Rabu, 11 November 2020
Musim Ikan di Dunia...
"Huft! Capek juga ngerawat ikan-ikan ini. Mending kalau ekornya panjang terus warnanya menarik! Lah ini? Jelek semua!" pikirku seraya membersihkan wadah ikan milik adikku.
"Tuuk! Tuuk!" Dua botol yang begitu kotor di letakkan di samping kakiku.
"Yang ini juga, tolong bersihkan ya, Kakaku!" pintanya.
"Iya, iya! Adikku yang paling tampan sedunia air!" cetusku.
"Terimakasih, Kakakku yang paling baik!"
Sedang menjadi juru bersih botol ikan, begitulah profesiku pagi ini di dekat kamar mandi. Sedang majikanku adalah adik kecilku yang sedang tersenyum lebar.
Namun, senyuman adikku sebenarnya berwarna begitu pucat di bibir dan kedua matanya.
Iya, dia sedang sakit. Sakitnya bukan main, karena itulah aku menuruti semua permintaannya, meskipun salah satunya harus bersih-bersih wadah ikan kesayangannya.
Adikku namanya Shin Den, sedang aku sendiri Shu Ra. Kami berdua adalah anak dari orang tua yang sudah tiada akibat pandemi Virus Cor, virus yang membumi hanguskan begitu banyak manusia di era sebelumnya.
Saat itu, orang tua kami sedang di luar negeri. Begitu virus menyerang dunia, kami berdua kehilangan mereka. Akhirnya kini kami hanya tinggal berdua.
Adikku masih sekolah dasar kelas tiga, sedang aku belum lama ini baru lulus sekolah, lulusan virus.
Meski tanpa kedua orang tua, kami berdua lumayan hebat, apalagi adikku. Dia itu jauh lebih hebat dariku karena meskipun sedang sakit, dia tetap semangat untuk hidup.
Ikan-ikan inilah yang paling membuatnya begitu tersenyum lebar, ia begitu semangat setelah aku selesai membersihkan wadah dan mengganti air semua ikannya.
"Kakak, aku bantu bawa ya!" pintanya.
"Boleh, tapi bawa jaring seser saja ya! Hahaha!" candaku sambil memegang semua toples berisi air jernih.
"Kakak pelit! Huft!" cetusnya.
"Pelit bagaimana ya? Aku yang capek kamu yang nikmatin hasil?" balasku sambil menata semua toples pada rak ikan.
"Hehehe! Jangan lupa kasih daun katapang, garam, juga .... Uhuuukk! Uhuuukk!" Tiba-tiba adikku berhenti bicara dan batuk.
"Shin!" teriakku, dengan cepat aku mendekatinya.
"Kakak! Darahnya keluar lagi. Hiks, hiks!" seru adikku sambil menunjukkan ujung bibirnya yang telah mengalirkan darah, ia pun menangis ketakutan.
"Jika batuknya mengeluarkan darah lagi, kau harus cepat membawa adikku kemari, jika tidak ...." Ucapan Dokter spesialis organ dalam langsung mengiang di telingaku.
"Kakak?" tanya adikku saat melamun.
"Iya, kita harus pergi ke tempat ...."
"Syuut!"
"Shin!"
Tanpa berkata lagi karena Shin sudang pingsan, aku pun dengan sigap membawanya pergi ke tempat Rumah Sakit terdekat karena itu tempat kerjanya, Dokter Yuun Jie dokter perempuan yang menangani kasus penyakit yang menjangkit pada adikku.
====
Beberapa waktu kemudian, di depan kamar pasien...
"Graap!" Pintu tertutup, Dokter Yuun Jie pun keluar ruangan.
"Dokter? Bagaimana keadaan adikku?" tanyaku, penuh kekhawatiran.
"Ikut aku, Shu Ra. Kita bicarakan di ruanganku," ucap Dokter Yuun Jie.
Aku pun lantas mengikuti Dokter Yuun Jie. Sampai di ruangannya hanya kabar buruk yang keluar dari bibir manisnya.
Setelah mendengar semua penjelasan Dokter Yuun Jie, aku kembali ke kamar pasien. Di atas kasur pasien, adikku terlihat sedang memperhatikan televisi begitu aku membukanya.
"Kakak! Cepat kemari!" seru adikku sambil melambai tangannya.
"Wah! Ikan kesukaanmu masuk televisi!" seruku begitu duduk di dekatnya.
