| MENGULANG WAKTU |
Suara yang terdengar sangat ricuh, disertai hati yang deg-degan dan keringat yang membasahi baju kebanggaan ku. Glen,dia adalah atlet basket di sekolahnya. Sekarang ia sedang dalam masalah, karena ia lah penentu kemenangan sekolahnya hari itu. Waktu menunjukkan di bawah 1 menit. Glen membawa bola yang dipassing dengan temannya dari ujung lapangan. Suara penonton semakin ricuh hingga Glen tidak bisa mendengar arahan dari coach nya. Penjagaan lawan semakin ketat di menit terakhir. Dia hampir saja kehilangan kesempatan itu, dan dengan penuh keyakinan akhirnya dia
berhasil menembakkan bola itu ke ring dari garis tembakan tiga angka (three point). "three point untuk SMA mulia. Pertandingan dimenangkan oleh SMA mulia.. dengan skor 58 untuk SMA mulia dan 50 untuk SMAN15" ucap komentator basket. Pertandingan berakhir...
Semua teman Glen sibuk menemui orang tuanya masing-masing. Berbeda dengan Glen, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri di pintu keluar. Dengan semangat penuh dan berlari kecil Glen menghampirinya. Orang itu adalah
Yumi, kekasih Glen. "hei kenapa nangis, aku keren ya?" tanya Glen dengan muka sombongnya. "i-iya keren, t-tapi ada yang harus aku omongin" balas Yumi dengan suara yang gugup ketakutan. Setelah berbincang singkat, mereka tiba di
taman mangrove yang lokasinya tidak jauh dari gedung pertandingan basket. Mereka duduk di kursi yang
pemandangannya langsung ke laut, suasana terasa sangat sejuk dan damai disertai kicauan burung yang indah. Tapi tidak dengan kisah mereka.
"Nih minum dulu" ucap Glen sambil menyodorkan minum kepada Yumi.
"makasih, t-tapi aku.." balas Yumi dengan nada ketakutan.
"kenapa sih.. kamu mau ngomong apa? coba ngomong pelan-pelan" ucap Glen memotong pembicaraan Yumi.
"ini" Balas Yumi sambil mengeluarkan plastik hitam dan menyodorkannya kepada Glen. Dengan perlahan Glen membuka plastik itu dan dan mengeluarkan suara mengejutkan."A-APA? K-KAMU HAMIL?" ucap Glen dengan emosi nya. "i-iya" balas Yumi disertai air mata yang terus bercucuran. Isi plastik hitam itu adalah tespek dengan tanda positif dua disana. Glen dan Yumi tidak mengatakan apa-apa lagi saat itu,keduanya terdiam. Hanya air mata yang bisa mereka keluarkan. Namun, tiba-tiba Yumi berkata. "Kita harus gugurkan ini".
17 tahun kemudian. Waktu terus berlalu, wajah mereka terlihat semakin menua. Bahkan kehidupan Glen dan Yumi setelah menikah sangat berubah drastis. Glen yang sekarang bekerja menjadi tukang service AC, sedangkan Yumi hanya
menjadi tukang menyetrika baju orang. Padahal, cita-cita Glen adalah ingin menjadi atlet basket terkenal dan Yumi ingin menjadi penyiar berita. Mereka rela kehilangan cita-citannya untuk kemudian memutuskan menikah di bawah usia rata-rata Undang-undang. Anak yang rencananya akan mereka gugurkan itu, sekarang sudah duduk dibangku SMA kelas 11.Dia sangat tampan, parasnya sama seperti Glen waktu muda. Sayangnya nasib mereka tidak sama. Devan, sering menjadi
bahan ejekan geng liar di sekolahnya. Ia tidak berani melawan dan melaporkan kepada orang tuanya. Berbeda dengan Glen yang menjadi orang paling pertama maju jika ada perundungan atau perkelahian di sekolahnya. Namun Devan mempunyai hobi yang sama seperti ayahnya, yaitu bermain basket. Setiap merasa depresi ia melapiaskan marahnya
dengan bermain basket. Dia termasuk orang yang tertutup, bahkan masalah kehidupannya tidak pernah diceritakan kepada kedua orang tuanya.
