Akio adalah seorang gadis yang sangat cantik, bahkan kecantikannya sampai terdengar ditelinga negara lain.
Di usianya yang sudah menginjak 22 tahun ini membuat banyak orang berlomba lomba untuk menjadikannya seorang istri, dari orang biasa sampai dengan pejabat tinggi, namun Akio merasa cinta yang bisa membuatnya menikah, tanpa rasa cinta ia tak mau menikah.
"Nak kenapa kau menolak semua orang yang datang untuk melamarmu?, apa dari mereka tak ada yang kau sukai?"tannya ibu Akio sambil mengelus kepala anaknya yang begitu cantik dan manis itu.
"Iya bu maafkan aku, tapi memang belum ada yang menarik bagiku."jawab Akio melihat ibunya yang sedang sedih akan sikap pemilih anaknya itu.
"Nak, cinta bukan hanya didapat saat kau merasakannya, namun cinta juga bisa kau dapatkan setelah menikah."tutur lembut sang ibu memberi nasehat.
"Aku tau bu, tapi apakah aku salah jika aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku."jawab Akio yang membuat sang ibu hanya bisa tersenyum kehabisan kata kata.
Akio hanya memiliki seorang ibu tanpa sosok seorang ayah, itulah alasan Akio ingin mencari lelaki yang memang bertanggung jawab penuh atas dirinya, karena ia tak ingin seperti sang ibu yang dicampakan oleh ayahnya yang dianggap Akio sebagai pecundang,
yang jelas Akio ingin menikah dengan lelaki yang memang sudah ditakdirkan untuk dirinya melalui rasa yang kuat tak terkikis memudar hanya karena waktu.
"Baiklah sekarang segeralah mandi dan makan, jangan kebanyakan melamun tidak baik."tegur sang ibu.
"Iya baik bu."jawab Akio sambil tersenyum beranjak meninggalkan ibunya yang masih duduk memikirkan keinginan anak gadisnya itu.
Sampai saat dimana Akio menemukan sosok lelaki yang ia cintai, ia sangat bahagia karena ia mulai merasakan takdirnya sudah menghampirinya.
Hitoka adalah lelaki miskin yang bekerja paruh waktu di restoran mewah, ia bekerja sebagai pelayan biasa disana, Hitoka juga seorang pengusaha toko buku, ia membagi waktunya malam di restoran dan siang di toko bukunya tersebut, Hitoka yang tampan memanfaatkannya untuk menarik pelanggan untuk lebih banyak membaca, khususnya wanita yang selalu memenuhi toko bukunya saat di siang hari, Akio yang mengetahui akan hal tersebut tak membuang kesempatan, ia selalu datang ke toko buku itu hanya untuk melihat senyum indah yang terlukis di wajah Hitoka, hingga suatu ketika, Hitoka melihat Akio yang tampak bingung mencari cari buku namun tak menemukannya.
"Kau cari buku apa?, mungkin aku bisa membantumu mencarinya."tanya Hitoka melihat lihat deretan buku diatas rak yang tersusun rapi.
"Heum...aku mau mencari buku tentang aku dan kau."balas Akio yang ikut mencari namun membuat Hitoka tersenyum kecil di sudut bibirnya.
"Heum kalau begitu, kita harus menciptakan kenangan dahulu baru membuatnya sebagai buku cerita."balas Hitoka dengan lolucon yang membuat Akio gugup.
"Hahaha itu lucu."jawab Akio tertawa namun meneruskan pencarian bukunya.
Sejak saat itu Akio semakin sering terbayang dengan wajah Hitoka yang tampan serta tutur katanya yang lembut.
Namun setelah itu Akio merasa sangat sedih karena Hitoka tak lagi seperti beberapa waktu lalu, kini Hitoka tak menghiraukan Akio, padahal Akio hampir setiap hari membeli buku hanya untuk melihatnya.
Sejak saat itu Akio memutuskan untuk tidak lagi datang ke toko buku Hitoka, ia merasa Hitoka tak menyukai dirinya, kini Akio harus membuang rasanya itu secara perlahan, setiap hari ia bernyanyi dari balik jendela kamarnya, memang dengan tatapan kosong dan kadang pula ia meneteskan air matanya yang entah mengapa mengalir begitu saja.
Di tempat toko buku, Hitoka tampak resah menunggu kedatangan Akio gadis yang memikat hatinya itu tak pernah muncul lagi, secara diam diam ia selalu memperhatikan setiap gerak gerik Akio yang sibuk mencari serta duduk membaca buku, kini gadis itu tak pernah lagi mengunjunginya, tanpa sadar hari hari yang ia jalani kembali hampa setelah berbunga bunga beberapa saat lalu, ia merasa Akio tak mempunyai rasa apapun kepadanya yang memang bukan siapa siapa bagi Akio yang memang berasal dari keluarga yang kaya raya.
Mereka berada dibawah langit yang sama dengan rasa yang sama namun dengan argumen yang berbeda,
hanya takdir yang bisa mempertemukan mereka kembali, dan hanya takdir pula yang bisa membuat mereka bersatu atau perlahan melupakan dan hilang.
6 bulan kemudian……di Danau Kyuzen.
Hingga akhirnya sang takdir benar benar memperlihatkan keberadaannya di antara insan yang ditakdirkan bertemu kembali karena rasa yang masih sama, sama sama ingin memiliki.
"Huaaa...pemandangan yang sangat indah."ucap Akio memejamkan mata menghirup udara, tampak jelas senyum indah yang terlukis di wajahnya yang penuh harap.
"Eum sangat indah, bahkan indah dari alam semesta."ucap Seorang lelaki yang membuat Akio terkejut, seketika matanya terlihat sendu melihat lelaki yang berdiri di sampingnya yang masih memejamkan matanya menikmati segarnya udara.
Tak ada kata yang terucap, hanya hembusan angin segar yang meniup rambut indah Akio yang masih menatap Hitoka yang kini menatapnya dengan senyum yang sama seperti dulu, di toko buku.
"Selamat datang kembali wahai takdirku."batin Akio yang merasa sangat bahagia.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu."tanya Hitoka menggoda Akio yang memalingkan wajahnya serta pipinya yang memerah, ia menarik nafas dan berkata.
"Haa sudah lama sekali ya."ucap Akio tersenyum bahagia menatap lembut Hitoka yang memandang dengan penuh minat terhadapnya.
"Jika aku tak kesini mungkin aku tak akan menemukan sesuatu yang lebih indah daripada bintang."goda Hitoka yang menambah warna merah di pipi gadis cantik itu.
"Heum...apa kau percaya akan adanya takdir?"tanya Akio sambil melihat bunga sakura yang berguguran di atas mereka berdua.
"Aku akan percaya ketika ia benar benar menyatukannya dalam sebuah ikatan yang seharusnya."jawab Hitoka yang seketika membuat Akio merasa diatas awan.
Akio hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya merasakan hangatnya genggaman tangan lelaki yang ia cintai itu menuntunnya berjalan di bawah pohon bunga sakura yang sedang berguguran memenuhi jalanan.
Tamat.
Hormat saya.
iitarnt_ia