Kisah Nyata
Waktu itu, hujan terus mengguyur ibu kota dengan begitu deras. Lampu jalan mati. Terlihat seorang gadis memakai dress putih tengah duduk di halte bus. Menunggu seseorang menjemputnya. Wajahnya terus menyiratkan sebuah senyuman sembari mengelus kedua lengan yang mulai terasa dingin.
Satu jam kemudian karena seseorang yang menjemputnya tak kunjung datang, ia lalu bangkit dari tempat duduknya. Alih-alih ingin mencari notifikasi dari hapenya, justru hapenya sudah mati karena kehabisan bateray. Gadis itu mendengus kesal lalu berjalan menyebrang jalan hendak menuju ke stasiun yang berada di samping jalan tempat ia berdiri.
Dari arah berlawanan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja menabrak seseorang dengan sangat keras.
Tak berapa lama, listrik menyala membuat semuanya terlihat jelas.
***
Sally berjalan menyusuri jalan dengan payungnya yang bermotif bunga, menerjang derasnya air hujan. Setelah membeli tiket, Sally masuk ke dalam kereta dan duduk menyendiri.
Meskipun orang yang ia tunggu tak kunjung menjemput, tapi, pancaran wajah ayunya yang teduh tak menunjukan aura kekecewaan.
Sally memandangi penumpang yang duduk berderet di depannya. Tak ada yang bersikap ramah sedikitpun. Mereka acuh, seakan tak menyadari keberadaannya.
Setelah menempuh waktu lima belas menit, Sally turun dari kereta, dan mulai berjalan keluar stasiun. Hujan sudah berhenti menyisakan jalanan becek dan bau sampah yang menyengat.
Sally mengusap perutnya yang kini terasa lapar. Ia mampir ke pedagang martabak manis favoritnya yang berada di depan gang sebelum ia masuk ke dalam kontrakan rumahnya.
"Bang, aku beli martabak manis rasa keju mix cokelat. Sama martabak telor spesial, satu yah," ucap Sally kepada penjual yang sudah lama ia kenal.
Si penjual hanya terdiam sambil fokus membuat pesanan dari orang yang sudah antri. Biarpun tidak dijawab, Sally tetap berbesar hati. "Kenapa si Abang tidak ramah seperti biasanya? Oh, mungkin karena dia sibuk," batin Sally.
Baru saja ingin duduk di bangku yang kosong, seorang wanita tiba-tiba menyerobot begitu saja.
"Astaghfirulloh! Mbak, saya tadi mau duduk di situ," ucap Sally seraya mengelus dadanya.
Namun, wanita itu cuek dan memilih bermain dengan hapenya.
Lima belas menit menunggu, pesanan sally tak kunjung dibuatkan oleh si penjual. Bahkan, wanita yang datang terakhir tadi sudah pulang membawa martabak. Tapi, Sally
terus diacuhkan. "Abang Malik kenapa sih, kok jadi cuek sama aku," batin Sally. Sally mencoba untuk bersabar dan menunggu si penjual membuatkan pesanannya.
"Abang Malik kenapa? Dari tadi kok cuek sama saya. Apa saya ada salah sama Abang Malik?" tanya Sally dengan raut keheranan.
Lagi lagi ia tak mendapatkan balasan. Beberapa menit kemudian si penjual yang diketahui bernama Malik, telah selesai membuat pesanan untuk Sally, dan memasukannya ke dalam kresek putih lalu mengikatnya. Si penjual lalu terduduk di bangku yang berada di bawah pohon asem, lalu menyeka setiap keringat yang keluar dari dahinya, menggunakan sapu tangan. Pandangannya ia edarkan ke jalan raya yang kini ramai oleh pengendara sepeda motor.
Sally tersenyum lalu meletakkan uang pecahan 50 ribu rupiah di atas alas martabak, dan mengambil bingkisan itu. "Makasih ya, Bang. Sally pulang dulu," ucap Sally seraya tersenyum meskipun si penjual tak melihat ke arahnya.
Sally berjalan masuk ke gang kontrakannya. Ia membuka sepatu dan mencuci kakinya di kran depan sebelum masuk ke dalam kontrakan.
Hal pertama kali yang dilakukan Sally saat ia sampai di kontrakan adalah mengisi daya bateray hapenya. Lalu, ia membuat teh hangat. Setelahnya, ia meluruskan kaki di depan ruang tv sambil menikmati martabak yang baru saja ia beli dengan ditemani secangkir teh hangat dan drama korea di televisinya.
Tok tok tok
"Sally, Sally, kamu udah pulang belom?" tanya seseorang dari balik pintu kontrakan Sally.
"Sudah! Masuk aja, Nan, pintunya gak ku kunci kok," jawab Sally dari dalam.
Sally menikmati martabaknya dengan hati bahagia, namun, ia merasa aneh karena temannya tak kunjung masuk ke dalam setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban darinya. Sally lalu bangkit dari posisinya dan membuka pintu kontrakan. "Nanda ...." Sally tak mendapati seseorang yang dikenalnya. Ia celingukan mencari sosok yang ia sebut Nanda. "Loh, kemana perginya? Apa dia tidak jadi main?" Sally lalu berjalan menuju kontrakan dengan nomor lima, tempat Nanda berada. Sally mengetuk pintu beberapa kali namun, tidak ada jawaban. "Nanda, kamu shif malem ya? Nda?" Sally mencoba menekan gagang pintu ke bawah, "di kunci? Berarti Nanda shif malem. Tadi dia cuman mastiin aku udah pulang atau belum rupanya," gumam Sally kemudian kembali ke kontrakannya lagi.