Tiba saat makan malam. Glen, Yumi, dan anaknya Devan melakukan aktivitas makan bersama seperti biasa. Tetapi suasana pada malam itu sangat dingin. Hingga akhirya Glen membuka obrolan singkat, dan bertanya kepada anaknya. "Dev gimana hari-harimu di sekolah, ada yg ganggu kamu?" tanya Glen kepada anaknya. Pertanyaan yang membuat dada Devan seketika sesak dan menahan nangis, karena ini pertama kali ayahnya peduli tentang dia. Namun Devan memutuskan untuk tidak menjawab jujur. "Gapapa baik aja." jawab devan dingin. "Gimana dengan basket mu?" tanya Glen kembali. "aku ga suka dan ga tertarik sama basket" Balas Devan kembali. Dia terpaksa melakukan ini karena malu
dan belum siap mengatakan yang sebenarnya. Orang tua Devan adalah orang yang sangat sibuk dan tidak pernah memikirkan bagaimana kehidupan anaknya selama ini.
Keesokan harinya. Ketika Glen selesai memperbaiki AC di salah satu rumah, ia kembali ke kantornya kemudian mendapat teguran dari bosnya bahwa dia membuat masalah besar yang ke sekian kalinya. Glen sangat ceroboh selama bekerja,
bahkan banyak perkakas kantor yang hilang karena ulahnya. "sudah saya peringatkan yang ke sekian kalinya ya Glen. Dan maaf saya ga mau rugi karena kamu. Jadi mulai sekarang kamu saya pecat!" ujar bos Glen. Glen hanya bisa diam tak berdaya, dia tidak bisa menolaknya kali ini. Dengan berat hati dia pulang ke rumah. Perlahan ia membuka pintu rumah,dan menemukan Yumi disana yang sedang menyetrika baju-baju orang di ruang tamu. Yumi terlihat sangat lelah, namun Glen tidak menyadari itu. Glen duduk di sofa ruang tamu dan berkata "Aku di pecat, kali ini aku bener-bener ga bisa nolak" ucap Glen. Yumi yang lelah mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk dari pagi mendengar berita itu membuatnya semakin lelah disertai emosi. Dengan emosi, Yumi mencabut kabel setrika dari stop kontak dan berkata "KAMU ITU GIMANA SIH MASA KERJA GITU AJA GABISA! UDAH DARI LAMA AKU PENGEN MARAH SAMA KAMU, TAPI AKU DIAM AJA. KALO KAMU SAMPE DI PECAT BERARTI SUDAH PARAH BANGET. UDAH YA AKU CAPEK TAU GA SAMA KAMU!" balas Yumi dengan nada tinggi dan matanya yg menahan tangis. Yumi meninggalkan Glen yang terdiam di sofa ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Disisi lain ada Devan yang mendengarkan percakapan mereka dari luar.Ini bukan hal yang mengejutkan untuk Devan. Setiap kali ia mendengar orang tuanya berkelahi. Ia tidak pulang ke rumah tetapi ke rumah temannya. Disaat itu juga Yumi memutuskan untuk menceraikan Glen dan menyuruh Glen keluar dari
rumahnya.
Malam yang terasa sangat dingin. Tidak ada bintang satupun yang terlihat di langit, bahkan bulan pun tertutup dengan awan. Seakan langit pun tau kesedihan yang dialami Glen saat itu. Glen duduk di suatu warung pinggir jalan, ia memesan secangkir kopi hangat saat itu. Glen melamun hingga tidak menyadari ada seorang kakek tua duduk disebelahnya. "Andai aja aku bisa muda lagi, pasti ga akan kayak gini jalan kehidupan ku" ucap Glen sambil melamun.Kakek tua yang mendengar hal itu tertawa kecil di samping Glen "hahaha ada-ada saja, ini permen biar kau tidak mengantuk" ucap kakek itu. Glen tiba-tiba tersadar bahwa ada orang lain di sampingnya. Dan Glen menerima permen itu dengan senang hati, lalu memakannya. Tidak jauh dari warung tadi, Glen menemukan lapangan basket dan bola yang tergeletak di bawah ring, tanpa basa-basi Glen segera memainkannya.
