Beberapa puluh menit lalu, Jungkook mendapatkan panggilan dari ibunya bahwa kakaknya akan pulang dari Inggris. Mendengar kabar jika kakaknya kembali ke Korea membuat Jungkook rela membatalkan semua jadwal meeting pentingnya dengan klien. Dia sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan kakaknya yang sudah sekian lama tinggal di Inggris.
Namun, siapa sangka jika malam ini Jungkook mendapatkan satu peristiwa yang mengejutkan. Detik dimana dirinya tepat berada didalam kediaman utama milik kedua orangtuanya, Jungkook terkesiap. Pandangannya terkunci pada satu objek yang begitu sayang untuk dia lewatkan. Seorang gadis cantik yang sudah berhasil mengambil seluruh ruang dalam hatinya tengah berdiri mematung. Pandangan mereka bertemu dalam kejut yang sama.
Kim Taelyn.
Satu nama yang selalu tersimpan dalam hatinya. Yang sudah mewarnai kehidupannya. Senyum cantiknya, suara indahnya, perhatian manisnya semua menjadi nilai lebih bagi Jungkook untuk selalu mencintai gadis itu.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka terpisah. Taelyn memilih pergi tanpa memberikan alasan. Memilih mengakhiri hubungan tanpa berbicara secara baik-baik dengannya. Lebih memilih meninggalkannya dengan sejuta tanya dan menanamkan luka yang teramat dalam bagi Jungkook.
Meski begitu, Jungkook tak pernah lelah untuk mencarinya. Jungkook masih ingin tahu alasan dibalik tindakan Taelyn yang memilih pergi darinya. Karena Jungkook teramat mencintai gadis itu. Sampai kapanpun, takkan pernah ada yang bisa menggantikan posisinya. Jungkook sudah berjanji pada dirinya untuk menjadikan gadis itu miliknya, hanya miliknya.
“Sayang, kenapa melamun?” suara Taehyung membuyarkan segala keterdiaman Jungkook. Kedua matanya melihat jelas bagaimana sang kakak mengelus sayang pipi Taelyn dan bahkan telinganya mendengar cukup baik Taehyung memanggil gadis yang selama ini menjadi cinta pertamanya dengan sebutan istimewa. Mungkinkah?
***
Taehyung belum menyadari kehadiran adiknya. Namun, saat melihat kekasihnya tengah mematung dan menatap lurus pada satu titik akhirnya Taehyung mengikuti arah pandang Taelyn. Tak jauh dari tempatnya berpijak, Jungkook berdiri dengan raut wajah sendu. Dan, dalam suasana seperti ini Taehyung menangkap satu firasat ganjil.
“Oh, Jungkook? Kenapa hanya berdiri disana? Ayo, kemari!” ajak Taehyung seolah menghancurkan keterdiaman antara adik dan kekasihnya.
Jungkook akhirnya mendekat dengan satu senyum tipis dibibirnya. Satu senyuman getir yang seharusnya dia tunjukkan kepada Taelyn yang tampak diam seribu bahasa.
“Kau semakin tampan, Jungkook.”
Jungkook hanya tersenyum sebagai respon. Atensinya teralihkan pada Taelyn yang kini menatapnya dalam diam.
“Kau membawa seseorang, Hyung?”
Tatapannya semakin terfokus pada Taelyn begitu intens. Taehyung tersenyum saat menyadari gelegat adiknya yang berbeda. Ternyata memang ada yang janggal disini. Taehyung merangkul bahu gadis disampingnya dengan lembut, dan dapat laki-laki itu lihat jika tatapan Jungkook menyiratkan sebuah rasa tak suka.
“Kim Taelyn. Dia calon istriku. Sayang, dia Jungkook, adikku.”
Dunia seakan berhenti berputar. Detik dimana Taehyung berhasil melontarkan satu kalimat menyakitkan dan mengejutkan bagi Jungkook sangat fatal bagi keadaan hati laki-laki itu. Telak menohok dan Jungkook begitu yakin jika takdir begitu senang mempermainkannya saat ini.
Taelyn tersenyum sekilas. “Senang bertemu denganmu, Jungkook.”
Rasanya hati Jungkook memberontak saat melihat senyum dan mendengar suara gadis itu. Rasanya Jungkook ingin memeluk Taelyn dan mengatakan bahwa dia sangat merindukannya. Namun, tampaknya terasa rumit untuk saat ini. Karena Taelyn memilih untuk menjadikan kesan pertemuan mereka kali ini tampak seperti pertama kali, bukan kesan pertemuan kedua insan yang dulu sempat terpisah oleh satu peristiwa.
“Tidak merindukanku, Taelyn?”
Tatapan Taehyung berubah, begitupun dengan Taelyn yang kini semakin terpuruk dengan suasana saat ini. Kemudian Taehyung tersenyum tipis, melirik Taelyn yang masih setia terdiam lalu kembali menatap adiknya yang setia menatap calon istrinya.
