Langit kelabu suram. Rintik hujan membasahi tanah. Teriakan dan bentakan terus muncul dari rumah Rachel. Ia melihat dari celah pintu kamarnya. Kedua orangtuanya bertengkar hebat. Sesekali suara tamparan dan barang dibanting terdengar.
"Ayah sama bunda berantem terus." Katanya dengan wajah muram. Gadis itu meringkuk di balik pintu, memeluk boneka teddy bear kesayangannya.
"Lebih baik kita cerai aja! Aku nggak tahan lagi!" Kata ayah Rachel dengan emosi yang memuncak.
"Baiklah! Terserah kamu!" Ibu Rachel mengiyakan, dia juga sudah lelah bertengkar seperti ini.
Mereka pergi berlawanan arah. Tidak ingat dan peduli dengan putrinya di kamar. Rachel mendengarnya, tangisnya pecah seketika. Sambil bergumam "Ayah..? Bunda..?"
Satu jam berlalu. Ayah dan Ibunya tak kunjung pulang. Matanya bengkak karena hampir satu jam dia menangis. Rachel mengusap air mata di pipinya. Sepertinya dia juga tidak tahan.
Ia berjalan keluar dari kamar, meninggalkan boneka teddy bear kesayangannya di kamar. Hujan gerimis masih turun di luar sana. Tapi Rachel tidak peduli. Ia tetap berjalan pergi tanpa tujuan di bawah hujan.
Tidak lama kemudian ibunya pulang. Ia teringat putrinya, dan langsung pergi ke kamar Rachel. Tapi dia terlambat, Rachel sudah pergi entah kemana. Ibunya menangis merasa bersalah, sambil memeluk boneka teddy bear Rachel yang tadi tergeletak di lantai.
--×××--
Rachel masih tetap berjalan. Tanpa payung, bajunya basah kuyup. Membuatnya menggigil kedinginan.
Ia nampak lelah, dan memutuskan untuk berteduh di tepi gang kecil diantara gedung besar.
Tempat itu sepi, tak ada orang yang lewat. Suara kendaraan juga hanya sayup-sayup terdengar. Benar-benar tempat yang menyeramkan.
"Setidaknya aku bisa berteduh dan bersembunyi disini." Kata Rachel tidak peduli dengan gang seram itu.
Suara langkah kaki terdengar. Suasana menjadi horor. Rachel tetap duduk disana. Takut, tapi kakinya sudah tak sanggup melangkah lagi.
"Halo? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya seorang remaja laki-laki, berdiri tepat didepannya. Rachel mendongak. Ia memakai hoodie hitam, wajahnya tampan dengan senyumnya. Dia juga basah kuyup kehujanan.
Mata Rachel membulat, menelan ludah ketakutan. Laki-laki itu membawa pisau berlumuran darah di tangan kirinya. Siapa dia? Apakah dia pembunuh? Tanya Rachel dalam hati.
Laki-laki itu tersenyum lagi. Dia merasa gemas dengan gadis berambut panjang didepannya yang ketakutan.
"Hey, jangan takut. Kenapa kau sendirian disini?" Tanyanya lagi.
"Aku kabur dari rumah." Jawab Rachel, ia tidak menatap laki-laki itu. Tidak suka.
"Kabur dari rumah? Menyedihkan, aku juga sama. But... Im psycho. Oh iya, nama ku Daniel. Gimana kalo berteman?" Ujar laki-laki itu yang bernama Daniel.
Rachel membalas perkataan Daniel. Dia sedikit nyaman dengannya sekarang. Meskipun dia sosok laki-laki yang menyeramkan.
"Aku Rachel. Terus kamu tinggal dimana?"
Suara sirine polisi menggema. Sebuah mobil polisi berhenti di depan gang.
"Ayo lari!!!" Kata Daniel panik, seraya menarik tangan kanan Rachel.
--×××--
Tegang. Mereka berlari di bawah hujan gerimis. Diikuti dua orang polisi bersenjata di belakang mereka. Kaki kecil Rachel dipaksa berlari. Jantungnya berdegup kencang, dengan napas terengah-engah.
"Hey!!! Berhenti!!!" Teriak salah satu polisi sambil menembakkan tembakan peringatan.
Mereka melihat persimpangan. Daniel yang berada didepan menyuruhnya berlari lebih cepat. Kini Daniel berada dibelakangnya. Dia merobohkan tumpukan kardus dan kayu di depan toko tua. Memperlambat laju langkah polisi yang mengejar mereka.
Daniel mempercepat langkahnya. Menggapai tangan Rachel dan menariknya untuk berbelok ke kiri di persimpangan.
Mereka terjatuh karena terpeleset di genangan air. Daniel menarik tangan Rachel kembali. Menyuruhnya bersembunyi dibalik tumpukan tong bekas. Daniel memeluknya erat dan menutup mulut Rachel dengan tangan kirinya agar tidak bersuara.
Kedua polisi itu kehilangan jejak Daniel dan Rachel.
"Sial, dia kabur lagi." Kata salah satu polisi kesal.
Daniel mengintip, dua polisi itu sedang memutar pandangannya. Mencari keberadaan dirinya.
"Lebih baik kita cari dia besok lagi saja, aku lelah." Kata polisi yang lain. Mereka segera berjalan kembali ke mobil.
--×××--
Keadaan sudah aman
Daniel melepaskan pelukannya. Napas Rachel tersengal-sengal. Kakinya terasa sakit, dan badannya terasa lemas.
'Kruuuk~' perut Rachel berbunyi. "Malu-maluin banget sih." Batin Rachel sambil memegang perutnya.
"Kau lapar? Beli makanan yuk." Ajak Daniel begitu mendengar perut Rachel berbunyi.
"Emang punya uang?" Tanya Rachel.
"Nih. Kamu aja yang beli." Daniel memberikan selembar uang kertas pada Rachel.
"Lima ribu doang?"
"Lumayanlah buat beli roti dapet dua."
Langit perlahan mulai kembali cerah. Rachel kembali dengan dua buah roti ditangannya.
"Kyaaa!!! Pakai baju kamu!!!" Teriaknya begitu melihat Daniel telanjang dada.
"Ngeringin baju doang. 'Kan aku cowok." Kata Daniel berdalih.
Mereka makan roti bersama di tepi jalan agak sepi. Berjaga-jaga dari orang mengenali Daniel. Rachel memperhatikan Daniel yang duduk disampingnya. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke rotinya.
Daniel menyadarinya. Ia bertanya apa yang Rachel pikirkan.
"Kamu mikirin apa?" Tanyanya.
"Um, aku suka saat bareng kamu. Aku merasa dilindungi." Jawab Rachel sambil tersenyum tipis.
"Aku juga. Niat ku hanya iseng, tapi rupanya kau hampir sama dengan ku. Tidak dipedulikan orang sekitar. Sehingga aku ingin melindungi mu." Ujar Daniel.
Rachel menatap Daniel kembali, hatinya merasa tersentuh. Dia tertawa kecil. Lalu berkata "kau lucu."
Pipi Daniel memerah seketika.
"Jadi, mulai hari ini kita sama-sama terus ya? Apapun yang terjadi." Kata Rachel dengan senyum ceria.
"I-iya."
"Janji?"
"Janji."
Mereka mengaitkan jari kelingking. Menetapkan janji yang mereka buat. Terus bersama apapun yang terjadi.
--×THE END×--