Hari ini, Sally baru saja pulang dari rumah orang tuanya dengan menaiki bus. Ia menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Namun, satu jam berlalu, orang yang menjemputnya tak kunjung datang juga. Sally memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan naik kereta karena jarak kontrakan dengan stasiun sangat dekat. Orang yang ia tunggu ialah kekasihnya sendiri yang sepulang kerja berjanji akan menjemput di halte, lalu mengantarnya pulang ke kontrakan.
Sally membersihkan badan dan berganti pakaian dengan piyama. Ia bersiap-siap untuk tidur. Namun, hatinya tidak tenang jika tak mendapat kabar dari sang kekasih. Sally memutuskan untuk beranjak dari kasurnya yang empuk dan mengambil hape yang sudah terisi 80 persen. Sally kembali ke atas kasur dan menyalakan hapenya.
Benar sekali, banyak panggilan tak terjawab dari kekasihnya, dan juga dari orang tuanya. Bahkan, Nanda juga ikut menghubunginya.
"Sayang, maaf ya, aku mungkin akan telat karena tiba-tiba saja disuruh lembur," chat dari kekasihnya yang bernama Aril.
"Sayang, motor aku tiba-tiba mogok. Kamu pulang dulu aja naik kereta. Takutnya kemalaman kalo nungguin aku," chat kedua dari Aril.
"Sayang, jangan marah yah. Aku masih nyari bengkel. Bukan maksud aku gak nepatin janji. Tapi, aku kasian kalo kamu harus nunggu aku sendirian di halte," chat ketiga Aril.
"Aku udah nyampe halte. Ternyata kamu udah gak ada. Aku balik ke kontrakan yah. Soalnya aku kehujanan," chat Aril ke empat.
"Kamu marah ya sama aku?" chat Aril kelima.
"Eh, ternyata hape kamu mati. Hubungi aku kalo udah nyampe kontrakan yah. Pastinya kalo hape kamu udah diisi bateray," chat ke enam Aril.
"Sally, kamu dimana? Kontrakanmu masih gelap aja," chat dari Nanda.
"Sayang, sudah sampai kontrakan belum?" chat dari Mamah Sally.
Sally tersenyum membaca semua chat dari orang-orang terdekatnya yang begitu perhatian padanya. Ia kemudian membalas chat tersebut satu per satu. Setelah itu, ia tertidur dengan wajah yang terus tersenyum.
Keesokan paginya, Sally mengecek hapenya. Namun, sama sekali tak ada balasan dari kekasih, teman, maupun orang tuanya. Sally merasa kecewa ketika semua orang tiba-tiba perhatian, dan mendadak menjadi acuh. Ia kemudian memilih untuk mandi dan berganti pakaian dengan seragam kerjanya. Setelah rapih dan jam menunjukan pukul enam pagi, Sally mengambil tas slempang dan keluar dari kontrakan. Tak lupa ia mengunci pintu kontrakannya terlebih dahulu sebelum berjalan ke depan gang dan menunggu bus jemputan ke tempat dimana ia bekerja.
Sesekali, Sally mengecek hapenya kembali. Lagi-lagi tak ada pesan di sana. Bus jemputannya sudah datang dan berhenti di sampingnya. Sally membuka pintu dan mulai mencari tempat duduk di pinggir jendela. Semua karyawan nampak tertidur sehingga tak menyadari kedatangannya.
Sang sopir masih celingukan menatap gang sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sally merasa heran karena si sopir tak kunjung melajukkan busnya.
"Pak Imam, saya sudah masuk loh!" Seru Sally dari bangku nomor empat. Ia mengira jika Pak Imam masih menunggu dirinya. Sebab, shif satu yang bekerja di pabrik T hanya dia seorang di gang tersebut. Tak berapa lama setelah Sally berseru, Pak Imam melanjutkan perjalanannya lagi menjemput karyawan yang lain menuju kawasan.
Bus jemputan sudah sampai di pabrik. Semua karyawan yang datang absen terlebih dahulu dengan cara finger print. Mereka bergantian masuk dengan karyawan yang bekerja di shif dua. Sally berjalan menuju lokernya dengan sedikit berlari. Ia berharap masih bisa bertemu Nanda. Namun, sesampainya di loker, ia tak menemukan Nanda. "Apa, Nanda udah pulang ya? Tapi, tadi di depan aku juga gak liat dia," Sally bergumam lalu meletakkan tasnya ke dalam loker lalu menguncinya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuruni anak tangga menuju kantin. Diliriknya setiap karyawan maupun karyawati yang berpapasan dengannya. Namun, mereka terlihat acuh. Bahkan beberapa karyawan yang ia kenal tak menjawab sapaannya. Sally tidak mengerti dengan hari ini. Ia merasa sedih karena semua orang tampak tidak peduli.
