“Apa aku berhasil?” Ia bertanya.
Pria itu terdiam. Keningnya berkerut karena memikirkan sesuatu. Lalu mata cokelatnya menatap. “Tentu, bila kau bisa melewati ujian terakhir. Kupikir kau mampu.”
“Ujian terakhir?” Kening gadis itu ikut berkerut. Sudah terlalu banyak ujian yang diberikan pria itu padanya, terutama yang tertambah kata “terakhir”.
“Iya. Keberatan?”
Seulas senyum remeh muncul di bibirnya. Ia terlalu hebat untuk mengiyakan pertanyaan itu. “Tidak,” katanya, “kau pikir aku takut?” Lalu kaki kanannya ia tumpangkan di kaki kirinya. Pose sombong yang cocok dengan ekspresinya.
“Aku tahu, aku tahu. Ini yang kusuka darimu. Tak peduli seberapa berat, kau tetap menerimanya.” Pria itu terkekeh, lalu melanjutkan, “baca dan lakukan!”
Tangannya terjulur, menerima selembar kertas yang disodorkan padanya. Matanya dengan cepat menelusuri huruf demi huruf yang tertulis di sana. “Kau gila?” semburnya marah. Perintah itu bagai menghinanya dalam-dalam. “Mana mungkin?”
“Kau tak takut, kan? Hal sepele, kau tahu?”
Gadis itu memejamkan matanya. Menenangkan dirinya yang sempat dilanda emosi. “Takut?” katanya sambil berdiri, “tak ada takut dalam kamusku.” Kakinya melangkah mendekati pintu. “Aku akan menyelesaikannya minggu ini.”
Dan ia keluar.
***
Skripsi. Ujian akhir untuk seorang mahasiswa semester akhir sepertinya. Yup, sepertinya. Pria 23 tahun yang menghabiskan tiga tahun terakhirnya untuk meraih gelar sarjana di Inha University, Kim Woohyun. Walau satu kata, tetapi skripsi telah berhasil membuat sebagian otak kirinya frustasi. Apalagi ia gagap dalam tata cara dan bahasa kepenulisan. Kalimatnya yang bertele-tele atau terlalu pendek membuatnya sering merevisi lagi dan lagi materinya.
Hampir enam bulan ia berkutat dengan serangkaian huruf dan kata pada Bab I sampai Bab III dalam penyusunan skripsinya. Sekarang, ia cukup bernapas lega. Hanya dua bab tersisa termasuk penelitian. Meski demikian, ia tetap harus berlelah-ria karena harus keluar-masuk rumah sakit jiwa untuk mencari pengisi angketnya.
“Maaf, tetapi kami sudah menerima angket seperti ini dari mahasiswa lain.” Adalah salah satu kalimat tolakan yang ia dapat ketika menunjukkan angket-angket miliknya ke kantor manajemen. Kadang, hal seperti ini membuatnya kesal dan nyaris patah semangat untuk menyelesaikan skripsi yang kurang seberapa itu.
Kini, ia berdiri di depan bangunan besar bercat putih. Papan kayu kusam bertuliskan “Gonjiam Hospital” memberinya cukup informasi. Entah mengapa, ia bergidik ketika kakinya melangkah memasuki gedung.
Di lobi, hanya ada lima orang, termasuk dirinya. Dua perawat di belakang meja resepsionis dan sepasang kakek-nenek yang menunggu di sofa beludru. Ramah, ia tersenyum pada kedua perawat. Dengan cepat bibirnya meluncurkan kata demi kata yang menjelaskan kedatangannya.
“Anda bisa langsung ke ruangan Dr. Rose.” Kening Woohyun berkerut sejenak sebelum salah satu perawat melanjutkan kalimatnya, “setelah lobi ini, lurus saja. Ruangannya ada di ujung koridor lantai tiga gedung seberang.”
Setelah berterima kasih, kakinya kembali melangkah. Lagi-lagi ia bergidik. Koridor yang sekarang dilewatinya terasa lembab dan menyeramkan. Bukan karena banyak pasien gangguan mental yang mengganggunya, tetapi karena tak adanya sinar matahari yang menerobos masuk meski banyak ventilasi di sisi kanan, meski matahari bersinar terang di luar gedung.
Bertemu kelokan, ia mengambil jalan ke sisi kiri. Jalan yang menurutnya akan membawanya ke gedung seberang. Kakinya hampir sampai di ujung lorong ketika seorang anak kecil menabraknya dengan keras. Membuatnya terjatuh hingga berlembar-lembar angketnya berserakan. Bibirnya mengomel tak jelas sementara tangannya memungut dan menyusun angket-angket itu.
Selesai, ia beranjak. Namun, langkahnya urung ketika ujung jaketnya ditarik-tarik pelan dari bawah. Rupanya anak kecil tadi. Tangannya yang kurus bergelang strip nama dan sebuah tanggal terulur. Menyodorkan selembar kertas yang dirasa Woohyun salah satu lembar angketnya.
Woohyun berjongkok. Tangan kanannya menyelipkan kertas itu ke dalam map lalu mengelus lembut puncak kepala anak kecil itu. “Terima kasih,” katanya sambil tersenyum.
