Cerita bermula ketika tiga remaja asal Kampung Hantu, yaitu Adi, Rudi, dan Yanto, tertarik untuk memainkan permainan tradisional jelangkung. Mereka merencanakan untuk memainkannya di bawah pohon besar dekat makam tua Kampung Hantu, karena mereka percaya bahwa di sana terdapat energi mistis yang dapat membantu ritual jelangkung. Pada malam harinya, ketiga remaja yang pemberani itu pergi untuk mulai memainkan jelangkung. Mereka membawa semua benda yang dibutuhkan, termasuk kain putih, sejumlah beras, boneka, topi dan sebatang kayu untuk menopang kain. Setelah mempersiapkan semuanya, mereka memulai ritual jelangkung dengan memanggil arwah menggunakan doa khusus.
Namun keasyikan bermain remaja -remaja tersebut kebetulan diketahui oleh Rama yang sedang berjalan pulang menuju penginapannya. Rama yang tadinya tidak mengerti apa yang dilakukan mereka, mulai menyadari bahwa mereka tidak menyadari bahwa mereka memainkan Jelangkung dengan resiko-resiko yang tidak baik.
Jelangkung merupakan sebuah permainan spiritual atau supranatural yang diyakini berasal dari Indonesia. Permainan ini melibatkan penggunaan sebuah boneka kayu atau topi yang diisi dengan benda-benda tertentu seperti bulu ayam, potongan kuku, gigi, dan lain-lain, serta sebuah piring kecil yang digunakan sebagai media untuk meminta bantuan arwah atau makhluk gaib.
Dalam kepercayaan masyarakat Indonesia, Jelangkung merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi dengan arwah orang yang telah meninggal dunia atau makhluk gaib lainnya. Pemain Jelangkung meminta bantuan arwah atau makhluk gaib untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, seperti mengungkapkan penyebab kematian seseorang, meramal masa depan, dan lain-lain. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang dapat mengkonfirmasi bahwa Jelangkung secara langsung dapat menyebabkan pemainnya kesurupan atau terganggu secara psikologis. Beberapa penjelasan alternatif untuk fenomena ini antara lain adalah sugesti atau hipnosis, kecemasan dan tekanan psikologis yang dihasilkan dari kepercayaan masyarakat terhadap Jelangkung, atau bahkan manipulasi dan penipuan dari pihak tertentu yang ingin memanfaatkan kepercayaan masyarakat.
Setelah Rama melihat ketiga remaja tersebut sedang bermain jelangkung di dekat makam tua Kampung Hantu, ia langsung menghampiri mereka dan berbicara dengan suara lantang, "Hei, kalian bertiga! Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Ini bukan tempat yang aman untuk bermain-main seperti ini!"
Ketiga remaja itu terlihat kaget mendengar suara Rama dan mereka langsung berhenti bermain jelangkung. Salah seorang dari mereka, menghampiri Rama dan berkata, "Kami hanya ingin mencoba-coba bermain jelangkung. Kami tahu bahwa di sini banyak cerita tentang hantu dan arwah penasaran, tapi kami tidak takut."
Rama berusaha meyakinkan ketiga remaja itu untuk berhenti bermain jelangkung, "Kalian tidak seharusnya berada di sini. Jangan sampai kalian mengundang kehadiran arwah jahat yang bisa membahayakan kalian."
Namun, ketiga remaja itu terlihat tidak terlalu peduli dengan peringatan Rama dan mereka malah tersenyum, "Kami tidak takut dengan hantu atau arwah jahat. Kami hanya ingin mencoba-coba saja. Ini tidak akan membahayakan siapa-siapa kok."
Setelah Rama gagal meyakinkan ketiga remaja untuk berhenti bermain jelangkung, ketiga remaja kemudian duduk di sekitar boneka jelangkung. Mereka mulai mengucapkan mantra dan meminta arwah untuk datang.
"Tenang, kita kan cuma main-main. Nggak ada apa-apa kok," kata Adi. Namun, ketika mantra jelangkung diucapkan untuk ketiga kalinya, boneka jelangkung tiba-tiba mulai bergerak perlahan-lahan. Ketiga remaja itu terlihat semakin ketakutan dan saling memeluk.
"A-apa itu? Boneka itu bergerak!" kata Yanto
"Tenang, mungkin angin yang membuatnya bergoyang," kata Rudi coba menenangkan Yanto.
Namun, ketika boneka jelangkung semakin bergerak dengan sendirinya, ketiga remaja itu mulai panik dan berteriak-teriak.
"Aku takut! Aku ingin pulang!" kata Yanto.
"Sama aku juga! Jangan main lagi!" sahut Adi. Namun, ketika mereka berusaha untuk berdiri dan pergi, tiba-tiba ada suara misterius yang terdengar di belakang mereka. "Kalian belum boleh pergi. Aku belum selesai main dengan kalian," ucap suara itu.
Ketiga remaja itu semakin ketakutan dan berusaha melawan boneka jelangkung yang bergerak dengan sendirinya, namun tidak berhasil. Suara misterius itu semakin sering terdengar dan membuat ketiga remaja semakin ketakutan dan histeris. Dan akhirnya ketiga remaja itu tiba-tiba menghilang.
