Hampa... dingin... dan gelap.
Itu semua merupakan tanggapan pertama yang diberikan oleh seorang mahasiswi yang kini sedang terpuruk pada perjalanan malam itu. Ya Davira, siswi yang masih menduduki bangku kelas 8 dan dirinya selalu saja dimabuki oleh permasalahan internal yang tiada hentinya untuk mengasut pikiran sang gadis. Masalah-masalah yang terus bertamu entah dari mana asalnya pasti akan selalu menghantam dirinya yang rapuh. seperti seekor tikus pengecut yang lalu diterjang keras oleh banjir tanpa ragu. Suasana malam yang kini terdengar sepi, sunyi, dan menenangkan justru terdengar bertolak belakang pada Davira, pikirannya yang selalu berdebat dan mengumpati keadaan akan terus melintasinya tak peduli dengan waktu yang kini terus berganti.
Desiran angin yang kian kemari terus mendingin dan membuas hendak menusuk tulang punggung sang gadis dengan bengis. Walau begitu, dirinya tidak akan pernah berhasrat untuk kembali ke rumahnya hanya karena kendala kecil seperti ini. Ia akan memilih terus berjalan pada malam itu hingga dirinya kedinginan lalu membusuk daripada mendengar huru-hara keluarganya yang terus menuangkan rasa sakit dan lubang pada lubuk hatinya itu. Tentu itu membuatnya bermimpi ingin memiliki kehidupan normal seperti teman sekelasnya. Yang bisa berliburan bersama keluarganya dan selalu menjalin kehidupan hangat tanpa mengenal kata 'kekacauan'.
Dan ya! kemarin ia baru saja berusaha merengek kepada satu-satu nya teman yang ia miliki untuk ikut bersama keluarga harmonisnya saat nanti pergi ke beras basah karena pemandangannya yang begitu megah. Dirinya membayangkan tubuhnya yang akan diterpa oleh sejuknya angin laut sambil memandang transisi antar birunya sang cakrawala menjadi senja telah sukses membuat dirinya semakin tak sabar dan memupuk rasa ekspetasi yang begitu tinggi.
Lantas, apakah kau tau bagaimana kesan temannya pada sang gadis yang terus menerus mengemis seperti makhluk rendahan itu? apakah ia akan menerima permohonan dari seekor hama sepertinya? huh jangan harap, tampang temannya itu saja telah memberikan kesan menghina. Ia berteman dengan Davira hanya karena rasa belas kasih dan untuk memanfaatkannya sebagai babu. Dan seorang babu tentu tidak pantas untuk meminta kepada majikannya untuk ikut serta dengan keluarganya yg tajir. Sang gadis pasti langsung dipandang sebelah mata seperti limbah yang terus memberikan zat beracun pada lingkungan sekitar oleh keluarga temannya itu.
Tolakan instan secara tidak langsung yang dilontarkan oleh temannya itu pun tentu telah memutuskan benang harapan miliknya. Tanpa berfikir lama sang gadis pun langsung merubah pikirannya untuk pergi ketempat impiannya tersebut.
Jadi ia kini memutuskan untuk healing di sunyinya padang rumput malam hari ini karena ingin menikmati kilapan bintang yang selalu menari di gelap dan kosongnya langit untuk memperbaiki suasana hatinya itu. Namun siapa sangka? disaat dirinya telah sampai di padang rumput yang ia nantikan, rinai hujan mulai turun perlahan untuk membasuh bumi. Rintihan yang terasa sangat tajam bagai pisau mulai menusuk tubuh sang gadis. Sudah terpampang jelas pada tampang muka Davira bahwa ia semakin pucat, tubuhnya dari atas kepala hingga ujung kakinya mulai bergetar gak karuan. Dirinya yang menyadari bahwa hujan tersebut akan terus menderas dan menajam seiring berjalannya waktu membuatnya mulai menggerakkan kedua kakinya jauh lebih cepat dari sebelumnya untuk mencari tempat yang dapat ia gunakan sebagai tempat berteduh sejenak. Waktu yang terus berlanjut tanpa memberikan jeda membuat rembulan mulai lenyap dari pandangaan dan menghilangkan sorot penerang. Tetapi entah mengapa rintikan air dari langit itu pun mendadak berhenti tanpa alasan yang jelas.
"ah hanya gerimis sebentar ternyata..." gumamnya.
Gadis tersebut pun mulai melanjutkan perjalanannya ke padang rumput itu kini dengan sedikit lebih santai.
