Aku berjalan sambil bersiul riang melewati setiap gang dan persawahan, biasanya aku berjalan pulang sekolah bersama teman-temanku namun hari ini aku berjalan sendirian karena hari ini aku mendapat jatah piket kelas. Setiap perjalanan aku menyapa tetanggaku bahkan belalang yang terbang pun ikut kusapa untuk menghilangkan rasa lelah dan sepi karena berjalan pulang sendirian, aku adalah anak SD kelas 5 dan usiaku baru 9 tahun, namaku Moli.
Setelah berjalan selama 15 menit akhirnya aku hampir sampai di rumahku, namun ada hal yang membuatku curiga, aku melihat gadis kecil seumuran denganku namun tubuhnya lebih kecil dan kurus dariku sedang berdiri diam melihat ke arah toko ayah dan ibuku. Tak lama kemudian gadis kecil itu pergi begitu saja dan akupun langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku disambut hangat oleh ibu dan ayahku “wah putriku sudah pulang toh? sini nak salim ayah dan ibu dulu”. “iya yah. Aku langsung ganti baju dulu ya yah langsung mau makan terus tidur siang”. Kemudian aku ganti baju dan makan.
Setelah makan aku merasa mengantuk dan menuju kamar untuk tidur, aku memejamkan mataku namun kenapa pikiranku membuatku tidak bisa tidur, gadis kecil tadi masih saja tergiang-giang di kepalaku, dan aku mulai curiga siapa sebenarnya dia, dan kenapa harus berhenti di depan tokoku dan melihat-lihat lama sekali. Kubuang pikiran buruk itu dan tidak lama kemudian aku bisa tertidur pulas hingga sore.
Aku baru bangun bangun pukul setengah lima karena dibangunkan oleh ibuku, aku langsung mandi agar badanku segar kembali. Setelah aku mandi ayah memanggilku “Moli sayang sini nak, ayah dan ibu mau ke kondangan sebentar tolong jaga toko dulu ya sayang”. “Baiklah ayah, kataku”.
Ayah dan ibuku berangkat kondangan naik motor berdua, dan tinggal aku sendirian di rumah menjaga toko. Untuk menepis rasa sepi aku melihat televisi kartun anak-anak edisi sore, namun padanganku tertuju lagi pada gadis kecil yang kulihat siang tadi, dia berhenti di depan tokoku dan melihat-lihat lagi ke toko namun tidak lama kemudian ia pergi.
Pagi-pagi teman-temanku sudah berisik di depan rumah menungguku untuk berangkat sekolat bersama-sama, aku berpamitan kepada ayah dan ibu kemudian berangkat. Di jalan aku bercerita tentang gadis kecil yang kucurigai itu barangkali teman-temanku ada yang mengenalnya, kuceritakan bagaimana ciri-cirinya pada mereka, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengenal bahkan melihat gadis kecil itu sepertinya belum pernah. Tak terasa kami sudah sampai di sekolah dan masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran.
Kami pulang setelah sholat dzuhur, sesampainya di rumah aku langsung ganti baju, makan, dan tidur seperti biasanya. Sore harinya aku membantu ayah dan ibuku di toko dan menceritakan tentang gadis kecil yang kulihat kemarin bahwa aku mencurigainya karena suka melihat-lihat ke toko kami, kemudian ayah dan ibuku bilang “jangan suudzon dulu sama orang mungkin dia ingin membeli sesuatu namun masih berpikir-pikir dulu.”
Tak lama setelah ayah ibu menasehatiku gadis kecil itu muncul datang ke toko kami dengan baju lusuh, badan kurus seperti hanya makan sehari sekali. Dia datang dengam senyum berninarnya ia berkata, “Paman berapa harga Sandal jepit motif bunga itu, tanyanya sambil melihatku malu-malu.”
Ternyata selama ini dia melihat-lihat tokoku karena ingin membeli sendal jepit motif bunga itu. Lalu aku meminta maaf pada gadis kecil itu karena telah buruksangka padanya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu aku bertanya mengapa dia melakukan hal itu, dia menjawab “karena agar aku semangat bekerja untuk mendapat banyak uang dan segera dapat membeli sendal ini, ayahku sudah tiada dan ibuku sedang sakit jadi aku harus membantu ibuku bekerja”. Aku terharu mendengarnya, gadis kecil yang harusnya masih bersekolah itu harus bekerja untuk melanjutkan hidup, dan ia pun tidak pernah mengeluh terhadap takdir yang ia dapatkan.