Sally mengaduk-aduk nasi kuningnya dengan tatapan kosong. Lalu, seorang laki-laki yang satu departemen dengan dirinya datang menghampiri sambil membawa sarapan juga. "Hay, boleh gabung gak?" tanya laki-laki itu.
"Ihsan?" sapa Sally seraya melirik. "Boleh. Aku pikir kamu bakal cuek kayak mereka," tutur Sally sambil menunduk dan terus mengaduk nasi kuningnya.
Ihsan mengernyitkan kening tak paham dengan ucapan Sally. Ihsan memperhatikan sikap dan raut wajah Sally dengan seksama. "Sally, kamu sakit yah? Kalo sakit, kamu ke klinik aja. Jangan ikut kerja," ucapnya setelah mendapati wajah Sally yang pucat.
"Aku gak papa. Cuman, ini badanku kok tiba-tiba sakit secara perlahan gitu," jawab Sally.
"Sakit perlahan gimana?" tanya Ihsan yang lebih tertarik untuk memperhatikan Sally ketimbang sarapannya.
"Sakit kayak perih, pegel, kaya kegores gitu juga," jawab Sally sembari memijat pundak dan lehernya sendiri. "Kamu buruan makan, nanti keburu lonceng masuk berbunyi loh," ucap Sally melirik Ihsan yang masih belum membuka nasi bungkusnya.
Ihsan tersenyum, "kamu sendiri juga gak makan,"
"Aku masih kenyang," jawab Sally.
Lonceng waktu bekerja sudah berbunyi. Semua karyawan yang masih berada di kantin berhamburan menuju tempat kerja.
"Ayo, San, kita masuk bareng," tutur Sally.
"Kamu kayaknya sakit beneran deh, Sally. Lebih baik, kamu ke klinik, atau nggak kamu pulang aja. Nanti aku yang minta ijin sama leader," tutur Ihsan sambil menahan tangan Sally.
Tampak dari kejauhan banyak karyawati menatap ke arah Ihsan dengan tatapan aneh.
"Aku gak papa kok. Hari ini aku mau fokus kerja. Kemaren, Bu Widia bilang kalo barangku urgent. Sudah, ayo masuk," Sally berjalan mendahului Ihsan. Sementara Ihsan menatap kepergian Sally dengan penuh rasa khawatir.
Benar, Sally bekerja dengan fokus. Tanpa diganggu dan mengganggu. Namun, itu membuat dirinya terasa hampa. Di tengah keramaian, ia merasa sendiri tak ada teman untuk mengobrol. Waktu berputar begitu cepat. Sally segera mengambil tasnya yang berada di loker. Ia berjalan menuju lobi untuk absen kepulangan. Tanpa banyak bicara, Sally memutuskan untuk tidak ikut naik bus jemputan. Ia memilih untuk berjalan hingga depan kawasan, lalu pulang dengan naik angkot. Sepanjang perjalanan, ia merasa sedih dan sendirian karena orang-orang begitu acuh padanya. Terlebih lagi saat ia terus menanti balasan dari kekasihnya, teman, dan orang tuanya, tapi tak kunjung ada balasan atau chat baru. Saat melewati pasar S, Sally melihat Aril kekasihnya, tengah membeli sesuatu. Sally kemudian turun bersamaan penumpang yang lain. Sally memanggil Aril dengan lantang, namun, Aril hanya berhenti sebentar dan melanjutkan langkahnya lagi menuju motornya yang terparkir.
Sally berdecak kesal. Ia kemudian berlari menerobos kerumunan orang-orang dengan mudah. Ia tersenyum saat sudah berdiri di samping Aril. Aril mengenakan helm kemudian menyalakan sepeda motornya.
"Sayang, kamu habis beli apa?" tanya Sally.
Bukan jawaban yang keluar dari mulut Aril, justru kini ia ditinggal begitu saja. "Ariiiiill!" Seru Sally. Air matanya kini menetes membasahi seluruh wajahnya. Ia menjerit memanggil nama Aril berkali-kali, namun, kekasihnya itu tak berpaling untuk kembali padanya. Entah kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh Sally, sehingga membuat Aril bersikap acuh kepadanya.
Sally bersimpuh di parkiran pasar dengan deraian air mata. Orang-orang yang berlalu lalang tampak tak peduli kepadanya.
***
Sally terdiam dengan tatapannya yang kosong. Tubuhnya semakin pucat. Ia masih meratapi kejadian tadi sore di pasar S. "Kenapa kamu tega ninggalin aku begitu aja, Ril? Apa kamu udah gak sayang sama aku?" gumam Sally dengan pasrah.
"Sally, Sally,"
Suara yang Sally kenal tengah memanggil namanya dari balik pintu kontrakan. Suaranya terdengar serak dan sesekali terisak.
Sally tau jika itu adalah Nanda. Tapi, ia enggan untuk membuka pintu sebab hatinya yang masih hancur.
Keesokan paginya, sally tidak berangkat bekerja. Ihsan semakin yakin jika Sally tengah sakit. Sebab, kemaren wajah Sally terlihat pucat dan mengeluh sakit.
***
Sudah hari ke lima, Sally tidak menampakan wujudnya. Ihsan menjadi khawatir jika Sally benar-benar sakit.
