---
Berjalan tanpa arah dengan tudung hoodie yang menutupi kepala serta kepalanya yang menunduk dalam, Arvano hanya ingin menikmati indahnya alam dengan sedikit berjalan-jalan namun seringkali orang-orang yang melihatnya mengenal dirinya sebagai Alfino, sang kembaran. Jika itu seseorang yang hanya mengenalnya sebagai Alfino tidak apa, yang berbahaya adalah jika salah satu dari mereka adalah Fans berat Alfino, dan dirinya tidak suka menjadi pusat perhatian.
Kali ini Vano bisa bernapas lega karena ia tidak melupakan masker untuk menutupi wajahnya, setidaknya itu berhasil. Baginya, alam adalah hal paling indah dan paling jujur. Sesimple itu tapi bisa membuat Arvano jatuh hati.
"ARGHHHH! KALIAN SEMUA MUNDUR ATAU AKU AKAN MELOMPAT!"
Teriakan itu mampu mengambil atensi penuh Vano yang langsung tertuju pada beberapa orang di jembatan sana. Kakinya mulai melangkah cepat saat melihat seorang gadis berdiri di sisi luar pagar dengan kacau.
"Arimbi, jangan lakukan itu! Please!"
"Sayangi dirimu sendiri, semua tidak kan berakhir hanya karena kau lompat dari sana!"
Begitulah ucapan orang-orang berbaju putih itu. Vano memperhatikan gadis itu, sepertinya dia adalah seorang 'pasien' yang kabur. Arvano memberi kode agar yang lain diam dan membiarkan dirinya untuk berbicara.
"Hey, Arimbi? Itu namamu 'kan?"
...
"Kau pasti sangat lelah, bukan begitu? Aku tidak akan melarangmu untuk jatuh dari sana, karena dulu aku juga pernah berpikir seperti itu."
Orang-orang disana terkejut, apa laki-laki ini akan membiarkan Arimbi lompat? Gila.
"Apa yang kau katakan? Kau mau membiarkan--"
"Percaya padaku."
Arvano mulai melangkah pelan mendekati gadis itu sambil terus menatap matanya, "kau pasti punya alasan karena sudah berdiri disana, apa alasanmu?"
Gadis itu terdiam, "tidak ada yang percaya padaku, mereka semua bilang aku gila, aku tidak berguna hiks..." jawab Arimbi dengan terisak.
Vano melangkah lebih mendekat, "kamu tidak gila, kamu hanya lelah, aku selalu percaya padamu, dan setiap orang pasti juga pernah merasa tidak berguna." Setelahnya tangan laki-laki itu mengulur.
"Trust me, everything will be fine." Vano tersenyum, masih menunggu uluran tangannya untuk digenggam.
"Apa aku bisa percaya padamu?" tanya Arimbi menatap netra legam di depannya.
"Jika kamu tidak percaya tidak masalah, tapi ingatlah bahwa aku selalu percaya padamu."
Arimbi terdiam lalu di detik berikutnya ia menggenggam uluran tangan itu, menggenggamnya sangat erat seolah tak mau kehilangan.
---
[Rumah sakit jiwa]
Ruangan serba putih itu terlihat hening, laki-laki itu mengupas sebuah apel dengan perlahan dengan gadis di sampingnya yang sibuk memandang wajah Arvano. Merasa diperhatikan laki-laki itu menoleh sambil memberikan apel yang sudah ia potong.
"Kenapa kamu terus memandangiku?"
"Vano tampan!" Seru Arimbi tertawa singkat.
Mendengar itu Arvano tersenyum sambil mengelus puncak kepala Arimbi, "kamu juga cantik."
"Oh ya, dimana teman yang suka mengganggumu itu? Apa dia ada disini?" Lanjut Vano memperhatikan sekeliling seolah ia mencari seseorang, padahal ia tau tidak ada siapa-siapa.
"Mereka pergi karena Vano ada disini."
"Kenapa begitu?"
"Mereka takut, Vano 'kan superheronya Arimbi!"
Vano tertawa gemas melihat tingkah Arimbi. Gadis ini sangat polos dan lugu, gadis ini terlalu baik untuk disakiti, gadis ini terlalu indah untuk dirusak. Maka sejak hari itu Arvano berjanji untuk terus melindungi Arimbi, apapun yang terjadi.
-fin-