Cita-cita Siti tercapai juga akhirnya. Setelah sekian mentari ia bergelut memerah otak pun telah pula sekian purnama ia menahan kantuk; hingga akhirnya tiba sepucuk surat yang menyatakan bahwa dia adalah pemenang pertama dari lomba menulis cerita, di segmen cerita horor.
Lomba menulis itu diadakan oleh salahsatu rumah penerbit. Rumah penerbit yang katanya telah menghasilkan banyak penulis jempolan. Terutama sekali iya di genre cerita horor tadi.
Sekian dari cerita horor tersebut telah pula dialih-wahanakan, ke layar bioskop, dan itu sudah tak terhitung jari. Pun pengalih-wahanaan tersebut sukses menghasilkan tambahan pundi-pundi kekayaan bagi penulisnya. Kelak Siti akan pula mencecapnya-- tapi sebelum ia mencecap semua itu tak ada salahnya bila Siti terlebih dulu menikmati hadiah yang telah berhasil ia menangkan.
Kira-kira apa iya hadiah bagi pemenang pertama dari cerita horor tersebut, selain beberapa gepok uang; ikatan kontrak; pengalih-wahanaan cerita tentunya? Iya, segalibnya yang dialami para pemenang hadiah kebanyakan saja, gak ada lain, liburan, titik.
Ke Bali!? Ke Labuhan Bajo!? Atau ke Singapur!? Kemana!? Iya... Disinilah horornya! Hanya Tuhan yang tahu!
Singkat cerita, sekarang Siti sudah berada di tempat yang dituju-- alang kepalang Siti kaget--sedari perjalanan ia dipaksa terpejam, yang jelas ini adalah karena pengaruh dari minuman kopi yang telah disuguhkan oleh panitia sebelum ia berangkat tadi. Bangun-bangun, ia telah berada di sebuah rumah tua.
Di sebuah rumah tua, yang mana tetangga kanan kiri, depan-belakang bahkan atas-bawah adalah kuburan.
Kuburan yang sama tuanya dengan rumah tersebut. Bukan cuma tua tapi juga tidak terurus. Persis sama dengan keadaan rumah tersebut, tua dan tidak terurus.
Siti bergidik ngeri!? Bukan cuma bergidik, tapi ini entah sudah kali keberapa ia terbangun dari pingsannya. Siti terbangun sendiri, tak ada satu orang pun yang bantu untuk menyadarkan, itu karena ia ditinggal sendiri--horor gak tuh!?
Ya, Alloh tolong Baim iya Alloh...
Siti jatuh ke lantai, ia bersujud, matanya tertutup, disitu ia mengiba, sesekali kepalanya mendongak lalu balik tertunduk. Siti berharap, ketika ia membuka mata kelak, ia sudah berada di tempat sewajarnya ia berada. Tapi sayang harapan tinggal harapan.
Cacing-cacing di perutnya berontak, Siti bangkit berdiri. Siti berjalan ke dapur, mencari makanan, tapi gak menemukan, yang ia temukan hanya: sekotak mie instan, sekillo telur, segalon air mineral, serenceng kopi sachet, sekarung beras, satu wajan kecil, dan sebuah geretan--sayangnya ia gak menemukan sebuah kompor disitu, jangan harap kompor portabel, kompor biasa aja kagak ada.
Ya, Alloh tolong Baim ya Alloh...
Siti bingung bukan kepalang! Satu-satunya jalan dia harus keluar, mencari dahan dan ranting, tapi apa mesti di malam larut begini!? Kalau tidak bersedia, suka tidak suka, satu-satunya jalan ya Siti harus menunggu hingga esok pagi.