"Eh, ada yang tau nomor orang tua Sally gak? Bu Widia minta tuh. Sebab, nomor Sally gak bisa dihubungi," ujar seorang karyawati kepada karyawati lain.
Ihsan yang mendengarnya kemudian menyahut. "Aku kenal sama salah satu teman dekat Sally. Dia pasti tau nomor orang tua Sally. Nanti aku coba hubungin yah," ujar Ihsan.
"Iya, kamu langsung kasih tau Bu Widia aja," jawab si karyawati.
Ihsan mencoba menghubungi nomor Nanda tapi, sudah empat hari ini nomornya juga tidak aktif. Bahkan, Nanda juga tak berangkat kerja selama empat hari itu. Tak memberi kabar dan alasan kepada leader atau teman-temannya yang lain. Ihsan merasa geram kepada Nanda karena tidak masuk tanpa izin.
***
Sally tiba-tiba sudah berada di depan kontrakan Aril. Dilihatnya Aril yang sudah rapih dan safety sambil menggendong tas rangsel siap meluncur dengan sepeda motornya. Sally menahan Aril dengan air mata yang terus mengalir. "Sayang, kamu kenapa gak ada kabar selama ini? Terus, kamu mau kemana? Kenapa rapih begitu? Nanda, dia juga gak ada di kontrakan. Dia pergi ninggalin aku juga. Sekarang kamu mau pergi ninggalin aku juga? Kalo aku ada salah, tolong katakan salahku, Ril ...." Sally sudah pasrah hingga menyebut kekasihnya dengan panggilan nama. Bukan dengan sayang lagi.
Sally menangis dan memegangi tangan Aril yang tampak emosi menggeber motornya. Hanya nampak mata Aril yang sayu dibalik helm yang sudah Aril kenakan.
"Aril, kalo kamu mau mutusin aku, tolong beri aku kejelasan, jangan kamu gantung aku seperti ini. Enam hari gak ada kabar. Aku selalu nyari kamu, dan nungguin kamu di depan kontrakan, tapi kamu gak ada. Sekarang, mumpung kita ketemu, tolong beri aku penjelasan, Ril," ujar Sally dengan air mata yang berlinang.
Aril benar-benar tidak menanggapi isi hati Sally. Dia malah memasukan gigi, lalu menarik gas meninggalkan kontrakan dan juga Sally yang terus menangis meratapi kepergiannya. Betapa hancurnya hati Sally karena tak ada kepastian dari kekasihnya. Padahal ia sudah bicara baik-baik, namun, tak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari mulut Aril. Sally menangis tersedu-sedu di depan kontrakan Aril. Setelah beberapa jam, Sally memutuskan untuk kembali ke kontrakannya.
***
Pagi hari telah tiba kembali. Sally absen terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang loker untuk menaruh tas dan hapenya. Langkahnya tampak gontai. Kali ini, semua orang menyapanya dengan ramah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memeluknya karena merasa rindu.
"Ya ampun, Sally, kemana aja kamu. Ngilang kok gak ada kabarnya. Kamu gak sakit kan?" tanya teman satu line nya.
Sally hanya menggeleng dan tersenyum. Teman-temannya lalu pergi meninggalkan dirinya yang masih asyik mengaduk-aduk nasi kuning. Seperti biasa, Ihsan datang dan menemani Sally untuk sarapan.
"Kamu udah sembuh? Kenapa kamu gak ngasih kabar selama enam hari kemaren?" tanya Ihsan.
"Enam hari? Pas hari senin aku berangkat loh,"
"Eh, iya maaf. Lima hari kemaren. Sekarang kan udah hari ke tujuh. Kok kamu tau kalo sekarang berangkat buat ganti hari?" tanya Ihsan yang sedikit heran sebab, hari libur diganti dengan hari senin. Tak ada jawaban dari Sally, Ihsan kemudian bertanya lagi.
"Besok kan libur, kamu mau kemana?" tanya Ihsan sambil memperhatikan Sally yang tak bergairah.
"Kayaknya, aku mau pergi jauh aja deh, San!" jawab Sally sambil menatap nanar nasi kuningnya.
"Hush, Pamali! Emang rencana mau pergi jauh kemana? Ke jungleland? Atau pulang ke rumah lagi?"
"Kayaknya pengin ke rumah aja deh. Tapi, aku pengin ke rumahku sendiri," jawab Sally datar.
"Iya iya lah ke rumah kamu sendiri. Emang mau ke rumah siapa lagi? Ke rumah aku? Atau ke rumah Nanda? Atau Aril? Boleh banget tuh," jawab Ihsan sembari tersenyum dan menyuapkan nasi kuning ke dalam mulutnya.
Sally tersenyum kecut mendengar jawaban Ihsan. "Gak tau deh, kayaknya Aril udah gak nganggep aku lagi, San! Nanda juga udah pergi ninggalin aku. Gak tau dia pergi kemana," ucap Sally tanpa eskpresi. Tatapannya kosong hanya memandangi nasi kuning yang tak berdosa namun ikut ia campakkan.
"Gak nganggep kamu gimana maksudnya? Dia kan bucin banget sama kamu. Terus, Nanda. Emangnya Nanda pergi kemana? Dia juga dari hari senin gak masuk loh. Bahkan sampai sekarang," ucap Ihsan penasaran.
