Janji yang tidak ditunaikan.....
Pagi yang cerah,dimulai dengan senyuman manis sang isteri.Suaminya tersenyum kecil ketika melihat isterinya yang senyum dengan begitu manis,bersemut hatinya.
"Sayang,kenapa senyum tuh? Ada berita gembira kah?"soalku sambil mengusap lembut bahunya.Dia tersenyum lagi sekali lalu menyandarkan badannya ke tubuh sasaku.
"Sayang,rasanya kapan yah adik bayi keluar.Bundanya gak sabar mau lihat wajah Pangeran yang ganteng seperti papanya atau puteri yang menawan seperti bundanya."sang isteri ketawa kecil.Ku tersenyum lalu mencuit hidung isteriku.Gelagatnya sungguh lucu,rasanya pengen ku gigit tapi gak bisa.
Sang isteri menoleh wajah tampan ku.Dia berbisik kepadaku....
"Sayang,I love you."bisik sang isteri lalu pergi berlari ke kamar.Ingat ini filem Hindustan kah? Haduh sang isteri,ada aja kelakuannya setiap hari.
Sejak menjadi bumil,tingkah sang isteri mulai berubah,dari singa menjadi kucing,dari garang menjadi manja dan dari yang suka ngambek malah jadi suka manja.Haduh kalo beginilah hidupku yang akan datang pasti setiap hari hanya berbunga ajalah hatiku ini.
Ku berlari mengejar sang isteri.Ku membukq pintu perlahan yang tidak terkunci.Sang isteri dengan cepat berlari dan menutup mataku.
"Siapa haiyoo."
"Bidadari syurgaku."ku memegang dan mengusap lembut tangannya.Ku mencuit hidungnya lalu ku cium keningnya.Masyaallah,ini rasanya nikmat menikah.Sang isteri tertawa dengan bahagia.
Ku mengusap perut gede isteri ku lalu berbisik....
"Sayang papa,cepat lah keluar. Bundamu udah tidak sabar ingin melihat wajah ku seperti apa? Adakah seperti papanya atau seperti bundanya.Cepat keluar yah sayang, kasihan Bubda sakit-sakitan jagain kamu.Nanti udah keluar papa pula yang ganti Bunda yahh."bisikku lalu mencium perut gede sang isteri.
Ku menjalani kehidupan seharian ku dengan sang isteri dengan bahagia. Bergelak ketawa bersama-sama, bercanda dan lain-lain.
"Sayang,sakit."rengek sang isteri dengan mata yang melebar.Ku tersenyum lalu menjongket kening.
"Dedek bayi tendang perut.Sakit yank."rengek sang isteri dengan suara lunaknya.Ku tertawa melihat dan mendengar rengekan manja sang isteri.
"Ku sakit loh sayang.Kenapa ketawa? Ishhh,ayank!!!!"suara rengek lunak sang isteri bertukar menjadi singa.
"Ada singa lari-lari.Singa marah, Hahahahaha......"ku ketawa.Sang isteri memuncungkan bibirnya.Ku berjalan mendekati lalu memeluk. Kasihan isteriku....kesakitan.
"Sayang,liat papamu,udah gak sayang bunda lagi.Malah ngatain bunda singa.Bidadari Gini kok dipanggil singa."ujar sang isteri sambil mengusap lembut perutnya.
"Maaf sayang.Jangan ngambek dong.Kasihan dedek bayi liat papanya dimarahi."ku pula bermanja dengan sang isteri.Sang isteri membuat muka lalu pergi.Dia duduk di pondok kecil.
Ku mendekati sang isteri lalu berbaring di pangkuannya.Sang isteri tersenyum gembira.
"Elelele suka lah tuh.Ku mau tidur yank sama dedek bayi.Sayang
santai-santai dulu lah yah."
"Ishhh sayang berat yank.Sana ishhh."rengek isteriku menolak manja kepalaku.Ku ketawa kecil.
