat ***