Ini merupakan salah satu dari sekian hari membosankan yang dilewatkannya. Setiap hari ia meluncur bebas di udara, melayang-layang mencari makan di sekitar sawah. Saat ada serangga menempel di padi dan rerumputan, ia segera menukik cepat dan melahapnya. Kadang kala sikapnya ini membuat resah si petani sehingga batu-batu melayang hampir mengenainya.
Tak peduli panas dan hujan. Ia terus menyongsong hari dan dengan bangga membentangkan sayapnya di langit luas tanpa batas. Hembusan angin sejuk menyertainya. Dan matanya menatap sayu dunia dari atas sana. Ketika senja datang, ia dan kawan-kawannya berpindah ke rawa dan sungai untuk memakan jangkrik.
Selanjutnya, sekumpulan burung walet ini kemudian kembali mengangkasa. Mengepakkan sayapnya dengan latar langit senja yang indah. Matahari hampir tenggelam di ujung timur sana, cahayanya kian meredup. Menyisakan seberkas cahaya redup berwarna oranye yang menghias langit.
Koloni para walet terbang kembali ke sarangnya. Untuk sesaat meninggalkan langit yang akan kehilangan sinarnya. Mereka meluncur melintasi langit, melewati bukit dan hutan-hutan. Salah satu walet di barisan belakang tak sengaja melihat ke arah bawah.
Tampak ada sebuah bangunan semi-permanen di sana. Seorang laki-laki tua berdiri sambil membawa ember berisi butir-butir kecil makanan berwarna cokelat terang. Baunya amat kuat sampai-sampai menarik perhatian si walet. Burung itu kemudian menukik menghampiri orang tua itu. Sesampainya di bawah, si lelaki tua sudah masuk ke dalam rumah semi-permanen itu.
Si walet terbang rendah menuju ke atap bangunan yang terbuat dari plat besi tipis dan berkarat. Ia hinggap di sana. Melalui sebuah lubang kecil, matanya melihat ke dalam. Laki-laki tua itu tengah menuang butir-butir makanan itu ke dalam sebuah tempat makan berbahan kayu yang terpasang di sebuah kandang.
Di dalam kandang berbahan kawat itu, ada banyak burung puyuh yang tinggal. Dengan badannya yang gempal, mereka saling berebut untuk menyantap makanan yang diberikan si laki-laki tua. Dengan mudahnya paruh mereka mematuk-matuk butir demi butir yang diberikan oleh sang tuan. Semakin membuat tubuhnya kian gemuk.
Setelah kenyang makan, puyuh-puyuh berpindah ke tempat minum. Mereka nikmati air berwarna kekuningan yang mengalir melalui selang dan turun ke sebuah wadah plastik. Bukan air biasa, air itu mengandung vitamin yang menyehatkan.
Makan sudah, minum pun sudah. Para puyuh kini duduk manis di dalam kandangnya yang nyaman tanpa takut ada binatang lain yang menyerang mereka. Beberapa dari mereka ada yang memejamkan mata. Kapanpun mereka ingin makan, mereka hanya tinggal bangun dan berjalan ke kotak makanan. Perut mereka bisa kenyang sepanjang hari.
Melihat itu, si walet merasa iri. Selama ini ia terbang ke segala penjuru untuk mencari makan. Kadang sampai bertaruh nyawa. Itu pun tak selalu ia berhasil mendapat makan.
Dirinya bahkan pernah menahan lapar seharian karena belum dapat serangga. Dengan tubuhnya yang lemas, ia terpaksa terus terbang demi mendapatkan belalang dan jangkrik.
Tapi puyuh-puyuh itu enak sekali hidupnya. Mereka tak perlu lelah berkeliling mencari makanan, tak takut dirinya terancam oleh hewan lain. Yang mereka lakukan hanyalah berdiam diri di dalam kandang yang hangat sambil menunggu si laki-laki tua datang membawa makan. Setelah itu, mereka bisa makan dengan bebas tanpa takut kelaparan.
Akhirnya, si walet kembali terbang mengangkasa. Ia kepakkan sayapnya dan kembali mengejar koloni yang sudah meninggalkannya. Pikirannya terus tertuju kepada puyuh-puyuh itu. Betapa mudahnya hidup mereka, tidak seperti walet yang harus bersusah payah bertahan hidup.
Ia merasa hidup ini tidak adil. Kalau puyuh bisa makan enak setiap hari, harusnya walet juga bisa. Maka di penghujung hari itu, di hadapan sang senja. Si walet berdoa kepada Tuhan. Semoga saja, dia bisa hidup sebagai burung puyuh. Ia ingin tinggalkan hidupnya yang berat ini. Ia ingin hidup aman-aman saja seperti para puyuh. Setelah sampai di sarangnya, si walet beristirahat dan tertidur.
Keesokan harinya, ia terbangun. Awalnya ia agak bingung, tapi selang beberapa saat barulah ia sadar. Dirinya kini terbangun tidak sebagai walet lagi, melainkan sebagai burung puyuh. Ia bangun di dalam kandang hangat dan nyaman. Di sekitarnya banyak puyuh-puyuh lain.
Bulu hitamnya kini berubah warna menjadi warna cokelat dengan motif acak di sayapnya. Badannya kini gemuk seperti yang lain. Ia merasa amat sehat. Ia sangat senang karena berhasil meninggalkan hidupnya yang sengsara sebagai seorang puyuh. Si walet atau kini si puyuh mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang menerima doanya.
Tak lama suara pintu kayu terdengar, engsel besinya yang sudah tua menghasilkan bunyi nyaring saat dibuka. Si laki-laki tua datang dengan embernya. Sungguh inilah yang ia tunggu-tunggu. Butiran-butiran itu kemudian masuk ke dalam kotak kayu. Baunya amat lezat. Ia tak bisa menahan dirinya untuk melompat dan bersaing dengan puyuh lain untuk melahap makanan itu.
Hingga akhirnya si puyuh kekenyangan. Ia telah selesai makan dan minum. Padahal hari masih sangat pagi. Jika ia hidup sebagai walet, jam segini pasti dia belum dapat makanan sedikit pun. Biasanya ia akan menahan lapar sampai siang tiba. Tapi hidup sebagai puyuh sangat mudah. Inilah rasanya hidup, ia tak pernah senyaman ini dalam hidupnya.
Berhari-hari dirinya hidup sebagai burung puyuh. Setiap hari, segala yang dibutuhkannya selalu tersedia. Makan, minum vitamin, kandang yang hangat. Ia sangat menikmati semua pemberian Tuhan padanya. Si puyuh sangat bersyukur. Badannya semakin gemuk dari hari ke hari. Pikirnya, tak ada yang lebih berharga dari badan yang sehat dan bahagia.
Hingga pada suatu sore, ia mulai bosan dengan kesehariannya. Setiap hari hanya duduk diam di dalam kandang. Makan, minum, bertelur lalu tidur. Saat bangun tidur keesokan harinya, ia kembali mengulangi kegiatan kemarin. Sesekali ia berjalan-jalan, tapi hanya sebatas di dalam kandang saja. Sesempit itu dunianya kini.
Dalam kebosanannya itu, ia tak sengaja melihat ke atas. Melalui lubang ventilasi udara, mata si puyuh melihat kawanan burung walet yang terbang dengan bebasnya. Mengepakkan sayap di atas langit, meluncur tanpa batas.
Si puyuh mulai rindu dengan kehidupannya yang dulu sebagai walet. Ia mulai berpikir dan menilai kembali hidupnya kini. Menjadi burung puyuh memanglah enak, bisa minum dengan mudah dan tidak takut ancaman hewan lain. Tapi menjadi burung walet pun tidak ada buruknya, walau agak sulit mendapat makanan tetapi mereka bebas dan mandiri.
Di dalam kandang ini meski terjamin akan dapat makan, tapi ruang geraknya sebatas di dalam kandang saja. Sedangkan di luar sana, ia bisa merasakan kebebasan dan tetap mendapat makanan walau sedikit. Perlahan perasaan sesal timbul dalam hatinya. Yang harusnya ia lakukan adalah bekerja lebih keras untuk mencari makan, bukan malah menjadi burung puyuh yang malas.
Tak lama, si laki-laki tua datang. Ia membuka pintu kandang, tangannya masuk dan mengambil satu per satu butir telur yang tersangkut di dalam. Saat pintu terbuka itu, terbesit di pikirannya untuk kabur. Maka dengan cepat, ia berlari dan melompat ke luar kandang. Kemudian dengan bebas dirinya terbang.
Baru saja dirinya mendapatkan kebebasan yang ia idamkan. Tiba-tiba, ia kembali jatuh ke tanah. Sayapnya tak cukup kuat untuk terbang membawa beban tubuhnya yang gemuk itu Si laki-laki tua berjalan mendekatinya, suara langkah kakinya terdengar. Si puyuh pun pasrah. Dengan mudah mengambil kembali burung puyuh yang kabur itu “Kalau kamu menginginkan kebebasan, kamu harus belajar terbang terlebih dahulu,” kata si laki-laki tua yang kemudian memasukkannya kembali ke dalam kandang.
Si burung puyuh pun kembali meringkuk sedih di dalam kandangnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia melihat ke langit melalui lubang ventilasi. Menatap kawanan burung walet yang terbang bebas di langit sana. Sementara dirinya, terkekang di dalam kandang. Ia merasa sangat iri dengan para walet yang bisa terbang bebas di langit sana.
Maka senja itu, di bawah langit yang perlahan redup. Si puyuh pun berdoa kepada Tuhan. Ia ingin hidup sebagai walet supaya bisa terbang bebas di langit. Walau sulit dapat makan, walau kadang hidup sengsara. Ia tidak peduli, ia siap menanggung itu semua asalkan ia terbebas dari kandang ini.
Setelah berdoa, si puyuh memejamkan matanya. Ia coba untuk tidur. Dan berharap semoga saat ia terbangun esok hari, semoga Tuhan mengabulkan doanya dan dirinya sudah berubah menjadi walet kembali.