Semuanya berjalan dengan lancar.Adanya ketawa sang isteri dan gelagat lucunya aja bisa membuatkan hatiku berbunga.
tapi kebahagiaan itu hilang dengan cepat ketika isteriku accident kerana kebodohan ku sendiri.
"Sayang bantuin angkat berat nih."rengek sang isteri.
"Ish,angkat sendiri lah yank.Ku capek ini entar lepas lintas ku bantu deh.Nyusahin aja."ujarku.Sang isteri hanya tersenyum paksa.
Lampu isyarat bertukar hijau.Ku dan isteriku melintas,ku dihadapan dan isteriku dibelakang.
Ada lori yang laju ke arah sang isteri.Dia terlempar ke tepi jalan.Semua mulai panik.Ku memaling wajah terlihat isteriku sudah terbaring dengan penuh luka di tubuhnya.
"Sayang!!!!"Teriakku menjatuh semua barang-barang.
Ada beberapa orang awam membantu ku disana untuk menelpon ambulans.Ku menepuk pipi sang isteri sambil menangis.Bodohnya aku pada waktu itu.....
Dia di hantar ku rumah sakit berdekatan.Ramai doktor yang masuk ke ruangan rawatan.Ku memaksa diri untuk tenang tapi tidak bisa.Aku ingin melihat keadaan isteriku dan anak kita.Anak kita yang masih dalam kandungan.
Apakah isteriku selamat? Apakah anakku selamat? Apakah mereka terluka parah? Kenapa begitu ramai sekali doktor? Banyak persoalan yang bermain di fikiranku.
Aku cuba memaksa ingin masuk tetapi dihalang oleh 2 orang jurawat cewek yang sedang menunggu doktor lagi.
"Encik tolong tunggu diluar.Anda dilarang masuk."jurawat menghalang.
"Aku ingin melihat isteri dan anakku.Tolong lah bagi aku masuk."
"Maaf encik,tidak bisa.Diharapkan bertenang."
Jam sudah menunjukkan jam 8 malam tapi tiada khabar dari doktor.Aku menunggu sambil menangis.Tidak berhenti-henti ku mendoakan untuk sang isteri tercinta dan juga anak yang bakal menjadi penguat semangat.
Akhirnya,doktor pun keluar.Aku langsung berdiri dan bertanya kepadanya.
"Encik saya harap anda dapat menerima kenyataan.Isteri encik selamat...."
"Alhamdulillah...."ku bersyukur.
"Tapi....anak encik...."Doktor itu menggeleng kepalanya.
"Gak mungkin kan? Doktor bercanda kan? Gak...gak gak mungkin?"ku jatuh terduduk.
"Encik,terimalah kenyataan.Tuhan lebih menyayanginya.Encik harus menerima walaupun itu sangat pahit."ujar doktor itu lalu pergi.
Aku duduk terpojok sambil menangis.Teringat kisah silam kenangan indah yang aku dan sang isteri ciptakan ketika menunggu anak keluar dari kandungannya.
Teringat senyuman dan gelagat sang isteri ketika menunggu sang anak tapi sang anak malah pergi begitu saja.Rasanya seperti ditusuk benda tajam,sakit banget.
Mata berkaca,air mata membasahi pipi.Aku menangis sepanjang malam lalu berdoa...
"Ya Allah,kau teguh dan kuatkanlah hati aku dan isteriku.Kau sangat menyayangi si dia daripada kita."ku menangis sepanjang malam.
*****
Sejak kejadian itu,aku sudah mulai tidak terkontrol.Aku mulai tidak ada semangat,selalu menyalahkan diri dan cuba untuk membunuh diri.Apatah lagi ditambah sakitnya hati ketika sang isteri turut menyalahkan dirinya sendiri.Dia bilang bahawa dia tidak pintar menjaga anak tapi kesalahannya datang daripada suaminya yang bodoh ini.