"Aku gak tau, Nanda pergi kemana. Yang jelas kontrakannya kosong. Aril, dia kemaren sore juga pergi sambil bawa tas rangsel besar di punggungnya. Aku ajak dia bicara. Tapi, dia gak pernah jawab pertanyaan aku sedikitpun. Aku sedih, San, karena aku gak diberi kepastian. Mestinya kalo dia mau menyudahi hubungan ini, bicaralah yang baik-baik. Agar aku tidak terus mencari keberadaannya. Yang sekarang susah sekali untuk aku temui," ujar Sally seraya meneteskan beberapa bulir air mata. Hatinya sudah cukup sesak menahan gejolak perih yang ia rasakan.
Ihsan merasa iba dengan ucapan Sally. Tapi, ia juga tidak percaya jika Aril tega berbuat seperti itu kepadanya. "Kamu yang sabar ya, Sall. Jujur, aku gak percaya kalo Aril gantungin perasaan kamu sekarang. Tapi, mendengar pengakuan kamu, nanti aku bakal temuin dia, dan bicara sama dia tentang masalah kamu. Kamu tenang aja yah, jangan sedih lagi," tutur Ihsan sembari mengusap air mata Sally.
"Makasih ya, San," ucap Sally dengan tatapan sendu.
Lonceng sudah berbunyi, Sally dan Ihsan ikut buru-buru masuk karena akan ada briefing. Namun, Sally mengurungkan niatnya untuk ikut briefing sebab ia merasa mulas dan ingin BAB.
"Ya udah buruan sana, nanti kalo Bu Widia nanyain kamu, aku bantu jawab," ucap Ihsan.
"Makasih, San. Udah sakit banget nih perutku," ucap Sally kemudian segera berlari.
Ihsan tersenyum kemudian segera menghambur ke barisan di depan gedung line nya. Suasana begitu hening. Bahkan, mata Bu Widia tampak merah seperti habis menangis.
"Selamat pagi semuanya. Di briefing kali ini, saya tidak akan banyak bicara. Bukan tentang produksi kita yang akan saya bahas. Melainkan, seorang teman kita. Teman yang selama ini semangat bekerja, selalu ceria dengan wajahnya yang murah senyum, yang selalu membuat hati kita tenang ketika menatapnya."
Semua karyawan dibuat penasaran dengan kalimat yang Bu Widia sampaikan. Terlebih lagi, siapa orang yang dimaksud oleh Bu Widia dalam briefingnya.
"Yah, teman kita itu bernama Sally. Sally Indriani," Bu Widia menghela nafas sambil menahan air mata yang hendak keluar. Rekan leadernya mengelus punggungnya dengan lembut dengan maksud menguatkan.
Sementara karyawan dan karyawati bertambah heran dengan kelanjutan kalimat Bu Widia, yang sekarang menyebut nama Sally.
"Kenapa dengan Bu Widia? Terus, kenapa si Sally di sebut. Padahal, dia kan hari ini berangkat ya," ucap karyawati satu dengan yang lainnya.
Terdengar kasak kusuk dari beberapa karyawati yang tadi pagi bertemu dengan Sally. Ihsan sendiri merasa heran. Sebenarnya hal apa yang hendak disampaikan oleh Bu Widia.
"Sally Indriani, ternyata ... dia sudah perrgi meninggalkan kita semua dan ... hari ini adalah tepat tujuh harinya almarhum pergi dari dunia ini ...." Ucap Bu Widia seraya menarik nafas dalam-dalam.
Semua karyawan hampir tak percaya dengan kalimat yang diucapkan oleh Bu Widia. Bahkan Ihsan, ia sangat shock mendengarnya. Jantungnya berpacu seperti kuda. Tubuhnya mulai gemetar, dan keringat mulai membasahi peluhnya.
"Bu Widia dapat berita hoaks darimana? Sally mana ada meninggal!" seru salah satu karyawati yang kini merasa merinding setelah mendengar berita dari sang leader.
"Pagi tadi, saya dapat telepn dari Nanda, yang sekarang masih di rumah kediaman orang tua Sally. Dia memberitahu, bahwa pada hari malam senin, Sally tertabrak sebuah mobil, dan langsung meninggal di tempat. Dan sekarang sedang diadakan selamatan tujuh harinya almarhum," terang Bu Widia tak kuasa menahan tangis.
"Gak mungkin, gak mungkin," ucap karyawati yang tadi pagi sempat berbincang dan merangkul Sally. Setelah itu, karyawati itu pingsan karena tak kuasa menahan berita yang begitu mengejutkan.
Suasana kian panik dan ramai dengan perdebatan antara karyawan yang meributkan masalah Sally. Sebagian percaya jika Sally telah meninggal, tapi, sebagian lagi masih menyangkal sebab pagi ini mereka melihat Sally.
Ihsan meremas celananya sendiri. Keringat dingin terus saja keluar dari pori-porinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "gak mungkin, gak mungkin kalo, Sally meninggal," gumam Ihsan lalu berlari menyusul Sally yang tengah BAB.
Air matanya kini tak dapat terbendung. Ia menangis sembari menggedor-gedor pintu toilet wanita. Tak ada sahutan sama sekali ketika memanggil nama Sally.