"Itu ikan Sang Juara Betta Kontes! Wahyu Halfmoon kakak! Orang Indonesia itu!" seru adikku.
"Wahyu ... Halfmoon?" tanyaku.
"Iya! Dia yang jadi juara Kontes Online tingkat Dunia tahun ini! Masa kakak tidak tau?" tegasnya.
"Mana aku tahu, aku tidak se ...." kataku terhenti begitu mengingat perkataan Dokter Yuun Jie.
"Shu Ra, penyakit adikmu sudah terlalu parah. Obat yang kemarin aku berikan tak ada efek baiknya. Bekas operasi pada organ paru-parunya saat kami mengangkat Virus Cor, semakin lama infeksinya semakin menggerogoti seluruh bagian paru-parunya." terang Dokter Yuun Jie dalam ingatanku.
"Apakah, tidak ada harapan lagi Dokter?" tanyaku.
Menggelengkan kepalanya, Dokter Yuun Jie terlihat mengerutkan bibir. "Kami sudah berusaha, tapi ... Maaf, hanya sebatas ini saja kemampuan kami." Jawabnya.
"Dokter, carikanlah obat untuk Shin! Dia yang aku punya. Dia satu-satunya keluargaku! Aku mohon!" seruku seraya bertekuk leher layaknya bersujud.
"Sekali lagi, aku minta maaf. Usia adikmu tinggal sebatas satu pekan kedepan." Kata Dokter Yuun Jie sambil membangkitkanku. Lantas ia memelukku.
"Shin Den," ucapku.
"Turutilah semua permintaan adikmu, Shu Ra," ucap Dokter Yuun Jie saat memelukku.
"Syuur!"
"Tes! Tes!"
====
"Mana aku tahu, aku tidak sehebat Wahyu Halfmoon," ucapku pada Shin Den.
"Siapa bilang? Ayolah, Kakak! Aku tahu genetik ikannya itu Maskot Koi, ekornyanya pun belum seberapa! Jika aku dan kakak beraksi, kita bisa melampauhinya! Kita ciptakan Halfmoon Koi yang lebih sempurna!" bujuk Shin.
"Baiklah! Sekarsng juga aku akan pergi ke luar kota untuk membeli ikan yang terbaik!" tegasku.
"Aku ikut!" sahut Shin.
"Sayangnya, aku minta maaf Shin. Dokter meminta agar kamu menginap di sini sampai kamu sembuh," ucapku berbohong.
"Huft! Dokter cantik menyebalkan! Kalau begini aku tidak bisa ikut ke luar kota!" cetusnya.
"Jangan khawatir, Shin! Jika sudah dapat ikan untuk indukannya, aku langsung kemari dan menunjukkannya padamu!" tegasku.
"Janji?" tanyanya.
"Janji!" balasku seraya melilit jari kelingkingnya yang sudah berubah warna kebiruan.
"Baiklah, aku pergi dulu Shin! Ingat, baik-baik pada Dokter Yuun Jie! Jangan membantahnya!" seruku seraya melangkah cepat keluar.
"Kakak! Jangan lupa, Halfmoon Koi!" teriak Shin.
"Tes!"
"Tes!"
"Tes!"
====
Seraya berlari meninggalkan Rumah Sakit, aor mataku berjatuhan. Sama denganku yang jatuh di depan kendaraan umum.
"Hei, anak muda! Jangan tergesa-gesa! Nanti jatuh! Hahaha!" seru seorang penumpang saat turun dari Bus Kota.
"Bruuk!" Aku menubruk pundaknya tanpa bicara, lantas aku pun masuk Bus Kota dengan cara melompat.
"Set!" Aku duduk dengan cepat di sebelah seorang penumpang.
"Anak muda, sepertinya kau sedang buru-buru?" ujar orang di sebelahku, suaranya kakek tua.
"Aku ingin mencari Halfmoon Koi untuk Adikku!" tegasku tanpa melihatnya.
"Halfmoon Koi? Apa yang kamu maksud ikan seperti ini?" tanyanya seraya meletakkan sebungkus ikan dengan plastik ganda bolak-balik.
Terkejut bukan main, aku takjub dengan ikan yang sedang memekarkan semua siripnya yang bercorak warna-warni. "Inikah Halfmoon Koi yang dimaksud oleh adikku?" ungkapku.
"Sepertinya adikmu tahu banyak soal ikan?" tanyanya.