Sudah sekitar 1 jam lebih Glen asik dengan bola basketnya, hingga dia lupa kalau harus pergi ke rumah temannya untuk menumpang tidur. "Oke tembakan terakhir, kalo ini masuk aku mau jadi muda.. ya meskipun mustahil sih" ucap Glen
sambil tertawa kecil. Tidak lama kemudian terdengar suara petir dari langit dan angin yang menggoyangkan daun-daun, hingga daun besar terbang ke arah Glen dan menutupi matanya. Karena itu, Glen tidak mengetahui bolanya masuk atau
tidak. "Aduh daun ganggu aja, ga keliatan kan jadinya.. sekali lagi deh" ucap Glen. Tetapi saat ingin mencobanya lagi, hujan mulai turun. Akhirnya Glen memutuskan untuk segera berlari menuju rumah temannya.
Glen pun tiba di rumah temannya yaitu Regan, seseorang yang sangat baik kepada Glen waktu masih duduk di bangkuSMA. Bahkan Regan pun sudah menganggap Glen sebagai keluarganya sendiri. Namun sayang, Regan sampai saat ini belum menemukan jodohnya. Ia terlalu fokus pada karir dan kerjanya sebagai CEO. Hanya saja Regan terkejut ketika melihat Glen datang dengan penampilan yang berbeda. "tok.. tok.. tok.." suara ketukan pintu. Regan perlahan membukakan pintu mendengar suara itu. "Selamat malam Regan, masih ingat?aku Glen." ucap Glen menyapa Regan. "G-gak mungkin! Regan udah nikah, mukanya pasti sudah tua..aku aja berubah masa dia gini" balas Regan sambil melihat Glen dari atas sampai bawah. "Aku memang sudah tua, emang ada yang salah dengan mukaku?" Tanya Glen sambil berkaca di jendela rumah Regan yang nampak mewah itu. "H-HAH!" Teriak Glen membuat Regan terkejut. "Reg aku bisa jelasin semuanya, tapi boleh masuk dulu?" Ucap Glen kepada Regan.
Setelah perbincangan yang cukup lama antara Glen dan Regan, akhirya Regan paham dengan masalah yang dialami Glen. Dimana Glen sebenarnya tidak menerima perceraian ini dan masih cinta dengan istrinya Yumi. Tapi dia tidak bisa kembali dengan kondisi seperti ini. Karena wajah Glen berubah drastis, tiba-tiba saja wajahnya menjadi lebih muda dan tampan seperti waktu SMA. Kerutan pada wajahnya seketika tidak ada, rambut putihnya pun berubah menjadi hitam. Bukan hanya wajah, tapi juga semua tubuhnya menjadi 17 tahun lebih muda. Regan dengan senang hati memberikan kamar untuk tempat tinggal Glen sementara. Lagi pula, Glen bisa menjadi teman rumah Regan yang selama ini tinggal sendiri di
rumah mewah itu.
Keesokan harinya, Glen bangun masih dengan wajah dan kondisi tubuh yang sama dengan semalam. Glen mempunyai
ide untuk memanfaatkan masa ini. Dia memberitahu Regan agar bisa membantunya. Ide itu adalah Glen ingin merubah data dirinya dan kembali sekolah, dimana sekolah itu sama dengan anaknya. Glen meminta Regan untuk menjadi orang tua pura-pura agar ia bisa mendaftarkan diri ke sekolah itu. Dengan senang hati Regan membantunya. Tanpa berpikir
panjang, mereka langsung pergi ke sekolah tersebut.
saat di sekolah...