Bu Widia tampak masih berdebat dengan karyawati yang juga ikut menyapa Sally tadi pagi. Sedangkan yang lain pingsan dan di bawa ke klinik. Pagi itu, semuanya kacau akibat berita meningalnya Sally yang telat dikabarkan ke pabrik.
"Benar, Bu. Saya tidak bohong. Tadi pagi, Sally berangkat, dia absen, dan menaruh tas di loker. Dia juga sarapan bareng Ihsan. Kalo tidak percaya, coba Ibu tanyakan ke Ihsan. Dan cek juga absennya. Barangkali, Nanda bohong, Bu." tutur karyawati yang tidak terima dengan kabar tersebut.
"Mana mungkin bohong, orang tua Sally juga ikut meminta maaf di telepon sebab baru memberi kabar tadi pagi. Terus, mana si Ihsan, mana?" tanya Bu Widia sambil mengedarkan pandangan.
Ihsan muncul dari arah belakang gedung sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan, ingusnya tak ayal ikut turun berbarengan dengan air matanya. Bu Widia berlari dan menghampiri Ihsan yang kini terduduk di lantai aspal kasar. Di susul oleh karyawati lain.
"Ihsan, kamu kenapa? Apa benar kamu tadi pagi sarapan sama, Sally?" tanya Bu Widia.
Tangis Ihsan pecah dan semakin kencang saat Bu Widia menanyainya. Ia hanya bisa mengangguk jika pertanyaan yang Bu Widia tanyakan adalah benar. Bu Widia lalu memeluk Ihsan.
Hingga beberapa jam kemudian, sesudah keadaan kondusif, seluruh karyawan pabrik mengadakan pengajian dadakan dan mengirim do'a untuk Sally.
Hari itu dibebaskan untuk tidak produksi sebab berduka, dan tentunya karena kehebohan dari karyawan yang mengaku bertemu dengan Sally. Bahkan, saat Bu Widia meminta laporan absen, finger print Sally di hari senin pagi, dan sore hari, ada jejaknya di sana. Bahkan, Sally ikut memproduksi barang-barang yang urgent dengan kapasitas lebih. Terbukti dari barang yang sudah sampai di QC pada hari itu dengan nama Sally Indriani.
Berkat dirinya, pabrik tersebut kini dipercaya oleh banyak perusahaan otomotif. Terbukti pula setelah barang garapan Sally yang sudah dikirm pada hari senin itu.
Dan setelah di cek lagi, pagi ini, Sally juga ikut absen. Namun, belum sempat masuk ke ruang produksi.
Seluruh karyawan dan karyawati masih berkumpul di masjid pabrik untuk berbincang-bincang atau mengaji. Bu widia, Ihsan, dan beberapa karyawan yang lumayan dekat dengan Sally, berkumpul sambil bercengkerama membahas keganjilan yang membuat bulu kuduk meremang dan gemetar.
"Tapi, pas hari senin aku sama sekali gak liat Sally. Aku lihatnya ya cuman pagi ini. Aku juga gak ngeh kalo mesin yang dipegang sally itu beroperasi. Aku taunya mati, Bu," terang karyawati.
"Itu artinya, hanya aku yang melihat kehadiran Sally pada hari senin. Sally datang dengan wajah pucat. Dia bilang kalo teman-teman pada cuek sama dia. Terus, dia juga bilang kalo badanya mulai sakit," tutur Ihsan dengan tatapan nanar. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Sally di hari senin dan juga tadi pagi.
"Oh, pantas saja. Kita lihat kamu ngobrol sendiri kayak orang gila pas hari senin. Rupa-rupanya kamu ngobrol sama Sally, ya San?" ucap karyawati lain.
"Aku denger-denger dari karyawan lain yang satu jemputan dengan Sally, katanya, Pak Imam pada hari senin gak liat Sally masuk ke dalam Bus. Tapi, saat di dalem, dia denger suara Sally. Kata beliau, si Sally berkata jika dirinya sudah berada di dalam bus. Pak Imam merinding lalu menginjak pedal meninggalkan gang kontrakan Sally," sambung karyawati.
"Hiii jadi merinding deh aku," ucap karyawati lain.
"Udah udah jangan diomongin lagi, nanti dia gak tenang," ujar Bu Widia.
Ihsan kemudian teringat sesuatu. Ia kemudian meminta ijin Bu Widia untuk tidak masuk beberapa hari. Bu Widia dengan terpaksa menyanggupi permintaan Ihsan karena Ihsan langsung berlari begitu saja tanpa ia memberi jawaban.
Ihsan menuju loker Sally, ia terkejut karena tas Sally dan juga hapenya masih ada di sana. Artinya, Sally belum pulang. Ia masih ada di pabrik. Ihsan lalu mengambilnya. Ia menutup kembali loker Sally. Saat ingin menuruni tangga, Ihsan mendengar suara orang menangis. Ia yakin suara tangisan itu adalah tangisan dari Sally. Mungkin, jika dirinya belum tau kalo Sally telah meninggal, ia tidak akan takut dan gemetar seperti ini. Tapi, sekarang sudah lain ceritanya. Sally sudah meninggal, sehingga ada rasa takut dan deg-degan dalam hatinya. Ihsan berharap, wajah Sally tidak seram seperti dalam film-film.
