Namaku Airin. Kami baru beberapa hari pindah ke kota ini karena ayahku dipindahkan tugasnya. Keluarga kami menempati sebuah rumah di Komplek Permata Indah. Aku anak tunggal sehingga di rumah ini hanya ada aku, ayah, ibu dan Kitty kucing peliharaanku.
Sebagai pendatang baru, seperti biasa kami bersilaturahmi dengan tetangga baru kami. Tetangga sebelah kanan rumahku orangnya sangat baik dan ramah. Kebetulan mereka mempunyai 2 orang anak perempuan, Rina dan Rini yang sebaya denganku sehingga dengan cepat kami menjadi akrab.
Rata-rata tetangga baru kami cukup ramah dan menerima kedatangan kami dengan baik. Namun ada 1 rumah yang penghuninya membuatku kurang nyaman. Penghuni rumah itu adalah wanita bernama Bu Indah. Dia tinggal seorang diri di rumah itu. Ketika kami mendatangi rumahnya untuk bersilaturahmi, sikapnya sungguh tidak mengenakan. Nada bicaranya ketus dan dia tidak menawarkan kami untuk sekedar masuk dan mengobrol. Namun saat itu ayah dan ibu tidak ambil pusing. Setelah memperkenalkan diri kami langsung kembali ke rumah. Saat itu ibuku bilang mungkin memang cara bicaranya begitu tapi kita tidak tahu isi hati orang. Bisa saja orangnya baik. Kita tidak boleh menilai orang hanya dari sikap yang terlihat.
Beberapa hari di rumah baru, aku merasa suasana disini cukup menyenangkan. Aku mempunyai teman baru disini. Karena sedang masa libur sekolah setiap hari Rini dan Rina selalu mengajakku bermain di taman. Sangat menyenangkan rasanya memiliki teman baru seperti mereka.
Hari minggu kami sekeluarga pergi ke tempat wisata. Hari itu kami berangkat pagi dan pulang sore harinya. Namun saat kami sampai di rumah, kami tidak menemukan Kitty. Kami sudah mencarinya ke seluruh bagian di rumah, dari halaman, gudang, dll. Kami bertanya kepada tetangga-tetangga, tetapi tidak ada yang melihat Kitty. Hanya 1 tetangga yang tidak kami tanyai karena kami merasa sungkan, yaitu Bu Indah. Karena hari sudah mulai gelap, kami berencana untuk melanjutkan pencarian besok paginya.
Keesokan harinya aku melanjutkan pencarian ditemani oleh Rina dan Rini. Kami mencari di sekeliling komplek tetapi tetap saja tidak menemukan Kitty. Rina dan Rini mengajak aku untuk bertanya kepada Bu Indah. Awalnya aku ragu karena dalam pikiranku dia galak sekali. Tapi akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Indah.
Sesampainya kami di depan rumah Bu Indah, kami mengetuk pintu pagar rumah dan Bu Indah pun keluar. Ketika kami bertanya, Seperti biasa Bu Indah menjawabnya dengan ketus “Kenapa tanya ke saya? Saya tidak pernah melihat kucing itu disini.” “Kalaupun ada kesini pasti akan saya usir karena saya tidak suka hewan peliharaan.”
Karena kami takut dimarahi kami pun langsung pergi dari rumah itu. Kami bertiga menuju ke rumahku. Di rumah aku bertanya kepada Rina dan Rini, “Apakah kalian tadi sempat memperhatikan ke dalam rumah Bu Indah waktu dia keluar?” Mereka menjawab tidak. Kemudian aku bercerita bahwa tadi aku melihat ada mangkok makanan hewan di sudut halaman rumah Bu Indah. Tapi kenapa dia bilang tidak suka hewan peliharaan? Ada sesuatu yang aneh. Kami sama-sama berpikir bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Kenapa Bu Indah berbohong? Apakah dia yang mencuri Kitty?
Setelah berhari-hari mencari akhirnya aku menyerah dan hanya bisa menerima keadaan. Kami masih curiga Bu Indah yang mencurinya tapi kami tidak punya bukti. Tiba tiba Rina dan Rini memberi ide yaitu dengan membuat dan menyebarkan poster kucing hilang siapa tahu ada yang pernah melihat Kitty. Aku pun bergegas membuat poster itu, di-print dan menempelnya di pohon-pohon. Kami juga menyebarkannya di media sosial.
Keesokan harinya tiba tiba ada yang menelpon ke rumah. Aku sudah sangat berharap ini adalah orang yang menemukan Kitty. Aku langsung angkat telepon, namun ternyata bukan. Itu adalah telepon untuk ibu. Aku kembali sedih karena Kitty masih saja belum ditemukan hingga sekarang.
Aku masih berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke rumah Bu Indah untuk menemukan Kitty. Beberapa hari setelah itu ada yang menelpon lagi. Ternyata itu adalah orang yang tinggal di gang sebelah komplek rumahku. Diluar dugaan, dia bilang telah menemukan kucing yang mirip dengan foto di poster yang aku sebarkan.
Aku pun langsung mengajak Rina dan Rini ke tempat itu untuk menjumpai orang tersebut. Sesampainya disana ternyata benar kami menemukan Kitty yang sedang bermain-main bersama kucing lainnya disana. Ternyata selama ini Kitty tidak dicuri melainkan hanya bermain bersama teman-teman barunya di gang sebelah. Mungkin sama dengan aku yang bertemu teman-teman baru di tempat tinggal baru. Hatiku pun lega dan aku sangat senang bisa bertemu kembali bersama Kitty.
Kami jadi merasa bersalah sudah menuduh Bu Indah telah mencuri Kitty. Benar Kata Ibu bahwa kita tidak boleh menilai orang negatif hanya dari cara dia bicara.