Glen dan Regan berjalan menuju ruang guru. Seketika Glen teringat dengan kenangan indahnya pada saat melewati lapangan basket. "Teng..teng.. teng saatnya istirahat pertama". Bel itu terasa sangat familiar ditelinga mereka, rasanya baru kemarin lulus SMA. semua murid berlarian kesana kemari. Tidak terasa mereka telah sampai di depan ruang guru. Mereka masuk dan mulai melaksanakan peran masing-masing. Wali kelas Glen mulai membawanya ke kelas untuk memperkenalkan dirinya kepada siswa/siswi lain. "anak-anak kita kedatangan murid baru nih, ayo perkenalkan diri kamu"ucap wali kelas Glen, sambil mempersilahkan glen memperkenalkan dirinya. "halo semua nama gue gle.. maksudnya Rio Xavier. Salam kenal!" Ucap Glen yang hampir saja menyebut nama aslinya. Mata Glen tertuju pada anaknya yang sedang membaca buku disana. "baiklah rio, kamu duduk di samping Devan ya. Tugas yang di papan tulis jangan lupa dikerjakan" Ucap guru wali kelas meninggalkan muridnya. Perlahan Glen menuju kursi yang telah di tunjuk oleh gurunya tadi. Namun beberapa menit kemudian terdengar suara dobrakan pintu kelas "brakKkk.." Semua murid terkejut, termasuk Glen dan Devan. Terlihat 3 murid seperti geng liar, dengan satu orang di depan membawa bola basket dan melemparkannya ke Devan. Glen yang menyadari soal itu langsung sigap mengahalangi Devan agar tidak terkena lemparan bola. Orang yang melempar bola tersebut menghampiri Glen dan Devan. Dia adalah Raga ketua geng liar di sekolah, anak basket dan anak
motor, banyak siswa/siswi yang takut dengannya termasuk Devan. Tapi tidak sedikit juga wanita yang terpukau melihat ketampanannya.
“Minggir ces, anak baru aja belagu!” ucap Raga kepada Glen.
“Dasar anak muda gatau sopan santun, Aku ini bapaknya!” Batin Glen sambil menggenggam keras kedua tangannya
“Apa hak mu ces nyuruh aku minggir?” tanya Glen dengan jiwa mudanya sambil emosi kepada Raga.
Tanpa basa-basi Raga mendorong Glen hingga ia terdorong dan jatuh ke belakang. Kemudian Raga melanjutkan
perbincangannya dengan Devan. “Heh culun, kerjain tugas gue nih! kalo engga terima sendiri apa akibatnya” Ucap raga kepada Devan. Glen terkejut mendengar itu, kemudian dengan sekuat tenaga Glen berusaha berdiri dan menghampiri dua anak itu. Lalu dengan penuh emosi Glen ingin menonjok Raga, namun Devan menghalanginya dan berkata “udah gapapa”. Raga tersenyum miris melihat itu lalu meninggalkan mereka.
