Tempat ini dulunya tak setegang ini. Pernah ada masa dimana semua baik-baik saja. Saat itu banyak harapan yang digantungkan agar terus bertumbuh dan berkembang. Bersemi membawa keindahan. Itulah yang kami semua harapkan, harapan yang digantung setinggi langit agar dapat membawa perubahan.
“Kamu kenapa murung begitu Anna?” “Aah, nggak papa Heni” “Aku tahu kamu lagi sedih kan, melihat keadaan sekarang?” “Kita semua sedih Hen, hanya saja beginilah hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang” Percakapanku dengan Heni saat itu seharusnya tidak diperlukan, kita hanya akan mengingat luka lama. Setelah dipindahkan, dia tinggal didekatku. Dialah yang terus menemaniku berproses, bertumbuh, sama-sama berjuang untuk lepas dari luka lama itu.
Awalnya semua terlihat indah. Ada harapan yang disemai dengan baik, berharap akan tumbuh subur, membawa perubahan bagi daerah ini. Tidak ada yang mengira rencana ini tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, karena semua sudah ditata sedemikian rupa, telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
Harapan itu mulai tumbuh, perlahan menjalar menembus awan, memperlihatkan kepada kita tentang masa depan yang rupawan. Sampai pada suatu hari mereka datang, tentara yang entah sebenarnya memiliki motif apa. Mereka datang hanya untuk memuaskan nafsu mereka, tidak segan untuk menghabisi siapapun yang sudah mereka incar. Kami semua tahu kami tidak bisa apa-apa, satu demi satu mereka memenggal kami. Mereka berusaha untuk memutus pertahanan kami dari pangkal, membuat kami menjadi semakin tidak berdaya. Saat itu harapanku pupus, mungkin kami semua akan bernasib sama. Harapan yang perlahan tumbuh, perlahan layu.
Namun semua akhirnya berubah, setelah tempat baru ditemukan. Semua orang yakin tempat itu akan jauh lebih aman, jauh dari jangkauan tentara-tentara bersama operasinya. Satu masalahnya, tempat itu tak terlalu luas untuk kita semua bertahan. Jika tempat itu kapasitasnya dipaksakan, hanya akan membunuh kita secara perlahan.
Kami terpaksa berbagi, sebagian bertahan di tempat lama dan berdoa agar tidak menjadi korban, sedangkan yang lain berada di tempat yang lebih aman, jauh dari jangkauan para tentara. Aku masih bisa melihat mereka yang bertahan, miris rasanya meninggalkan mereka harus bertaruh pada alam. Namun apa dayaku, aku hanya bisa berdoa memohonkan perlindungan. Kami semua merasa merana atas hal ini, tak mungkin kami tak iba atas apa yang harus teman-teman kami lalui. Namun pastinya pengorbanan mereka tak akan sia-sia, harapan yang direncanakan akan terus tumbuh, dan nantinya akan melahirkan generasi beru untuk meneruskan perjuangan ini.
Sekarang semua harus tetap berjalan, meskipun sakit ini masih kurasa, aku harus terus menumbuhkan harapan ini. Suasana sendu tidak pernah lepas dari tempat ini, guyuran hujan semakin membawa kedukaan. Namun di tempat ini ada hal yang sangat aku suka, melihat seorang ibu dan anaknya yang bercengkerama, bercanda dengan membawa suasana hangat. Entahlah aku sangat mencintai mereka. Meskipun mereka belum bisa menyelamatkan kami semua, namun mereka membuat harapan itu terus tumbuh. Aku masih mengingat betul bagaimana percakapan mereka saat hari tragedi itu terjadi.
“Looh bu, bunga mataharinya mati” “Kok bisa mati nak? Coba deh kamu cek!” “Kenapa ya bu, tapi pangkal batangnya berongga, kayaknya digerogotin sama semut deh” “Coba kamu pindahkan aja ke atas meja, tapi nggak cukup untuk semua ya?” “Nggak masalah deh bu, yang penting ada yang bisa diselamatkan”