Sang isteri menangis dan terus menangis.Dia menyalahkan dirinya dan tidak menjaga kesihatannya.
Aku sudah tidak tahan lagi.Aku berlari pergi bertemu dengan ustaz dan ingin mendengar nasihatnya.Aku benar-benar membutuhkan semangat untuk memulihkan keadaan walaupun aku tetap tidak dapat melihat arwah sang anak.Hanya dapat mencium pipi,tangan dan keningnya sebelum arwah sang anak dikebumikan.
Aku pulang kerumah lalu bertemu dengan isteriku yang sudah serabut dan tidak lagi ingin hidup.Dia merasa ingin cepat mati agar dapat bertemu dengan arwah sang anak.
Mulut berat ingin berkata.Rasa hati ditusuk berkali-kali.Sang isteri yang sangat dia cintai menyalahi dirinya sendiri padahal itu adalah salahku yang bodoh dan tidak pengertian.Aku menarik nafas panjang.
"Sayang,maafkan abang.Jangan macam nih.Abang masih nak sayang jadi penyemangat hidup abang.Tolong sayang jangan begini lagi."ku merayu kepada sang isteri. Akhirnya,air mataku jatuh tapi ku tidak sedikit pun mengusap biarlah ini sebagai penghapus dosaku kepada arwah sang anak dan sang isteri.
"Saya tak boleh terima.Saya tak kuat abang.Saya tak kuat.Saya rasa saya gagal jadi orang tua.Saya gagal."sang isteri mulai menangis.
Aku dengan cepat memeluk sang isteri.Ketika dipeluk air mata sang isteri makin deras mengalir membasahi pipi.
"Lihatlah anakku.Bundamu sedih melihat kamu sudah pergi duluan.Dia sayang banget dengan kamu tapi Allah lebih sayang denganmu sayang."batinku.
Kaki pegel sudah tidak peduli.Hanya ingin semangat kembali ada.Senyuman dan candaan kembali menyinari hidup walaupun itu agak lama tapi aku tetap berkeras mencuba.
****
Hari Raya Aidilfitri menjelang tiba,aku pergi melawat kuburan arwah sang anak.Terlihat masih cantik dan baru.
"Halo anak papa,gimana khabarnya? Sihat gak? Papa belum bisa bawa bunda kesini walaupun bunda udah terima kenyataan tapi hati bunda masih lemah jadi sabar yah sayang.Suatu hari nanti bunda pasti datang kunjungi kamu."
"Kamu pasti rindu papa dan bunda kan? Pasti rindu senyuman papa dan bunda ketika kamu masih dalam kandungan.Sayang ingat kan janji papa? Papa pernah berjanji mau jaga kamu setelah kamu keluarkan kandungan nanti tapi kamu malah pergi duluan.Papa gak sempat tunaikan janji papa.Maaf yah sayang."
"Walaupun papa tidak dapat tunaikan janji papa tapi papa berjanji akan jaga bunda selamanya.Sayang bunda cium bunda dan lain lagi.Bunda juga kangen ma kamu sayang.Kamu juga pastu rindu bunda kan? Rindu mau dengar bunda ketawa lagi rindu mau dengar bunda manja dengan papa lagi kan? Alhamdulillah...bunda menjadi penyemangat papa untuk terus hidup."
"Kasihan bunda belum sempat cium kamu.Saat kamu mau dikebumikan bunda hanya sempat gendong kamu tapi tidak sempat mencium.Kamu juga belum sempat ngerasain hangatnya kasih sayang bunda.Kamu jaga diri baik-baik yah sayang.Kalo benar udah waktunya kita ketemu lagi yah."
"Jaga diri jangan nakal-nakal.Papa janji akan jaga bunda dan gak akan sakiti bunda lagi."
"Bye sayang,papa pulang dulu.Bunda dan papa sayang banget sama kamu.Jangan lupa itu."
******