Berarti malam ini Siti hanya bisa menenggak air mineral, tapi gimana juga air tersebut masih dalam kondisi mentah, pikir Siti dengan gurat wajah yang penuh dengan rasa cemas. Siti lumayan bermasalah dengan yang kayak begitu-begituan, itu perut gak bisa diajak kompromi. Tapi mau gimana lagi, sementara itu cacing-cacing di perut kian menjajah, lambung kian panas harus didinginkan. Satu-satunya cara, iya harus kena guyur, dengan menenggak itu air mineral itu tentu saja.
Siti pun berbuat demikian, tapi dasar nasib, masih dua gelas air yang dia tenggak, sekonyong-sekonyong itu lambung jadi mules, plus ia pun juga kebelet pipis.
Tanpa bak-bik-buk Siti pun bergegas berlari ke belakang. Dan sial bukan kepalang, ternyata, itu rumah tua sama sekali tak memiliki toilet. Siti sudah mencari ke sana ke mari, tapi tak kunjung menemukan. Terus gimana dong!?
Iya, gak gimana-gimana juga, mau tidak mau, suka tidak suka, ya, tentu saja Siti mesti keluar. Gak mungkin juga kan itu kencing dia tahan-tahan, bisa jadi penyakit nantinya, ongkos perobatan bisa jadi lebih mahal.
Dan gak mungkin juga Siti membuang hajatnya dengan sembarangan, apa di lantai apa di sudut tembok, apa kata dunia, gimana juga si Siti ini masih waras pun bukan orang yang tidak berpendidikan juga.
Ya, Siti harus keluar.
Pun melalui pendar cahaya lilin yang digenggamnya, Siti pun sempat mencuri lihat, kalau tepat selemparan batu dari pintu dapur, dia mendapati ada sebuah kotak ruang di luar sana, yang terbuat dari papan yang dirangkai membentuk bujur sangkar, bisa jadi itu adalah tempat membuang hajat, alias toilet.
Oh iya, satu hal yang hampir lupa untuk diceritakan, kalau rumah tua ini tidak memiliki penerangan sama sekali. Satu-satunya sumber cahaya, iya, dari cahaya lilin yang ada di dalam genggaman Siti sekarang. Yang mana sempat dinyalakan oleh salah seorang panitia. Jadi adapun kesimpulan yang dapat ditarik, lengkaplah penderitaan yang dialami Siti. Dan menjadi sempurna jugalah keangkeran rumah tua ini.
Siti pun keluar, pintu ditarik ke dalam, terdengar suara derit, sekonyong-sekonyong dingin angin malam menyerbu masuk. Siti bergerak pun cepat, tangannya buru-buru menudungi cahaya lilin yang hampir padam oleh karena serbuan angin tadi. Siti kemudian bergerak dengan langkah-langkah yang pendek. Tapi masih lima langkah berjalan, alamakjang Siti kaget bukan kepalang, belum-belum matanya sudah mendapati beberapa pusara tua. Beberapa pusara tua yang berukuran besar dan kecil yang tersusun secara sembarang, alias tidak beraturan. Sepertinya kesemua pusara tua itu seolah-olah dibuat secara sengaja untuk menghalangi langkahnya, begitu sengkarut pikiran Siti.
Siti pun terdiam mematung dan menahan nafas sekian menit, tapi gak berlama-lama juga, sebab itu perut kian detik kian bertambah melilit. Maka dengan langkah yang agak tertatih-tatih dan mulut yang berkali berkomat-kamit, entah lagi hendak merapal doa atau entah sedang berucap meminta ijin lewat, Siti pun bergerak melangkahi pusara tua yang membentang di hadapannya tersebut. Tersisa satu pusara tua, pikir Siti menarik nafas dan mengangguk kecil.
Siti meloncati.
Sekarang sudah tidak ada pusara yang menghalangi gerak langkah Siti dengan sekotak ruang yang terbuat dari rangkaian papan membentuk bujur sangkar tersebut.
