Sebagai daerah tujuan wisata, tidak lengkap rasanya apabila Kampung Hantu tidak memiliki keistimewaan dalam kuliner yang dijajakan penduduknya. Selama 5 bulan berjalan tinggal di Kampung Hantu, Rama memiliki banyak variasi makanan favorit yang menjadi kesukaannya walaupun kadang masih berhubungan dengan hal-hal mistis di dalamnya. Selain seafood, di Kampung Hantu juga terdapat kuliner-kuliner tradisional favorit yang khas, seperti nasi liwet, sate kambing, ayam goreng, dan bakso. Ada juga beberapa warung makanan yang menyajikan hidangan vegetarian untuk pengunjung yang tidak mengkonsumsi daging. Selain itu, di Kampung Hantu juga terdapat beberapa kafe dan restoran yang menyajikan makanan dan minuman yang berbeda dari yang biasa dijumpai di tempat lain. Beberapa kafe menyajikan kopi dengan cita rasa yang unik, dan ada juga restoran yang menyajikan hidangan fusion yang menggabungkan bahan-bahan dari berbagai budaya kuliner.
Tidak hanya itu, di Kampung Hantu juga terdapat beberapa pasar malam yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan luar kota. Di pasar malam tersebut, pengunjung bisa menemukan beragam kuliner dari berbagai daerah, mulai dari makanan ringan hingga hidangan utama. Ada juga beberapa pedagang yang menjual makanan dan minuman unik, seperti es krim rasa durian, sate taichan, dan aneka jus buah segar. Kampung Hantu juga terkenal dengan jajanan khasnya, seperti klepon, getuk, dan tape ketan hitam. Jajanan-jajanan tersebut biasanya dijual di warung-warung kecil atau penjual kaki lima di sepanjang jalan. Dengan beragam jenis kuliner yang ditawarkan, Kampung Hantu menjadi destinasi wisata kuliner yang menarik untuk dikunjungi oleh para pecinta kuliner.
Namun demikian, pengunjung memiliki beberapa batasan untuk dapat menikmati wisata kuliner di Kampung Hantu, terutama bila hendak makan minum di atas jam 7 malam. Sebaiknya pengunjung harus mengikuti saran tetua Kampung Hantu untuk memperhatikan beberapa hal berikut untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan mereka:
1. Pastikan bahwa wisata kuliner yang ingin dikunjungi masih buka di atas jam 7 malam. Beberapa warung makan mungkin tutup lebih awal pada malam hari karena pertimbangan keamanan.
2. Usahakan untuk datang ke kawasan Kampung Hantu bersama rombongan yang cukup besar dan terpercaya. Dengan begitu, pengunjung dapat saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain.
3. Jangan berjalan sendirian di sekitar kawasan Kampung Hantu, terutama di area yang sepi dan gelap. Hindari juga berjalan terlalu jauh dari keramaian atau warung makan yang masih buka.
4. Berpakaianlah dengan sopan dan jangan memakai pakaian yang terlalu mencolok atau mengganggu pengunjung lainnya.
5. Tidak membuang sampah sembarangan, apalagi sampah yang berbau atau sisa makanan. Hal ini bisa menimbulkan bau tidak sedap dan mengundang makhluk halus yang merespon bau makanan.
6. Hindari membicarakan hal-hal yang bersifat negatif atau menakutkan, seperti cerita hantu atau mitos-mitos mistis yang beredar di kawasan tersebut.
Daerah Kampung Hantu ini memiliki beragam jenis kuliner yang cocok buat tokoh Rama yang gemar dengan makanan seafood. Salah satu makanan yang paling terkenal di sana adalah gurita bakar yang dijual di Warung Seafood milik Juragan Kamis. Selain gurita bakar, Juragan Kamis menjual berbagai jenis makanan seafood, antara lain:
Ikan Bakar, Udang Galah Bakar, Kerang Bakar, Kepiting Soka Goreng Tepung, Sate Cumi Bakar, Sop, Kepiting, Sop Ikan, Sop Gurame dan Pindang Ikan Patin.
Semua makanan tersebut diolah dengan resep khas Juragan Kamis dan menjadi primadona di kampung tersebut.