“Maaf, Jungkook... Kita tidak seperti dulu lagi.”
“Aku tak pernah melepaskanmu, Taelyn.”
“Kau sebaiknya berpikir tentang ucapan calon istriku, Jungkook. Jika kau tak melepaskannya akan tetapi Taelyn sudah berhasil aku miliki. Jadi, bisa disimpulkan jika Taelyn memilih pergi dan melupakanmu. Itu karena kesalahanmu sendiri, Jungkook.”
Telak. Jungkook akhirnya bungkam. Mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Awal pertemuan Taehyung dan Jungkook setelah sekian lama berpisah ibarat mereka tengah bertaruh untuk bisa mendapatkan hati gadis yang sama-sama mereka cintai. Lebih menyakitkan lagi, Taelyn seakan menganggap semua kenangan mereka sudah terlewatkan dan usang.
Dan kisah cinta rumit mereka berawal dari sini.
***
Jungkook masih belum bisa melepaskan Taelyn seutuhnya. Tidak—setelah gadis itu sudah memenuhi seluruh ruang hatinya sejak dulu. Yang sudah banyak melewati berbagai macam kenangan manis yang selalu Jungkook simpan begitu rapi dalam ingatannya.
Katakan jika Jungkook memang egois karena masih ingin memiliki Taelyn hanya untuk dirinya. Dia tidak akan keberatan jika Taelyn lebih memilih orang lain daripada dirinya. Tidak dengan Taehyung, yang tak lain adalah orang yang begitu dia hargai sebagai seorang kakak. Mungkin, jika Taelyn memilih orang lain dia akan berusaha untuk melihatnya bahagia dengan pilihannya.
Meski kenyataanya dia memang tak akan pernah rela melepaskannya, namun dia akan mencoba melakukannya untuk kebahagiaan gadis yang dia cintai. Namun, jika itu Taehyung dia sulit sekali untuk melepaskannya.
Malam itu, pada acara makan malam keluarga sekaligus penyambutan kepulangan Taehyung ke Korea menjadi malam terburuk bagi Jungkook. Dimana, kedua orang tuanya tampak senang saat Taehyung mengatakan akan segera menikahi Taelyn secepatnya.
“Ayah, Ibu... Aku berencana untuk menikah dengan Taelyn akhir bulan ini. Bukankah lebih cepat lebih baik?”
Suara Taehyung menginterupsi semua anggota keluarganya. Dan kalimat singkat darinya berhasil membuat kedua orangtuanya tersenyum senang.
“Itu bagus, Sayang. Ibu senang mendengarnya.”
“Ayah juga senang mendengarnya. Jangan terlalu lama menunda acara pernikahanmu lagi Taehyung.”
“Tentu Ayah.”
Satu-satunya orang yang tampak tak menyukai topik pembicaraan saat ini hanya Jungkook. Dia benci saat mendengar jika kakaknya akan segera memiliki Taelyn dalam waktu dekat.
“Jadi, Jungkook... Kapan kau akan melangsungkan pertunanganmu dengan Vincent?”
Jungkook tiba-tiba tersedak. Ayahnya menyinggung soal Vincent diwaktu yang tidak tepat. Taelyn bisa saja membencinya karena hal ini. Jungkook memberanikan diri untuk menatap kearah Taelyn yang kini tampak menatapnya balik dengan satu senyuman. Dan Jungkook yakin jika Taelyn tengah menampilkan satu senyum getir saat ini.
‘Taelyn, maaf karena belum bisa menjelaskan semuanya saat ini.’
***
Pagi ini, Jungkook sama seperti sebelumnya. Berdiri dengan pikiran berkelana di balkon apartemennya. Tubuh kekarnya dibalut kemeja putih dengan lengan yang dia lipat sampai siku. Dua kancing kemeja atasnya yang sengaja tak dikaitkan, serta kaki jenjangnya yang dibalut celana bahan warna hitam.
Mungkin, pagi ini dia akan memilih untuk berangkat lebih siang dari biasanya karena sungguh perasaannya cukup menggangu kinerja otaknya. Tadi malam bagaikan sebuah mimpi buruk. Dapat kembali melihat Taelyn memang suatu kebahagiaan bagi Jungkook, tapi setelah mengetahui kembalinya gadis itu hanya dapat merusak hatinya dia sungguh kecewa dengan semuanya. Takdir begitu kejam mempermainkan hidupnya.
Terlalu sibuk dengan lamunannya, sehingga membuat dirinya nyaris tak menyadari seorang gadis sudah masuk kedalam apartemennya dan menghampiri Jungkook yang masih berdiri dibalkon dengan kedua tangan yang dimasukkan pada saku celananya. Tubuh jangkung Jungkook begitu indah dipandang dari belakang, aura dominan yang begitu kental selalu menjadi satu point paling penting dalam mendeskripsikan laki-laki itu.