Sore itu terlihat sangat sejuk dan damai. Kicauan burung yang sangat indah membuat Glen merasa dejavu dengan suasana ini. Mata Glen tertuju pada anak yang bermain basket di lapangan sekolah, dia adalah Devan anaknya. Glen hampir meneteskan air mata ketika melihat itu, tapi teringat dia adalah Rio di sekolah. Dengan berlarian kecil Glen menghampiri Devan. “Aku boleh ikut main dev?” tanya Glen sebagai Rio. “H-hem.. b-boleh” Jawab Devan gugup, karena ia jarang berinteraksi dengan orang sebelumnya. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam bermain basket, mereka tidak menyadari hari semakin gelap. “Dev udahan yok istirahat dulu” ucap Glen sambil duduk dipinggir lapangan. Devan pun menghampiri Glen dan duduk di sebelahnya. “Kamu jago juga ya pok main basketnya” ucap Glen sambil menepuk lengan Devan. “Kirain kamu ga tertarik sama olahraga ini” Tanya Glen kembali dengan perannya sebagai Rio. “Siapa bilang? aku suka banget, kalo lagi banyak pikiran ya aku lampiaskan ke sini” Balas Devan sambil mengambil bola
basket di sebelahnya. “Kamu pasti ikut club basket sekolah ya?” Tanya Glen yang penasaran sebagai seorang ayah. “Emm enggak” Balas Devan singkat. “Kenapa?” Balas Glen yang terkejut. “E-em tapi diem-diem aja ya, aku pengen banget ikut club basket.. tapi karena ada Raga aku ga berani join.. terus darimana skill aku bisa seperti sekarang? dulu ayahku atlet basket terkenal di sekolahnya.. aku belajar dan termotivasi dari dia. Tapi aku ga diajarin langsung sama dia.. aku lihat video-video ayahku yang tersebar di youtube. Aku malu bilang soal ini ke ayahku..” Jelas Devan kepada Glen. Glen yang mendengar itu lagi-lagi hampir meneteskan air matanya. Selama ini ternyata dia gagal mendidik anaknya sendiri. Bahkan ada yang menggagu anaknya di sekolah saja ia tidak peduli. Glen benar-benar terkejut saat mendengar bahwa Devan tertarik dengan basket. “Sejauh inikah jarak ku dengan anakku sendiri” Batin Glen. Tapi pada akhirnya Glen hanya bisa menjadi seorang Rio teman dekat Devan untuk saat ini. “Jika kau biarkan, yang kuat akat bertambah kuat dan yang lemah akan melemah. Besok kita daftar club basket ya, aku mau join tapi kamu juga ikut.. gimana?”Ucap Glen mengajak Devan. “S-serius? aku mau banget!” Seru devan yang terlihat girang.
Dalam perjalanan pulang, mereka melihat keramaian dari jarak yang lumayan jauh. “Devan.. kamu mau mampir dulu kesana?” ucap Glen. Itu adalah pameran Erau Expo, yang menampilkan acara tarian daerah, festival kuliner, dan masih banyak lagi. “B-boleh, tapi kamu gapapa pulang malam-malam” Jawab Devan. “hahaha dia masih terlihat seperti anak kecil di mata ku” Batin Glen yang gemas mendengar pertanyaan anaknya yang sudah SMA itu. Tidak terasa Glen dan Devan semakin dekat dengan keramaian itu. Devan benar-benar menikmati malam itu, ia kesana kemari mencoba banyak jajanan bersama Glen. Melihat pernak-pernik, bahkan Glen membelikan satu untuk Devan. Andai Devan tau bahwa dia sedang bersama ayahnya.
3 bulan berlalu. Nasib Devan kini berubah drastis, dulu dia tidak bisa berinteraksi dengan orang sekarang dia sudah terbiasa dengan keramaian. Dulu dia selalu menjadi babu Raga, sekarang mereka berteman. Dulu dia tidak bisa bergabung dengan club basket sekolah, sekarang dialah yang paling banyak penggemarnya. Dulu dia tidak memiliki teman untuk menceritakan keluh kesahnya, sekarang dia memiliki sahabat yang menjadi pendengar baiknya yaitu Rio (Glen). Semua terjadi atas kerja keras Glen ayahnya, yang dikenal oleh Devan sebagai Rio. Selain nasib Devan, nasib sang istri yaitu Yumi juga berubah total. Diusianya yang hampir menginjak 40 tahun dia masih semangat untuk mengejar cita-
citanya, melamar kerja kesana-kemari sebagai penyiar berita. Dan saat ini, Yumi diterima di salah satu perusahaan televisi terbesar di kotanya. Sayangnya nasib Glen tidak sebaik nasib anaknya. Satu minggu lagi adalah persidangan perceraian Glen dan Yumi. Glen tidak mungkin datang dengan kondisinya yang seperti ini. Glen juga tidak ingin menandatangani surat cerai itu, karena dia masih cinta dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Yumi. Dengan ketakutannya Glen memberanikan diri untuk menelpon istrinya Yumi. Namun handphone Glen tiba-tiba bergetar, ternyata Yumi menelponnya terlebih dahulu. Glen menjawabnya dengan gugup dan ketakutan. “Halo..” ucap Yumi. Terdengar suara yang sangat aku rindukan selama ini, Glen memilih untuk diam dan tidak menjawab. “Glen, ingat ya 1 minggu lagi persidangan cerai kita. Aku harap kamu datang” Lanjut Yumi berbicara di ponselnya. “y-ya h-halo.. Yumi bisa kita bertemu sebentar sebelum persidangan kita di mulai?” Balas Glen.
