Kampung Hantu yang sudah ditetapkan sebagai daerah wisata mistis tetap menampakkan banyak rumah kuno dari peninggalan zaman penjajahan Belanda yang dibiarkan tidak terawat begitu saja. Kesan dan pengalaman Rama yang terus mengulas mistik Kampung Hantu rasanya tidak pernah kehabisan bahan untuk laporan kerjanya. Namun yang luput dari kesadaran Rama, seolah Kampung Hantu ini memiliki ikatan batin dengan Rama sehingga Rama tidak pernah merasa ingin meninggalkannya.
Dan kali ini, Rama mencoba mengulas daerah ujung selatan Kampung Hantu yang datarannya agak tinggi tetapi memiliki hutan yang kelihatan angker dan jarang penduduknya. Rama melihat sebuah rumah tua satu-satunya yang dibiarkan terbengkalai dan memancarkan aura mistis dari kejauhan.
Di malam Jumat Legi itu, Rama yang seharian berjalan-jalan di daerah ujung selatan Kampung Hantu, merasa tegang dan sedikit takut dengan aura mistis yang terpancar dari rumah tua itu. Saat itu, dia sekejap melihat sosok putih yang tampak seperti perempuan di kejauhan. Sosok itu berdiri di dekat sebuah pohon besar samping rumah tua dan terlihat seperti sedang menangis. Rama berjalan mendekati sosok itu dan dia sadar bahwa itu bukanlah sosok biasa. "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?" tanya Rama. Sosok putih itu mengangkat kepalanya dan menatap Rama dengan mata yang basah. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Rama lagi.
Sosok itu diam sejenak, lalu mulai berbicara dengan suara yang lirih,"Namaku Maaike Van Der Heide. Kamu pasti Rama, pemuda yang banyak dibicarakan para hantu di kampung ini" Rama melihat sosok wanita itu, dan ternyata sosok itu terlihat melayang di atas tanah, artinya sosok itu adalah hantu, hantu Belanda. Rama jadi tambah penasaran dengan sosok hantu Belanda tersebut, yang biasanya disebut dengan Hantu Witte Wieven.
Witte Wieven berasal dari mitologi Belanda dan menjadi salah satu hantu paling terkenal di Eropa. Dalam bahasa Belanda, Witte Wieven berarti "wanita putih". Konon, hantu ini merupakan sosok wanita putih yang sering terlihat mengapung di atas permukaan air atau melayang di atas tanah. Biasanya hantu ini dikaitkan dengan cuaca buruk seperti kabut, salju dan badai di negaranya Belanda. Mereka dikatakan berpakaian serba putih dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca. Menurut mitos, Witte Wieven suka mengganggu orang-orang yang melewati hutan atau rawa-rawa pada malam hari. Mereka bisa menampakkan diri di depan orang-orang dan membuat mereka tersesat dalam hutan atau rawa-rawa. Ada juga legenda yang mengatakan bahwa Witte Wieven akan mengganggu orang-orang yang melakukan perjalanan di laut dan menggoda mereka untuk melompat ke air. Beberapa orang juga percaya bahwa Witte Wieven bisa memprediksi masa depan. Konon, mereka bisa memberikan nasihat kepada orang-orang tentang keputusan yang harus diambil dan apa yang akan terjadi di masa depan. Walaupun Witte Wieven dianggap sebagai hantu atau roh jahat, beberapa orang juga memandang mereka sebagai entitas yang baik hati dan bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa orang bahkan menganggap mereka sebagai malaikat pelindung yang menjaga hutan dan rawa-rawa dari kerusakan. Meskipun sekarang ini jarang terdengar lagi, legenda tentang Witte Wieven masih dikenal di Belanda dan menjadi bagian dari kebudayaan dan cerita rakyat Belanda yang kaya.
