Menapaki lintasan bumi
Berjalan tanpa henti
Ingin menyerah berkali-kali
Tapi tak sampai hati
Dengarkan aku sekali ini
Aku pun ingin dicintai
Itulah goresan tangan yang Doris tulis di sebuah pohon di kebun belakang milik keluarga. Doris anak pertama dari dua bersaudara. Terkadang ia merasa iri karena selalu disisihkan oleh keluarga, hingga ia menjadi gadis pendiam.
"Doris, makan dulu kata ayah" panggil nayla kepada doris
Ya, nayla tidak pernah memanggil doris kakak, dia selalu memanggil doris dengan namanya. Itulah yang di ajarkan ayah mereka.
Doris tidak menjawab dan mengabaikan panggilan nayla. Dia hanya diam di bawah pohon rindang dengan sebilah pisau di tangannya, bekas mengukir kalimat di batang pohon itu.
Ia tiduran di atas rerumputan dengan tangan di bawah kepalanya untuk menopang kepalanya, matanya terpejam untuk beberapa saat dan kepalanya menengadah ke langit bitu yang terbentang luas, seakan menenangkan hatinya. Dia mulai mengingat perlakuan orang tuanya yang tidak adil termasuk ayahnya yang merupakan cinta pertamanya tapi tak pernah diperlakukan baik oleh sang ayah.
Bulir-bukir air keluar dari sudut matanya, menelusur pelipis kiri dan kanannya, hidungnya memerah, dadanya sakit dan sesak. Dia mulai terbayang di saat ayahnya memukulnya ketika melakukan kesalahan kecil,dia juga mengingat betapa ayahnya sangat kentara pilih kasih di depan keluarga besarnya dan dia seolah di anggap tidak ada.
Ketika doris sibuk dengan pikirannya, sang nenek yang sangat menyayanginya mendekatinya dan mengusap air mata yang mengalir, tetapi doris sama sekali tidak terkejut karena dia yakin tidak ada yang menyayangi nya sepenuh hati kecuali sang nenek. Ayah dan Ibu doris telah lama bercerai hingga doris di tinggalkan begitu saja dengan sang ayah.
"doris cucuku yang cantik, sudah makan dan meminum obatmu? " tanya neneknya dengan lembut
Doris tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
"ayo cucu nenek yang cantik, makan dan minum obat dulu, biar kamu cepat sembuh" ucap nenek sambil mengusap puncak kepala doris
Doris saat ini sedang mengidap penyakit yang tidak dapat di sembuhkan, dia sering sakit-sakitan dari mulai dia bayi, hingga ibu dan ayahnya harus banting tulang untuk membeli obat-obatan doris yang cukup mahal.
"nek, doris tidak ingin minum obat, biarkan doris meninggal saja nek, ayah tidak menyayangi doris, jadi untuk apa doris ada? doris juga sudah terlalu banyak menyusahkan nenek" ucap doris dengan suara parau nya.
Neneknya tidak mengucapkan satu kata pun, hatinya sangat sakit ketika mendengar ucapan doris,cucu kesayangannya yang harus menanggung semua rasa benci orang tuanya.
Kemudian doris bangun dari tidurannya di atas rumput dan memeluk sang nenek.
"nek, doris minta maaf ya nek, kalau selama ini doris sering menyusahkan nenek, doris sayaaaang sama nenek" ucap doris kepada sang nenek.
"nek, bolehkan doris bertanya sama nenek?" tanya doris kepada sang nenek.
"tentu saja boleh sayang, mau tanya apa? " tanya nenek
"nek, apakah ayah sayang kepada doris? kenapa ayah sangat keras kepada doris? apa salah doris nek? apakah karena doris ini sakit-sakitan? " ucap doris dengan air mata yang mengalir di pipi mulusnya.
"sst.. doris kenapa berkata seperti itu? tentu saja ayah sayang sama doris, buktinya dia selalu membelikan doris obat, kasih doris makan, belikan doria baju" ucap sang nenek menenangkan doris.
"tapi ayah tidak pernah baik kepada doris di depan saudara-saudara yang lain" ucap doris
"setiap orang berbeda cara mengungkapkan rasa kasih sayangnya doris, doris harus positif thinking sama ayah ya... " ucap nenek
"baik lah nek, oh iya nek.. doris sudah menyiapkan kado untuk ulang tahun ayah hari ini" ucap doris bersemangat
"oh ya... apa itu? " tanya sang nenek penasaran
"eeiiiits... rahasia donk nek" sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Namun tiba-tiba suara teriakan dengan nada yang membentak datang dari belakang sang nenek.
