Di sebuah hutan yang tak jauh dari kediaman penduduk desa timur. Terdapat sebuah pohon pinus raksasa menjulang lebih tinggi dari saudara-saudaranya, “Aku si Pinus paling sempurna, ranting-rantingku memanjang setengah tinggi kalian, dedaunanku rimbun seperempat lebih banyak dari kalian.” ujar sang Pinus dengan nada sedikit menyombong. Kawanan pinus yang lain hanya menengadah ke atas untuk bisa benar-benar melihat puncak sang Pinus sempurna.
Kawanan tupai berlarian dari ranting ke ranting, berlomba-lomba mengumpulkan buah pinus untuk stock musim dingin yang akan datang kurang lebih tiga minggu lagi. Benar udara sudah mendekati titik terdingin sejak bulan November. Sampailah kawanan tupai di ranting sang Pinus sempurna.
“Halo kawan kecil.” ujar sang Pinus. “Halo tuan Pinus, bolehkah kami berlindung sebentar untuk mengumpulkan persediaan makanan di tubuhmu yang besar ini.” Jawab ketua regu Tupai. “Silahkan wahai kawan kecil, tubuhku yang sempurna ini sudah pasti bisa melindungi kalian dari apapun.” Ujar sang Pinus. “Sangat tidak bijak menganggap dirimu sempurna wahai tuan pinus.” “Maksudmu apa kawan kecil? Apakah ada yang lebih sempurna daripada aku?” Tanya sang pinus dengan nada sedikit marah. Terlihat memang hanya dia pohon pinus yang bertubuh menjulang menantang langit-langit bumi. “Jangan marah dulu tuan, izinkan saya sedikit berpedapat.” Jawab tupai. “Silahkan, saya dengarkan!”
“Kau memang berbadan besar dan tinggimu menjulang sampai ke awan, ranting-rantingmu panjang dan rimbun sehingga menutupi apapun yang hendak berlindung, tapi kau lupa wahai pinus, kau hanya menetap, tidak bisa berjalan seperti kami, kau tidak bisa berloncat-loncat seperti kami, sungguh kau tidak mengetahui bagaimana rasanya berlarian, berloncatan ke sana ke mari. Tapi kami si tupai kecil ini tak pernah menyombong kalau kami ini sempurna, di atas langit masih ada yang tak kalah lebih dari pada kami, dia bernama Elang, binatang gagah nan terbang memutari punggungan semesta, sekali kepak sayap konon dia bisa terbang mengitari lima anak sungai timur yang terkenal panjang dan lebar. Si elang bisa melihat lebih tajam dari makhluk lainnya, juga termasuk pemburu handal, tidak akan pernah seekor elang kelaparan, bisa berburu di darat bahkan konon dia bisa menyelam air untuk menangkap ikan. Dan untuk penguasa air dia juga bakalan berkata kalau dia sempurna tuan. Bagaimana tidak, semesta kita ini lebih banyak airnya daripada daratan tempat kau tertancap ini, mungkin jika mereka dapat menyombong bahwa dari merekalah asalmula makhluk hidup bemiliar-miliar tahun yang lalu, mereka menjelajah tiga per empat luas planet ini. Dan terakhir ada satu spesies makhluk yang berkuasa atas tanah dan laut di planet ini, mereka bernama manusia, sudah pasti mereka itu makhluk yang sempurna. Mereka menguasai mulai dari pegunungan yang kaya akan emasnya, perbukitan yang sarat akan kayunya, lembah-lembah yang diisi mereka dengan pelbagai tumbuh-tumbuhan, sayur bahkan buah, sesekali kami pun mengumpulkan biji di ladang mereka. Dan yang tidak kalah lautan pun mereka lubangi untuk emas hitam. Sungguh tidak bijak wahai tuan pinus kalau kau menyebut dirimu sempurna, tapi jangan berkecil hati mendengar perkataanku barusan, kau itu sempuna, aku sempurna, elang sempurna, makhluk laut sempurna, bahkan manusia sempurna, semua makhluk sempurna pada proposinya masing-masing tuan.” Ucap ketua regu Tupai sembari memetik buah pinus terakhir yang mereka rasa cukup untuk makanan musim dingin. Dan kawanan tupai berpamitan meninggalkan pohon pinus raksasa tanpa bisa berucap banyak, sang pinus terpaku dan terdiam. Tak satu patah kata bisa ia ucapkan, bahkan salam perpisahan sang Tupai enggan dia balas.
Kabut tipis perlahan turun menutupi setengah badan sang Pinus, udara dingin semakin berkumandang disela-sela embun. Nyanyian pagi semesta baru saja dimulai, tapi tidak untuk sang Pinus, dia memilih bungkam.
Tamat!