Namun, tak lama bagi Jungkook untuk tersadar dari lamunannya ketika mendengar ketukan heels pada lantai apartemen dikamarnya yang menggema di pagi yang sunyi ini. Jungkook teramat hafal siapa yang kini berada dibelakangnya, teramat tahu karena memang sudah terbiasa dengan kehadiran orang tersebut.
Vincent Kim.
Seperti biasa gadis itu akan selalu mengunjungi Jungkook sepagi ini hanya untuk mengajaknya sarapan bersama atas permintaan kedua orang tuanya. Meskipun sudah beberapa kali Jungkook tolak, gadis itu sama sekali tak pernah berhenti untuk terus mengusik paginya.
Kali ini Vincent sudah hampir melewati batasnya karena ketukan heels yang seirama dengan langkah gadis itu membuat Jungkook membuka suaranya untuk menghentikan niat gadis itu yang semakin mendekatinya.
Tidak seperti biasanya, sebelumnya gadis itu hanya berdiri tak jauh darinya dan mengatakan pada Jungkook jika sarapannya sudah dia siapkan dimeja makan meskipun pada akhirnya Jungkook tak pernah mencicipi sama sekali. Namun, kali ini berbeda dan membuat Jungkook geram. Kalimat dingin dan tegasnya mampu menghentikan langkah gadis itu seketika.
“Pergi dan kenali batasan mu!”
Hening sejenak, tanpa menoleh pun Jungkook tahu jika gadis itu tengah berdiri mematung dan masih mencerna segala ucapannya barusan. Dan dapat dipastikan jika gadis itu tengah memasang wajah sedihnya dan Jungkook pun tak pernah menghiraukan hal itu.
Karena demi apapun, dia sama sekali tak peduli dengan keberadaan gadis itu dalam hidupnya. Jungkook masih setia di posisinya, membelakangi gadis itu dan menutup kedua kelopak matanya sambil bernafas gusar.
Namun, ketukan heels itu terdengar kembali dan tampak cepat dari sebelumnya ditambah dengan sepasang tangan melingkar apik pada pinggangnya begitu erat membuat Jungkook tersentak nyaris akan melontarkan umpatan untuk mencoba membuat gadis yang kini tengah memeluknya dari belakang untuk melepaskannya, namun tercekat di tenggorokan begitu gendang telinganya mendengar sebuah suara lembut yang begitu dia rindukan selama ini.
Pelukan yang awalnya Jungkook tak menginginkannya karena dia mengira bahwa Vincent pelakunya, kini berganti sebuah rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya setelah tahu siapa pemilik pelukan manis tersebut. Pelukan yang selalu dia rindukan dan selalu menjadi candu untuknya.
Kim Taelyn.
“Kau mengusirku? Jahat sekali.”
Kim Taelyn?
Benarkah Kim Taelyn?
Suaranya teramat lembut juga begitu Jungkook rindukan.
Lantas tak ada lagi alasan bagi Jungkook untuk melepaskannya. Awalnya dia tak percaya, karena takut jika ini hanya halusinasinya saja karena terlalu banyak memikirkan Taelyn. Namun, ini bukan sekedar halusinasinya dan ini nyata adanya.
Dengan sigap laki-laki itu berbalik dan membawa gadis itu kedalam rengkuhan hangatnya. Membubuhi beberapa kecupan pada puncak kepalanya dengan sayang sambil mengeratkan pelukannya. Menikmati setiap detik kegiatan yang selalu dia rindukan selama ini.
“Taelyn? Kau kembali? Kau benar-benar menerimanya?”
Taelyn bergumam sebagai jawaban dan semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook dan menghirup aroma maskulin disana. Aroma yang tak pernah berubah dan selalu membuatnya nyaman. Mengeratkan pelukannya seakan tak ada lagi hari untuk memeluk Jungkook seerat ini karena memang begitu adanya.
“Aku sudah tahu semuanya, Jungkook. Dua hari lalu aku bertemu Eunha—dan dia menjelaskan semuanya padaku. Maafkan aku, seharusnya aku tak mengambil kesimpulan tanpa mendengar penjelasanmu sama sekali.”
“Tak apa. Aku lebih senang jika kau benar-benar memenuhi permintaanku.”
Rasanya lega sekali mendengar hal itu. Selama ini hubungan mereka direnggangkan karena kalimat yang diucapkan Eunha sungguh membuat keduanya terpisah cukup lama dan harus menanggung beban lain setelahnya. Jungkook masih penasaran, Taelyn bersikap seperti ini ada dua alasan. Pertama, gadis itu akan kembali padanya dan memulai dari awal. Atau yang kedua, dia akan memenuhi permintaan Jungkook sebagai syarat baginya untuk benar-benar bisa melepaskan gadis itu seutuhnya.
“Taelyn?”
“Ya?”
“Jadi apa pilihanmu selanjutnya?”