Setibanya di padang tersebut mendadak tubuhnya terbeku seakan-akan dunia mulai berhenti sekejap. Parasnya tertuju kepada seorang pria bersurai hitam yang sedang duduk dibawah pohon sambil memainkan gitar miliknya. Matanya yang mulai berbinar dan sumringah sudah tampak disaat ia melihat kehadiran sang pria tersebut. Pria yang kini tengah bernyanyi saraya memetik senar gitarnya dengan begitu menawan telah sukses mengobrak-abrik hati sang gadis. Pria yang awalnya telah terbawa suasana dengan lagu yang sedang ia mainkan tiba-tiba ambyar dikarenakan dirinya merasa diintai oleh seseorang. Disaat sang pria tersebut milirik kebelakang melalui bahunya, tampang pria tersebut sudah terlihat jelas bahwa sang gadis telah memberikan kesan pertama yg buruk padanya. Dagunya mulai diangkat sedikit serentak menyiniskan matanya yang mengesankan rasa terganggu, seakan-akan gadis tersebut adalah seekor hama yang diutus tuhan untuk menggangu keberadaan manusia. Sang pria pun mulai beranjak berdiri dan menuju kearah sang gadis secara perlahan yang membuat Davira semakin tersipu sembari memundurkan diri dari sang pria. Ya siapa yang tidak akan mundur jika didekati cogan?
"Mohon maaf nona, tapi jika boleh tau anda siapa ya? untuk apa kau mengawasiku dari kejauhan seperti itu..??"
Jantung Davira yg mulai jedag-jedug dengan kacau balaunya membuat dirinya terus menjaga jarak dengan sang pria tanpa memperhatikan sekitarnya.
dan tiba"...
𝗞𝗖𝗘𝗕𝗨𝗨𝗨𝗥𝗥!!
Davira tak sengaja menyandung batu lalu berujung terjengkang kebelakang dan jatuh ke sebuah genangan air hujan yang menyebabkan rok miliknya basah kuyup.
"Ahh... sial. Tch, aku hanya kebetulan ingin lewat. Berhenti menatapku seperti itu. Kau ingin ku pukul? Lihat... Aku sampai terjatuh setelah melihat tampang mengerikanmu itu."
Ujarnya sementara bergumam.
Sang pria pun terkekeh mendengar gumam gadis tersebut lalu mengulurkan tangan kanan miliknya kepada gadis yang kini sedang terduduk di genangan air hujan tersebut. Sorotan matanya yang memberikan kehangatan pada dada sang gadis membuat hatinya menjerit dengan kacau balaunya.
Tanpa basa basi sang gadis pun menerima bantuan yang diberikan oleh pria itu dengan muka merah padam bagai tomat lalu mulai beranjak berdiri.
"makasih." ujar Davira.
mendengar sepatah kata yg dilontarkan gadis itupun membuat sang pria terheran dan mengangkat salah satu alis miliknya.
"Udah? Satu kata gitu doang? Wahh ternyata nona ini hatinya dingin juga ya. Yaudah gw Andrian."
Mendengar ucapannya, sang gadis pun mulai memandang ke setiap detail wajah sang pria itu yang kini terus berbicara. Dirinya bahkan tidak mengedipkan matanya selama beberapa detik karena pandangannya terkunci akan keindahan parasnya. Sang gadis pun langsung menghela nafas seakan-akan ia keberatan untuk diajak berbicara olehnya walau kenyataannya jantungnya yang tak sanggup untuk melayani cogan yang satu ini.
"Davira. Btw gak usah pke nona-nonaan kita cuman beda setaun." ujar Davira dengan nada yang sedikit dingin.
"Lah nona tau dari mana klo kita cuman beda setaun? Wah nona yang satu ini suka ngestalk gw ya~?"
Andrean pun mulai membungkukkan pinggangnya sedikit ke arah sang gadis dan memberikan tatapan menggoda untuk menjahilinya. Kini jarak antara muka mereka berdua hanya beberapa senti, bahkan gadis tersebut bisa merasakan hembusan nafas panas sang pria yang membuat jantungnya semakin berdetak dengan cepat dan tidak beraturan.
Davira yang merasakan nafas sang pria itu pun langsung cepat memalingkan mukanya seraya tangannya menjauhkan muka Andrean darinya dengan cepat.
"gk usah ke gr-an lo. kita satu sekolah dan lo kakel gw. dan yang terakhir kalinya. Stop panggil gw pake nona."
Andrean hanya bisa nyengir kepada tanggapan sang gadis dengan matanya yang sedikit layu. Dirinya memang baru saja mengenal Davira tapi hanya dengan berbicara sebentar dengannya seperti ini sudah membuatnya merasa seperti sudah menjadi kekasihnya dan menjadi satu-satunya lelaki yang dapat mengerti perasaan sang gadis. Ya hanya dia. Tiada satu pun orang lain yang bisa memikatnya lagi. Hanya dia yang satu-satunya boleh memiliki Davira.