Ihsan berjalan mengendap-endap seperti maling yang akan ketahuan. Hingga ia melihat Sally dengan seragam kerjanya tengah menangis di sudut tembok dekat anak tangga dengan wajah yang ia benamkan di kedua lututnya.
Debaran jantung Ihsan tak menentu, tapi, ia bertekad untuk tetap menghampiri Sally, dan bertanya kepadanya.
"Sally," ucap Ihsan seraya berjongkok di depan Sally.
Ihsan menunggu Sally untuk mendongakan wajahnya. Ihsan berharap, wajah Sally tidak berubah. Perlahan, wajah Sally diangkat dan memandang Ihsan dengan sendu.
Jantung Ihsan bertalu-talu saat melihat wajah Sally yang bertambah pucat dan auranya terasa dingin.
"Aku gak mungkin meninggal kan, San?" tanya Sally tiba-tiba membuat hati Ihsan ikut teriris. Rupanya, Sally tak menyadari jika dirinya sendiri sudah tiada.
"Jawab aku, San? Kenapa tadi, Bu Widia bilang kalo aku udah meninggal karena kecelakaan?" tanya Sally sembari menangis pilu.
"Kamu tau, Sall? Lantas, kamu ada dimana waktu itu? Bukankah kamu ada di toilet?" Balas Ihsan menahan rasa gemetar yang bergejolak.
"Aku mendengar semuanya, San! Aku tau semua orang menangisi aku. Kalian ngaji untuk aku juga. Apa benar aku udah meninggal, San? Jawab aku? Kalo emang benar aku udah meninggal, dimana makam aku? Terus, kenapa kamu masih bisa liat aku?" tanya Sally lagi dengan tangisannya yang kini terdengar lebih seram.
Ihsan menelan ludahnya sendiri, "aku aku ... Sally," Ihsan terkejut kembali ketika ia mencoba untuk menyentuh Sally, namun, ternyata tembus begitu saja. Sally pun tak kalah terkejutnya dengan apa yang sekarang menimpa dirinya sendiri. "Ihsan ...." gumam Sally.
"Sally, kamu, kamu ...."
"Kenapa sekarang kita gak bisa bersentuhan, San? Apa aku benar-benar mati?" tanya Sally kembali seraya menangis.
"Tenang, Sally. Kamu tenang. Mungkin benar jika kamu sudah meninggal, dan alam kita sudah berbeda. Kamu harus ikhlas menerima semua ini. Aku tau apa yang membuat kamu masih di sini dan berat pergi. Sebab, kamu masih butuh penjelasan dari Aril atas sikapnya. Saat kamu mengajak Aril bicara, dia gak bisa lihat kamu, Sally. Makanya dia acuh sama kamu. Sekarang, ayo aku antar ke rumah kamu. Aril dan Nanda ada di sana. Kita pergi sekarang," tutur Ihsan mencoba membujuk Sally.
Sally mengehela nafas. Ihsan dengan menahan rasa takutnya malah menawari bantuan kepada Sally. Yah, Sally adalah sahabatnya di tempat kerja. Dia cukup dekat dengannya. Apapun yang terjadi, Ihsan akan membantu Sally agar ia bisa pergi dengan tenang.
Mereka menaiki motor menuju rumah Sally yang berada diluar kota dari tempat mereka bekerja. Empat jam perjalanan, akhirnya mereka sampai.
Kini, di sebuah makam dengan nisan bertuliskan Sally Indriani binti Syarif Indranto, ada Aril, Nanda, dan juga Ihsan yang tengah mengirim do'a. Sementara arwah Sally, ikut berjongkok di samping Aril menangisi makamnya. Hanya Ihsan yang bisa melihat Sally saat ini.
Setelah kirim do'a selesai, Ihsan menceritakan semua kejadian yang menimpa pabrik pada hari senin, hingga pagi tadi. Sebelumnya, Ihsan meminta maaf kepada Sally sebelum ia bercerita. Nanda dan Aril sama-sama terkejut mendengar cerita dari Ihsan. Tapi, mereka juga tidak menampik kejadian itu. Sebab, mereka juga merasa janggal saat mereka baru saja membuka hape, ada balasan pesan dari Sally pada malam senin itu.
"Iya, aku sudah sampai di kontrakan, sayang. Aku gak marah kok. Aku kan gak pernah marah sama kamu. Meskipun aku harus terus menunggu kamu seumur hidupku," balasan chat Sally untuk Aril.
"Aku udah sampai di kontrakan, Nda. Kamu kenapa gak jadi masuk? Shif malem ya?" basalan chat untuk Nanda.
"Sally sudah sampai, Mah," balasan chat untuk Mamah Sally.
"Aku, Nanda, sama Mamahnya Sally, baru baca balasan Sally tadi, setelah acara selamatannya selesai. Kami juga sangat shock, San. Pasalnya, malam itu juga, Sally kan udah meninggal," tutur Aril.
Sally menangis mendengar penjelasan Aril.