Sore itu terasa dingin, matahari di sebelah barat juga tidak terlihat karena tertutup awan. Suara kicauan burung juga tidak seramai hari-hari sebelumnya. Lagi-lagi Glen merasa dejavu di tempat ini. Kursi dengan pemandangan laut, kresek berwarna hitam yang berserakan di dekat tempat sampah, cat garis merah yang ada di setiap pohon bakau mengingatkanku pada sesuatu. Yumi berjalan perlahan menghampiri Glen di kursi yang sama saat ia memberitahu Glen tentang kehamilannya. Tanpa disadari dia memakai baju yang sama pada 17 tahun lalu, namun itu tidak mengurangi kecantikannya. Tidak terasa Yumi tiba disamping Glen, tetapi Yumi heran kenapa Glen memakai atribut yang menutupi wajahnya. Glen menggunakan masker, kacamata hitam, dan topi saat itu. “Permisi benar anda Glen?” tanya yumi pada orang di sampingnya. Tanpa menjawab pertanyaan yumi, Glen langsung membuka semua atribut yang menutupi wajahnya. Yumi terkejut karena mengira dia salah orang, namun Glen menjawab “Iya benar, aku Glen”. Yumi tertawa tidak pecaya dan berkata “hahaha jangan main main ya anak muda”. Glen memastikan ke Yumi bahwa dia benar orang yang dicari, sulit bagi Glen dengan kondisi seperti ini tetapi dia harus bisa melakukannya. “Ini aku Glen, kalau ga percaya coba saja telpon orang yang anda cari itu” Perintah Glen. Akhirnya Yumi menelpon nomor suaminya Glen, dan benar saja ponsel orang yang dihadapan Yumi bergetar. “ini buktinya” Ucap Glen sambil menunjukkan ponselnya dengan kontak bernama istriku Yumi. Yumi yang melihatnya pun terkejut lemas di hadapan Glen. Glen dengan sigap membawa Yumi ke gazebo terdekat yang ada di mangrove. Setelah menunggu beberapa menit sampai keadaan Yumi membaik, Glen mulai meceritakan semua masalah yang dia alami kepada istrinya. Glen juga meminta maaf karena tidak bisa menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilnya. Glen ingin memperbaiki semuanya dan berharap Yumi memberikan kesempatan itu. Hari semakin gelap, Yumi hanya mendengarkan perkataan Glen tanpa menjawabnya. Yumi bukan berarti tidak ingin menjawab, hanya saja keputusan sekarang ada di tangan anak satu-satu mereka. “Udah malam, ayok pulang ke rumah” ucap Yumi pada suaminya. Tanpa Glen sadari wajah dia telah kembali normal sejak Yumi membuka mata dari pingsannya.
“AYAHHHH…” teriak Devan saat tahu ibunya membawa pulang ayahnya malam itu. Glen terkejut, lalu dia mendapati kaca di depannya dan melihat bahwa wajahnya telah kembali normal. Devan berlari kecil menghampiri Glen lalu memeluknya. Sudah lama Glen tidak merasakan kehangatan ini sebagai seorang ayah begitupun Devan sebagai anak satu-satunya. Yumi tersenyum hangat melihat mereka berdua bisa memberi kehangatan satu sama lain. “Ayah besok lusa aku ada pertandingan basket, aku tim inti loh! Ayah sama mama nonton ya” Seru Devan kepada ayahnya sambil mengajaknya duduk di sofa depan TV. “Ayah pasti nonton dong, semangat terus ya!” Jawab Glen yang tiba-tiba meneteskan air mata. Yumi menghampiri mereka dan memberi pelukan hangat kepada anak dan suaminya. “Bahagia dan sama-sama terus ya keluarga kecilku” Ucap Glen yang selama ini tidak pernah keluar dari mulutnya.