"Tapi mengapa sekarang di Kampung Hantu ada hantu Witte Wieven?" pikir Rama. Ada beberapa versi cerita yang menceritakan mengapa Witte Wieven bisa muncul di Kampung Hantu. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Kampung Hantu dulunya adalah sebuah tempat yang terkenal dengan penampakan hantu dan aktivitas dukun. Konon, Witte Wieven tertarik dengan energi negatif dan keberadaan hantu lain di sana, sehingga ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Cerita lain menyebutkan bahwa Kampung Hantu dulunya adalah sebuah kawasan yang penuh dengan hutan dan rawa-rawa. Menurut legenda, Witte Wieven merupakan makhluk yang dipercaya menjaga hutan dan rawa-rawa. Namun, ketika manusia mulai merusak lingkungan dan membangun pemukiman di kawasan tersebut, Witte Wieven menjadi marah dan memutuskan untuk menghantui mereka. Selain itu, beberapa orang percaya bahwa keberadaan Witte Wieven di Kampung Hantu disebabkan oleh pengaruh orang-orang yang melakukan praktik-praktik mistis atau penggunaan barang-barang berenergi negatif di sana. Menurut kepercayaan mereka, Witte Wieven tertarik dengan energi negatif tersebut dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Kampung Hantu.
"Coba kamu ceritakan dirimu hantu Maaike !" pinta Rama. Sosok putih itu mengangkat kepalanya dan menatap Rama masih dengan mata yang basah, "Aku dulunya adalah seorang perempuan Belanda yang datang ke Indonesia mengikuti papaku Thomas Van Der Heide, asalnya dari kota Leeuwarden, di provinsi Friesland, Belanda. Papaku seorang pedagang rempah-rempah untuk dijual ke Belanda di sekitaran tahun 1821. Di masa perang, aku yang sudah remaja 17 tahun, pernah menjadi perawat dan bertemu dengan pemuda lokal yang bernama Arjuna. Aku mencintai pemuda itu, dan akhirnya menikahi Arjuna walaupun kami berbeda budaya. Perbedaan kepentingan juga terjadi antara papa dengan Arjuna, karena papa yang dekat dengan kolonial sedangkan Arjuna pro kemerdekaan. Akhirnya suamiku tewas dalam perang kemerdekaan yang dibelanya, dan aku juga menjadi janda seorang diri, setelah papa juga menyusul Arjuna meninggal dunia pada sebulan berikutnya. Aku terpaksa hidup sendirian di rumah tua itu hingga ajal menjemputku, "cerita hantu Maaike sambil menunjuk rumah tua tersebut.
Rama merasa sedih mendengar cerita hantu Maaike. "Maafkan saya atas kematianmu yang tragis. Apa yang membuatmu tetap tinggal di kampung ini setelah kamu meninggal dunia?" tanya Rama.
"Kampung ini adalah rumahku. Aku tidak memiliki tempat lain untuk pergi. Dan, aku masih merasa terikat pada dunia ini karena masih memiliki beberapa urusan yang belum selesai," jawab hantu Maaike dengan sedih. Rama merasa iba pada Maaike dan ingin membantunya. "Apa yang bisa saya bantu? Apa urusanmu yang belum selesai?" tanya Rama.
"Ada sebuah peti tua di rumahku. Di dalam peti itu terdapat surat-surat dan dokumen penting yang harus saya serahkan pada keluarga keturunan suamiku. Namun, peti itu hilang dan aku tidak tahu ke mana perginya. Aku merasa terusik karena masih memiliki tanggung jawab untuk menyerahkan surat-surat itu," jawab hantu Maaike.
Rama merasa kasihan pada Maaike dan ingin membantunya menemukan peti itu. "Baiklah, saya akan membantumu menemukan peti itu," kata Rama dengan tekad.
Maaike tersenyum lega mendengar itu. "Terima kasih banyak. Aku tunggu kabar baik darimu ya" kata hantu Maaike dengan senyum lembut di wajahnya. Rama tersenyum dan merasa ada kegembiraan yang lain bisa bertemu hantu Maaike. Mereka berpisah dengan saling memberikan senyuman. Rama kemudian berjalan kembali ke penginapannya, sambil berpikir tentang peti yang hilang itu dan bagaimana dia bisa membantunya menemukannya. Dan seperti biasa, Rama terpikir dengan sosok Gendoruwo penghuni pohon beringin di alun-alun Kota Hantu yang bisa diminta bantuan.
