Menceritakan tentang kisah cinta antara seorang putri dan pangeran. Kisah keduanya memiliki liku-liku yang sulit untuk dilewati. Disatu sisi Pangeran yang memiliki tanggung jawab yang besar dan disatu sisi lainnya sang Putri yang harus merelakan, bagaimana kisah kedunya? Akankah kebahagiaan menemui mereka berdua?
Pangeran Karan: "Putri Kiran ... Entah bagaimana saya mengungkapkan perasaan ini. Saya begitu senang karena bisa bersama dengan Putri.."
Putri Kiran: "Yang Mulia, saya lah yang seharusnya beruntung karena akan bersanding dengan anda. Meski pun saya merasa tidak pantas karena hanya seorang anak dari perdana menteri. "
Pangeran Karan: "Putri Kiran, semua yang terjadi adalah takdir dari yang kuasa. Saya yakin, ia memang hendak mempersatukan kita.."
Putri nampak membungkukkan badannya sedikit.
Putri Kiran: "Terima kasih, jikalau pun pertunangan ini tidak terjadi, Saya rela jika Yang Mulia bersama dengan orang lain. Bagi saya kebahagiaan Yang Mulia lebih utama dari apa pun itu."
Pangeran Karan: "Putri Kiran... Saya lebih senang jika bersama anda. Jadi, tidak perlu dibahas lagi... Saya merasa bersyukur."
Putri Kiran: "Baik Yang Mulia, "
Lalu seorang pengawal nampak mendekat kearah mereka. Pengawal itu berjongkok kearah pangeran.
Pengawal: "Saya menghadap kepada Yang Mulia kerajaan Api."
Pangeran: "Ada apa?"
Pengawal: "Ampun Yang mulia, mata-mata kita menemukan kebenaran bahwasannya kerajaan Tanah sudah mengkhianati kita." 1
Pangeran: "Kau boleh pergi." 1
Pengawal itu pun pergi meninggalkan keduanya. Pandangan pangeran teralihkn pada sang Putri yang kini diam.
Pangeran: "Saya tahu dengan apa yang putri pikirkan, namun memang inilah kenyataannya. Banyak dari mereka mencoba meraih kemenangan dengan melakukan keserakahan. Tapi Putri tenang saja, saya jamin bahwa kedamaian kerajaan ini akan saya peroleh."
Putri: "Sungguh berat Yang Mulia mengemban tanggung jawab yang besar ini, semenjak Raja meninggal dunia tanggung jawab Yang Mulia pun semakin besar, dan hal itu membuat Saya khawatir."
Pangeran: "Tidak masalah, ini juga adalah takdir. Saya pun akan berusaha."
Dayang 1: "Putri Kiran, maaf menganggu. hari sudah mulai malam. Hendaknya Putri Kiran kembali ke kediaman Istana."
Pangeran Karan: "Benar yang dikatakan dayang, sebaiknya Putri Kiran kembali pada kediaman."
Putri Kiran: "Jikalau begitu saya undur diri."
Hari demi hari, pernikahan keduanya pun semakin dekat bersamaan dengan sebuah perang yang tengah dipersiapkan. Hal ini membuat sang putri khawatir, karena merasakan sebuah firasat akan suatu hal yang akan terjadi. [Neneng] 18
Dayang 1: "Putri... Akhir-akhir ini putri jarang istirahat, apa yang membuat putri bimbang?"
Putri: "Saya merasakan firasat yang tidak mengenakkan , saya takut firasat ini akan menimpa kepada Yang Mulia Karan."
Dayang 2: "Putri jangan terlalu memikirkan hal itu, hamba yakin Yang Mulia Karan akan baik-baik saja."
Sang putri menghela nafasnya panjang,
Putri: "Semoga saja... Saya sangat berharap akan hal itu."
Dayang 2: "Pernikahan putri tinggal menghitung hari, jangan memikirkan hal yang membuat Putri menjadi lelah."
Putri: "Saya hanya takut, entah kenapa rasanya begitu sesak."
Keraguan yang dirasakan oleh sang putri kian membesar, dan kini... Ialah satu minggu sebelum pernikahannya dilaksanakan. Hati sang putri kian resah dan kian bimbang. Putri pun menemui pangeran.
Putri: "Saya menghadap kepada Yang Mulia Karan,"
Pangeran: "Putri... Ada apa? Nampaknya suasana hatimu sedang tidak bagus."
Putri: "Jika saja saya bisa melarang Yang Mulia untuk tidak mengikuti perang ini, mungkin saya akan baik-baik saja."
