saat ini seorang remaja laki-laki sedang mengerjai adik nya, yang sudah misuh-misuh tak jelas.
"kuda lumping! Sini in jeli gua!" kesal Jeovano, sedangkan sang kakak hanya tertawa.
"Ambil sendiri kalo bisa, hahaha" gelak tawa Jeonan -kakak Jeovano- semakin membuat Jeovano marah.
"Gue bakal ngaduin elu sama kak Noie" ancam Jeovano, Jeonan tidak peduli dengan ancaman Jeovano.
Jeovano masih menatap tajam kearah sang kakak, Jeovano yang memang sudah kesal pun mendorong Jeonan hingga terjatuh.
Dan sekarang gantian Jeovano yang menertawai Jeonan, sedangkan Jeonan menatap sebal ke arah Jeovano.
"Aduhh dek, kalo dorong tuh jangan pakek tenaga dalem. Sumpah pantat gue sakit banget njing"
Jeovano menjulurkan lidahnya, "enggak peduli, wlee"
"Udah lampu merah tuh dek, ayok nyebrang" ucap Jeonan, dan di balas anggukan oleh Jeovano. Sebenarnya mereka sedang menunggu lampu hijau untuk berganti warna jadi merah.
Mereka menyebrang dengan hati-hati, tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi yang hendak menabrak Jeonan. Jeovano langsung berlari dan mendorong Jeonan cukup keras hingga dia terpental sedikit jauh.
Jeonan terkejut, dengan adiknya yang tiba-tiba mendorongnya. Tapi dia lebih terkejut lagi saat ada mobil yang menabrak tubuh adiknya dengan sangat kuat. Jeonan bisa melihat bagaimana tubuh terlempar beberapa meter karena tabrakan mobil tadi.
Nafas Jeonan memburu, lalu dengan tergesa-gesa dia berlari kearah adiknya yang sudah berlumuran darah, lalu Jeonan menaruh kepala Jeovano pada pahanya, dengan air mata yang mengalir deras.
"J-jan..gan..n-nangis, n-nono..e-enggak suka, k-akak...nan-gis" ucap Jeovano dengan susah payah, Jeonan semakin terisak dan menatap semua orang yang berkerumun sambil menatap kearah mereka.
"KALIAN KENAPA DIEM AJA!! PANGGIL AMBULANS!!" teriak Jeonan dengan emosi, semua orang langsung panik dan saat seorang pria paruh baya hendak menelpon ambulans tiba-tiba ada orang yang melarang nya untuk menelpon ambulans.
Jeonan menatap tajam kearah orang itu dengan tajam, "lo mau bikin adek gue sekarat hah!" teriak Jeonan dengan emosi. Sedangkan orang tadi tidak memperdulikan Jeonan dan mengangkat tubuh Jeovano.
"Gue bakal bantu lo bawa dia kerumah sakit" ucap orang tadi, Jeonan hendak menolak tapi saat melihat adiknya yang sudah hampir sekarat pun mengangguk.
"Ayo"
Orang tadi membawa Jeovano ke tempat penumpang, lalu Jeonan buru-buru masuk kedalam mobil orang itu, dan menaruh kepala Jeovano yang penuh dengan darah di pahanya.
Dan Jeovano terus mencoba agar matanya tetap terbuka, tapi entah kenapa matanya sangat berat.
"K-kak" panggil Jeovano dengan pelan, Jeonan menatap kearah Jeovano dan membelai lembut pipi halus sang adik.
"Kenapa?"
"T-tolong b-ilang sama kak Noie, k-kalo gue sayang sama d-dia" setelah Jeovano mengatakan itu matanya perlahan menutup, Jeonan yang kembali menangis dengan histeris, dengan sesekali menepuk-nepuk pipi Jeovano.
"No, bangun! Jangan main-main ini engga lucu...hiks...Nono!!" Jeonan memeluk erat tubuh Jeovano yang mulai mendingin.
Lalu dia dengan tergesa-gesa mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan menelpon Noie.
"Ke rumah sakit jayabakti sekarang!"
"...."
"Nono, dia..."
tut tut tut
Ponsel di matikan sepihak oleh Noie, dan Jeonan kemabli memeluk tubuh Jeovano. Dan itu tak luput dari penglihatan sang pengemudi.