Taelyn melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap raut wajah Jungkook yang tampak begitu lembut menatapnya tepat dimata. Tersenyum manis dan kembali memeluk Jungkook sehingga membuat sang empu tersenyum tampan namun perasaannya cukup gelisah untuk mendengar jawaban yang akan diberikan Taelyn padanya.
“Satu hari penuh bersamamu, Jungkook. Aku akan memenuhi permintaanmu tadi malam yang kedua.” imbuhnya sambil menahan air matanya yang tampak sudah memenuhi kelopak bawah matanya. Mata Jungkook mulai memanas karena lagi-lagi harus mencoba untuk menerima kenyataannya.
Pada akhirnya, Jungkook mengangguk menyetujui meskipun hatinya meminta lebih. Satu hari memang tak cukup baginya untuk bersama dengan Taelyn karena pada dasarnya dia sangat menginginkan gadis itu selamanya berada dalam rengkuhannya. Namun, Taelyn masih tetap setia pada pilihannya. Menikah dengan Taehyung setelah perjanjiannya dengan Jungkook selesai. Hal itu yang membuat Jungkook tak lagi bisa bernafas lega setelah percakapan mereka tadi malam dan berakhir melihat air mata Taelyn kembali.
Jika saja waktu bisa diputar, Jungkook ingin mengulang kembali masa-masa dimana dia masih bisa merengkuh Taelyn seutuhnya tanpa sebuah batasan.
“Tak bisakah kita bersama seperti dulu? Memulai dari awal bukan hal yang buruk, bukan?”
“Tidak, Jungkook. Mulai sekarang, ayo hidup bahagia dengan pasangan yang sudah Tuhan berikan pada kita. Aku mohon, biarkan Tuhan memberikan takdir masing-masing pada kehidupan kita.”
Pada akhirnya Jungkook mencoba untuk tersenyum miris, tanpa melepaskan pelukan keduanya karena kali ini dia akan mengeluarkan segala kerinduannya pada Taelyn. Hanya satu hari dan Jungkook harus memanfaatkan waktu itu untuk membuat Taelyn merubah kembali perasaanya.
“Soal Vincent—”
“Aku tidak perlu penjelasan soal itu. Percakapan tadi malam cukup bagiku untuk memahaminya, Jungkook.”
Jungkook bungkam dengan perasaan berkecamuk.
***
Sisi lain, Taehyung mencoba membuat pikirannya penuh dengan hal lain setelah dia menyetujui permintaan adiknya untuk memiliki kekasihnya meski hanya satu minggu saja. Jika harus egois, dia sama sekali tak pernah menginginkan Jungkook kembali menyentuh Taelyn yang sudah jelas akan menikah dengannya satu bulan lagi.
Namun, entah apa yang membuatnya menyetujui dan berakhir dengan menyesali segalanya. Sangat menyesal karena sudah membiarkan Taelyn kembali terjerat dalam skenario terburuk yang akan dia terima di kemudian hari, mungkin. Lebih parah dari itu, dia meminta Taelyn untuk menyetujuinya juga meskipun sempat ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Jika Taehyung lebih sadar lebih lagi, Taelyn menolak karena dia takut tak bisa menahan segala perasaanya dan berakhir melukai Taehyung.
“Kau sama saja membuatku selingkuh didepanmu dengan wajah bodohku. Sejak awal aku mencoba untuk menolak dan kau memaksaku untuk menerima permintaan itu? Aku bisa melakukan sesuatu yang lain untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Tidak dengan cara seperti ini.”
Taehyung masih lihat raut marah Taelyn yang begitu kentara setelah acara makan malam mereka dan laki-laki itu yang mengajaknya untuk berbicara mengenai hal yang Jungkook inginkan setelah acara keluarga itu.
Taelyn benar-benar tak ingin kembali terjerat Jungkook karena dia yakin jika hatinya masih menyimpan sedikit rasa pada laki-laki yang sudah mengisi ruang hatinya selama hampir 5 tahun semenjak mereka berteman dulu. Namun Taehyung seakan membuatnya kembali untuk mengulang episode perjalanan keduanya yang sempat terpotong karena sebuah konflik.
“Kau sama saja membuatku kembali pada kenangan yang sudah kucoba lupakan setelah kau datang dan memintaku untuk tetap bertahan disaat waktu yang kau janjikan untuk menjadikanku milikmu seutuhnya.”
Seharusnya tadi malam dia langsung menyetujui apa yang Taelyn inginkan. Dia tahu jika Taelyn mencoba untuk tidak kembali terjerat pada Jungkook, sangat tahu. Meskipun dari tatapannya seakan menyiratkan kerinduan yang cukup mendalam pada adiknya. Satu hari memang waktu singkat, namun dia yakin jika Jungkook akan dengan mudah menjerat Taelyn kembali. Mengingat hubungan mereka berakhir karena kesalahpahaman tak menutup kemungkinan jika Taelyn bisa dengan mudah kembali pada Jungkook untuk memperbaiki semuanya dari awal dan berakhir meninggalkannya seorang diri.
