Rama sudah menguasai Ajian dan Mustika Kalimasada dengan paripurna. Tinggal menunggu jawaban dari Ratu Sari atas keinginan Rama menjadikannya istri. Sungguh keinginan tersebut sangat menggebu-gebu dari dalam hati Rama, walaupun perbedaan di antara keduanya sangatlah susah untuk disamakan.
Rama: "Permisi, Raja Piningit, saya ingin meminta izin untuk meminang Ratu Sari. Saya sudah jatuh cinta pada beliau dan ingin menjadikan beliau sebagai istri saya."
Raja Piningit: "Hmm, Rama. Kamu telah menunjukkan kemampuanmu dan keberanianmu selama di sini. Saya rasa kamu layak menjadi suami bagi putri saya. Namun, sebagai ayah, saya harus memastikan bahwa putriku akan bahagia bersamamu. Apakah kamu mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan putriku yang masih seorang jin?"
Rama: "Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Ratu Sari. Saya akan mencintainya dengan sepenuh hati dan melindungi beliau selama hidup saya."
Raja Piningit: "Baiklah, Rama. Saya memberikan izin untuk kamu meminang putriku. Namun, ada satu janji yang harus kamu penuhi nantinya. Kamu harus menyelesaikan tugas terakhir untuk keselamatan kerajaan jin aliran putih ini. Kamu harus bisa mengalahkan raja jin aliran hitam yang telah mengancam keberadaan kerajaan jin aliran putih ini. Apakah kamu sanggup?"
Rama: "Saya siap melaksanakan tugas terakhir ini, Raja Piningit. Saya tidak akan mengecewakan Anda dan Ratu Sari."
Raja Piningit: "Baiklah, Rama. Saya akan memberikan segala dukungan yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini. Semoga Tuhan selalu menyertaimu."
Setelah Raja Piningit dan Ratu Sari menerima lamaran Rama, mereka pun mengumumkan rencana pernikahan mereka kepada Raja Piningit dan seluruh penduduk kerajaan jin. Acara pernikahan itu pun diselenggarakan dengan meriah di kerajaan Raja Piningit. Tidak lupa Rama memanggil rekannya Gendoruwo dari tempat tinggalnya di pohon beringin alun-alun untuk mendampinginya selama acara pernikahan tersebut.
Rama dan Ratu Sari berdiri di pelaminan dengan Gendoruwo sebagai saksi dari pihak Rama. Seluruh tamu undangan, termasuk para raja dan ratu dari kerajaan-kerajaan jin, tampak senang dan gembira. Acara pernikahan gaib pun dimulai dengan khidmat.
Raja Piningit memberikan sebuah pusaka yang berupa keris Kalimasada kepada Rama. "Ini adalah warisan dari nenek moyang kita, sekarang menjadi milikmu sebagai bagian dari keluargaku," ujarnya.
Rama merasa sangat senang dan terharu. "Terima kasih, Bapak. Saya akan menjaga warisan ini dengan baik," ucapnya. Setelah upacara pernikahan selesai, Rama dan Ratu Sari memimpin para undangan ke tempat istirahat sementara di kerajaan jin aliran putih. Rama dan Ratu Sari tampak begitu bahagia dan berseri-seri selama acara pernikahan tersebut. Rama akhirnya belajar tentang bagaimana hidup bersama jin dan seni sihirnya, sementara Ratu Sari belajar tentang kebiasaan manusia dan nilai-nilai kehidupan yang dipegang manusia.
Pada malam pertama setelah acara pernikahan, kedua pengantin, Rama dan Ratu Sari, tiba di kamar pengantin yang romantis dan telah dipersiapkan supaya bernuansa penuh cinta. Malam itu penuh dengan perasaan campur aduk, kegembiraan, dan sedikit kecemasan karena ini adalah momen istimewa dalam hidup mereka.
Rama dan Ratu Sari saling melihat dengan penuh cinta, memancarkan rasa kasih sayang yang telah mereka bangun selama beberapa lama menjalin hubungan. Mereka duduk bersama di sudut kamar yang indah, memandang satu sama lain dengan penuh harap dan kelembutan.
Rama meraih tangan Ratu Sari dengan lembut, memandanginya dengan mata yang penuh kepercayaan. Mereka mulai berbicara tentang impian mereka, harapan, dan tujuan hidup bersama. Mereka tertawa bersama, saling memberi dukungan, dan berbagi cerita tentang masa lalu mereka yang penuh kenangan.
Perlahan, suasana menjadi lebih intim. Rama dengan lembut menyeka jatuhnya air mata di pipi Ratu Sari, memberikan kecupan lembut yang penuh cinta. Mereka merasa kenyamanan dan kehangatan satu sama lain saat mereka saling berpelukan dalam keheningan yang indah.
Tanpa ada kata-kata yang perlu diucapkan, mereka mulai saling menjelajahi dan memahami tubuh satu sama lain dengan lembut dan penuh rasa hormat. Setiap sentuhan mereka penuh kelembutan dan perhatian, mengungkapkan cinta dan keintiman yang mendalam.
Walaupun ada keinginan alami untuk menjadi lebih dekat secara fisik, mereka memutuskan untuk mengambil waktu dan menikmati proses ini bersama-sama. Mereka saling memahami bahwa malam ini bukanlah tentang memenuhi keinginan sesaat, tetapi tentang menggabungkan jiwa, tubuh, dan hati mereka dalam perjalanan baru sebagai pasangan suami istri.