꒷︶꒷꒥꒷‧₊˚૮꒰˵•ᵜ•˵꒱ა‧₊˚꒷︶꒷꒥꒷
Noie dengan tergesa-gesa berlari kearah rumah sepupunya, yang ada di samping rumahnya. Dan tanpa perasaan dia menendang pintu itu hingga terbuka dengan paksa.
"Karin! Bawa aku kerumah sakit!" paniknya, karina -sepupu Noie- menatap heran kearah nya.
"Emang lo sakit?" tanya karina, Noie menggeleng kan kepalanya, dan tanpa sadar air mata nya jatuh.
Dan sekarang karina mengerti dan langsung menelpon Wina temannya.
"Win jemput gue"
"..."
"Engga usah banyak cocot, cepet ke sini!"
"..."
"Iya"
Tut tut tut
Karina berjalan mendekat ke arah Noie lalu memeluk nya erat, sambil membisikkan kata penenang. Dan beberapa menit kemudian Wina datang.
Karina bergegas menutup pintu rumahnya yang hampir rusak oleh Noie.
Saat ini mereka sudah ada di perjalanan, dengan Noie yang terus mengeluarkan air matanya, tapi tidak berekspresi.
Karina memeluk Noie, dan Noie membalas pelukan karina tak kalah erat, "kar adik aku, adik aku"
"Jangan khwatir, dia pasti baik-baik aja. Lo tenang aja" ucap karina sambil mengusap lembut punggung Noie. Wajah Noie tetap datar tapi air mata terus mengalir, dan sorot mata yang terpancar kesedihan dan juga ke khwatiran.
"Hiks..adik aku kar...hiks...adik aku" dan sekarang Noie sudah menangis dengan wajah yang benar-benar sedih, karina menatap kearah Noie dan memeluk nya dengan erat. Sekarang karina bisa melihat dengan jelas kesedihan terpancar pada wajah Noie, tangisan untuk orang yang sama, di tahun sebelumnya.
Dan Wina juga ikut menangis, bagaimana pun kerasnya Noie, dia pasti memiliki titik kelemahan. Dan sekarang titik kelemahan itu sudah di serang oleh kenyataan.
30 menit lamanya mereka menempuh perjalanan kini mereka sudah sampai di rumah sakit jayabakti. Noie langsung berlari kearah ruang ugd.
Dan dia bisa melihat Jeonan yang menunduk dengan bahu yang bergetar. Noie berdiri di depan Jeonan, dan Jeonan mengangkat kepalanya saat melihat ada kaki yang berdiri di depannya. Dan dia semakin terpukul saat melihat raut kesedihan di wajah Noie.
Plak
Noie menampar Jeonan dengan sedikit keras, karina yang melihat itu hanya diam, begitu pula dengan Wina.
"Aku hanya menyuruh kamu untuk menjaganya! Tapi kenapa dia bisa sampai seperti ini!" marah Noie dengan air mata yang terus mengalir. Jeonan menunduk dalam, enggan untuk menatap adik keduanya itu.
Noie berlutut di depan Jeonan dan menangis dengan histeris, "adik ku, kamu apakan adik ku!!" tangisan Noie terdengar pilu, membuat siapa saja yang mendengar nya ikut menangis.
Jeonan memeluk Noie dengan erat, sambil terus mengucapkan kata 'maaf' begitu pula dengan karina.
Wina hanya menangis dalam diam saat melihat tiga saudara itu menangis.
Dan pintu UGD terbuka, menampakkan dokter yang berdiri dengan wajah yang sedih.
"Keluarga pasien?"
Wina menatap kearah tiga bersaudara yang saling menenangkan satu sama lain, lalu dia berjalan mendekat kearah dokter tadi.
"Saya dok, bagaimana keadaan adik saya?"
"Kami minta maaf kepada keluarga pasien, dengan berat hati kami menyampaikan bahwa pasien bernama Jeovano, meninggal dunia pada hari senin tanggal 10 Mei 2022,jam 14:30 wib"
Wina termenung, rasanya benar-benar di sambar petir di siang bolong, lalu dia menangis dan memeluk karina.
Dan dokter tadi hanya mampu menghela nafasnya, jika Tuhan sudah berkehendak makan tidak ada yang bisa melarangnya.
"Kebahagiaan itu tak pernah abadi, termasuk kehidupan" -Jeovano