Namun, Taehyung dan segala pemikiran anehnya menjadikan Taelyn kalut. Meskipun sudah berulang kali gadis itu menolak, Taehyung tetap pada keputusannya. Meminta dirinya untuk masuk kembali dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Jungkook sebagai permintaan maaf, hanya itu.
“Hanya satu hari tak akan lebih, Taelyn. Setelah itu semuanya selesai dan kita akan menikah. Anggap saja sebagai permintaan maaf dan mungkin menjadi kenangan terakhir kalian berdua.”
Taehyung berujar dengan wajah yang begitu terluka. Taelyn sadar, namun masih tak habis pikir dengan jalan pemikiran laki-laki didepannya yang bersikukuh membuatnya menyerah dan menyetujui dengan mudahnya.
“Bagaimana jika aku kembali jatuh cinta pada Jungkook? Apa kau benar-benar akan melepaskanku dari jeratannya? Atau kau memang ingin melepaskanku menggunakan cara ini?”
Kalimat itu membuat Taehyung tertohok ditempat. Mungkin itu adalah salah satu dari ketakutannya saat ini. Meskipun Taehyung yakin jika Taelyn tak akan pernah mengingkari janjinya untuk tetap mencintainya. Tetapi, hati manusia terkadang sulit untuk diprediksi dan Taehyung semakin gelisah. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya nyaris frustasi.
“Aku tidak bermaksud untuk membuatmu lepas dariku. Aku juga tidak akan pernah melepaskanmu dan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan pernah mau merelakan mu sekalipun pada adikku sendiri. Aku mencintaimu, Taelyn.”
“Lantas kenapa kau memaksaku untuk melakukan itu semua, Taehyung? Kau tahu? Aku seperti seseorang yang bodoh jika benar-benar melakukan hal itu.”
“Ini... Demi Jungkook. Dan aku akan selalu percaya padamu. Aku janji.”
Taehyung menyesal setelah kejadian semalam. Membayangkan bagaimana Taelyn yang kini tengah bersama Jungkook membuat hatinya terasa sesak. Menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hanya tameng baginya untuk mengalihkan pikirannya dari Taelyn namun selalu gagal.
Tak ada hal lain yang dapat membuatnya melupakan Taelyn yang tengah bersama Jungkook. Jangankan satu minggu, satu hari pun rasanya Taehyung tak pernah rela mengizinkan siapapun menyentuh Taelyn nya sama sekali. Bohong jika Taehyung tak cemburu dan marah. Karena pada dasarnya sikap posesifnya adalah sikap asli dirinya. Dan mulai detik ini, Taehyung akan menikmati kesakitan yang dia buat sendiri.
“Jika itu yang kau minta, akan aku lakukan. Dan jangan pernah salahkan aku jika pada akhirnya aku kembali pada Jungkook.”
Taehyung akan menikmatinya seorang diri sampai waktu dan Taelyn yang menjawab semuanya suatu saat. Dan Taehyung belum bisa memastikan jika suatu saat hatinya akan baik-baik saja ketika kenyataan pahit kembali menyapa kehidupannya yang sudah dia rajut sedemikian rupa untuk dia impikan menjadi sebuah kebahagiaan pada saatnya.
Namun perasaan cintanya ada Taelyn tak pernah bisa terbantahkan sama sekali. Jika memang akhirnya Taelyn memilih Jungkook, itu artinya sebuah ikatan yang telah lama digenggam kuat harus dia relakan dilepas untuk menggapai keinginannya.
Kim Taelyn. Gadis yang memiliki sejuta pesona yang sudah berhasil memikatnya dalam sekali pandang. Dan tak akan pernah dia relakan untuk melepaskannya pada siapapun terutama merelakannya pada adiknya sendiri sekali pun. Karena Taehyung teramat sangat mencintainya melebihi rasa cintanya pada diri sendiri.
Tetapi, dibalik semuanya Taehyung menyimpan satu alasan kuat dia meminta Taelyn untuk menuruti permintaan Jungkook. Karena dia pun memiliki satu janji pada adiknya, dulu. Sebagai seorang kakak dan laki-laki, dia memang harus menepati janjinya meski hatinya harus terluka.
“Hyung, maukah kau berjanji satu hal padaku?”
“Apa itu?”
“Jika suatu hari nanti aku meminta satu permohonan padamu, aku ingin kau memenuhinya meskipun dalam keadaan apapun. Apa kau keberatan?”
“Jika itu bisa membahagiakan adikku, aku tidak akan keberatan sama sekali.”
“Terima kasih, Hyung.”