Pertandingan basket Devan akhirnya tiba. Sebelum pertandingan, devan duduk di tribun sambil memegang gantungan kunci pemberian Rio (Glen) saat pameran Erau expo. Sehari sebelum bertanding Ayah Rio (Regan) datang ke sekolah dan memberi kabar bahwa Rio telah dikirim ke luar negeri untuk sekolah disana. Devan yang mendengar kabar tersebut merasa sangat kehilangan. Karena Rio lah yang telah merubah Devan menjadi seperti ini, bahkan devan belum memberikan salam perpisahan untuk Rio. Ponsel Rio juga tidak aktif. Tanpa disadari pertandingan segera dimulai. Devan segera memasukkan gantungan kunci itu ke dalam tasnya dan menghampiri teman-temannya yang lain. setelah setengah jam pertandingan berjalan waktu berada di bawah 30 detik. Devan mendapatkan tembakan bebas (Free throw), dia sedang dalam masalah besar. Poin sekolahnya (SMA tunas bangsa) dengan sekolah lawan (SMA serim) hanya beda 1 poin, sekolah Devan kalah 1 poin dari tim lawan. Jika dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring dalam dua kali tembakan maka tim dari sekolahnya menang. Sekarang kemenangan ada di tangan devan. Suara penonton di tribun makin histeris di detik terakhir, Devan berusaha memfokuskan dirinya pada ring. Dia melihat wajah kedua orang tuanya yang sedang menyaksikan pertandingan di tribun. Dan akhirnya Devan berhasil memasukkan bola ke dalam ring. “one point untuk SMA tunas bangsa… pertandingan dimenangkan oleh SMA tunas bangsa, dengan point 31 untuk SMA tunas bangsa dan 30 untuk SMA serim” Ucap komentator basket. Dengan rasa bangga Devan mengampiri kedua orang tuanya dan memeluk keduanya dengan tetesan air mata dan keringatnya. “Kerennya pang anak ayah” Ucap Glen kepada Devan. Devan semakin tidak bisa menahan tangisnya saat mendengar kata-kata itu dari ayahnya secara langsung.
Hari ini langit terlihat lebih cerah. Pohon-pohon di sekitar Devan membuatnya sadar, bahwa bumi ini membutuhkan hujan. Seperti Devan membutuhkan Ayah dan Ibunya. Dua minggu setelah pertandingan, Devan dan keluarganya menikmati liburan di Pantai Beras Basah. Matahari sangat terik, tetapi itu tidak menghalangi aktivitas orang-orang yang berkunjung. "Dev ayo beli es krim" Ajak Glen kepada Devan. "Ayo yah" Balas devan. "Kita lomba lari ya, yang kalah traktir. 1...2.." Ucap Glen yang kemudian meninggalkan Devan sambil mengucap angka tiga. "Ayah curang.." Balas Glen yang meyusul ayahnya berlari. Saat tiba di penjual es krim, Glen memenangkan pertandingan singkat itu. Namun, tetap saja Glen yang membayar es krim tersebut karena Devan lupa membawa dompetnya. "Yah ayok kita naik banana boots sama ibu juga" Ajak Devan sambil menikmati es krim ditangannya. "Boleh.. ayok Yum kita kesana" Ajak Glen kepada istrinya Yumi. Hal ini membuat Glen sadar setelah kehilangan mereka, senyum orang terkasihnya, waktu yg di habiskan bersama keluarganya. Saat memilikinya dia tidak menyadari betapa berharganya mereka.
tamat...