Hampir semua menu diakui banyak pengunjungnya terasa lezat, walaupun sebenarnya harganya juga tidak murah. Keistimewaannya sepertinya dari racikan bumbunya dan cara rebusan ikannya yang sangat khas dan tajam, yang membuat bau amis seafood tidak tercium, dan rasanya berbeda dari yang ada di tempat lain (lebih enak). Selain itu, gurita dan ikan lain yang digunakan pun segar dan diolah dengan baik sehingga mempertahankan kelembutan dan kelezatannya. Tak heran jika menu gurita bakar ini menjadi favorit bagi banyak pengunjung, terutama bagi yang menyukai makanan laut.
Rasa enak gurita bakar tersebut membuat Rama semakin penasaran dengan cara pembuatan di dapurnya. Dia ingin tahu apa yang membuatnya berbeda dari warung seafood lainnya. Apalagi jika melihat antrian pengunjung warungnya yang hampir setiap hari sangat panjang hingga luber di pinggir jalan, tentunya membuat rasa penasaran yang semakin tinggi. Rama memutuskan untuk mencoba masuk dapur dan mengamati setiap gerakan Juragan Kamis dan tim masaknya saat memasak. Secara kasat mata sebenarnya tidak ada hal yang mencurigakan saat proses masaknya yang bisa juga dilihat pengunjung, namun ada beberapa gerakan khusus dari Juragan Kamis yang membuat Rama menaruh kecurigaan. Kebetulan Rama melihat Juragan Kamis sedang mencampurkan bumbu-bumbu di dalam panci besar dan memasukkan selembar kertas kecil yang sudah berisi tulisan-tulisan aksara Jawa aneh. Rama semakin penasaran dan ingin tahu apa arti tulisan tersebut dan mengapa sampai dimasukkan ke dalam panci besar yang berisi rebusan ikan. Berikutnya Rama juga takjub dengan cincin Juragan Kamis dengan batu akiknya yang besar berwarna merah terpasang di jari manis tangan kiri. Apalagi kadang Rama melihat gerakan Juragan Kamis yang mencuci jari-jarinya yang terpasang cincin batu akik di air bersih dengan mulut komat kamit kemudian air bersihnya dipakai untuk rebusan ikan ataupun kuah masakan. Tentunya buat orang awam gerakan tersebut aneh dari segi kebersihan airnya. Dari sisi rasa, sebenarnya Rama juga tidak merasa terlalu spesial, apalagi dengan harganya yang dirasa lebih mahal dibandingkan warung lain.
Untuk meyakinkan dugaannya, Rama mencoba berdiskusi dengan Gendoruwo penghuni pohon beringin alun-alun yang sudah menjadi sahabatnya.
Rama: "Maaf ya Gendoruwo, boleh saya tanya sesuatu?"
Gendoruwo: "Ya, ada apa Rama?"
Rama: "Saya sudah beberapa kali makan di warung makan Juragan Kamis dan merasa ada yang aneh dengan rasa, cara masak dan antrian pengunjungnya. Saya curiga ada mantra atau ritual tertentu yang digunakan pada cara masak dan bumbu masakan mereka. Bolehkah saya tahu apa yang terjadi?"
Gendoruwo: "Ah, kamu sudah mulai peka terhadap keberadaan energi mistis di sekitarmu, ya? Itu adalah hal yang baik, Rama. Kamu benar, Juragan Kamis menggunakan mantra dan ritual tertentu dalam memasaknya."
Rama: "Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada bahayanya?"
Gendoruwo: "Sebenarnya, tidak ada yang berbahaya jika kamu memakan masakan tersebut, Rama. Hanya saja, ada banyak makanan yang diolah dengan bantuan energi mistis dan tidak higienis seperti itu yang dapat membuat pengunjung merasa lebih nyaman dan terkesan dengan rasa makanannya tapi juga beresiko negatif dengan kesehatannya."
Rama: "Apa yang bisa saya lakukan untuk menghentikan pengaruh dari mantra dan ritual tersebut?"
Gendoruwo: "Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini. Pertama, Anda bisa mencoba berbicara dengan Juragan Kamis dan membicarakan kekhawatiran Anda dengan dia. Jika itu tidak berhasil, Anda bisa mencoba memberi tahu masyarakat dan menyebarkan kesadaran tentang bahaya praktik seperti itu. Terakhir, jika semuanya gagal, akan saya bantu untuk membersihkan tempat tersebut dari energi negatif. "
Rama: "Terima kasih, Gendoruwo. Saya akan mencoba opsi pertama dahulu dan berharap Juragan Kamis berbesar hati untuk menyelesaikan masalah ini."
