Waktu itu magrib. Baru saja aku sampai di rumah sepulang kerja, hujan turun dengan angin yang bertiup cukup kencang. Buru-buru aku mengamankan cucian yang ku jemur tadi pagi. Rumah masih gelap. Penerangan belum kunyalakan sama sekali. Dengan memeluk kain cucian, aku menyalakan lampu satu per satu.
Baru dua bulan aku menempati rumah ini sendiri. Rumah tua ini adalah rumah peninggalan kakekku. Rumah bergaya kuno, dengan tiang-tiang kayu jati yang masih kokoh berdiri. Rumah tanpa paku, hanya susunan kayu-kayu besar sebagai palang dan rangka atap. Rumah ini sempat kosong lama dan menjadi gudang.
Rumah peninggalan kakekku ini dibagi menjadi dua. Sebagian ditempati oleh saudara sepupuku dan keluarganya. Namun ketika magrib, mereka sudah memasuki rumah dan enggan untuk keluar. Sehingga saat malam, suasana rumah pun menjadi sepi.
Aku menaruh kain cucian di atas kasur. Meletakkan tas ranselku. Mengambil peralatan mandi dan bergegas ke kamar mandi. Tubuhku sudah sangat lengket keringat.
Sehabis mandi kubaringkan tubuhku. Mengambil telepon seluler dan mengulir pesan-pesan pendek. Sambil sesekali mengecek media sosialku. Sampai tak sadar aku tertidur.
Pukul 2 dini hari. Aku terbangun dan memeriksa jam di telepon selulerku. Terbangun karena serangan nyamuk bertubi-tubi. Sungguh sial sehabis hujan, nyamuk datang berbondong-bondong. Karena tak tahan, aku menepuk nyamuk yang menggigit lenganku.
'Plak' tiba-tiba terdengar bunyi tepukan setelah aku menepuk lenganku.
Aku bangun dari kasur dan menuju kamar mandi. Nyamuk mengerubungiku. Kutepuk lagi.
'Plak' kali ini bunyi tepukan terdengar bersamaan dengan tepukanku. Bulu romaku mulai berdiri.
Kucoba menepuk tanganku lagi, tak ada suara yang mengikuti.
Beberapa detik kemudian, 'plak' bunyi tepuk tangan terdengar cukup keras dari arah bilik kamarku.
Ketakutan menjalar dari kaki hingga ke ubun-ubunku. Jantungku berdegup dengan kencangnya. Kuberanikan diri berjalan untuk menyalakan semua lampu yang tadinya kumatikan. Buru-buru aku kembali ke kamar. Menyembunyikan tubuhku di bawah selimut. Merapal doa sampai aku tertidur. Sampai terbangun di pagi hari.