Suara piring yang beradu dengan sumpah serapah dari tetangga sebelah pagi ini, membuatku menutup telinga rapat-rapat. Emak Ijah pasti bertengkar lagi soal uang dengan anaknya. Bang Parman yang seorang preman itu tidak segan-segan membanting piring atau gelas sambil melontarkan ucapan kotornya.
"Emak sudah tidak punya uang, Le." Isakan Emak Ijah menyayat hati orang yang mendengarnya.
"Aku hanya butuh uang sembilan juta! Masa sih tidak punya, Mak?"
"Sumpah, Le. Uang sisa kemarin sudah Emak gunakan untuk berobat," ujarnya lirih.
"Ah ... alasan saja kamu, Mak. Pokoknya besok pagi uang itu harus ada!" kata Bang Parman emosi sambil keluar rumah.
Tiap hari selalu ada keributan di sana dan aku senantiasa mendengarnya. Maklum rumah yang ditempati Emak Ijah adalah kontrakan milik Ayah.
"Tidak baik menguping pembicaraan orang, Nduk," sindir Ibu yang menyapu di ruang tamu.
Aku hanya manyun. Sebagai anak bungsu, aku kesepian. Kakakku yang lain sudah kerja dan kuliah di luar kota.
"Mau bagaimana lagi, Bu? Riska tidak punya kegiatan lain."
"Kamu bisa bantu Ayah di kebun, 'kan?" sahut Ibu lagi.
"Tidak mau, Bu. Liburan sekolah ini, Riska ingin bersantai." Kekehku yang langsung dapat pukulan kecil dari Ibu. Aku anak bungsu dari sembilan bersaudara. Ayah dan Ibu tidak pernah memanjakan meski diriku terlahir bungsu.
"Bu, kasihan Emak Ijah, ya? Apa tidak dosa anaknya berbuat seperti itu?"
Ibu menghentikan kegiatannya lalu menatapku dengan lembut. "Nduk, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya seperti itu. Orang tua akan melakukan semua untuk anaknya bahkan berlebihan, tetapi terkadang mereka tidak menyadari jika tindakan itu bisa berakibat fatal."
Aku ingat perkataan Ayah tempo hari. Dulu suami Emak Ijah selalu memanjakan Bang Parman karena anak satu-satunya. Semua permintaannya selalu dituruti. Namun, sejak beliau meninggal, keuangan mereka merosot. Usaha depot yang dijalankan mengalami kerugian, dan akhirnya tutup. Emak Ijah hanya mengandalkan hasil panen sawah milik mendiang suami.
"Oh, ya, Nduk. Di lemari makan ada lauk ikan dan sayur bayam. Tolong, kamu berikan sama Emak Ijah, ya!" perintah Ibu, sebelum melanjutkan menyapu.
Aku hanya menggangguk tanpa melihat Ibu. Hatiku terasa teriris melihat penderitaan Emak Ijah.
*****
"Emak Ijah ...." panggilku dari luar. Aku tidak berani masuk meskipun pintunya terbuka.
Dari arah dapur, langkah kaki yang diseret terdengar di telinga. Senyum Emak Ijah mengembang menyambutku. Ia berjalan dengan tertatih-tatih sambil tangannya bertumpu pada dinding.
"Masuk, Nduk. Maaf Emak jalannya pelan," katanya lemah.
"Ini dari Ibu, Emak. Riska taruh di dapur, ya?"
Sudah menjadi kebiasaanku langsung masuk ke dapur dan menaruh lauk pemberian Ibu. Emak Ijah tidak sekuat dulu oleh karena itu tangannya sering gemetar.
"Terima kasih, Nduk."
Aku menyuruh Emak Ijah duduk saja. Kasihan napasnya tersengal akibat berjalan. Sambil membereskan dapur yang berantakan, kulirik Emak sedang menghitung uang yang ada dalam kain dan menaruhnya di meja. Sepintas lalu aku tahu uang itu hanya berjumlah sembilan ribu saja.
"Masih kurang," desahnya seraya menaruh kembali uang itu dalam lipatan kain.
"Emak, dimakan nanti, ya?" kataku setelah membereskan isi dapur yang berantakan.
"Sampaikan terima kasih Emak sama ibumu, ya."
Aku mengiakan perkataannya dan berpamitan karena tidak ingin lama mengganggu. Mungkin ia ingin sendiri tanpa ditemani siapa pun.