Keesokan malamnya, Rama kembali ke alun-alun Kampung Hantu untuk menemui Gendoruwo dan berbicara tentang hantu Maaike Van Der Heide serta pencariannya tentang peti yang hilang. Saat itu, Gendoruwo menyambut Rama dengan senyum dan menyuruhnya duduk di bawah pohon beringin di alun-alun. Gendoruwo memahami ketertarikan Rama dan bersedia membantu membukakan mata batinnya agar dia bisa melihat masa lalu hantu Maaike. Setelah Rama duduk di bawah pohon, Gendoruwo memulai proses membuka mata batinnya. Rama merasa ada kekuatan yang mengepungnya dan dia melihat suasana di sekitarnya berubah. Semuanya menjadi gelap dan kemudian muncul bayangan orang yang sedang duduk di rumah kuno di ujung Kampung Hantu. Rama merasa seperti sedang mengamati masa lalu. Di hadapannya, dia melihat Maaike yang sedang tertawa dan bermain dengan seorang pemuda, yang sering dipanggil Maaike dengan sebutan Arjuna. Mereka berdua tampak sangat bahagia dan saling mencintai. Maaike juga terlihat sangat cantik dalam gaun pengantinnya. Rama menyadari bahwa Maaike sangat mencintai Arjuna dan Arjuna juga mencintainya dengan sepenuh hati. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Rama melihat Arjuna jatuh sakit setelah tertembak dalam perang dan tidak bisa disembuhkan. Maaike merawatnya dengan penuh cinta, tetapi akhirnya Arjuna meninggal. Maaike sangat sedih dan patah hati setelah kehilangan suaminya. Dia menjadi sangat terpukul dan merasa tidak ada artinya lagi hidup tanpa Arjuna.
Rama bisa melihat dan merasakan rasa kesedihan dan kehilangan yang begitu dalam dari Maaike. Setelah Arjuna meninggal, papa Maaike akhirnya juga meninggal hingga menambah kesedihan di Maaike. Kehilangan sosok tercintanya sempat membuat Maaike agak gila hingga suatu malam rumahnya dirampok dan sebuah peti yang berisi barang dan dokumen penting hilang, dan Maaike tidak pernah menemukannya. Maaike semakin menjadi gila karena kehilangan peti itu dan akhirnya meninggal karena penyakit yang tidak diketahui penyebabnya dan tanpa perawatan karena sendirian di rumah tua.
"Terima kasih, Gendoruwo. Saya akan mencoba mencari peti itu dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya," ucap Rama dengan tegas setelah mata batinnya ditutup kembali. Gendoruwo mengangguk dan memberikan semangat pada Rama,"Kau sudah berada di jalur yang benar, Rama. Teruslah mencari dan jangan pernah menyerah. Tapi ada satu hal penting yang harus kamu tahu Rama"
Rama bengong, "Apa itu temanku? "
Gendoruwo tersenyum. "Iya, Arjuna itu sebenarnya adalah kakek buyutmu, Rama. Kamu masih keturunan dari keluarga Arjuna, salah satu keluarga terpandang di sini. Rumah tua itu seharusnya milikmu bila kamu bisa menemukan peti yang hilang itu."
Rama terkejut, " Benarkah? Berarti peti yang hilang itu berisi barang dan dokumen yang menyebutkan pemilik sah rumah kuno tersebut dan ahli waris nya ya? "
Gendoruwo menjawab, "Benar Rama, menurut dokumen di peti itu, Arjuna adalah pemilik rumah sesuai yang diberikan oleh Maaike dan papanya. Peti itu juga berisi benda-benda pusaka yang sangat berharga dan memiliki kekuatan magis. Namun, peti itu hilang setelah Arjuna meninggal dan rumah Maaike dirampok, dan sejak itu tidak pernah ditemukan kembali. Saya merasa bahwa ada seseorang yang ingin mengambil alih rumah itu melalui perampokan, mungkin karena nilai sejarahnya dan mungkin ada sesuatu di dalamnya yang berharga juga di peti itu untuk dikuasainya."
"Lalu aku harus mulai dari mana untuk mencari peti yang hilang itu Gendoruwo? " tanya Rama.
"Sepertinya Maaike pernah terlibat dengan seorang dukun bernama Ki Sabrang sebelum meninggal. Ki Sabrang mengelabui Maaike dengan menawarkan cara untuk menghidupkan kembali Arjuna. Namun, Ki Sabrang ternyata hanya ingin memanfaatkan keputusasaan Maaike untuk mendapatkan peti itu.