Janji yang terucap saat keduanya akan menginjak masa remaja adalah hal yang paling Taehyung benci. Nyatanya dia harus merelakan Taelyn bersama dengan Jungkook meskipun hanya sejenak, tapi rasanya begitu menyesakkan baginya.
Dan tadi malam Jungkook seakan menagih janjinya dulu. Membawa Taehyung pada ambang kesakitan yang cukup mendalam. Dia memang sangat menyayangi adiknya, dulu dia selalu berjanji untuk membahagiakan adik satu-satunya. Namun, takdir begitu mempermainkan kehidupannya. Mereka mencintai gadis yang sama dan sama-sama tak ingin melepaskannya.
“Hyung, malam ini aku menagih janjiku.”
Satu kalimat yang tegas seakan membuat tenggorokan Taehyung tercekat. Jungkook yang dia lihat malam ini begitu berbeda. Adiknya yang sekarang tampak seperti musuh bebuyutan baginya. Tatapannya datar, raut wajahnya gusar terpatri begitu kentara. Lantas tak ada alasan bagi Taehyung untuk mengelak karena dirinya sendiri pun sudah menyetujui permintaan Jungkook.
“Aku menginginkan Kim Taelyn.”
***
Dua hari yang lalu...
“Taelyn, maaf... Sepertinya aku datang terlambat. Aku ingin berbicara satu hal tentang hari dimana aku mengakui satu hal yang menyakitimu.”
“Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarnya, Eunha.”
Saat akan pergi, pergelangan tangannya ditahan oleh Eunha sehingga membuat Taelyn menghentikan langkahnya.
“Tidak, Taelyn. Kau harus mendengarkan penjelasan ku. Maaf soal kejadian waktu itu, aku terpaksa berbohong padamu. Aku mengaku hamil anak Jungkook dan menyakiti perasaanmu. Hari itu aku sangat frustrasi sekali. Kekasihku tak ingin tanggung jawab, jadi aku berbohong soal Jungkook yang mabuk dan berakhir melakukan tindakan yang tak senonoh padaku. Maafkan aku Taelyn, seharusnya aku tak melakukannya.”
Rasanya saat mendengar semua penjelasan Eunha, Taelyn merasa ditusuk ribuan jarum. Sakit sekali ketika mengingat hari menyesakkan dulu. Mendengar kekasih yang begitu dia cintai menghamili gadis lain dia sangat kecewa. Tapi, dia juga senang karena Eunha benar-benar bisa meminta maaf padanya soal hari itu.
“Aku mengerti perasaanmu, Eunha. Kau tak perlu memikirkannya lagi. Aku sudah memaafkan mu.”
Eunha merangkum jemari Taelyn dengan tangan yang bergetar. Hatinya menghangat ketika Taelyn mengerti akan posisinya saat itu.
“Kau tak pantas untuk disakiti, Taelyn. Aku memang bodoh sudah menyakiti gadis sebaik dirimu. Maafkan aku—hiks.”
Pada akhirnya Eunha menangis sambil memeluk Taelyn yang kini merasakan hatinya lega. Semua bebannya hilang karena Eunha menjelaskan kesalahpahaman nya dulu. Melegakan rasanya.
***
Taelyn tengah sibuk berkutat di dapur karena sedang mempersiapkan sarapan pagi. Kegiatan rutin tiap pagi yang selalu dia lakukan dulu, saat masih bersama dengan Jungkook. Sementara, laki-laki itu tengah duduk dengan senyum tampannya yang tak pernah pudar dari bibirnya sambil terus memperhatikan gerak-gerik gadis didepannya dengan menopang dagu diatas meja. Jungkook senang, Taelyn bersikap biasa saja dan sama seperti dulu saat mereka masih sepasang kekasih. Bisakah Jungkook berharap hari ini dan seterusnya pun sama? Tidak! Bahkan Jungkook menginginkan lebih dari seorang kekasih.
Taelyn memang terlihat biasa saja dan tanpa ada rasa canggung sama sekali. Namun, hatinya tetap gelisah mengingat tadi malam sempat berdebat dengan Taehyung. Dia takut, pada akhirnya dia akan memilih pilihan yang mungkin akan menyakiti hati seseorang.
Ditengah lamunannya, Taelyn dikejutkan dengan sepasang lengan kekar Jungkook yang memeluk pinggangnya erat serta punggungnya yang bertabrakan dengan dada bidang laki-laki itu yang mengantarkan hangat pada seluruh tubuhnya. Laki-laki itu pun menopang dagu diatas pundaknya dan bernafas dengan tenang disana. Jantung Taelyn tak bisa dikatakan baik-baik saja, karena sungguh baginya selama dia menjadi kekasih Jungkook hal yang seperti ini selalu membuatnya gugup seketika.
“Memikirkan apa, hm? Nasi gorengnya bisa saja gosong karena kau terlalu banyak melamun, Sayang.” Jungkook menghirup dalam-dalam aroma manis dari Taelyn yang selalu menjadi candunya. Tanpa dia sadari membuat sang empu menahan gelenyar aneh dalam dirinya. Semacam, perasaan rindu yang sudah lama dipendam.