*****
Malam ini suara pintu diketuk nyaring. Entah siapa yang datang, Ayah segera membukanya. Di sana berdiri Emak Ijah dengan tubuh yang gemetar. Ibu yang melihatnya langsung membawa masuk dan menyeduhkan teh hangat.
"Kamu masuk kamar saja. Tidak baik mendengar pembicaraan orang tua," usir Ibu halus. Padahal aku bukan lagi anak kecil.
Aku mendengkus kesal sembari masuk kamar, tetapi pintu kubiarkan terbuka. Biar terdengar pembicaraan mereka. Emak Ijah perlahan menangis. Biasanya ia tegar, akan tetapi kali ini pertahanannya runtuh.
"Tolong saya, Nak Bayu," mohon Emak Ijah.
"Apa yang bisa saya bantu, Mak?" tanya Ayah terdengar bijak.
Aku hanya bisa mendengar suara Ayah dan Emak Ijah saja. Ibu mungkin menjadi pendengar yang baik. Di sini Ayah yang bertindak mengambil keputusan.
"Pinjamkan saya uang sembilan juta, Nak. Nanti akan saya ganti."
Nominal sebanyak itu Ayah pasti memilikinya di tabungan. Namun, tidak serta merta ia akan memberikannya tanpa alasan jelas.
"Untuk apa, Mak?" Kini suara Ibu yang kudengar dengan lembut.
"Parman membutuhkannya untuk bayar uang kuliah."
'Uang kuliah atau foya-foya?' desisku dalam hati.
Ayah berkata dengan hati-hati agar tidak menyinggungnya. "Bukannya dua bulan lalu Parman sudah membayar uang kuliah, Mak?"
"Eh .... itu ...." Emak Ijah tergagap.
"Mak, di mana uang yang saya berikan itu?" tanya Ayah lagi dengan tegas.
Tidak ada pembicaraan apapun. Mereka saling terdiam hingga Ayah yang memulai lagi.
"Mak, usia Parman sudah dua puluh tahun. Ia sudah dewasa dan sebentar lagi akan lulus. Jangan biarkan ia menjadi anak liar dan tidak terkendali. Ada kalanya Emak harus tegas dan tidak membiarkannya berbuat ulah lagi."
Memang Bang Parman itu keterlaluan. Di usianya yang sudah beranjak dewasa, ia malah berbuat yang tidak menyenangkan hati sang ibu. Uang dan uang yang menjadi nomor satu.
"Uangnya hilang, Nak," ujar Emak Ijah.
Aku yang di dalam kamar hanya bisa menahan jengkel. Siapa lagi yang mengambil uangnya jika bukan Bang Parman? Tidak bisakah ia menjadi anak baik? Keterlaluan sekali! Uang itu pasti dipakai mabuk, main game atau berfoya-foya.
"Bantu saya kali ini, Nak," ujar Emak Ijah lagi dengan nada sedih.
"Tunggu, ya, Mak." Terdengar derap langkah Ayah masuk dalam kamarnya.
"Senang, ya menguping?" Aku hanya tersenyum kecut menyadari diriku ketahuan. Ayah lalu menutup pintu kamar. Kemudian yang kudengar, pintu depan ditutup.
Aku penasaran apa yang terjadi tadi, tetapi Ayah dan Ibu tidak akan mengatakannya. Menurut mereka ini bukan urusanku. Jadi malam ini aku tidur dengan perasaan ingin tahu. Apa Ayah memberikan uang lagi atau meminjamkannya?
*****
"Apa lihat-lihat!" Tanpa sengaja kami bertatapan mata pagi ini di teras. Aku yang sedang memasang sepatu, malah mendapat bentakan.
"Riska tidak lihat apa-apa kok," sanggahku kesal.
"Dasar anak kecil!" Ia langsung masuk ke rumahnya sambil menutup pintu kasar.
Itulah kesehariannya, ia jarang pulang. Sekali pulang yang diminta hanya uang. Seperti pagi ini, Bang Parman memarahi sang ibu lagi. Telingaku sampai kebal mendengarnya. Tetangga lain tidak berani dengannya, karena Pak RT saja pernah hampir dilukai.
"Mana uang sembilan jutanya, Mak?" Jarinya ia tudingkan ke kepala Emak Ijah.
"Emak hanya dapat sebanyak ini, Nak."
