Greedy si burung gereja akhirnya memutuskan untuk makan buah di tempat Popa, si pohon ek. Siang itu, si burung merentangkan sayap dan terbang. Dia hafal tempatnya karena sudah beberapa kali ke sana di saat dia bosan pergi ke sawah dan juga sedang tak ingin bersama temannya, Gachi. Sekarang Greedy mengepak-ngepakkan sayap dengan cepat, ingin lekas sampai ke tempat Popa. Dari atas, pohon ek yang besar itu terlihat jelas di tengah hamparan padang rumput yang menguning. Kepakan sayapnya melambat saat dia meluncur turun, hinggap di salah satu dahan si pohon ek yang kokoh. Popa terbangun mendengar kicauan nyaringnya.
“Ke mana temanmu?”, Popa bertanya, terdengar suara gemerisik daun padahal tak ada angin yang meniupnya. Greedy yang asyik mengambili buah ek dari ranting terdekat, menjawab, “Seperti biasa di sawah. Atau mungkin ke tempat di mana ada pohon ek sepertimu,” si burung mulai memungut buah dengan paruh dan menelannya. Greedy memandang berkeliling, ke tempat beberapa pohon yang sudah ditebang di sekitar Popa, hanya lingkaran tahun pada batangnya yang terlihat.
“Kawan, apa mereka juga pohon yang sejenis denganmu?”, tanya Greedy. “Iya, Gre. Mereka teman-temanku yang sudah tiada, biasa… ulah para manusia yang tak mengerti akan kelestarian alamnya. Bengis dan kejam, bukan? Kurasa mereka tak akan berhenti membabat sebelum kami berhenti memberi oksigen,” kata si pohon ek dengan muram. “Mungkin tidak semuanya seperti itu. Majikanku misalnya, dia kelihatan penyayang baik kepada hewan maupun tanaman. Bahkan, dia punya koleksi tanaman hias di halaman rumah.” “Oh, begitu…” ucap Popa.
Greedy pindah ke dahan lainnya, mengambili buah-buah ek lagi. Sesudah terkumpul, dia masukkan satu per satu ke dalam paruh mungilnya. Ketika makanannya sudah habis, ternyata sang mentari telah condong ke barat. Waktunya pulang.
“Popa, terima kasih atas sajianmu yang lezat. Aku harus kembali sekarang.” “Sama-sama, Kawan. Baiklah, hati-hati dalam perjalananmu pulang. Pastikan kamu datang ke sini lagi besok.” Si burung gereja meloncat-loncat dan berkata, “Tentu saja,” cengkeraman kakinya lepas dari dahan Popa dan dia meluncur terbang menembus angin sore yang membelai bulu cokelatnya. Semakin jauh si burung meninggalkan Popa, terbang semakin tinggi. Sepertinya ada burung lain yang mengepakkan sayap menuju ke arahnya. Setelah diamati, ternyata itu Gachi.
“Greedy!” “Oh, hai Gachi. Bagaimana perjalananmu?” “Seru sekali, Gre! Tadi aku ke sawah, mencari padi yang akan dipanen, tapi orang-orangan sawah itu menakut-nakutiku. Lalu aku pergi ke sawah lainnya, yang tidak ada orang-orangannya, dan kutemukan. Di sana, aku menikmati beras sampai puas. Bagaimana denganmu?” “Ke tempat Popa, Ga. Makan buah-buah ek.” “Popa? Wah, sudah lama aku tak ke sana.” “Ayo Ga, besok pagi kita pergi bersama ke tempatnya!” “Setuju!”
Mereka mulai terbang turun saat rumah majikannya terlihat. Seorang gadis bersweter abu-abu menyambut kedua burung dengan senang. Greedy dan Gachi melesat masuk lewat jendela yang terbuka dan hinggap di atas pundak majikannya. “Kalian sudah pulang. Sekarang beristirahatlah, lanjutkan petualangan kalian besok,” ucap Mellya sembari mengelus satu per satu burung sebelum memasukkannya ke sangkar kayu di samping jendela, menutup pintu sangkarnya.