“J—jungkook?”
“Hm? Kenapa?”
“Le—pas dulu!”
Jungkook menggeleng dan tangannya meraih tombol kompor mewah didepan Taelyn dengan mematikannya dan segera membawa tubuh mungil Taelyn kemudian dia dudukkan pada meja pantry setelah berhasil membalikkan tubuh gadis itu. Tubuh Jungkook terhimpit diantara kedua kaki Taelyn dan tangannya memeluk posesif pinggang gadis itu dengan senyum yang tak pernah luntur dibibirnya sehingga membuat Taelyn merona dan menunduk malu. Lagi-lagi Jungkook tersenyum gemas melihatnya.
“Hei, tatap aku!”
Suara lembut itu membuat Taelyn perlahan mendongak dan tatapannya bertemu dengan tatapan teduh Jungkook.
“Aku begitu merindukanmu, sangat. Jangan tanya seberapa besar, karena rindu yang aku pendam selama ini begitu besar dan tak bisa diukur oleh apapun itu.”
Jungkook semakin mendekatkan wajahnya pada Taelyn yang kini semakin merona karena ucapannya. Bahkan hidung mereka nyaris menempel jika saja Taelyn tak berusaha untuk semakin menekan dada Jungkook agar memastikan jika laki-laki itu tak akan mengikis jarak mereka dengan mudah. Jungkook terkekeh dan mengarahkan tangannya untuk mengelus lembut pipi berisi Taelyn dengan penuh kasih sayang.
“Aku merindukanmu, Taelyn. Sangat merindukanmu.”
Semakin banyak kata rindu yang terucap dibibir Jungkook, semakin lebih lagi laki-laki itu mencoba untuk mendekatkan wajah keduanya. Taelyn semakin menahan dada sang dominan agar memberikan jarak yang cukup jauh dari sebelumnya. Namun, pada dasarnya kekuatan dirinya tak bisa menandingi kekuatan Jungkook yang memiliki tenaga lebih besar darinya.
“J–Jungkook a–pa yang kau lakukan?”
Jungkook bergumam dan semakin terkekeh gemas melihat Taelyn yang semakin merona. Manis dan menggemaskan hingga Jungkook harus benar-benar bisa mengontrol dirinya untuk tidak langsung berbuat lebih jauh.
“Maafkan aku, Taelyn.”
Jungkook tersenyum penuh arti, tangannya merangkum wajah bagian kanan gadis itu. Matanya sama sekali tak bisa lepas dari manik kelam milik gadis didepannya. Kembali mendekatkan wajahnya dan mencium ujung hidung Taelyn sekilas dan menjauhkan wajahnya kembali untuk melihat ekspresi yang Taelyn tampilkan saat ini.
“Jungkook—”
“Hal seperti ini harus dilakukan tiba-tiba, sayang. Agar efeknya terasa begitu berkesan dihatimu,” kalimat yang Jungkook ucapkan selanjutnya membuat Taelyn lebih lama memahami arti dari semuanya. Karena Jungkook tiba-tiba semakin mendekatkan wajahnya padanya kembali. Kali ini Jungkook tampak tak menerima jarak yang aman sama sekali. “Maaf, Taelyn Aku sangat merindukanmu dan tak bisa menahannya lagi.”
Maka tak ada lagi yang bisa menghentikan Jungkook untuk melakukan hal yang membuat jantung Taelyn kembali berdetak lebih kencang dari biasanya. Jungkook menarik tengkuknya dengan pelan dan menyatukan bibir keduanya. Membawa Taelyn pada ciuman sarat akan kerinduan juga rasa cinta yang begitu dalam. Awalnya Taelyn terkejut, namun tak lama dia memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang begitu membuatnya hanyut dalam perasaan dulu. Jungkook tersenyum disela-sela ciumannya ketika kedua netranya melihat Taelyn memejamkan kedua kelopak matanya.
Kini, keduanya pun hanyut pada pagutan yang didominasi oleh Jungkook dengan penuh kelembutan. Tak ada nafsu, karena cinta mendominasi segalanya. Seakan-akan Jungkook memberikan isyarat bahwa dia memang benar-benar mencintai Taelyn sehingga memperlakukan gadis itu begitu manis.
Tanpa mereka sadari, Vincent tengah mematung diambang pintu dapur Jungkook, menatap dengan tatapan penuh luka pada kedua orang yang tengah berpelukan begitu mesra. Lantas tak ada alasan baginya untuk bertahan lebih lama disana. Meninggalkan apartemen Jungkook dengan tangis yang mengiringi tiap langkahnya.