Jaraknya pun tinggal satu langkah lagi. Di situ pintu dalam keadaan tertutup. Siti pun bergerak mendekati daun pintu tentunya bersama perut yang kian bertambah susah untuk diajak kompromi. Situ pun bergegas mendorong pintu tersebut. Siti bernafas lega, padahal pikirannya sempat melalang jauh ke hal-hal yang berbau horor alias yang seram-seram, seperti yang ada di buku dan film-film, ternyata tidak ada apa-apa, hanya sebentuk ruang kecil, yang benar memang fungsinya untuk membuang hajat.
Hajat selesai dituntaskan, Siti tersenyum lega, seraya mengusap-usap perut. Sesudah itu Siti pun bersiap untuk keluar, tangan pun sudah berpegangan di engsel pintu, tapi tiba-tiba sesengkarut pikiran janggal datang mengusik. Siti buru-buru menggelengkan kepala, jelas ia sedang bertindak untuk menolak atau sedang berusaha untuk membuang jauh pikiran-pikiran aneh bin janggal tersebut.
Siti menangkupkan sebelah tangan, sambil mulut pun berkomat-kamit. Sesudahnya nafas ia tarik dan buang secara bergantian. Diakhiri dengan sebuah senyuman tegas di bibirnya. Siti bersiap-siap keluar. Tapi tatkala pintu ditarik...
Sepertinya, bukan, bukan sepertinya, memang pintu dalam keadaan terkunci. Iya, pintu dalam keadaan terkunci. Tapi siapa juga yang telah menguncinya. Seingat Siti...
"Buka, buka, buka..." Siti teriak. Pintu pun digedor. 'Buk, buk, buk..."
"Woiii candaan loe nggak lucu tahu!" Siti bersungut-sungut. "Woiii buka! Woiii...! Dasar bedebah! Kurang ajar! Gue hitung sampai tiga! Kalau nih pintu kagak loe buka juga, bakal gue dobrak!" Siti mengancam.
"Satu...
Dua...
Ti..."
Sekonyong-sekonyong pintu terbuka. Siti kaget bukan kepalang. Pintu terbuka lebar. Siti mengernyit. Siti celingak-celinguk. Layaknya seperti orang yang sedang mencari-cari. "Gue gak takut. Gue gak takut...!" Siti memberanikan diri, dadanya ia usap-usap perlahan.
Siti bersiap-siap keluar.
Namun, selintas pikiran hinggap di konaknya. "Kok..." Siti menuding ke ujung keran yang sedari tadi mengalirkan air yang tertampung dalam wadah ember hitam. Air dari ujung keran tersebut mengalir dengan lamban. Lalu matanya pun ia tudingkan ke arah tongkrongan yang tadi ia pergunakan untuk membuang hajat. "Kok..."
Sesudahnya Siti mengangguk-angguk paham. "Gue yakin ada orang. Ada orang selain gue. Iya, di sini ada orang selain gue. Buktinya ini tongkrongan bisa kinclong begini. Terus ini air..." Tunjuk Siti.
"Pasti tuh orang sembunyi. Masak iya hantu yang bersihin semua ini." Siti menggeleng lucu.
"Mau ngerjain gue!? Gue jabani...! Lah loe pikir gue takut apa!? Gue ikuti permainan loe! Sampai dimana sih loe..." Siti mendengus.
Siti bersiap angkat kaki.
Tiba-tiba air di ujung keran berhenti mengalir. Siti melirik. "Prett... Gue kagak takut!"
Siti melangkah, masih dua langkah berjalan, lilin di tangan mati, seperti ada yang meniup; Siti merasakan betul hal tersebut, ia melirik ke kanan, sambil meraba ujung telinga. "Ah, cuma hembusan angin, " Siti mencari pembenaran.
Tapi persoalannya... "Loe kata gue bego!? Gue bawa ini nih."Siti cekikikan. "Geretan!"
Lilin dinyalakan.
Siti melangkah. Lidah api meliuk ke kanan dan ke kiri. "Tuh benarkan angin," gumam Siti.
