Rama mulai menempati rumah tua peninggalan hantu Maaike, setelah bisa checkout dari penginapan "Oudeherberg". Rumah tua itu cukup besar untuk ditempati Rama seorang diri, sehingga terkadang justru Rama merasa tidak nyaman berlama-lama di rumah. Oleh karena itu, Rama masih tetap melanjutkan observasinya terhadap Kampung Hantu, selain bagian dari pekerjaannya, juga untuk membunuh waktunya. Termasuk malam ini, saat malam Jumat pahing, Rama bermaksud keluar rumah untuk mencari makan malam.
Baru saja Rama meninggalkan rumah tuanya sekitar 100 meter, tiba-tiba Rama melihat malam sosok wanita dengan masker medis dan rambut panjang yang terurai berjalan menghampirinya. Wajah dan mata wanita tersebut sangat putih dan pucat, sepertinya bukan penduduk lokal Kampung Hantu. Tapi Rama merasa aneh dan bertanya-tanya dalam benaknya kenapa malam-malam begini ada wanita yang berjalan daerah di sekitar rumah Rama. Apalagi malam ini kabut tebal di Kampung Hantu sangat menyelimuti Rama setelah hujan seharian mengguyur Kampung Hantu sejak kemarin malam.
Dengan spontanitasnya, Rama memberanikan diri menyapa wanita yang ditemuinya itu sebagai bentuk basa-basi saja, " Selamat malam Kaka, maaf, kalau boleh tahu Kaka bermaksud ke mana? Karena kalau jalan lurus itu akan menuju hutan. "
Kuchisake Onna: "(dengan suara yang tajam) Dimana Aku ? Siapa kamu? Apa yang kau inginkan dariku?"
Rama: "(terkejut) Maaf Kaka, Kaka berada di daerah selatan Kampung Hantu. Saya Rama, boleh tahukah Kaka siapa? "
Kuchisake Onna: "(dengan suara tajam dan kasar) Aku adalah Kuchisake Onna. Kenapa Aku sampai di sini? (bengong) "
Rama: (ketakutan) Saya tidak tahu Kaka. Apakah Kaka butuh bantuan saya? "
Kuchisake Onna: "(mengintip wajah Rama) Ah, kamu seorang pemuda yang menarik. (mengeluarkan gunting besar) Bagaimana kalau aku membuat seni di wajahmu?"
Rama: "(ketakutan) Tolong, jangan lakukan itu. Siapa kamu sebenarnya?"
Kuchisake Onna: "(dengan suara tajam dan kasar) Sudah kubilang, Aku adalah Kuchisake Onna. Coba lihat baik-baik, apakah aku cantik? (membuka masker medisnya)"
Alangkah terkejutnya Rama setelah melihat keseluruhan wajah wanita itu. Wajahnya memiliki luka sayatan di kedua sisi mulutnya, Mulutnya terbelah dari telinga hingga ke bagian bawah bibirnya, meninggalkan bekas luka yang dalam dan terlihat seperti mulut yang digunting. Luka tersebut terlihat sangat jelas dan menakutkan, bahkan lebih menyeramkan lagi ketika hantu ini tersenyum. Tampak bekas darah segar tampil di mulutnya.
Rama: "(ketakutan) Tolong, jangan takutin saya. Sepertinya kamu bukan hantu baik-baik, dan asalmu pasti bukan dari Kampung sini"
Kuchisake Onna: "(sambil tertawa melengking) Hahaha, benar. Aku dikirim Ki Sabrang ke sini untuk membunuhmu."
Rama kemudian balik kanan sambil berlari kencang menuju rumahnya, untuk menghindari hantu wanita itu. Tapi ternyata Kuchisake Onna juga mengejar Rama hingga di depan pintu rumah. Rama yang sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan, kemudian mencari beberapa bahan untuk mengusir hantu tersebut. Rama lalu membakar kemenyan dan menaburkan garam di sekitar pintu dan jalan masuk ke rumah tersebut.
Namun, Kuchisake Onna ternyata tetap tidak menghilang. Akhirnya Rama kemudian menutup matanya sambil memanggil-manggil Gendoruwo yang biasa menghuni pohon beringin di alun-alun. Gendoruwo itu akhirnya datang memenuhi panggilan Rama, " Ada apa Rama? "
Rama: "(ketakutan) Tolong Aku temanku, ada hantu di depan pintu. Sepertinya dikirim Ki Sabrang untuk membunuhku."
Gendoruwo:" Tenang Rama, itu hanya hantu Jepang, Kuchisake Onna. Akan Aku coba usir dengan kekuatanku, tapi tolong bantu Aku juga dengan bacaan doa-doa ya"
Rama pun merapalkan bacaan doa-doa sepeninggal Gendoruwo yang bermaksud mengusir hantu wanita Kuchisake Onna.