Rama yang merasa panik dan khawatir mencari mereka di sekitar tempat ritual jelangkung, namun tidak juga menemukan mereka. Ia kemudian memutuskan untuk melapor ke polisi dan meminta bantuan untuk mencari ketiga remaja tersebut. Tidak lupa juga Rama meminta bantuan ke Gendoruwo penghuni pohon beringin di alun-alun untuk menemani pencarian ketiga remaja tersebut. Setelah dilakukan pencarian yang memakan waktu 2 hari oleh polisi dan penduduk Kampung Hantu, akhirnya ketiga remaja tersebut ditemukan tewas di tengah hutan dengan kondisi badan yang cukup mengenaskan. Polisi yang menangani kasus tersebut menduga bahwa penyebab kematian mereka adalah karena jatuh ke jurang akibat ketakutan, namun tidak dapat dipastikan dengan pasti.
Namun, Rama sendiri yakin bahwa arwah jahat yang dipanggil melalui ritual jelangkung-lah yang menjadi penyebab kematian ketiga remaja tersebut. Karena Rama menemukan pula boneka jelangkung di dekat temuan jasad ketiga remaja tersebut dan Rama bermaksud mau membakarnya, berharap untuk memutuskan hubungan antara arwah jahat dengan dunia manusia.
Namun, pembakaran boneka jelangkung tidak langsung membuat arwah jahat itu lenyap. Arwah jahat tersebut masih merasa marah dan gelisah, dan meluapkan kemarahannya dengan menyerang Rama. Rama terus diikuti dan diganggu oleh arwah jahat tersebut, yang tidak puas dengan pemusnahan boneka jelangkung.
Rama akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan ritual pembersihan dan memohon ampun kepada arwah jahat tersebut.
Setelah menyiapkan alat-alat pembersihan, Rama mulai melakukan ritual untuk membersihkan arwah jahat jelangkung dari Kampung Hantu. Dia membakar kemenyan dan berdoa sambil melafalkan aji-aji yang dipercayainya dapat melindungi dirinya dari pengaruh jahat arwah jelangkung. Sambil membaca aji-aji dan menyalakan lilin, Rama berjalan ke sekeliling kampung hantu dan menempatkan beberapa benda di tempat-tempat tertentu. Dia juga menyemprotkan air suci ke seluruh penjuru kampung hantu.
Rama: "Arwah jelangkung, aku meminta agar kau tenang dan tidak lagi mengganggu siapa pun di kampung hantu ini. Mari berdamai dan beristirahatlah dengan tenang di alam baka"
Setelah beberapa waktu, Rama merasa energi negatif di kampung hantu telah berkurang. Dia mengucapkan doa terakhir dan mengakhiri ritual pembersihan.
Rama: "Alhamdulillah, semoga arwah jahat jelangkung sudah tenang dan tidak lagi mengganggu penduduk Kampung Hantu. Saya berharap semuanya bisa kembali normal dan tidak ada lagi kejadian yang menakutkan di sini."
Setelah arwah jahat jelangkung berhasil dibersihkan oleh Rama, keesokan paginya seluruh warga Kampung Hantu berkumpul untuk melakukan upacara pemakaman bagi ketiga remaja yang menjadi korban jelangkung. Rama juga turut hadir dalam upacara tersebut.
Rama: "Saya turut berduka cita atas kepergian ketiga remaja ini. Semoga arwah mereka mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan."
Ibu dari salah satu korban: "Terima kasih, Rama. Kami sangat berterima kasih atas segala bantuanmu dalam menyelesaikan masalah ini. Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkatimu."
Rama: "Sama-sama, bu. Saya hanya melakukan tugas sebagai manusia biasa yang berusaha membantu sesama. Mari kita berdoa bersama agar ketiga remaja ini mendapatkan tempat yang aman dan damai di alam lain." Semua orang di sekitar memejamkan mata dan bergabung dalam doa bersama untuk para korban jelangkung yang telah meninggal dunia. Setelah doa selesai, upacara pemakaman pun dilakukan dengan penuh kesedihan dan haru.
Namun setelah pemakaman dan pembersihan arwah jahat yang terkait dengan boneka jelangkung telah selesai, tiba - tiba Rama merasakan ada energi yang aneh dan menyelidiki lebih lanjut. Dia menduga bahwa arwah jahat itu masih tertinggal di benda lain selain boneka jelangkung.
Rama: "Apa yang terjadi? Aku merasa ada energi yang aneh di sini."
Gendoruwo: "Aku juga merasakan itu. Ternyata arwah jahat masih ada di benda lain selain boneka jelangkung."
Rama: "Benda apa yang dimaksud?"
Gendoruwo: "Tidak bisa dipastikan. Namun, arwah jahat itu mungkin merasuki benda yang dekat dengan ketiga remaja saat mereka bermain jelangkung."
Rama: "Aku harus mencari tahu benda apa yang dimaksud itu. Tidak boleh ada lagi korban dari arwah jahat ini."
Setelah mencari tahu dan melakukan penelusuran, Rama akhirnya menemukan benda yang dimaksud oleh Gendoruwo. Benda itu adalah sebuah topi yang ditinggalkan salah satu dari ketiga remaja yang menjadi korban jelangkung. Rama: "Ini topi yang ditinggalkan oleh salah satu korban. Aku harus membersihkan arwah jahat yang masih ada di sini."
Dengan bantuan Gendoruwo, Rama kemudian kembali melakukan pembersihan arwah jahat yang tersisa di topi tersebut.