Hari ini adalah hari pertama ku di sekolah baru, aku memperkenalkan diri layaknya siswa baru lainnya, semua teman-teman di kelas terlihat ramah dan menyambut ku dangan senyuman bersahabat.
Aku duduk di kursi paling belakang di sebelah seorang peria berkulit putih yang sedang tertidur pulas dan tak menyadari kehadiran ku, aku memindahkan tas yang tegeletak di kursi ku yang sontak membuat peria itu terbangun.
“siapa kau?” “aku lili…salam kenal” ia menatap ku kesal “siapa kau berani sekali memindahkan tas ku” ucapnya ketus, aku terdiam tak tau harus berkata apa, pertanyaan macam apa itu. Seorang gadis di samping ku menarik lengan ku dan berbisik “abaikan saja dia, dia tak waras, sebisa mungkin jangan membuat masalah dengannya” aku mengangguk dan segera duduk, meski sebenarnya aku tak paham apa maksutnya kata tidak waras itu.
Jam istirahat tiba, aku mengelilingi sekolah dengan ketua kelas seperti yang di intruksikan guru saat di kelas, “ini tempat terakhir lapangan basket sekolah, bagai apa ada pertanyaan” “tidak…. Ah ya aku ingin bertanya tentang orang yang duduk di samping ku tadi” “oh deka! Dia anak pemilik perusahaan xxx, dia terlihat dingin bukan, ia tak memiliki teman di sekolah, dari pada berteman ia lebih sering terlibat perkelahian dengan siswa lain”
Ketua kelas menunjuk seorang peria di depan pagar sekolah. “kau lihat itu, menurut rumor bodyguardnya lebih dari satu orang, menurut perjanjian sekolah dan keluarganya seharusnya mereka mengawasi dengan diam-diam namun seluruh siswa sudah tau jika mereka mengawasi deka”
“dulu saat SMP aku satu sekolah dengannya, menurut ku dulu dia sama seperti anak-anak lain, namun setelah dia sadar semua teman-temanya hanya mendekatinya karna uang ia jadi menjauh dari mereka dan berakhir seperti sekarang”, “apa setelah masuk SMA tak ada anak yang mau mencoba berteman lagi dengannya” “tentu saja ada namun semua yang ingin berteman dengannya malah berakhir sebagai musuhnya, ia tak suka di dekati jadi kau tak perlu berusaha menjadi temanya”
Ke esokan harinya deka masi tidur di mejanya selama jam pelajaran berlangsung, bahkan saat istirahat pun ia hanya sibuk dengan ponselya dan mengabaikan anak-anak yang bergegas keluar kelas, “lili ayo ke kantin” ajak nia “kalian duluan saja aku akan menyusul”
Aku semangkin penasaran dengan deka, dan akhirnya aku pun mencoba menyapanya “apa kau mau ke kantin bersama” ia menatap ku dengan tatapan dinginnya “apa kau mau mati” “tentu saja tidak” jawabku asal, “mau main game bersama, aku juga jago main game itu” ia tak menjawab “apa kau ikut les?” “kata teman-teman kau selalu dapat peringkat satu, padahal kau selalu tidur di kelas”
“aku menyogok guru dengan uang ku, kau puas” “ah jangan bercanda aku melihat kertas tugas mu kemarin dan jawaban mu memang benar” ia meletakan ponselnya dan menatap ku kesal “ tak perlu berbelit-belit, apa yang kau inginkan dari ku, kau butuh uang untuk les?”
Aku diam tampa kata, wajar saja dia tak punya teman fikir ku, aku pergi ke kantin dan membeli dua botol soda, aku meletakan satu botol tepat di depan deka “ayo minum, aku memaafkan perkataan mu karna aku tau kau tak sedang berusaha mengusir ku, ini aneh aku tak pernah di tolak sebelumnya” ia mengabaikan perkataan ku bahkan tak menyentuh botol itu sedikit pun.
“aku tau kau melakukan itu untuk melindungi hati mu agar kau tak terluka lagi, tapi aku tak menginginkan apa pun dari mu, ayah ku juga memiliki perusahaan yang cukup besar di luar kota, meski tak sebesar perusahaan xxx…, aku mengatakan ini agar kau tau aku hanya ingin menjadi teman mu”
Hari-hari terus berlalu aku terus menyapa dan mengajak deka berbicara meski ia selalu mengabaikan ku, aku bahkan merebut ponselnya dan menyimpan nomer ku di ponselnya untuk menelfon dan mengirim pesan setiap pulang sekolah, meski tentunya tak di balas sama sekali bahkan ia serin membentaku di kelas jika aku duduk satu senti saja lebih dekat ke arahnya, hingga membuat seisi kelas terheran-heran.
Namun semua itu berubah di pagi yang cerah ini, deka datang lebih lambat dari biasanya, saat tiba di kelas ia meletakan satu botol soda tepat di depan ku, yang ku anggap sebagai lampu hijau dalam pertemanan ku dengannya. Sesuai perkiraan ku sejak saat itu ia mulai menanggapi perkataan ku, mengajarkan pelajaran yang tak ku mengerti bahkan menunjukan foto anjing peliharaanya sky,
“ dia hadiah ulang tahun ku dua tahun yang lalu, kau tau ia sangat suka di ajak jalan-jalan di pagi hari dia juga bla bla bla bla” ia menceritakan semua kisah tentang anjingnya dengan semangat terkadang ia tersenyum dan tertawa di antara cerita-ceritanya, aku menatapnya memperhatikan, ia terlihat sangat menawan saat tersenyum sekaakan membawa orang yang melihatnya ikut merasakan apa yang ia rasakan.
“apa kau sesuka itu pada sky?” tanya ku “ya tentu saja dia adalah teman ku yang setia” “bagaimana dengan ku?” tanya ku menggodanya “ia hanya membalas dengan tawa dan senyuman paling manis yang pernah ku lihat di wajahnya. Kami menjadi lebih akrab meski terkadang ia masih canggung memberikan pujian atau pendapatnya pada ku. Namun itu tak berlaku dengan teman-teman lain, di sekolah deka masi bersikap dingin dan sering memaki mereka.
Hari-hari terus belalu, aku terus berusaha mendekatkan deka dengan teman-teman yang lain, perlahan rumor buruk tentangnya mulai memudar, namun semangkin sering aku melakukannya bodyguard-bodyguard beka semangkin sering mengancamku untuk menjauh dari deka, dengan alasan nilai deka menjadi buruk karna ku atau aku yang di anggap menjadi perusak jalan kesuksesan yang telah di ciptakan keluarganya, hinga akhirnya deka melihat ku yang sedang berdebat dengan seorang bodyguardnya di gerbang sekolah,
“jangan pernah menemuinya atau berani mengancamnya, ku rasa kau tau apa yang bisa ku lakukan pada keluarga mu, ayah akan menutup semua kasus yang terjadi pada ku, namun apa kau yakin ayah akan perduli dengan hidup mu” ancam deka , “kami hanya melakukan perintah, tuan muda”
“aku tak perduli perintah apa yang di berikan ayah pada kalian yang jelas kau harus tetap diam untuk membuat keluargamu tetap hidup dengan layak”
Jujur aku sangat kaget mendenger kata-kata deka, namun aku tau itulah cara satu-satunya yang mampu ia lakukan untuk melindungi ku….
-TAMAT-