"Dia sangat tahu! Bahkan genetik yang aneh pun ia bisa menebaknya! Kakek, di manakah aku bisa membeli ikan ini?" balasku sambil bertatap mata dengan Halfmoon Koi dalam plastik.
"Sepertinya adikmu calon juara seperti Sang Idola Wahyu Halfmoon." Katanya, lantas ia menarik ikannya dan meletakkannya di pangkuanku. "Ikan seperti ini belum pernah ada, aku sudah terlalu tua untuk bermain ikan. Bawalah untuk adikmu, lanjutkan karya besarku. Dan kalahkan muridku yang bernama Wahyu Halfmoon," ucapnya seraya berdiri kemudian berjalan ke pintu keluar Bus.
Sementara aku masih melamun mendengar ucapannya. "Apa? Jadi kakek yang barusan itu seorang Master?" pikirku.
"Tak!"
"Tak!"
"Tak!"
"Kakek! Terimakasih!" teriakku begitu sampai di pintu keluar Bus.
"Syuut! Syuut!" Kakek itu melambai tangan lalu berjalan memasuki gang kecil.
"Halfmoon Koi, Shin pasti senang melihat aku membawakannya ikan dari Kakek ini!" seruku.
"Tuk! Tuk! Tuk!" Aku membenturkan uang logam pada besi pegangan sebagai tanda berhenti.
Setelah turun dari Bus Kota, aku pun kembali ke Rumah Sakit dengan sebuah taksi.
====
"Nguung!" Halfmoon Koi jatuh bersama plastik ganda yang membungkusnya.
"Byuuk!" Samar terdengar seperti bunyi air yang masih aman.
"Shin?"
"Tidak mungkin!"
"SHIIIIN!!!!"
Belum juga masuk kamar pasien tempat di mana Shin di rawat, Dokter Yuun Jie bersama suster melintas di depanku.
Begitu terkejutnya aku berteriak keras saat Dokter Yuun Jie mendorong ranjang roda dengan kain yang menutupi seluruh badan di atasnya. Aku pun berlari kencang menyusul Dokter Yuun Jie.
"Dokter!"
"Shin???"
"Tidak!!!"
Aku berteriak tak jelas karena begitu histerisnya. Sementara Dokter Yuun Jie hanya melangkah cepat bersama susternya.
"Maaf, Shu Ra! Kami harus segera melakukan transplantasi! Sebaiknya kau tunggu saja dan berdo'a!" tegas Dokter Yuun Jie.
"Transplantasi? Apa maksudnya, Dokter?" tanyaku.
"Kakek ini baru saja meninggal, pihak keluarganya mendengar tentang penyakit adikmu. Mereka bercerita kepada Kakek ini, lalu Sang Kakek menunjuk dadanya dan menunjuk kamar adikmu di sebelah kamarnya. Lantas, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan isyarat agar organ paru-parunya di donorkan untuk adikmu." Terang Dokter Yuun Jie.
"Syuut!" Kain penutup muka mayat Kakek itupun terbuka.
Membuka mata begitu lebar, "jadi kakek yang tadi dalam Bus adalah beliau?" ungkapku begitu melihat wajah yang sama dengan Kakek tadi.
Benar-benar berhenti berlari, aku hanya menangis berairmata bahagia. "Terimakasih, terimakasih atas segalanya, Kakek. Surga telah menantimu." Kataku lantas berbalik dan berlari menuju depan pintu kamar adikku, di sanalah Halfmoon Koi sedang terlihat mengayunkan semua sirip indahnya.
"Maaf, sudah menjatuhkanmu, Wahai Ikan Master Halfmoon Koi," ucapku seraya mengambilnya di lantai. Kemudian, aku menuju ruang tunggu.
====
Tepat pukul 23.11 atau jam 11 malam lebih 11 menit dan 11 detik...
Membuka mata, adikku tersenyum begitu lebar, selebar bukaan sirip Halfmoon Koi di depan mukanya.
"Kakak! Halfmoon Koi! Waw, benar-benar istimewa! Bahkan saat malam semua sisik nya berkilau bagai galaksi langit!" seru adikku dengan suara serak.
"Mulai sekarang, lampauhilah Wahyu Halfmoon, tidak! Lampauhilah semua Juara Betta Kontes Dunia Air!" tegasku dengan tersenyum sambil menggenggamkan bungkusan Halfmoon Koi.
"Aku sayang kakak, Shu!" serunya sambil mendekapku.
"Aku juga, sangat menyayangimu, Shin." balasku seraya mengacak-acak rambutnya.
====SELESAI====