“Jungkook—hiks”
***
Taelyn berdiri dihadapan Taehyung dengan membawa satu keputusannya. Pilihan yang tulus dari hatinya. Setelah menghabiskan waktu satu hari bersama Jungkook, Taelyn menemukan satu perasaan yang tertinggal. Dia memang merindukan Jungkook dan dia masih memiliki perasaan pada laki-laki itu. Katakan jika Taelyn labil dengan perasaan saat bersama Jungkook. Dan hari ini, Taelyn akan menyatakan segala perasaannya pada Taehyung.
Dan Taehyung, menerima semua keputusan Taelyn meskipun pada akhirnya dia yang harus pergi.
“Sesuai dengan permintaanmu padaku, Taehyung. Aku sudah memenuhi syarat Jungkook dan menghabiskan waktu satu hari dengannya. Dan aku meninggalkan satu perasaan pada saat itu.”
“Kau goyah, Taelyn? Apa kau berubah pikiran dan ingin kembali pada Jungkook?”
Taelyn tersenyum getir. Sementara Taehyung merasakan gelisah dalam dirinya. Dia takut kehilangan Taelyn. Keputusannya beberapa hari lalu memang salah dan dia sungguh menyesal. Tampaknya Taelyn benar-benar merubah perasaannya.
“Ya, kau benar. Dan, aku benar-benar masih mencintai Jungkook.”
Taehyung merasa jantungnya berhenti berdetak. Kalimat itu telak membuat hatinya sakit. Gadis yang selama ini memenuhi ruang hatinya berkata jujur soal perasaannya mencintai laki-laki lain padanya secara jelas.
“Satu hari itu sangat cukup bagiku untuk menguji perasaanku, Taehyung. Dan maaf, aku tak bisa lepas dari Jungkook.”
Taehyung sudah mengira jika akhirnya akan begitu, Taelyn akan jatuh kedalam pelukan Jungkook dengan mudah. Mengingat hubungan keduanya renggang karena kesalahpahaman membuat Jungkook dengan mudah meraih Taelyn kembali menjadi miliknya.
Mungkin kali ini dia harus rela melepaskan Taelyn dengan mudah pada adiknya. Meskipun hatinya sesak dan dia sangat kecewa.
“Jika itu pilihanmu, aku akan—”
“Kau menganggap aku akan kembali pada Jungkook?”
“Bukankah kalimat yang kau jelaskan tadi bermaksud demikian, Taelyn?”
Taelyn terkekeh riang. “Dasar bodoh!”
Dan tanpa basa-basi Taelyn memeluk Taehyung. Awalnya Taehyung bingung namun setelahnya dia membalas pelukan Taelyn tak kalah erat. Tak lupa membubuhkan kecupan ringan pada pucuk kepalanya.
“Aku pikir kau akan kembali padanya.”
“Satu hari bersama Jungkook terasa berbeda seperti dulu. Rasanya canggung, dan kau tahu... Jika perasaanku sudah dimiliki olehmu, Taehyung.”
“Lalu bagaimana dengan Jungkook?”
“Dia melepaskanku. Dan kami sepakat untuk menjadi teman.”
“Aku senang mendengarnya. Terima kasih. Aku mencintaimu.”
“Aku juga. Maaf, aku pernah mengecewakanmu.”
“Tak apa, sayang. Yang terpenting sekarang, kau ada bersamaku.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Taehyung melepas pelukannya dan berlangsung membawa Taelyn pada ciuman sarat akan cinta dan kasih sayang. Dia sangat bahagia bisa memiliki Taelyn tanpa ada beban dalam hidup mereka. Sungguh melegakan.
Dan akhir bulan ini, mereka melangsungkan pernikahan. Keduanya tampak bahagia bahkan kedua orang tua mereka pun terkena imbasnya. Kali ini, Jungkook mencoba untuk menerima Vincent menjadi pengganti hatinya yang telah terbawa oleh Taelyn. Dia mencoba membuka hati sedikit demi sedikit untuk bisa melupakan Taelyn. Satu langkah yang berhasil membawanya pergi dari masa lalu.
“Semoga kau bahagia, Taelyn.”
“Aku akan bahagia bersama Taehyung. Dan, Jungkook... Cobalah untuk membuka hatimu lebih dalam lagi untuk Vincent. Dia cantik dan sangat baik.”
“Akan aku coba.” jawab Jungkook sambil tersenyum.
★ T A M A T ★
Intinya, jangan pernah terpaku pada satu orang. Meskipun kita mencintainya begitu besar, jika dia bukan ditakdirkan untuk kita maka jangan tahan dia untuk tetap bersama. Jika pada akhirnya harus patah hati, jangan pernah mengeluh dan cobalah untuk membuka hati pada orang-orang di sekeliling kita yang tanpa kita sadari lebih mencintai kita. Tuhan punya rencana kebahagiaan kita masing-masing.
Terima kasih atas waktu kalian yang sudah membaca cerita ini, semoga kalian terhibur. Jangan lupa baca cerpenku yang lain, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian🤗😊