Matahari telah terbit sejam yang lalu, menerangi atap rumah sederhana tempat Greedy dan Gachi tinggal. Sementara itu di dalam sebuah sangkar, dua burung gereja sudah bangun sejak tadi, bertengger, menunggu majikannya membukakan pintu sangkar. Mellya yang masih mengenakan piama tidurnya, segera menuju ke sangkar kayu dan melepaskan mereka. “Hati-hati ya Greedy, Gachi… Sambung petualangan kalian yang mengasyikkan hari ini. Sampai ketemu petang nanti,” ucapnya.
Dua burung bergantian keluar, hinggap di jendela, dan seketika terbang mengangkasa. Greedy dan Gachi mengepakkan sayap sambil menikmati udara pagi yang segar dan dingin. “Ayo kita adu terbang siapa yang bisa sampai lebih cepat ke tempat Popa!” Greedy berseru. “Setuju! Mumpung masih jauh.” “Lihat, aku mendahuluimu, Ga!” Temannya bergegas menyusul, “Tidak, aku yang lebih cepat!” Burung-burung itu saling menyalip, tidak ada yang mau kalah. Tiba-tiba, terdengar suara semacam raungan yang memekakkan telinga. Ternyata, sumbernya dari bawah mereka, tepatnya di tempat si pohon ek berada.
“Greedy, lihat!” kata Gachi yang hanya melayang-layang di udara tanpa berniat turun, juga tidak menghiraukan pertandingan mereka. “Ya ampun, bukankah itu Popa?” Greedy memekik kaget, dia juga lupa pertandingan. Pemandangan di bawah sungguh membuat miris. Ada seorang laki-laki perkasa yang memotong batang Popa dengan gergaji mesin! Si pohon ek merintih kesakitan, meratap minta tolong, namun tak ada yang bisa dilakukan. Benar saja, batangnya hampir terlepaa dari akar pohonnya, dan Popa semakin mengaduh. Sementara di atas Popa, dua temannya menyaksikan kejadian itu dengan tatapan kasihan bercampur geram.
“Manusia jahat!” seru Gachi. “Hei, dia tak mengerti ucapanmu, Kawan. Yang dia dengar hanyalah bunyi cuit-cuitanmu.” “Oh iya…” kata Gachi malu. “Tapi Gre, kita sama sekali tak menolong teman pohon kita.” “Kamu kira kita akan berbuat apa? Mematuk-matuk kepala orang itu agar jangan menyentuh Popa? Dia membawa senjata, Ga. Apa yang akan terjadi kalau kita mengganggunya?” Temannya tak menjawab, hanya memikirkan apa hukuman paling mengerikan untuk ditimpakan kepada manusia terkutuk yang menyusahkan si pohon ek.
Tak berselang lama, akhirnya, tubuh Popa tumbang diiringi bunyi debum yang menggetarkan tanah. Kayunya patah total, menyisakan akar yang masih mencengkeram tanah dan, tentu saja, lingkaran tahunnya. “Tapi aku marah kepadanya, Gre. Dan aku juga sedih kita tak akan pernah makan buah-buah ek lagi, ditambah kehilangan kawan.” “Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, Ga- eh lihat apa yang dia lakukan!”
Si penebang bergeser menjauh ke arah tanah lapang dekat situ, menanam dua bibit pohon ek sebagai pengganti yang telah dia tebang tadi. Dia mengatur jarak antarpohon tidak terlalu dekat, agar masing-masing dapat tumbuh dengan baik.
Gachi yang tadinya sedih, sekarang tampak terkejut dan senang, begitu juga temannya. “Wah, dia menanam pengganti Popa, namun perlu bertahun-tahun lagi untuk tumbuh sebesar teman kita… Ternyata aku keliru tentang anggapanku padanya, Gre. Manusia juga ada yang baik hati, ya…” “Begitulah, dia orang yang peduli lingkungan dan menjaga alamnya. Yah, walaupun sedih tak bisa bertemu Popa lagi, setidaknya ada cadangan buah-buah ek.” Gachi bercuit-cuit, “Benar sekali! Sekarang, ayo kita ke sawah, Greedy!” “Baiklah, ayo ke sana!”
Dua burung gereja yang masih melayang-layang di udara melanjutkan terbang ke arah matahari terbit, yang sekarang sudah meninggi. Mereka mengepak-ngepak dengan riang gembira menuju sawah yang menanti mereka.