"Sally, aku minta maaf jika selama kita berteman, aku banyak salah sama kamu. Waktu aku ngetuk kontrakan kamu, aku gak denger sahutan sama sekali. Kondisi kontrakan kamu masih gelap, hingga pada akhirnya, setelah pulang kerja, aku ngetuk pintu kontrakan kamu untuk terakhir kallinya. Dan aku langsung pergi ke rumah kamu, setelah mendengar berita kematian kamu. Aku minta maaf ya, Sally. Kamu bahagia di sana," tutur Nanda sembari mengelus nisan Sally.
Sally mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan Nanda. Teman kontrakan yang selalu ada dalam kondisi apapun. Terbesit bayangan-bayangan susah dan senangnya saat Sally baru pertama kali tiba di kontrakan itu. Saat ia kehabisan uang, dan saat ia tak dapat membeli makanan, Nanda selalu ada untuk dirinya.
"Aril, berikan lah kepastian untuk, Sally. Dia masih di sini karena dia merasa dicampakkan oleh kamu begitu saja," ujar Ihsan memberitahu.
Aril menghela nafas panjang dan menahan air mata agar tak menetes meskipun matanya sudah cukup merah.
"Sally Indriani, sayangku. Seberapa pun sayangku padamu, Sang Pencipta lebih sayang sama kamu. Seberapa besar aku ingin milikin kamu, kamu tetaplah milik-Nya. Mungkin, sampai di sini jodoh kita. Aku minta maaf karena malam itu, aku gak bisa jemput kamu tepat waktu. Kamu menunggu aku sendirian tanpa siapa pun. Andai saja aku tidak lembur dan motorku tidak bocor, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi. Tapi, kita tidak bisa melawan takdir Sang Pencipta. Kamu harus pulang ke pangkuan-Nya. Hari itu, aku mendengar suaramu memanggil namaku, Sally. Tapi, aku tak dapat melihat wujudmu. Hingga akhirnya aku pergi begitu saja. Waktu aku mau berangkat ke rumahmu, aku juga mendengar suaramu sebentar. Aku pikir, itu hanya ilusi. Sally, aku akan memberi kepastian kepadamu. Hubungan kita telah berakhir sampai di sini. Kita sudah berbeda alam. Tak mungkin kita bisa bersatu dengan perbedaan ini. Kamu, tenanglah di sana. Jika kita tidak berjodoh di dunia, mungkin kita akan berjodoh di akherat nanti. Pergilah dengan tenang, sayangku, Sally Indirani," Aril mengusap air matanya, lalu mencium nisan Sally dan merangkulnya. Nanda dan Ihsan tak sampai hati melihatnya. Mereka pun menunduk menahan tangis.
"Aku menyayangi kalian. Bahagialah kalian semua, selamat tinggal," ucap Sally kemudian arwahnya terbang perlahan seperti ditarik oleh cahaya dari langit. Ihsan memandangi kepergian Sally dan melambaikan tangan padanya, hingga Sally, berhasil pergi untuk selama-lamanya dari pandangan mereka.
***
Malam itu, saat Sally hendak menyebrang jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya. Tubuhnya terpelanting hingga jarak 1000 meter dari tempatnya kecelakaan. Beruntungnya, tubuh Sally tidak hancur untuk bagian luarnya. Namun, siapa sangka jika seluruh organ dalam Sally retak dan hancur berkeping-keping.
Berbarengan dengan kejadian naas itu, lampu kembali menyala. Sally yang tak menyadari jika dirinya kecelakaan dan meninggal di tempat, terus berjalan menuju stasiun dan naik kereta. Semua orang cuek padanya sebab mereka tak melihat Sally. Bahkan, Abang Malik si penjual martabak langganan, Sally. Ia tak dapat melihat dan juga mendengar penuturan Sally. Tapi, malam itu karena permintaan Nanda, Abang Malik membuat martabak manis keju mix cokelat, serta martabak telur spesial kesukaan Sally. Nanda sengaja memintanya karena tau Sally akan memesan martabak pada malam itu. Namun, Abang Malik menunggu hingga malam, Sally tak kunjung datang. Hingga ia tak menyadari, martabak yang sudah ia bungkus untuk Sally, menghilang begitu saja dan berganti dengan uang sebesar 50 ribu.
Pelaku yang menabrak Sally, akhirnya membawa Sally ke rumah sakit dengan dibantu orang-orang sekitar yang menyaksikan kejadian itu. Pelaku akhirnya meminta untuk dipenjara atas perbuatannya karena menyadari kesalahannya. Dan tentunya rasa bersalah dalam relung hati yang paling dalam.
Selesai.
Note : Kisah ini sebenarnya kisah nyata dari teman kakak saya, yang pada waktu itu bekerja di pabrik. Namun, kisah ini saya rombak lewat judul lagu dari Noah (Sally Sendiri). Teman kakak saya, setelah lembur langsung pulang ke kampung dengan menaiki sepeda motor. Sebelumnya, sang leader memberi nasehat agar ia naik bus sebab, kondisi teman kakak saya terlihat lelah.
Pada hari senin pagi, teman kakak saya tetap bekerja dan finger print seperti biasa. Saat sang leader mengumumkan berita kematian tersebut, tiba-tiba saja, mesin yang tengah beroperasi (dijaga oleh teman kakak saya yang meninggal karena kecelakaan pada saat pulang kampung) berhenti mendadak. Semua karyawan seketika merinding hebat. Bahkan, jejak finger print teman kakak saya ada di sana.