"Misi, Oom. Misi, Tante. Misi, Pakde. Misi, Bude." Siti pamit pada pusara yang ia langkahi satu demi satu, yang terpaksa ia langkahi.
Siti sampai di depan pintu. Siti mendorong pintu tersebut. "Anjir ini pintu dikunci lagi. Dasar tuh orang..." Siti menggeram.
Siti teriak. "Woiii buka!" Pintu digedor-gedor. "Gue hitung sampai tiga! Kalau kagak loe buka, gue bakal tendang ini pintu!" Seru Siti yang kembali mengancam, ancamannya persis seperti yang dia perbuat terhadap pintu toilet tadi.
"Satu...
Dua...
Ti...
Ga..." Pintu tetap dalam keadaan tertutup rapat. Siti mengangguk-angguk.
"Loe yang minta ya..." Siti pun mengancam, sambil ia mundur selangkah. Siti pun mengangkat sebelah kakinya. Siti bersiap-siap menghajar dengan sebuah tendangan, tendangan gledek sepertinya.
"Ciaaaat..." Siti memekik kencang. Tendangan pun dihujamkan. Pintu tetap tegak berdiri.
Yang ada malah Siti yang terpental ke belakang, tubuhnya pun jatuh menghantam satu pusara. Siti mendengus kesakitan. "Anjir..."
Siti meraba bagian belakang tubuhnya, sepertinya ia hendak memastikan kalau tulang dan persendian bagian belakang tubuhnya dalam kondisi aman dan terkendali, meski ia sedikit meringis. "Masak iya pintu reot kayak begitu kagak ketembus," Siti menggelengkan kepala.
"Coba pakai bahu gue, barangkali kurang kencang." Pikir Siti, mengangguk-angguk. "Gue gak boleh kalah. Gue adalah pemenang! Gue pemenang!" Siti memotivasi diri. "I am the best!" Siti memekik kencang.
Siti bangkit berdiri, seperti atlet Olimpiade, ia pun meloncat-loncat kecil, jelas ia sedang melakukan pemanasan.
Setelahnya Siti berlagak, lagaknya persis seperti banteng ketaton. Seekor banteng ketaton muda yang hendak menubrukkan tubuhnya, ia mendengus kencang.
"Beri aku sepuluh pemuda akan guncangkan bumi ini...!"
"Satu...
Dua...
Tiga..."
Siti pun berlari menubrukkan tubuhnya. Tapi bukannya bertubrukan, itu pintu malah membuka dengan sendirinya. Pintu terbuka dalam kondisi mengangga lebar. Tak ayal Siti pun lolos masuk sampai jauh ke dalam.
Dan di dalam dia menabrak sesuatu.
"Anjir kepala gue!" Siti merasakan pusing yang teramat sangat, keningnya ia raba sejenak, sampai berselang kemudian, ia pun jatuh tak sadarkan diri.
***
Cacing-cacing di perut berdemonstrasi... Perlahan Siti membuka matanya. Hari bergerak menuju malam, sisa-sisa cahaya senja yang berwarna merah jingga sempat tercuri pandang Siti.
Ya, Alloh tolong Baim ya Alloh...
Siti bangkit berdiri, lebih tepatnya berusaha untuk bangkit berdiri, masih kesakitan, pasti.
Sekonyong-sekonyong Siti mendengus-denguskan hidungnya. Sepertinya indera penciuman Siti menangkap sebuah aroma. Ya, sebuah aroma yang cukup tajam. Benar, sebuah aroma yang cukup tajam, tapi sekaligus khas. Namun, buat situasi dan kondisi sekarang ini, aroma tersebut sepertinya menjadi sedikit agak aneh. "Aroma mie rebus kuah telur." Dengus Siti. Siti pun berjalan bersingut, ia melangkahkan kaki searah tajam aroma tersebut, yang akhirnya mengajaknya berlabuh ke bagian belakang rumah, lebih tepatnya bagian dapur.