Ia berdiri dan berniat melangkah kembali. Namun, lagi-lagi ia urung. Genggaman anak kecil itu pada ujung jaketnya belum terlepas. Belum sedetik ia berpikir, ujung jaketnya ditarik pelan. Membuatnya mau tak mau berjongkok lagi.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Anak itu diam. Namun, matanya menatap dalam mata Woohyun. Memengaruhi syaraf Woohyun untuk merasa was-was dan takut.
“Pergi,” ucapnya pelan.
Woohyun terhenyak. Bukan karena kata yang diucapkannya, tetapi karena napas bau anak itu mengganggu indra penciuman Woohyun. Berapa lama ia tidak menyikat giginya? Dasar, anak nakal, pikirnya.
Tangan kurus anak itu terangkat. Menunjuk ke dalam ruangan di sisi kiri Woohyun—yang baru disadarinya ada. Kepalanya menoleh dan dengan segera matanya mendapati sebuah papan tulis kaca yang penuh dengan coretan. “Pergi … dari sini … sekarang. Dokter ….”
“Woohyun-ssi!”
Woohyun berpaling. Menatap kedatangan seorang wanita berjas putih. Rambut panjangnya bercat merah muda terurai rapi. Ia terlihat masih muda dan cantik. Jauh dari bayangan Woohyun yang menggambarkan tua dan jeleknya dokter psikolog.
“Park Chae Young, tapi lebih akrab dipanggil Rose. Kau mencariku, kan?” Rose tersenyum. Tangannya terulur untuk menjabat Woohyun.
“Benar,” ucapnya sambil menerima tangan Rose, “kukira ruangan Anda di gedung lain.”
“Memang ada di gedung lain, tapi kulihat kau melewati belokan koridorku. Jadi, kuputuskan menghampirimu. Daripada kau tersesat di rumah sakit yang besar ini. Jadi, ada perlu apa?”
“Pergi.”
Woohyun tersentak. Kata-kata anak kecil tadi terulang dalam benaknya. Lalu sebaris kalimat yang dibacanya juga berkelibat.
“Dimana anak kecil tadi?” tanyanya. Kepalanya menoleh untuk melihat lantai tempat anak kecil tadi terduduk. “Dan ruangan itu. Dimana?” Seketika, ia teringat ruangan aneh di sisi kirinya. Sekarang, kedua hal itu lenyap dalam pandangnya,
“Ada perlu apa, Woohyun-ssi?” Rose mengulang pertanyaannya. Mengabaikan kalimat tanya Woohyun.
“Oh. Angket.” Woohyun berpaling, menatap Rose. Mengabaikan dua hal yang mungkin hanya khayalnya saja. “Apakah anda punya waktu untuk mengisi angket-angketku?”
“Tentu.”
***
Woohyun terdiam. Matanya menelusuri huruf-huruf yang tercoret tak jelas di selembar kertas yang kini digenggamnya. Seingatnya, ia tak pernah menulis coretan-coretan itu meski merasa pernah melihatnya.
“Pergi.”
Woohyun tersentak. Kata itu terngiang lagi. Membuatnya ingat bila coretan di kertas itu mirip dengan coretan di papan tulis di ruangan aneh tadi.
Hal itu membuatnya jengah. Membuatnya ingin mengedarkan pandangan untuk menyegarkan pikirannya. Lagi-lagi ia tersentak. Di sekelilingnya tak ada lagi barang mewah. Meja dan kursi yang ditempati Rose kini berdebu. Buku-buku dan kertas-kertas berserakan tak keruan. Cat dinding terkelupas di sana-sini. Alat-alat kedokteran tersusun tak rapi. Jas putih ala dokter juga tergantung berdebu di dekat pintu. Bahkan, sofa beludru mewah yang didudukinya berubah kusam dan sobek di sana-sini. Rose yang beberapa detik lalu masih mengisi angketnya pun lenyap.
Woohyun berdiri. Kakinya melangkah perlahan di atas lantai berkerak yang penuh debu tebal.
“Dokter Rose?” panggilnya pelan.
“Ada apa, Woohyun?” Suara itu berasal dari belakangnya. Membuatnya berbalik seketika untuk memastikan siapa di sana. Lagi, ia tersentak. Rose ada di balik mejanya. Semuanya kembali normal. Tak ada meja-kursi berdebu, buku berserakan, sofa yang sobek, cat terkelupas ataupun lantai berkerak.
“Saya rasa … saya … saya harus pulang.” Woohyun menelan ludahnya susah payah. Perutnya mual. Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing.
“Tunggu sebentar! Angketmu hampir selesai.”
Woohyun terbelalak. Angketnya berjumlah hampir dua ratus lembar dan baru sepuluh menit Rose mengisinya. “Tak perlu. Saya harus pulang sekarang.”
“Selesai! Nah, kau bisa mengeceknya.” Rose beranjak. Kakinya melangkah mendekati Woohyun. “Kenapa buru-buru?” tanya Rose penasaran seraya bibirnya melengkung, tersenyum.
“Karena … ini … bukan ….”