Rama dan Ratu Sari merasakan kehadiran satu sama lain dengan begitu dalam, dengan penuh penghargaan terhadap keindahan dan keunikan masing-masing. Mereka membiarkan cinta dan keintiman mereka berkembang dengan alami, tanpa terburu-buru atau merasa tertekan oleh ekspektasi.
Mulai dari malam itu adalah menjadi momen yang penuh keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan. Mereka berdua merasakan ikatan spiritual dan emosional yang semakin menguat, menghubungkan jiwa mereka dalam pernikahan yang suci.
Setelah Rama dan Ratu Sari berbulan madu di kerajaan jin aliran putih, mereka bermaksud kembali ke rumah Rama di alam manusia untuk menjalani kehidupan sebagai keluarga kecil yang terdiri suami dan istri. Namun, sebelum pulang, Raja Piningit meminta Gendoruwo untuk tinggal di kerajaan dan menjalani proses pembersihan aura hitam yang telah mengendap pada dirinya selama ini.
Raja Piningit: "Gendoruwo, aku tahu kamu memiliki jiwa kebaikan untuk berubah menjadi makhluk jin aliran putih. Namun, aura hitam yang mengendap pada dirimu selama ini membuatmu tidak bisa memperlihatkan kebaikanmu tersebut. Oleh karena itu, aku akan membantumu membersihkan aura hitammu."
Gendoruwo: "Terima kasih, Raja Piningit. Aku akan mengikuti proses yang kamu berikan."
Raja Piningit kemudian mengajak Gendoruwo ke sebuah ruangan khusus di istana. Di sana, Gendoruwo diberi bimbingan untuk memperbaiki dirinya dan mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif. Raja Piningit juga mengajak Gendoruwo untuk membaca dua kalimat syahadat sebagai bentuk pengucapan kesetiaan pada Allah SWT.
Setelah proses pembersihan aura hitam selesai dilakukan, Gendoruwo mengalami perubahan drastis pada wajah dan tubuhnya. Wajah menyeramkan yang dulu dimilikinya kini berubah menjadi wajah yang tampan dan bercahaya. Aura hitam yang dahulu mengendap pada dirinya telah hilang dan digantikan dengan aura putih yang bersih.
Gendoruwo yang sebelumnya menjadi makhluk jin beraliran hitam, kini telah berubah menjadi jin beraliran putih setelah diproses oleh Raja Piningit. Wajah menyeramkannya telah hilang dan kini ia tampil lebih bersahabat dengan manusia, malah menjadi sangat tampan dibandingkan prajurit yang ada di kerajaan jin aliran putih.
Gendoruwo: "Terima kasih banyak, Raja Piningit. Aku merasa sangat lega dan bahagia karena bisa berubah menjadi makhluk jin beraliran putih."
Raja Piningit: "Sekarang, kamu telah menjadi bagian dari keluarga kerajaan aliran putih. Jangan sia-siakan kesempatanmu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadilah makhluk yang baik dan membawa kebaikan bagi siapa saja. Kamu bisa tinggal dikerajaan ini daripada menghuni pohon beringin sendirian di alun-alun Kampung Hantu"
Gendoruwo kemudian memutuskan untuk tinggal di kerajaan aliran putih dan membantu Raja Piningit dalam menjalankan tugasnya. Ia juga mengambil peran penting dalam memimpin dan membimbing para jin aliran putih yang baru saja bergabung dengan kelompok mereka. Dengan sikap dan perilaku yang baik, Gendoruwo berhasil mendapatkan kepercayaan dari semua orang di kerajaan.
Setelah pernikahan Rama dan Ratu Sari, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di rumah Rama yang berada di alam manusia. Ratu Sari berusaha sekali beradaptasi dengan kehidupan manusia meskipun sesekali merindukan kerajaannya di alam jin. Setelah sekitar satu bulan berlalu, berita gembira datang bahwa Ratu Sari hamil anak dari Rama. Mereka sangat bahagia dan tak sabar menunggu kelahiran anak mereka. Rama pun merasa terhormat dan bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menikahi seorang puteri jin dan dikaruniai seorang anak. Kehadiran calon buah hati di keluarga Rama dan Ratu Sari pun menjadi tanda semakin diterimanya mereka oleh masyarakat setempat sebagai pasangan yang penuh keberuntungan dan kesuksesan. Dan Rama pun semakin berhati-hati dalam menjaga istri nya karena ini adalah buah hati mereka yang pertama. Menurut penerawangan penasihat Raja Piningit, anak yang dikandung Ratu Sari itu harus dilindungi sejak dari kandungan, karena akan menjadi incaran jin aliran hitam untuk dibunuh sebelum bayi itu lahir dan menjadi bocah sakti yang memiliki kekuatan dahsyat ilmu aliran putih. Oleh karena itulah, akhirnya Raja Piningit menugaskan Gendoruwo menjadi pengawal sehari-hari bagi keluarga Rama dan Ratu Sari selama di alam manusia. Dan Gendoruwo pun tidak menolak tugas tersebut karena Gendoruwo juga tidak asing dengan alam manusia dan juga Rama adalah temannya.
Diam-diam, Ki Sabrang masih memantau dengan seksama melalui penglihatannya yang tajam dari puncak Gunung Lawu. Ia melihat bahwa Rama dan Ratu Sari telah menikah dan Ratu Sari telah hamil. Ki Sabrang sudah melihat aura mistis dari kandungan Ratu Sari yang mengindikasikan bahwa calon jabang bayi yang sekarang ada di kandungan Ratu Sari bakal menjadi orang besar yang mengancam keberlangsungan kerajaan dan ilmu Ki Sabrang.