Sore itu, Kei berjalan menyusuri koridor bernuansa putih, bau obat menjadi ciri khas, kadang tersenyum kepada perawat yang sudah familiar dengannya.
Sudah hampir 3 bulan Kei selalu berkunjung ke tempat ini, tanpa rasa bosan, ataupun lelah.
Begitu tiba di depan pintu salah satu ruangan, Kei berhenti, tangannya berada di kenop pintu, tapi belum berniat membukanya, ia menghembuskan nafasnya, lalu menyiapkan senyum sedemikian rupa, agar sosok yang akan ia kunjungi ikut tersenyum.
Kei akui, sangat sulit untuk tersenyum seperti ini, dadanya sesak hanya karena memikirkan sosok yang ada dibalik pintu ini, tapi ia harus kuat, ia tak boleh terlihat rapuh.
Menghembuskan nafas sekali lagi, Kei pun memutar kenop pintu, membuka pintu ruangan itu, untuk mendapati sosok yang sangat ia sayangi.
Mendengar langkah seseorang, sosok yang tadinya menghadap ke jendela, kini berbalik untuk menghadap Kei.
"Hai" sapa Kei.
"Hai juga, Kei habis latihan ya? Kenapa nggak ganti baju dulu?" Sosok yang disapa langsung membanjiri Kei dengan pertanyaan, tak lupa senyum manis yang terpampang diwajah pucat itu.
Kei memperhatikan penampilannya sejenak di kaca besar yang ada di ruangan itu, seragam voli masih terpasang di badannya, rambutnya sedikit berantakan efek yang ia dapat karena buru-buru untuk datang kesini secepatnya, dan keringat yang memperjelas kalau pemuda itu belum sempat melakukan apapun setelah latihan.
"Ah iya benar, Hehe habis latihan aku langsung kesini, makanya nggak sempat ganti baju" jawab Kei canggung.
Gadis yang diajaknya bicara hanya terkekeh mendengar jawaban dari Kei, lalu kembali memperhatikan ke luar jendela.
Kei hanya tersenyum, sambil berjalan mendekati gadis itu, lalu duduk tepat di kursi yang tak jauh dari kasur yang gadis itu tempati.
Kei hanya diam, tidak ingin mengganggu ketenangan sang gadis, tapi matanya tiba-tiba fokus ke 1 benda yang ada diatas meja rawat.
"Belum makan?" Tanya Kei
Gadis itu hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan Kei.
Kei menggeleng pelan, lalu mengambil semangkuk bubur yang harus sudah habis dari tadi.
"Ayo makan" ujar Kei.
"Aku malas" jawab gadis itu.
"Yunna, makan" Kei belum menyerah.
"Aku tidak suka bubur itu, rasanya tidak enak" dan nampaknya Yunna juga masih keras kepala.
"Kau harus makan agar cepat sembuh" Kei tetap bersikeras.
"Yang bermasalah itu kaki dan tanganku, bukan pencernaanku" balas Yunna, yang berhasil membuat Kei tertegun.
Kei terdiam sambil memperhatikan Yunna yang penuh dengan perban, lengan kiri, pergelangan tangan kanan, kaki kanan, dan kaki kiri yang di gips, tak hanya itu di dahi sebelah kanannya terdapat luka lecet.
Seketika ingatan 3 bulan yang lalu menghampiri Kei, ingatan dimana ia mendapatkan kabar kalau gadisnya mengalami kecelakaan, ingatan tentang kondisi Yunna yang mampu membuat Kei takut...sangat takut, ingatan tentang Yunna yang terus menutup matanya selama 2 bulan, dan ingatan tentang ekspresi kosong Yunna saat pertama kali sadar dari komanya.
"Kei..." panggil Yunna lirih.
"Iya?" Balas Kei, yang masih berusaha menghilangkan ingatan-ingatan buruk dari kepalanya.
"Aku ini...merepotkan sekali ya, maaf membuat Kei repot, Kei bisa tinggalkan aku kok kalau Kei sudah lelah"
Ada apa ini? Kenapa Yunna tiba-tiba berfikir seperti itu? Kei tidak merasa direpotkan, sama sekali tidak, justru Kei senang bisa merawat kekasihnya disaat-saat seperti ini.