Tangan Rose yang putih memeluk Woohyun dari belakang. Memperlihatkan sebilah pisau tajam yang sedari tadi digenggamnya. “Iya?” Rose berbisik lembut, tepat di telinga Woohyun. Membuat pria itu bergidik ngeri.
“Bukan … duniaku ….”
Dan pisau itu menerobos masuk melewati tenggorokannya.
***
Ia menguap. Matanya masih enggan terbuka lebar. Tak hilang akal, ia beranjak untuk encapai wastafel dan mencuci mukanya. Dingin adalah hal pertama yang dirasanya.
“Rasanya aku bermimpi aneh,” gumamnya sambil menatap matanya lekat lewat cermin, “ah, angket!”
Ia bergegas. Meraih map tebal yang berisi angket-angketnya. Membukanya dalam sekali gerakan. Tiba-tiba napasnya tertahan. Suaranya tercekat dan perutnya terasa mual. Angketnya telah terisi. Disertai tanda tangan Park Chae Young dan stempel basah Rumah Sakit Jiwa Gonjiam.
“Ah, biarlah.” Ia mengedikkan bahunya, “yang penting angketku terisi dan skripsiku bisa selesai.”
***
“Sudah kukatakan aku membencinya, kan? Kasihan anak itu. Bisa-bisa ia menderita gangguan mental. Padahal tujuannya meraih gelar sarjana psikolog.” Ia menggeleng, “seharusnya dia bisa menjadi psikiater hebat sepertiku.”
“Dia bahkan tak peduli bila si pengisi angket adalah Rumah Sakit Jiwa Gonjiam. Rumah sakit jiwa yang telah lama mati.” Pria di depannya menambahi.
“Yah … setidaknya dia tak akan menjadi dokter gila yang membunuh seisi rumah sakit sepertiku,” gumam gadis itu tak jelas.
“Sudahlah, tak perlu kau ingat lagi. Kau berhasil menemukan penemuan hebat dan itu cukup. Itu—”
“Aku berhasil, kan?” potongnya cepat.
“Dasar. Kau memang tak pernah berubah.” Pria itu terkekeh. “Ujian terakhirmu selesai. Kau bisa tenang sekarang.” Ia beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah mendekati gadis itu.
“Pergi.”
Rose tersentak. Bisikan di telinganya membuatnya refleks berdiri. Mendadak, ia merasa cemas.
“A-aku …. Aku harus pergi.” Ia beranjak, berbalik. Namun, langkahnya urung ketika pria itu mendekap tubuhnya dari belakang.
“Maaf, Rose. Tapi aku tak bisa membiarkanmu pergi,” bisik pria itu lembut, “kau terlanjur masuk terlalu dalam, tahu terlalu banyak.” Tangannya memainkan sebilah pisau di depan wajah Rose yang memucat. Membuat tubuh Rose kaku karena takut.
“Kau … akan membebaskan keluargaku, kan?” Suara Rose bergetar takut.
“Kau tahu, mereka membosankan. Jadi, kubunuh mereka. Kau juga akan menyusul. Tenang saja.” Pria itu menghela napas, “kau tak takut mati, kan?” Ia tersenyum remeh, “kurasa takut tak ada dalam kamusmu.”
Rose terdiam. Benar, ia tak pernah merasa takut. Pun ketika segerombol berandalan menggodanya sembilan belas tahun silam. Sekarang, ia ingin menghilangkan rasa itu.
“Benar,” ucapnya sambil tersenyum miring, meremehkan. Suaranya terdengar tenang.
“Bila kau bergerak, kau mati.” Pria itu masih berbisik. Rose tahu pria itu kini takut padanya. Maka dengan cepat Rose menggerakkan sikunya ke belakang, memukul keras perut pria di belakangnya hingga dekapan pada tubuhnya terlepas. Pun dengan pisaunya yang ikut terlempar ke lantai.
“Aku memang tak pernah takut.” Rose menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai. Mata coklatnya menatap remeh pria yang bersimpuh tak berdaya di hadapannya. “Karena seharusnya begitu, kan?” Ia melangkah. Tangannya memungut pisau lipat di dekat kakinya.
“Kau bukan pembunuh, Rose. K-kau tak akan membunuhku,” ucap pria itu pelan. Keringat banyak menetes di dahinya yang hampir tertutup rambut poni.
“Sayangnya, kau telah mengubahku menjadi pembunuh, Dokter.” Tangannya menimang dan memainkan pisau lipat yang dibawanya, “bahkan untuk membunuh pembunuh sepertimu, Cho Kyuhyun.”
Rose melemparkan pisau lipatnya dengan cepat. Tepat menusuk jantung Kyuhyun. Menyebabkan sungai kecil berwarna merah darah mengalir deras dari dadanya.
“Mission complete.” Rose tersenyum, “ah, bukan. Ujian terakhir selesai. Benar, kan, Cho Kyuhyun-ssi?”
***
“Pergi dari sini sekarang! Dokter Gonjiam yang gila akan menemukan dan membunuhmu!”
(ini adalah yang tertulis di papan tulis itu)
_::TAMAT::_