Alkisah, pada zaman dahulu, terdapat dua jenis kerajaan awan yang sama kuatnya. Kerajaan-kerajaan ini bernama Kerajaan Awan Putih dan Kerajaan Awan Hitam. Yang dipimpin oleh kedua raja maha agung. Yang namanya terkenal di telinga para hewan bumi. Sayangnya, mereka semua saling bermusuhan.
“Hai kaumku!” seru Raja Awan Putih. “Kerajaan Awan Hitam merupakan tempatnya kesedihan! Empunyanya badai dan petir ganas! Karena itu, jauhilah mereka!” demikian koarnya.
Pidato Raja Awan Hitam tak jauh berbeda. “Kaum-kaumku sekalian! Kerajaan Awan Putih selalu menindas kita sebagai Kaum Awan Hitam! Jauhilah mereka! Mereka tempatnya terik matahari yang membuat siang terasa panas” demikian ia bersuara.
Semakin hari, permusuhan antara Kerajaan Awan Putih dan Awan Hitam semakin sengit. Mereka saling menjatuhkan satu sama lain. Akhirnya, burung kutilang mempermasalahkan masalah ini di pengadilan langit. “Oh, tuanku, lihatlah mereka, semakin hari, semakin besarlah api dendamnya, padahal mereka sama-sama dilahirkan dari air” adunya.
Tak di sangka, Sang Bijak telah lama sakit. Sehingga anaknya yang tak acap keputusan terpaksa menangani kasus ini hingga ditemukan pengganti yang baru. “Baiklah, ajaklah mereka bertemu pada sore hari. Yang di mana pertengahan dingin dan panas. Di sini” ujarnya memutuskan. Ia hanya ingin mencari suasana teduh yang menyejukkan. “Baiklah, tuanku” Kutilang pergi menemui kedua pihak.
Ia dan Burung kakaktua memberikan selebaran jamuan teh bagi mereka para raja. Mereka tahu benar para raja awan amat menyukai teh hangat. Selain itu, mereka tak akan datang jikalau ia berkata tentang sidang langit. “Tuanku, kumohon hadirilah jamuan teh sore kami. Kami mengundang semua penghuni langit untuk memeriahkan suasana” rayu si kakaktua. Demikian pula si kutilang, ia melantunkan sebaris pantun dengan suara merdunya. Kedua kerajaan menyanggupi. Teh hangat? Bukankah itu tak bisa ditolak? “Aneh juga, jamuan teh diadakan di pengadilan?” Dahi sang raja awan hitam mengerut. “Tentu saja, ini akan sangat meriah” Kakaktua meyakinkannya. “Baiklah”
Tibalah saat yang di tunggu-tunggu. Raja awan putih dan hitam dipisahkan tempat tunggunya. Ditutup matanya, dan dikawal pengawalan ketat. “Perang merupakan jalan yang terbaik” Yang Mulia memutuskan. “Apa kau serius?” Kutilang membulatkan matanya.