"Kei pasti lelah, pagi-pagi Kei harus kuliah, setelah kuliah Kei ada kegiatan voli, dan sehabis semua kegiatan melelahkan itu, Kei mengunjungi aku, yang tidak bisa apa-apa... aku... tidak bisa seperti dulu lagi, aku sekarang tidak bisa apa-apa selain membuat orang lain kerepotan..." setiap kata yang keluar dari mulut Yunna membuat jantung Kei seperti disayat, suara Yunna bergetar, tanda ia sedang menahan tangisnya.
Kei hanya menghela nafasnya, ia tidak kuat lagi jika harus terus mendengarkan kata-kata penuh sesal yang keluar dari mulut Yunna.
"Yunna...dengar sini, aku nggak pernah merasa direpotkan, justru aku senang, aku bisa mengurus pacarku, yang selama ini selalu mandiri, aku tau, kamu tidak ingin merepotkan orang lain kan?, tapi tidak ada salahnya kok untuk sedikit bergantung" ujar Kei sambil meletakan mangkuk bubur tadi kembali ke atas meja.
"Selama ini kamu selalu berusaha sendiri, tidak ingin membuat orang lain terlibat dalam masalahmu, orang tua kamu pasti sedih kalau tau kamu seperti ini, ingat tante kamu pernah bilang, jangan pendam semuanya sendiri kan? Kalau kamu nggak mau merepotkan tantemu, disini ada aku kok, aku bisa jadi tempat kamu bersandar, aku bisa jadi pendengar kamu, kamu bisa pinjam bahu aku kalau kamu ingin menangis, aku ada disini, paham?" Kei melanjutkan kata-katanya sambil menggenggam lembut tangan mungil Yunna.
"Jangan sedih lagi, semua luka ini pasti sembuh nantinya, memang tidak seperti dulu, tapi aku masih nerima kamu, apa pun kondisi kamu" kali ini senyum tulus terlihat diwajah Kei.
Yunna terdiam, ia menyayangi laki-laki yang ada dihadapannya, sangat, tapi begitu mengingat kondisi yang ia punya sekarang, Yunna takut, diluar sana masih banyak wanita cantik, yang masih memiliki kondisi yang jauh lebih baik dari Yunna.
"Tapi...di luar sana masih banyak cewek lain yang lebih da-"
"Aku tetap milih kamu" potong Kei.
Lagi-lagi Yunna terdiam, ia memandang Kei, terlihat keseriusan dari sorot mata laki-laki itu, ia tidak bercanda, ia serius.
"Ingat janji aku? I will love you for the rest of my live, aku nggak bakal mengingkari janji yang aku buat" ujar Kei mantap.
Yunna merasa lega, ia bersyukur, ia merasa beruntung bisa memiliki laki-laki seperti Kei.
"Bukannya janji itu dibuat untuk dirusak?" Tanya Yunna.
"That's a b*llsh*t, itu omong kosong, janji dibuat ya untuk ditepati" jawab Kei,
Yunna hanya tertawa, dan Kei tersenyum lega, gadisnya kini merasa lebih baik.
"Sekarang makan ya?" Tawar Kei.
"Ehh? Tapi aku nggak suka buburnya" rengek Yunna.
"Aku nggak dengar alasan, pokoknya kamu harus makan" balas Kei.
"Hmph" Yunna menyilangkan lengannya, dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Kei lupa, ini lah yang akan terjadi jika situasi kembali normal, kekasihnya akan kembali ke sosoknya yang keras kepala.
"Aku juga ikut makan, gimana?" Ujar Kei.
"Beneran?" Tanya Yunna.
"Iyaaa Yunna" jawab Kei sambil mengacak rambut gadis itu.
Yunna tersenyum, mereka pun menikmati bubur bersama, setelah habis Kei meletak mangkuk kosong itu kembali ke atas meja, lalu membantu Yunna untuk minum.
"Ughh, buburnya nggak enak" ujar Kei.
"Apa aku bilang" balas Yunna.
Kei hanya tersenyum, lalu kembali menggenggam tangan mungil Yunna.
"Kalau kamu udah boleh keluar rumah sakit, kita temuin orang tua kamu yuk" ajak Kei.
"Iyaa, aku juga udah lama nggak datang ke makam ibu sama ayah" balas Yunna sambil tersenyum senang.
Kei mencium punggung tangan Yunna, membuat gadis itu tersipu.
"I love you princess" ujar Kei sambil menatap kekasihnya.
"I love you too, my hero" balas Yunna