Rama kembali datang ke warung Juragan Kamis pada malam hari setelah melakukan diskusi dengan Gendoruwo. Saat ia tiba di warung tersebut, ia langsung disambut dengan ramah oleh Juragan Kamis.
Juragan Kamis: "Selamat malam, Pak Rama. Apa yang bisa saya bantu?"
Rama: "Selamat malam, Pak Kamis. Saya ingin memesan Gurita Bakar seperti biasa, tapi sebelum itu, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
Juragan Kamis: "Tentu saja, silahkan."
Rama: "Apakah ada sesuatu yang berbeda dari bumbu atau cara masak Gurita Bakar yang membuatnya sangat enak? Saya merasa ada sesuatu yang berbeda saat saya makan di sini dan bungkus tapi makan di rumah."
Juragan Kamis terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rama.
Juragan Kamis: "Sebenarnya, Pak Rama, ada sesuatu yang berbeda dari cara saya memasak Gurita Bakar. Saya melakukan ritual tertentu sebelum memasaknya agar rasanya lebih nikmat."
Rama: "Ritual apa itu, Pak Kamis?"
Juragan Kamis: "Saya memasukkan mantra khusus dari seorang dukun ke dalam air kuah Gurita Bakar saya, serta menggunakan khasiat batu akik di jari ini yang diberi mantra dan memiliki kekuatan gaib yang saya celupkan di air bersih untuk air rebusan ataupun kuah masakan."
Rama: "Menarik. Apakah Pak Kamis tidak merasa bersalah melakukan ritual itu pada makanan yang disajikan? Bukannya itu bisa beresiko negatif kepada kesehatan yang makan Pak? "
Juragan Kamis terdiam, wajahnya merah dan tertunduk malu.
Rama: "Menurut saya, Pak Kamis harus menghentikan ritual itu. Karena selain sesat, juga beresiko negatif kepada kesehatan yang makan. Bayangkan kalau akhirnya pengunjung tahu apa yang dilakukan Pak Kamis, mereka pasti marah dan bisa anarkis. Belum lagi pasti akan ada tumbal atau balasan yang diminta ke Pak Kamis setelah menggunakan ritual mistis tersebut."
Juragan Kamis: "Saya hanya mengikuti saran dukun Pak Rama supaya dapat mempengaruhi rasa makanan, sehingga orang yang makan akan merasa sangat nikmat. Banyak pengunjung yang mengaku bahwa masakan warung saya lebih enak daripada masakan di tempat lain."
Rama: " Pak Kamis harus pede atas kemampuan masak Bapak, jangan bergantung hal-hal yang menyesatkan. Saya yakin tanpa hal-hal mistis tersebut, rasa makanan di warung Pak Kamis akan tetap disukai karena memang enak. Itu lebih aman daripada akhirnya pengunjung tahu rahasia mistis Pak Kamis. Coba pikirkan dengan serius Pak"
Pak Kamis tertegun, berpikir keras sepertinya mempertimbangkan permintaan Rama.
Juragan Kamis: " Baiklah Pak Rama, akan saya coba"
Rama: "Saya pantau terus ya Pak sampai aura mistis di warung Pak Kamis ini sudah hilang. Oh ya Pak, pesanan saya dibungkus saja ya, sudah malam, biar saya makan di rumah"
Juragan Kamis: "Baik Pak Rama, segera disiapkan"
Juragan Kamis lalu mengkoordinir anak buahnya untuk menyiapkan pesanan Rama dan Rama pun masih memantau aura mistis yang masih terasa di warung Juragan Kamis.
Setelah permintaan Rama kepada Juragan Kamis tersebut mulai dilakukan, berangsur-angsur aura mistis di warung Juragan Kamis mulai hilang. Namun seiring dengan hilangnya aura mistis di warung Juragan Kamis, antrian panjang pengunjung warung juga tidak sepanjang pinggir jalan lagi. Walaupun jumlah pengunjung turun drastis, tapi tetap masih ramai dan tetap merasa masakan di warung Juragan Kamis enak. Hanya tinggal harganya saja yang dirasa masih lebih mahal dibandingkan warung lain.