Aku yang belum berangkat sekolah, menyaksikan kekejian anak terhadap orang tuanya dari luar. Emak Ijah menyerahkan sejumlah uang. Bang Parman tidak terima.
"Apa ini! Uang ini tidak cukup, Mak!"
Karena suaranya yang keras, tetangga berhamburan melihat mereka. Namun, kali ini tetangga tidak diam menyaksikan Emak Ijah didorong hingga jatuh. Ayah sampai melerai perkelahian Bang Parman dan tetangga lainnya.
"Sudah sekolah sana. Jangan ikut campur," kata Ibu menyuruhku berangkat sekolah.
Sebenarnya aku ingin tahu kelanjutannya. Namun, sirine polisi mengurungkan niatku. Mungkin ini jalan satu-satunya untuk Bang Parman menjadi baik.
*****
"Bu, apa benar Bang Parman ditahan karena mencuri uang?" tanyaku pada Ibu beberapa hari kemudian.
"Kamu tahu dari mana, Nduk?" balas Ibu bertanya.
"Riska mendengar dari tetangga, Bu." Aku menjawab sambil membantu Ibu memetik sayur bayam.
Ibu yang sedang membuat adonan bakwan mengatakan jika Bang Parman tidak hanya mencuri uang temannya, tapi juga hampir mencelakai sang korban. Menurut Ibu, proses sidang masih berjalan dan tidak satu pun tetangga yang mau menjenguk di rumah tahanan kecuali, Ayah dan Emak Ijah saja.
"Sudah, Nduk. Jangan memikirkan hal itu. Sekarang kamu fokus sekolah saja dan jadi anak yang baik," ujar Ibu dengan lembut.
Aku tidak diperbolehkan lagi menanyai kabar apa pun tentang Bang Parman. Tiap hari kami bergantian menjaga Emak Ijah karena kesehatan menurun. Sembilan tahun kemudian, terdengar kabar yang mengatakan pemuda itu sudah bebas. Namun, hidup Bang Parman sungguh ironis karena penduduk desa mengusirnya. Mungkin itu hukuman dari Tuhan.
*****
Sejak kabar Bang Parman diusir dari desa sembilan belas tahun lalu, hingga kini aku tidak lagi mendengar kabar lelaki itu. Emak Ijah sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan rumah itu kini ditempati oleh kakakku. Sesekali aku mengunjungi Ayah dan Ibu yang semakin menua di desa.
"Ibu, kok ada ya anak seperti itu?"
Anakku tiba-tiba menyeletuk saat aku di dapur. Aku yang tidak tahu apapun terlihat bingung oleh pernyataannya.
"Ada apa, Nak?"
"Itu tetangga sebelah. Ibu dan Ayahnya dibentak kasar," sahutnya kesal.
"Oh .... tetangga baru?"
Arya menggangguk mantap dengan mengambil sepotong apel lalu dikunyahnya. Memang beberapa hari lalu ada tetangga baru di sebelah. Suasana yang biasanya sepi, kini terdengar ramai akibat keributan dan hal itu mengingatkanku dulu.
"Kasihan ayahnya, Bu," kata Arya lirih.
Aku duduk di samping dan mendengar perkataannya secara seksama.
"Memangnya ada apa dengan tetangga sebelah, Nak?"
"Paman itu mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu saat berangkat kerja."
"Kamu sudah bertemu dengan tetangga sebelah?" tanyaku penasaran, karena tidak seperti biasanya Arya bicara banyak dengan orang yang baru dikenal.
Arya mengiakan pertanyaan sembari melanjutkan makannya. Aku tidak lagi bertanya, mungkin saja tetangga tersebut mencoba mengakrabkan diri.
Sore ini sewaktu aku menyapu halaman, tanpa sengaja terlihat sesosok yang sangat kukenali, baru saja keluar dari rumah sebelah. Ia penghuni baru yang diceritakan Arya. Memang aku jarang keluar rumah jadi tidak sempat berkenalan. Pria bertubuh bungkuk dengan jalan tertatih perlahan mendekati pagar rumahku. Ia diam sejenak menatapku lalu tersenyum hangat. Ia bukan lagi seperti dulu. Tidak ada lagi sorot mata yang menghunjam dan tatapan bengis.
"Riska, ya?"
Tubuhnya yang dulu berotot kini kurus, kulitnya hitam kecokelatan dan bungkuk. Bahkan mengucapkan namanya aku sempat bergetar lirih.
"Bang Parman?"
=Selesai=