Semangkuk mie rebus kuah telur. Dimasak dengan dua telur. Yang satunya diceplok setengah matang dan satunya lagi diaduk bersama mie rebus tersebut. Cacing-cacing di perut serempak berteriak girang. Dan tanpa pikir panjang Siti pun menghajar hidangan tersebut, yang masih dalam kondisi hangat.
Satu suap! Dua suap! Tapi saat suapan ketiga... Tiba-tiba sesuatu meloncat keluar dari mangkuk mie tersebut... Seukuran ibu jari, liat dan kenyal, berwarna hitam; jangan bilang kalau itu lintah!?
Benar, itu lintah! Dan bukan seekor yang meloncat turun; satu, dua, tiga...
Sekonyong-sekonyong Siti mundur tiga langkah. Siti terbatuk-batuk. Siti berusaha memuntahkan sesuatu, memaksa lebih tepatnya. Dengan mulut yang ia buka paksa lebar-lebar. Siti menampar-nampar bagian belakang lehernya, kencang. "Huek! Huek! Huek...!"
Satu, dua, tiga...
Apa cacing-cacing di perut telah menghajar habis, sebab tak satupun yang berhasil ia muntahkan keluar. "Ini sudah kelewatan! Gue bakal buat perhitungan!" Lihat saja, ntar!" Dengus Siti keletihan.
Berang, mangkuk yang masih bersisa mie kuah tersebut pun ia lemparkan sekenanya. Mangkuk tersebut pecah menghantam dinding. "Dasar
Bedebah!" Laknat Siti.
Pelan gelap kembali menudungi. Siti bergerak mencari pelita. Siti ingat kalau lilin yang ia miliki, satu-satunya ia miliki, tertinggal di luar.
Pintu dapur masih dalam keadaan terbuka lebar. Siti pun keluar bergerak mengambil lilin tersebut. Sebelum gelap benar-benar menutupi.
Tetapi ketika hendak melangkahkan kaki, tepat dari arah luar pintu, dibantu oleh remang sinar cahaya rembulan, seperti pesawat supersonik, kedua biji mata Siti sempat menangkap melintasnya sekelebat bayangan hitam, yang datang dari arah kanan menghilang ke arah kiri, kemudian lenyap tak berbekas.
Hal tersebut tak pelak membuat Siti menjadi takut. Sebentar saja sekujur tubuhnya telah bermandikan keringat dingin, posisi tubuhnya terkesan goyah, berselang kemudian ia terlihat gemetaran.
Pun Siti hampir-hampir kencing berdiri, untungnya, sesuatu yang namanya kesadaran masih melekat di benaknya. Dan dengan kesadaran itu juga ia mencoba untuk menegar-negarkan diri.
"Ah, ntuh cuma Kalong! Itu cuma seekor Kalong...!"
Siti menarik dan menghembus nafas, dengan lambat dan teratur, sekian menit ia berbuat demikian, sampai ia benar-benar merasa tenang. Setelah Siti merasa cukup ia pun beranjak dari tempatnya berdiri.
Siti berjalan keluar.
Siti bergegas mencari keberadaan lilin tersebut. Sebatang lilin yang ikut terlempar bersama terlemparnya ia kemarin, akibat dari mencoba menghajar pintu tersebut.
Dari satu jengkal tanah ke jengkal tanah yang lain, demikianlah sepasang biji mata coklat muda itu mencari keberadaan lilin tersebut. Sekian menit ia menjelajah tapi tak kunjung menemukan. Hari pun sudah benar-benar gelap. Sinar rembulan yang sempat menemani tadi pun lenyap entah kemana. Akhir langkah Siti menyerah, meski ia agak keheranan juga. "Gimana juga itu cuma sebatang lilin, gak punya kaki. Jadi, gak mungkin itu lilin plesiran kesana kemari. Yang namanya terlempar juga gak bakalan jauh-jauh amat!" Siti mendengus kesal, ia balik kanan.