Sepertinya Ki Sabrang berhasil mengetahui lokasi peti yang diambil perampok pria yang berpakaian hitam itu dan perampok itu meninggalkan peti tersebut di sebuah gua yang terletak di hutan belakang rumah Maaike. Coba kau telusuri daerah itu Rama, "saran Gendoruwo.
"Baiklah temanku, besok pagi akan kucoba telusuri daerah yang kau tunjukkan, terima kasih, " ucap Rama sekaligus pamit dari alun-alun.
Keesokan paginya, Rama mulai berjalan mencari peti yang hilang sesuai petunjuk lokasi yang diberikan Gendoruwo semalam. Rama memasuki hutan belakang rumah Maaike yang diselimuti kabut tebal pagi yang dingin dan gelap hingga akhirnya menemukan sebuah gua kecil tapi gelap. Gua itu berukuran kecil yang hanya cukup dimasuki oleh seukuran satu orang dewasa saja. Rama memasuki gua kecil tersebut lalu menyalakan senter yang dibawanya hingga akhirnya melihat sebuah peti yang sudah ditumbuhi lumut hijau. Peti itu masih terkunci oleh gembok, berukuran kecil dan mudah diangkat oleh Rama. Akhirnya Rama pun membawa peti itu keluar dari gua dan sekarang Rama menuju rumah tua untuk menemui hantu Maaike nanti malam.
Rama menunggu hantu Maaike muncul di tempat yang sama seperti sebelumnya. Dia kini sudah membawa peti yang dicari. Dan akhirnya yang ditunggu pun tiba. Hantu Maaike muncul sambil membawa hawa dingin dan tertawa khas hantu yang membuat bulu kuduk Rama ikut berdiri, " Halo Rama, ternyata kau cucuku..Dan akhirnya kau temukan juga peti itu. "
"Benar hantu Maaike, langsung saja, apa yang harus kulakukan dengan peti ini ? Aku capek sekali hari ini.. " gerutu Rama.
" Rusak saja gemboknya Rama, dan simpan isinya untukmu. Sekarang barang-barang itu milikmu beserta rumah tua itu. " kata hantu Maaike sambil suaranya melengking.
Rama langsung merusak gembok tersebut dengan batu, dan membuka pintu peti untuk melihat isinya. Terlihat ada satu buku besar yang berisi foto-foto keluarga Maaike beserta papa dan suaminya, Arjuna. Kemudian ada surat pernyataan penting dari Maaike yang menegaskan rumah tua itu diberikan kepada Arjuna, suaminya. Artinya bila dilanjutkan silsilah turunannya dari Arjuna yang merupakan kakek buyut Rama, maka rumah tua itu menjadi milik Rama yang merupakan satu-satunya keluarga Arjuna yang tersisa. Namun anehnya benda pusaka yang diinformasikan Gendoruwo sudah tidak tampak lagi di dalam peti, sepertinya benda pusaka tersebut sudah diambil oleh seseorang sebelumnya.
" Oh ya, hantu Maaike, apakah hanya barang-barang ini yang ada di peti? Apakah ada yang hilang? " tanya Rama.
"Harusnya ada benda pemberian dukun Ki Sabrang yang tersimpan di peti itu, tapi kenapa tidak ada sekarang? "tanya hantu Maaike bingung.
"Entahlah, mungkin dah diambil orang lain sebelumnya. Mengapa kamu sebelumnya sudah kenal Ki Sabrang ? " tanya Rama heran.
