"Di saat jam menunjukkan 11:11 malam, jangan ada yang duduk di ruang tamu!"
03.00 p.m.
Aku sedang asyik berbincang-bincang dengan dua temanku. Awalnya sih, kami bermaksud untuk bekerja kelompok, tapi malah menggosipkan tentang kakak kelas yang tampan.
"Tadi aku berpapasan dengannya! Auh! Dagdigdug hatiku!" ucapku.
"Siapa namanya, Lin?" tanya temanku yang rambutnya dikuncir satu, Fifi.
"Linda memang gampang banget dekat dengan kakak-kakak ganteng. Bagi-bagi dong!" seloroh temanku yang berambut pendek dan memakai bando hijau, Chika.
"Namanya... siapa ya? Kasih tahu ngga ya?" godaku.
Chika dan Fifi langsung memegang lenganku dan memohon kepadaku. Membuatku tertawa geli melihat tingkah mereka.
Namaku Linda. Jabatanku saat ini adalah siswa SMA kelas dua, sama seperti Chika dan Fifi. Mereka berdua memang sering berkunjung ke rumahku, rumah yang baru aku dan keluargaku tempati saat diriku kelas satu SMA.
Alasannya? Karena lokasi rumahku ini tak terlalu jauh dari sekolah.
"Linda!!" Tiba-tiba suara ibu memanggilku. Membuatku segera bangkit dan menemuinya. Ternyata ibu sedang di dapur, dan telah menyiapkan setoples camilan gurih dan membuat nagih.
"Wah! Ibu kenapa baru memanggilku? Harusnya aku bisa bantuin Ibu menggoreng keripiknya, hehe."
Aku pintar memberi argumen, 'kan? Jangan ditiru ya? Haha!
"Kelamaan Lin!" Ibu tak menoleh dan masih sibuk mencuci di wastafel.
"Maaf," lirih ku.
Lalu kami membawa camilan tersebut ke ruang tamu, untuk disuguhkan kepada dua ratu, eh, tamu.
"Ini ya, Chika, Fifi." Ibu telah hafal nama mereka karena kedua temanku sering ke sini.
"Gak usah kalap makannya! Santai aja," selorohku.
"Oh, itu tergantung jenis makanannya. Kalau enak, ya maaf kalau keterusan." Ucapan Fifi memang mencerminkan dirinya yang paling berisi di antara kami bertiga.
"Lin..., " panggil ibu. Aku langsung menoleh dan menaikkan kedua alisku.
"Besok Ibu dan ayah akan berangkat ke luar kota selama sehari. Jadi, apakah kalian mau menemani Linda di sini selama semalam?"
Tentu saja, mereka pasti mau! Karena selain jarak rumahku yang dekat, mereka juga bisa bangun agak siang.
"Iya, Tante! Mau, mau!" jawab mereka serempak.
"Oke! Linda, besok kunci rumah akan Ibu kasih saat kamu istirahat siang. Jadi kamu tunggu di pagar sekolah ya?" titah ibu.
Aku dan mereka berdua tersenyum ke arah ibu. Namun senyuman kami memudar saat ibu memberitahu sesuatu.
"Saat malam, sekitar pukul sepuluh... tolong jangan ada yang keluar dari kamar. Kalau ke dapur atau ke kamar mandi, ngga apa. Oke?"
Aku sudah tahu tentang hal itu, tapi kedua temanku mungkin belum mengetahuinya.
"Iya, Bu. Kami ngga akan keluar kamar." Aku tersenyum, untuk menutupi kecemasan ku.
Untunglah Chika dan Fifi justru terdiam. Mereka juga tak bertanya mengapa malam-malam tak boleh keluar dari kamar. Mungkin mereka menganggap bahwa itu hanya mitos, supaya anak remaja seperti kami tak keluyuran ke mana-mana.
⏳⏳⏳
Esok hari, di rumahku.
Aku memasuki rumah yang lengang, tanpa ayah dan ibu. Rumahku ini memang penuh ukiran kayu, berseni tinggi, karena ayahku adalah pencinta seni lukis.
Entah mengapa, bakat seni sepertinya tak mengalir dalam diriku. Justru bakat sebagai anak organisasi malah ku sukai, mirip seperti ibuku.
Duk duk!
Mataku menjadi awas karena suara tersebut. Ah mungkin tikus, batinku.
05.00 pm,
Aku telah berkumpul bersama Chika dan Fifi. Mereka telah meletakkan barang bawaan di dalam kamarku. Saat ini, kami berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi dan mengunyah camilan.
"Lin. Nanti malam, kita kerjakan laporannya ya? Sudah ditagih terus sama Bu Indo," ajak Chika.
Aku dan Chika memang satu organisasi jurnalistik di sekolah. Sehingga selain tugas sekolah, tugas dari organisasi juga kami lakoni.
"Kalian mau mengerjakan tugas di kamar?" tanya Fifi.
"Jangan. Lampu di kamar lagi redup. Kemarin aku lupa membicarakan tentang itu ke orang tua ku," jawabku.
"Oh gitu. Terus mau di mana? Di sini?"
"Iya, di sini aja."
07.00 pm,
Kami sedang fokus di depan buku biologi. Aku dan Chika sibuk mendengarkan Bu Fifi yang sedang menjelaskan tentang sel hewan.
Anak olimpiade biologi memang beda, batinku saat memperhatikan Fifi.
Dua jam kemudian, kami telah berhenti belajar. Fifi telah fokus menonton televisi, sedangkan aku dan Chika segera mengerjakan tugas organisasi.
"Lin. Kalau sudah jam sepuluh, kita harus pindah ke kamar ya?" tanya Chika.