Sekonyong-sekonyong Siti kaget, lebih tepatnya kembali dibuat kaget, soalnya, dari tempatnya berdiri, dengan jelas kedua matanya melihat kalau dapur itu sekarang... "Gak mungkin, gak mungkin, ini gak mungkin..." Siti menggeleng-gelengkan kepala, resah, dengan terang-terangan ia mencoba untuk menyangkal kenyataan yang tersaji dihadapannya. Apanya yang gak mungkin!? Kok Siti jadi seperti orang yang... Siti pun bergerak mundur selangkah sambil mencengkeram dan menggaruk kepalanya. "Lama-lama aku bisa gila!" Siti berseru dengan geram yang teramat, yang mana hal tersebut membuat dadanya jadi empot-empotan.
Ada seberkas cahaya yang menyinari dapur tersebut. Dapur yang awalnya gelap tanpa penerangan, sekarang... terdapat sejilatan api yang tampak menari-nari pada sebuah batang lilin.
Semestinya Siti segera balik kanan, bergegas pergi meninggalkan rumah tua dengan semua keanehannya tersebut. Akan tetapi yang terjadi adalah malah kebaliknya, sesuatu yang lebih besar terasa lebih kuat untuk mendorong, sepertinya ia ingin membuktikan sesuatu.
"Gue yakin kalau semua ini cuma... Gue bukan anak kemarin sore! Gue bakal buktikan kalau semua ini cuma sandiwara belaka!" Siti bulat tekad, telunjuknya ia tudingkan dengan geram. Siti pun bergerak menuju ke rumah tua tersebut.
Siti melangkah dengan cepat, tak sampai hitungan menit kaki itu semestinya sudah kembali menginjak rumah tersebut. Tapi ini kok... ternyata sesuatu yang ada di permukaan tanah membuatnya terjengkang.
Kakinya tersangkut, kaki kiri. Tak pelak sebelah kaki yang lain, kaki kanannya, menghajar dinding makam, kena lutut. Tak urung Siti pun mengaduh kesakitan.
"Anjir!" Laknat Siti.
Siti bergegas menjangkau sesuatu yang membuat sebelah kakinya tersangkut tadi. Dalam gelap Siti meraba-raba, itu tampak seperti sebatang akar, sebatang akar yang mencuat keluar dari dalam menuju ke permukaan tanah. Padahal di dekat-dekat situ tidak ada sebatang pohon pun, kok bisa, pikir Siti. Namun, setelah diraba lebih jauh, sepertinya itu bukan sebuah akar pohon, melainkan...
Seketika bulu kuduk Siti meremang, bibirnya mengeluarkan parau desis yang teramat sangat, seperti rintih ketakutan, kedua matanya sekonyong-sekonyong jelalatan tak menentu arah.
Ya, Alloh tolong Baim ya Alloh...
Dari permukaan tanah seperti ada yang menggenggam.
Ya, Alloh tolong Baim ya Alloh...
Sekarang bukan lagi menggenggam tapi sudah mencengkeram. Kukuh mencengkeram. Siti bergidik ngeri. Peluh keringat tumpah dari sekujur tubuh. Giginya bergemeretakan...
Lamat-lamat gemeretak gigi itu berusaha merangkai sebuah seruan...
TOLONG...
TOLONG...
TOLONG...
***
Hari berganti terang. Jam di dinding telah menunjuk ke pukul satu siang. Di luar terik mentari begitu menyengat. Segaris silau yang menyengat tersebut sekian menit menerpa wajah seorang anak dara yang tampak tertidur pulas pada sebuah ranjang. Hingga seseorang yang datang dari arah luar bergegas menutup tirai kamar tersebut.
Ruang VIP kamar nomor tiga, begitu kata yang tertulis di depan pintu kamar tersebut.
"Gimana Siti sudah bangun," tanya seseorang dari depan pintu. Yang ditanya hanya menggeleng kecil.
***