Anindya Amora seorang mahasiswa yang berusia 21 tahun, anak pertama dari dua bersaudara, hidupnya bahagia dan sangat tercukupi sebelum kedua orang tuanya meninggal dunia dikarenakan kecelakaan. Sekarang Anin lah yang menjadi tulang punggung untuk dirinya sendiri dan juga untuk adiknya.
disuatu pagi saat Anin sedang memasak ia terkejut dengan suara adiknya yang berteriak memanggilnya.
“kak,kak Anin,kakak dimana?” teriak sang adik mencari kakaknya. Dia Arin, Arini Amora adik Anin yang kini sudah berusia 15 tahun. Arin sangat sayang kakaknya, bagi Arin Anin adalah dunianya.
“kenapa dek, aku disini nah lagi masak”
“kak ada pesta laut tau,ayo nah kita pergi nonton”
“wi iya kahh”
“katanya teman ku baru aja dimulai ayoo sudahh nahh kak”
“iyaa iyaa pergi sudah siap siap” ucap anin.
Arin mengangguk dan berlari kecil menuju kamarnya. Anin hanya tertawa melihat tingkah adiknya yang menggemaskan. Anin akan turut bahagia apabila melihat adiknya tersenyum, karna kebahagiaan adiknya adalah yang paling utama.
“Arin udaa siap belum ayoo”
“udaa kak, ayoo”
mereka pun berangkat ke Bontang Kuala untuk melihat pesta laut.
Pesta Laut merupakan acara adat yang dilakukan warga Kota Bontang khususnya masyarakat Bontang Kuala sebagai wujud rasa syukur kepada tuhan atas hasil laut yang melimpah di perairan Bontang Kuala. Tempat diselenggarakannya acara ini berada di kawasan kampung wisata laut Bontang Kuala kecamatan Bontang Utara tepatnya di kawasan panggung adat yang terletak di anjungan ujung jembatan area kampung Bontang Kuala.
Pesta laut Bontang Kuala ini biasanya rutin diselenggarakan pada pertengahan bulan November hingga Desember selama 1 minggu, tentunya terdapat beragam susunan acara yang diselenggarakan untuk memeriahkan acara seperti ritual adat, penampilan tari tradisional, pengenalan kuliner khas Bontang, hingga berbagai macam perlombaan.
sesampainya disana teryata disana sudah sangat ramai. Tidak heran antusias masyarakat Bontang sangat besar.
“wahh ramai ya kak” ucap Arin kagum
“gaa heran si antusias masyarakat Bontang emang patut di acungi jempol deh”
saat melihat pesta laut, Arin tak henti hentinya mengucapkan masyaallah berkat kekagumannya terhadap keindahan kearifan lokal yang dimiliki Bontang. Anin tersenyum haru melihat adiknya yang sangat gembira menyaksikan langsung pesta laut, Arin memang sering mengajaknya untuk melihat pesta laut tapi selalu saja ada kendala yang membuat mereka tidak bisa menyaksikan pesta laut.
Saat keasyikan nonton tiba tiba Arin kesulitan bernafas dan merasa sakit diarea dadanya. Anin yang menyadari ada yang tak beres pada adiknya pun bertanya khawatir “dekk kamu kenapa” dengan terbata bata adiknya menjawab.
“s-sakit ka-k”
“tahan ya kita kerumah sakit sekarang”
Dengan air mata yang membasahi pipinya buru buru Anin menggendong adiknya bak koala, ia pun melanjukan motornya dan segera membawa adiknya ke rumah sakit. Tapi naas mereka berdua mengalami kecelakaan, Anin dan adiknya pun terhempas hingga kepinggir jalan.
“d-dekk” dengan samar samar Anin melihat adiknya yangg sudah berlumuran darah dan sudah tak sadarkan diri.
Anin terbangun diruangan bernuansa putih serta bau obat yang menjadi ciri khas ruangan itu.
cklek.. suara pintu terbuka ternyata yang masuk adalah perawat dan dokter
“gimana keadaannya kak,apa ada yang sakit?” tanya dokter
Anin hanya menggeleng, yang ada difikirannya hanya bagaimana keadaan sang adik.
“d-dok gimana keadaan a-dik saya?”
“begini kak apa adiknya mempunyai riwayat penyakit asma?” Anin mengangguk.
“asma yang diderita adik kakak ternyata suda sangat parah ditambah dengan kecelakaan yang kakak alami, maaf sekali adik kakak sudah tidak bisa diselamatkan”
Anin sangat merasa terpukul mendengar kabar itu ia tidak percaya dan memberontak ingin bertemu adiknya. kini ia berada didepan sebuah kamar yang bertulis “kamar jenasah” sesak yang dirasakan Anin saat itu. pelan pelan ia membuka dan memasuki ruangan itu dengan dipandu seorang perawat.
Anin membuka perlahan-lahan kain yang menutupi wajah seseorang yang sangat ia sayangi. Dan benar saja seseorang yang ia cintai kini sudah terbaring kaku dengan wajah yang sangat damai.
Anin menggeleng masih tak percaya.
“dek bangun dek, kamu gaa mungkin ninggalin kakak sendiri kan” tangisnya pecah. Anin terjatuh karna sudah tak sanggup menopang tubuhnya. “adek cuma lagi tidur kann, ayo dong bangun”. Anin terus berteriak memanggil adiknya.
“arinn, arinn ayo bangun sayang”
“ARINNNN...”
“ARINNN!!!”
“kakkk, kakak” Arin yang berada disamping kakaknya itu kaget karna tiba tiba meneriaki namanya. Anin yang melihat Arin langsung memeluk adiknya.
“jangan pergi, jangan tinggalin kakak, kakak ga bisa kalo ga ada Arin”
“Aku disini kak, ga kemana-mana ”
Anin sangat bersyukur karna kehilangan adiknya hanyalah lamunannya.
Arin yang masih bingung mengajak kakaknya untuk pulang, ia merasa mungkin kakaknya sedang tidak enak badan.
“kita pulang aja yuk kak, acaranya juga sudah hampir selesai kita bisa kesini lagi besok”
Arin hanya mengangguk dan menuju parkiran. mereka sampai dirumah dengan selamat.
~~~
“nah itu kisah ibu sama tante pas lagi nonton pesta laut”
“ibu sama tante keren yaa”
“jadii ga sabar nonton pesta laut besok” ucap seorang anak kecil berumur 5 tahun.
“iyaa sayang tapi kita mampir dulu yaa ke makam Tante Anin” anak kecil itu mengangguk dan berlari menuju kamarnya.
“kak aku kangen, kakak lagi apa disana? lagi main sama mamak bapak ya, seru banget yaa tungguin Arin yaa, Arin uda ikhlas banget, tenang disana ya kak”
Kini Arin sudah berumur 33 tahun dan mempunyai 1 orang anak. Anin sudah berpulang ke yang maha kuasa karna sakit yang di deritanya, Anin ternyata mengidap asma yang hanya dirinya lah yang mengetahui itu. Ia menyembunyikan sakitnya karna tidak ingin adiknya khawatir.
Dulu kakaknya berkhayal dirinya meninggalkan kakaknya, tapi ternyata kakaknya yang tega meninggalkannya sendiri.
Sekarang Arin sudah hidup bahagia, dan Anin sudah tenang di dekapan tuhan yang maha esa.
-selesai-