"hey doris, tadi aku panggil kamu untuk makan!kenapa tidak datang! aku harus menunggu mu datang baru bisa makan, nenek juga! kenapa selalu membela doris!sudahlah cepat masuk, aku sudah lapar! " ucap nayla dengan wajah yang murka melihat sang nenek yang selalu menyayangi doris.
Nayla tidak tahu bahwa saat ini doris tengah mengidap suatu penyakit, dan dia juga terlalu dimanjakan sang ayah sehingga tak ada rasa sopan yang dimiliki nayla.
Nenek dan doris pun berjalan menuju ruang makan. Doris menghapus air matanya, dan sebelum ke ruang makan dia izin kepada sang nenek untuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya, karena ia tidak ingin sang ayah tahu kalau dia habis menangis, kalau tahu mungkin dia akan di pukul malam ini oleh sang ayah.
Dikamar mandi doris merasakan dada sebelah kirinya sakit dan tangan kirinya seperti mati rasa, dia mencoba menahan rasa sakit itu selama beberapa menit. Setelah di rasa cukup dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang makan.
"lama sekali sih! " umpat nayla.
Tapi tak di gubris dengan doris. Ketika hendak mengambil nasi,sang ayah tiba-tiba bersuara.
"tidak usah ambil banyak nasi dan lauknya, uang jatah kamu sudah habis dengan obat-obatan" ucap sang ayah yang tak berperasaan.
Doris hanya diam dan tetap melaksanakan perintah ayahnya.
Keluarga itu sungguh tidak tahu bahwa ada bahaya yang mengintai di rumahnya dan akan kehilangan salah satu anggota kekuarga itu.
Selesai acara makan malam, doris merapikan meja dan mencuci semua piring bekas makan mereka, nenek tidak berani menolong karena ayahnya doris melarangnya, kalau sampai di larang maka semua pengeluaran untuk doris akan dihentikan.
Ketika sedang menyusun piring yang sudah selesai di cuci, pintu depan terbuka lebar, saat itu angin dan hujan memang sedang kencang-kencangnya. Doris yang hendak menutup pintu pun di kejutkan dengan seorang memakai topeng, dan doris berteriak yang tentu saja membangunkan seisi rumah.
"hey darmo, keluar kamu, aku sudah cukup menahan perasaan benci ini" ucap lelaki bertopeng itu.
lelaki bertopeng itu pun berlari ke arah ayah doris,namun sialnya doris yang terkena tusukan pisau itu, dan laki-laki itu berlari setelah menusuk doris.
Ayahnya dengan cepatnya menangkap doris, dengan berurai air mata ayahnya hanya meminta maaf kepada doris.
"nak... sayang... bangun... jangan tinggalkan ayah... ayah minta maaf nak... " ucap sang ayah yang berderai air mata
"a.. ayah.. ayah tidak perlu menangis, terimakasih ayah sudah mau merawat doris hingga saat ini, doris selalu berdoa yang terbaik untuk ayah" ucap doris menahan rasa sakit
"tidak nak, ayah yang salah, ayah mohon maafkan ayah nak, tolong jangan tinggalkan ayah" sambil mengusap puncak kepala doris
"ayah... selamat ulang tahun ya.. do.. doris sudah menyiapkan kado untuk ayah, doris sayang ayah.
a.. ayah.. hidup lah bahagia" ucap doris terbata-bata
"cucuku.. jangan tinggalkan nenek, tolong jangan" ucap nenek terisak.
Tapi apa mau di kata, doris telah pergi untuk selamanya, dan meninggalkan luka untuk sang nenek dan meninggalkan penyesalan untuk sang ayah.
Selesai pemakan doris, sang ayah menuju kamar doris dengan langkah gontai dia membuka kamar itu, betapa terkejutnya ia, anak yang sering ia sisihkan ternyata begitu menyayanginya. Ayah doris berlari memeluk kado terakhir dari sang anak yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Dia menangis dengan suara tertahan dan memukul-mukul dadanya. Karena rasanya sakit di tinggalkan.
Nayla tiba-tiba masuk ke kamar doris, dan terkejut dengan semua obat-obatan yang ada di meja rias doris, karena selama ini nayla tidak pernah masuk ke kamar doris.
"ayah... ayah kenapa tidak pernah bercerita kalau doris sakit? kenapa ayah? " ucap nayla yang hatinya terguncang yang tidak jaih berbeda dengan sang ayah.
Tanpa kata diantara mereka, mereka hanya menangis dan meratapi semua perbuatan yang telah mereka lakukan di masa lalu.