"Ngga harus kok! Aku sudah sering mendengar orang tuaku bilang seperti itu, Cik. Lagipula sekarang kita cuma bertiga menjaga rumah ini, jadi ngga perlu cepat-cepat masuk kamar."
Aku berusaha membuat mereka tak terlalu khawatir. Maklum, baru pertama kali mereka menginap di sini.
10.55 pm,
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu rumah. Kami saling memandang satu sama lain.
"A-ada siapa itu?" bisik Fifi.
Aku menggeleng. "Ngga tahu. Mungkin orang iseng."
"Ayo. Ayo kita lihat ke ruang tamu, Lin."
Ajakan Chika membuat kami berhenti mengerjakan tugas dan melangkah perlahan menuju ruang tamu. Bahkan aku bernafas dengan perlahan, tengkuk juga mulai merinding.
Di ruang tamu, 11.00 pm.
Aku dan ketiga temanku memutuskan untuk mendekati jendela. Kami ingin mengintip dari balik gorden.
Ternyata kami tak butuh mengintip! Karena tirai terbuka sedikit dan kedua netra kami menangkap sesosok mata biru yang melotot!
Kakiku mati rasa, tak bisa dibawa lari. Sedangkan Chika dan Fifi menarik paksa diriku yang kaku mematung.
"Hah! Hah! Ayo lari, Lin!!" pekik Fifi.
"Si-siapa dia?!" Aku masih saja sempat bertanya.
Kami berlari masuk menuju ruang keluarga. Berharap bisa lolos dari si mata biru itu!
Namun Fifi jatuh tersungkur. Aku dan Chika segera membantunya untuk berdiri, walaupun agak berat.
"Cik! Bawa Fifi ke kamar! Aku akan membereskan barang-barang kita!" titahku.
"Ngga mau, Lin! Aku ngga mau ninggalin kamu! Fifi! Kamu ke atas duluan ya?" ujar Chika.
Fifi mengangguk dan melangkah perlahan menaiki setiap anak tangga. Saat aku dan Chika sibuk di ruang keluarga, kami mendengar suara hentakan. Asal suara tersebut ternyata dari ruang tamu!
Tak jauh dari kami, terlihat sosok pria tegap berjas dan bermata biru. Lalu pria tersebut berteriak dengan bahasa aneh yang tak kami mengerti.
Tanpa diduga, tangan aku dan Chika telah ditahan oleh dua orang lain yang muncul dari belakang kami!
Tentunya kami semakin takut. Timbul banyak pertanyaan di benak kami. Siapa mereka? Mengapa terlihat seperti orang-orang dari belahan bumi bagian barat? Kulit pucat, rambut pirang hingga putih, hidung yang mancung, dan tingginya menjulang langit.
"A-apa mau kalian?!" protesku. "Lepas! Lepaskan aku!"
Si mata biru tersebut memberi kode supaya kami dibawa kepada dirinya. Aku baru bisa melihat apa yang terjadi saat telah sampai di ruang tamu.
Itu siapa? Kenapa dirinya seperti sudah di--
Aku terperangah dan cepat-cepat menutup mulutku.
Si bermata biru berbicara kepada para bawahannya sembari menunjuk ke arah sofa. Lalu aku dan Chika didorong kasar hingga tersungkur di atas sofa.
⏳🪔⏳
Tepat pukul 11:11 pm,
Ini malam yang sangat mengerikan!
Antara nyata dan tak nyata, kesucian kami direnggut oleh si mata biru secara bergantian!
Aku ingin mati! Tolong aku! Huhuhu!
Amarah dan sedih menyatu. Sebuah penghinaan untuk kami sebagai kaum wanita yang dianggap lemah oleh mereka. Ya! Mereka sepertinya adalah jin, roh jahat, atau penyihir dari zaman kerajaan yang bengis.
Aku berpura-pura pingsan, supaya si mata biru ini berhenti dari ketidakwarasannya. Lalu dirinya berpindah ke Chika untuk mengenyangkan nafsu buruknya.
Mataku terbuka sedikit untuk mencari sesuatu yang janggal di ruang tamu. Ya! Itu dia!
Diam-diam aku membuka baju tidurku yang memang telah terkoyak. Lalu aku lemparkan ke tempat arang yang mengeluarkan asap. Tempat tersebut terbuat dari tanah liat. Sepertinya memang benda itu yang digunakan untuk memanggil si mata biru!
Segera semuanya lenyap. Si mata biru, para pengawalnya, dan wanita yang telah menjadi mangsanya telah hilang dari pandangan kami.
Aku dan Chika berpelukan, sembari menumpahkan seluruh kesedihan kami.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi, Lin? Hu-huhu," tanyanya sembari terisak.
"Aku juga ngga tahu."
⏳⏳⏳
Esok hari,
Aku cepat-cepat menuruni anak tangga dan pergi menuju ruang tamu. Semoga benda itu masih ada!
Tadi pagi, ayah dan ibu telah datang. Sehingga aku semakin ingin menceritakan kejadian tadi malam kepada mereka.
Ternyata masih ada!
Lalu aku membawa benda tersebut kepada orang tuaku.
"Kenapa sayang?"
"I-ini apa, Bu, Yah?"
"Itu warisan dari kakekmu. Sudah, taruh saja di ruang tamu," jawab ayah.
"Iya, Lin. Ayah meletakkannya di sana supaya ngga ada penyusup yang masuk ke rumah."
"TAPI, BU, YAH--" Ucapan kerasku tercekat. Aku bingung harus menjelaskan bagaimana kepada mereka.
Bahkan Chika dan Fifi masih belum mau keluar dari kamarku. Aku semakin merasa bersalah kepada mereka berdua. Maaf, maafkan aku.
"Bu, Yah. Tadi malam jam sebelas, aku dan temanku duduk di ruang tamu. Dan ... dan si mata biru itu telah ...."
***** THE END *****