Terdengar suara bergemuruh keras di depan pintu rumah karena pertarungan antara Gendoruwo dan hantu Kuchisake Onna. Suara petir langit pun ikut terdengar keras hingga di dalam rumah, mewarnai pertarungan Gendoruwo. Tidak lama kemudian terdengar hantu Kuchisake Onna mulai merintih dan terlihat terbakar, seperti kemenyan yang dibakar dan mengeluarkan asap di atasnya. Akhirnya Kuchisake Onna bisa lenyap dan pergi dari rumah Rama, dikalahkan oleh Gendoruwo. Suasana rumah Rama pun kembali menjadi tenang.
Kuchisake Onna adalah salah satu hantu legendaris yang berasal dari Jepang. Secara harfiah, nama Kuchisake Onna berarti "wanita dengan mulut sayatan". Legenda Kuchisake Onna muncul pada masa pascaperang di Jepang, ketika terjadi banyak kasus serangan terhadap wanita yang dilaporkan terkait dengan kecantikan mereka.
Menurut legenda, Kuchisake Onna adalah wanita cantik yang mengenakan masker medis dan memakai jubah panjang. Dia sering kali ditemukan berkeliaran di malam hari, meminta orang yang lewat untuk melihat wajahnya. Jika orang itu menjawab "ya", maka Kuchisake Onna akan melepas maskernya dan menunjukkan wajahnya yang memiliki luka sayatan di kedua sisi mulutnya.
Dia kemudian akan bertanya lagi, "Apakah aku cantik?", dan orang yang ditanya biasanya akan memberikan jawaban positif. Namun, jika seseorang memberikan jawaban negatif atau mencoba melarikan diri, Kuchisake Onna akan mengejar mereka dan membunuhnya dengan cara yang mengerikan.
Menurut cerita, Kuchisake Onna dikatakan menjadi hantu setelah dia dibunuh oleh suaminya, seorang samurai yang cemburu. Beberapa versi legenda menyebutkan bahwa Kuchisake Onna adalah dokter gigi yang melakukan prosedur operasi yang buruk pada dirinya sendiri, menyebabkan luka di sekitar mulutnya. Namun, alasan pasti mengapa Kuchisake Onna meminta orang-orang untuk menilai kecantikannya tetap menjadi misteri.
Legenda Kuchisake Onna menjadi begitu terkenal di Jepang sehingga telah menjadi topik diskusi di media massa dan film horor. Beberapa orang bahkan mengklaim telah melihat Kuchisake Onna di malam hari. Legenda ini juga telah menjadi bahan inspirasi bagi seniman dan penulis yang menciptakan karakter Kuchisake Onna dalam karya mereka. Meskipun cerita Kuchisake Onna mungkin hanya legenda belaka, namun banyak orang di Jepang masih merasa takut dengan hantu ini.
Rama: "(menatap Gendoruwo tajam) Terima kasih,temanku. Kau telah berhasil mengusir hantu Kuchisake Onna. Terima kasih pula kau telah menjelaskan panjang lebar tentang
Kuchisake Onna. Pantas saja awalnya hantu Kuchisake Onna seperti kebingungan sedang berada di mana, mungkin baru pertama kali keluar dari Jepang."
Gendoruwo: "Tapi kamu harus mulai menambah kehati-hatianmu Rama, karena sepertinya Ki Sabrang sudah mulai bermain kejam"
Rama termenung, dan mulai bertanya-tanya dalam hati, "Benar kata Gendoruwo. Lagi-lagi Ki Sabrang, dan sepertinya sudah mulai main kejam dengan langsung mau membunuhku. Aku harus proaktif mengalahkan Ki Sabrang dahulu daripada terus pasif dikirimkan hantu pembunuh."
Rama: "Terima kasih Gendoruwo atas saranmu, mulai besok mungkin aku akan aktif mencari Ki Sabrang, supaya masalah ini cepat terselesaikan. Cuma aku butuh bantuanmu juga ya, temanku. "
Sementara itu dari lokasi desa yang agak jauh dari Kampung Hantu, kepergian Kuchisake Onna ini membuat Ki Sabrang marah. Dia merasa bahwa Rama telah mengganggu kepentingannya. Ki Sabrang kemudian mulai mempersiapkan kekuatannya dan mengumpulkan bala tentara gaibnya supaya bisa mengalahkan Rama yang dibantu oleh Gendoruwo. Emosi Ki Sabrang sepertinya sudah tidak tertahankan lagi setelah aura dan makhluk gaib kirimannya selalu kalah, apalagi muridnya Ki Jaga juga sudah dikalahkan.