Dalam sebuah hutan belantara, ada tiga sahabat yang sangat dekat satu sama lain. mereka adalah sebuah pohon tua, seekor burung dan seekor tupai. Sudah sedari kecil mereka bersama-sama, hingga saat masing-masing dari mereka telah dewasa mereka mulai bertualang.
Sang tupai selalu loncat dari sebuah dahan pohon satu dan lainya, sementara sang burung ia terbang dan hinggap di berbagai dahan di penjuru hutan, namun mereka tidak pernah lupa untuk kembali mengunjungi sahabatnya sang pohon. Guna memceritakan berbagai macan peristiwa yang mereka temui dalam perjalanannya.
Hingga suatu ketika pada waktu yang selalu sama, waktu dimana tiga sahabat ini selalu berkumpul, terlihat bahwa sang pohon sedang tidak begitu gembira. Wajahnya murung, dahan dan daunyapun tak tampak ceria seperti biasanya. Melihat hal tersebuh, sontak membuat dua sahabatnya yang lain menjadi khawatir. lalu ditengah kekawatiran itu, “ada apa denganmu wahai pohon sahabatku?” Tanya sang tupai. “iya, ada apa denganmu?, kau tak seperti biasanya”, sahut sang burung.
Denggan muka yang masih terlihat murung sang pohon berkata “aku sedih, setiap hari aku selalu melihat kalian pergi meninggalkan dahanku, kalian dapat bertualang kemanapun kalian menghendaki, sementara aku, aku hanya berdiri terdiam disini setiap hari. Selalu sama, menunggu kalian pulang membawakan cerita-cerita kalian, agar dapat kudengarkan. Cerita-cerita itu selalu indah dan tak pernah membosankan. Sesekali aku bahkan bermimpi menjadi tokoh-tokoh dalam cerita-cerita itu, namun aku tahu, aku tak akan pernah mampu, dan akupun juga tidak memiliki hal yang mampu untuk kuceritakan. Aku selalu melihat suasana yang sama, pada tempat yang sama”.
Mendengar hal itu membuat sang burung dan tupai menjadi ikut bersedih, hati mereka terasa pedih saat membayangkan sakitnya perasaan sang pohon sahabatnya. Siapa sangka, bahwa sebuah cerita-cerita yang selalu mereka sampaikan untuk menghibur sang pohon justru berakhir menyakitinya. Namun, pada akhirnya hal ini membuat mereka sadar. Bahwa cerita yang selalu mereka sampaikan hanyalah sebuah harapan palsu bagi sang pohon, karena ia tau, hal itu tak mungkin terjadi padanya. Hingga akhirnya, berbagai cerita-cerita ini menjelma menjadi sebuah keputusasaan atas ketidak-mampuan sang pohon untuk melakukan hal serupa seperti dua sahabatnya.
Lalu, sang burung sentak berkata, “pohon sahabatku, tolong maafkanlah kami. Seandainya kami bisa menjunjungmu dengan sayap-sayap mungilku dan kaki kecil si tupai, niscaya sudah kami lakukan itu sedari lama. Namun ingatlah sahabatku, kita bersahabat sedari dulu. Ingatlah waktu yang kita habiskan bersama, ingatlah bahwa di atas dahan dan rantingmulah ibu kami membesarkan kami, jasamu tidak akan pernah dapat tergantikan. Di musim hujan dedaunanmu itu melindungi kami dari air dan angin, dari buah dan bungamulah ibu kami memberi kami makan. Jasamu teramat besar pada kami, dan lewat cerita-cerita itulah kami membalas semua kebaikan itu. Namun siapa sangka, itu justru membuatmu menderita”.
“sahabatku, seperti kata si burung, tidakkah kau ingat saat kaki kecilku berkelana di atas dahan dan rantingmu. Bukankah itu hari yang menyenangkan?. maka kuatkanlah dirimu. Karna umur kami berdua tak akan sepanjang umurmu, kokohkan ranting dan dahanmu. Biarkan kami membesarkan anak kami di atas ranting dan dahanmu, seperti dulu ibuku membesarkanku. Dengan begitu kau tak akan pernah kesepian. karena kelak bersama dengan anak dan cucu kami, itulah akhirnya tiba giliranmu untuk bercerita. Ceritakan tentangku, ceritakan tentang sang burung, atau ceritakan cerita-cerita indah tentang petualangan kami, atau juga cerita-cerita saat kami hanya seokor tupai dan burung kecil. Ceritakanlah, ceritakan cerita-cerita indah ini, karena pada akhirnya itu saat giliranmu untuk bercerita”. Kata sang tupai dengan riang mencoba menghibur sang pohon.
Mendengar perkataan sang tupai, membuat wajah sang pohon berandak menghilangkan kerutannya, dahan dan ranting yang lemat beranjak mulai terlihat bersemangat. Matanya kembali penuh dengan harpan-harapan, hingga dahan dan batangnyapun berayun seolah tidak sabar menunggu waktu itu. Waktu yang dijanjikan mereka berdua, waktu dimana akhirnya tiba giliran sang pohon untuk bercerita.