Pangeran: "Maafkan saya Putri Kiran... Tapi inilah tanggung jawab saya."
Putri: "Saya mengerti Yang Mulia, dan juga saya kemari ingin memberikan sesuatu kepada anda."
Putri melepaskan gelang ditangannya dan memasangkannya pada pemuda itu.
Putri: "Ini adalah jimat turun temurun dari keluarga, saya hanya bisa berharap bahwa ini bisa melindungi anda."
Pangeran nampak tersenyum.
Pangeran: "Terimakasih Putri"
3 hari sebelum dilaksanakannya pernikahan, sang Pangeran kini tengah mempersiapkan dirinya dengan baju zirahnya. Ya! Kini dia akan mulai berperang melawan kerajaan yang sudah mengkhianatinya. Dia menatap wajah sang putri dari kejauhan yang mengeluarkan ekspresi murung.
Pengawal: "Yang Mulia, semua pasukan sudah siap."
Pangeran: "Baiklah, kita berangkat..."
Dayang 1: "Maafkan saya karena sudah mengatakan hal ini Putri Kiran, tapi bukankah tidak menemuinya disaat Yang Mulia berperang akan membuatnya tidak tenang."
Dayang 2: "Benar Putri, saya memperhatikan wajah Yang Mulia nampak gundah dan tidak tenang, saya takut hal itulah yang akan menghambatnya."
Putri menatap kepergian Pangeran dengan sendu, sedangkan Pangeran merasa gundah karena Putri Kiran yang tidak memberikan sepatah kata pun pada dirinya.
Kini, ia tengah berhadapan dengan pasukan kerajaan yang telah mengkhianatinya. Pegangan pada pedangnya semakin menguat menimbulkan ambisi untuk membunuh.
Pangeran Karan: Yang Mulia Raja Indra! Semuanya sudah berakhir, saya tidak akan memaafkan pengkhianatan ini. Saya akan menghukum anda dengan tangan saya sendiri!
Raja Indra hanya tertawa meremehkan,
Raja Indra: Benarkah? Saya ragu pangeran, bahkan anda saja tidak pernah mengikuti perang sekali pun, lalu bagaimana bisa membunuh saya?"
Pangeran: "Jangan meremehkan saya Raja Indra, atau kau akan menyesal."
Pasukan itu pun mulai menyerang satu sama lain, Pangeran dengan gigihnya menyerang para pasukan Raja Indra. Ia tidak memperdulikan luka yang ia dapatkan dari penyerangan itu.
Yang ia tuju hanyalah Sang Raja, ia mencoba mendekati Raja indra dan menyerangnya.
Suara Pedang yang beradu menjadi saksi pertarungan antara Raja dan calon Raja itu.
Pangeran pun berhasil melumpuhkan sang Raja, dengan pedangnya yang terhunus dihadapan wajah Raja tersebut.
Pangeran: "Saya mengampuni Anda Raja Indra."
Pangeran melemparkan pedangnya, dan berlalu dari sana. Raja Indra yang merasa tidak terima karena kalah pun mulai mengambil pedangnya dan...
Jleb!
Ia menusuk Pangeran tepat pada bagian perutnya, meski rasa sakit menggerogoti tubuhnya, Pangeran dengan cepat mengambil belati dipingganggnya dan menusuk Raja Indra tepat pada bagian dadanya.
Gelang yang ia kenakan jatuh seketika bersamaan dengan tumbangnya pangeran. Kini Onyxnya menatap langit yang tengah mendung seakan-akan berduka akan keadaan pemuda itu.
Lalu seseorang datang mendekatinya,
Putri Kiran: Yang Mulia...
Pangeran Karan: (tersenyum) "... Ma-maafkan.. Sa-saya.. Pu-Putri... S-Saya... Tidak Bi-sa menepati Jan-ji..Yang saya berikan. Sa-saya... Ugh... Saya... Saya Mencintai Anda."
Putri Kiran: (Menangis Histeris)
Pangeran pun tiada, meninggalkan semua orang yang ia sayangi dan meninggalkan seseorang yang ia cintai. Kisah keduanya berakhir sampai disini, tidak ada kebahagiaan, namun hanya ada rasa kesepian karena ditinggalkan orang terkasih.
Namun, meski seseorang yang ia cintai telah mati. Yakinlah bahwa cinta akan abadi.
*Note: ini tugas sekolah, maaf atas ketidaknyamanannya. "