"Ki Sabrang, iya. Dia menjanjikan bisa mengembalikan arwah Arjuna kepadaku, tapi ternyata hanya omong kosong," cerita hantu Maaike jadi bersedih. Namun berikutnya Hantu Maaike tersenyum karena mengingat peti yang hilang sudah ditemukan dan rumah itu akan diurus dengan baik oleh Rama. Setelah Rama berhasil menemukan peti dan menjadi pemilik rumah tua di ujung Kampung Hantu, dia memutuskan untuk merenovasi rumah tersebut agar menjadi lebih baik dan layak huni. Namun, Rama juga ingin menjaga kesan rumah kuno Belanda yang angker, sehingga dia memutuskan untuk merenovasi rumah dengan mempertahankan sebagian besar gaya arsitektur aslinya. Rama mengumpulkan arsitek dan kontraktor untuk membicarakan rencana renovasi rumah. Dia menunjukkan kepada mereka bagaimana dia ingin mempertahankan sebagian besar bagian asli dari rumah, termasuk pintu dan jendela kayu yang terlihat kuno dan angker. Namun, dia juga ingin memperbaiki beberapa bagian rumah yang sudah rusak, seperti atap yang bocor dan kusen yang sudah lapuk. Setelah membicarakan rencana renovasi dengan kontraktor dan arsitek, Rama mulai melaksanakan renovasi. Dia memutuskan untuk melakukan renovasi secara bertahap, mulai dari bagian paling penting dan yang paling membutuhkan perbaikan terlebih dahulu. Pertama, dia memperbaiki atap rumah yang sudah bocor dan merusak beberapa bagian rumah. Selanjutnya, dia memperbaiki kusen-kusen pintu dan jendela yang sudah lapuk.
Dua bulan kemudian, Rama akhirnya menyelesaikan renovasi rumah tersebut. Dia merasa senang dengan hasil akhir renovasi rumah. Meskipun tetap terlihat kuno dan angker, rumah tersebut sekarang terlihat lebih terawat dan layak huni. Pintu dan jendela yang sudah rusak sudah diganti, atap yang bocor sudah diperbaiki, dan beberapa bagian rumah lainnya juga sudah diperbaiki. Saat Rama mengadakan syukuran atas selesainya renovasi rumahnya, hantu Maaike datang menemuinya. Rama kaget dan merasa takut saat melihat hantu tersebut, tetapi hantu Maaike ternyata tidak menakutkan. Dia mengucapkan terima kasih kepada Rama karena sudah berhasil mengembalikan peti yang hilang dan merenovasi rumah yang pernah ditinggalinya. Hantu Maaike kemudian berkata, "Aku senang peti tersebut akhirnya berhasil dikembalikan, aku ingin berterima kasih kepada kamu, Rama. Saya juga melihat hasil renovasi rumahmu. Kamu berhasil mempertahankan kesan rumah kuno Belanda yang terkesan angker. Rumah ini terlihat lebih terawat dan layak huni. Terima kasih atas kerja kerasmu."
Rama merasa lega mendengar ucapan hantu Maaike. Dia merasa senang karena sudah berhasil membantu hantu Maaike menyelesaikan masalahnya dan juga membuat rumah tersebut terlihat lebih baik. Rama perlahan-lahan mendekati hantu Maaike yang tersenyum lebar kepadanya. "Sudah saatnya Kau harus pergi, hantu Maaike. Terima kasih atas segalanya."Maaike tersenyum dan menjawab, "Sampai jumpa, cucuku. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Rama tersenyum sedih, "Saya juga merasa senang bisa bertemu denganmu, nenek. Saya akan merindukanmu." Maaike menatap Rama dengan penuh kasih sayang, "Jangan khawatir, cucuku. Aku akan selalu menjagamu dan rumah kita ini. Ingatlah selalu tentang kisahku dan Arjuna. Jadikan rumah ini tempat di mana semua orang bisa merasa aman dan bahagia."
Rama mengangguk, "Saya akan selalu mengingatmu, Nenek. Saya akan menjaga rumah ini dengan baik dan memastikan bahwa semua orang yang datang ke sini merasa bahagia dan tenang."
Maaike tersenyum lebar dan mencium kening Rama, "Aku percaya padamu, cucuku. Sampai jumpa lagi." Rama tersenyum dan melambaikan tangan saat Maaike menghilang di udara. Dia merasa sedih karena harus berpisah dengan nenek buyutnya, tetapi dia juga merasa lega karena telah menemukan kebenaran tentang masa lalu keluarganya dan menjadi pemilik rumah kuno yang sekarang menjadi bagian dari sejarah Kampung Hantu. Setelah hantu Maaike pergi, masih ada satu hal yang masih mengganjal di hati Rama, yaitu rasa penasaran tentang sepak terjang Ki Sabrang yang selalu terlibat di hal-hal mistis Kampung Hantu.