"owh iyakah? hehe~" kekeh Andrean lagi.
"ih malah hihihaha lgi sialan bukannya minta maaf!!"
Sang gadis pun kembali menatap Andrean hanya saja kali ini dengan tatapan yang sedikit mengancam.
"jan marah-marah ih. kata mamah klo suka marah-marah mulu nanti cantiknya ilang loh." goda sang pria kepada gadis tersebut.
"..."
Davira tak bisa berkata-kata lagi entah karena salting atau perasaannya yang semakin membara api. Tanpa menanggapi pria itu ia langsung meninggalkannya dan duduk dibawah pohon yang tadi diduduki oleh pria itu saat bernyanyi.
Ia pun mulai menyenderkan tubuhnya kepohon yang cukup besar itu lalu menatap keatas luasnya langit yang kini dihiasi oleh gemerlap bintang yang baru kembali setelah hujan. Dan tentu tubuhnya kini mulai menggigil kedinginan karena hembusan angin kepada baju sang gadis yang baru terkena rintikan hujan dan roknya yang basah kayup karena kelakuan pria itu.
Andrean yang melihat kepergian sang gadis itu pun membuatnya semakin menumbuhkan rasa ingin mengganggu gadis itu lagi. Ya ia sangat suka dengan personality gadis ini. Ia tidak pernah berbicara atau bahkan bertemu dengan gadis yang bisa dibilang cukup menarik baginya(?).
Sang pria pun langsung mengikuti jejak sang gadis dan ikut duduk disampingnya.
"LO NGAPAIN NGIKUTIN GW HAH??!!" Seru sang gadis. Tatapan cintanya kepada sang pria itu pun tergantikan dengan rasa sedikit kebencian yang mulai menyelimuti hatinya.
"lah bukannya ini emang tempat gw ya? kok malah lo marah-marah? harusnya gw dong yang marah karena lo nyolong tempat duduk gw. dan lo juga bukan emak gw jadi gak berhak buat marahin gw." ujar Adrian.
"..."
Sang gadis pun terdiam lagi yang kedua kalinya berusaha berfikir tanggapan yang cocok untuk meluapkan rasa kesalnya kepada sang pria ini. Tetapi ia kembali teringat dengan candaan yang sebelumnya dilontarkan oleh sang pria dan ia akan menjadikan candaannya sebagai boomerang untuknya. Davira pun mulai menatap kedua bola mata sang pria tersebut lalu membuka mulutnya lagi.
"artinya emak lo gak cantik dong? kan yang berhak cuman emak lo dan klo keseringan marah cantiknya bakal hilang. Berarti emak lo..?" tanya sang gadis seraya memberikannya tatapan sinis yang mengartikan kesan menghina.
"gw yatim piatu hehe.."
"..."
sang gadis pun terdiam lagi setelah kesekalian kalinya dan mulai muak dengan tingkah Andrean. Dirinya pun kembali mengalihkan seluruh perhatiannya ke atas langit dan menatap rembulan tanpa memperdulikan pria aneh itu lagi.
Sang pria tentu tidak bisa mengalihkan parasnya dari bidadari yang kini sedang duduk disampingnya. Hatinya yang mulai berdesir setelah merasakan perasaan aneh yang tertama kali muncul tentu membuat pikirannya campur aduk.
Huftt... Davira memang tega ya hingga berani mencuri satu-satunya hati miliknya ini. Benar-Benar tega karena telah memberikan rasa asmara yang begitu manis sampai membuatnya candu.
Setelah beberapa saat memandanginya, Andrean pun mulai menyadari bahwa sang gadis tengah kedinginan dikarenakan tadi terkena rinai hujan yang membasahi pakaian yang ia kenakan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun sang pria pun mulai mengeluarkan sweater abu-abu miliknya dari tas yang ia bawa lalu memutupi punggung sang gadis dengan lembut.
"?!"
Davira pun merasa sedikit terkejut karena merasakan kehangatan yang tiba-tiba saja muncul menyelimuti punggung miliknya. Ia pun mulai berpaling dari langit yang dari tadi ia tatap dan kini terfokuskan ke paras hangat yang diberikan oleh sang pria. Tatapannya masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi kepada dirinya ini dan mulai membuka mulutnya untuk bertanya.
"lo ngap-"
"just use it." Potong Andrean masih dengan senyuman hangatnya yang tidak pernah luntur dari mukanya itu.
"gw tau lo kedinginan jadi pake aja mumpung gw baik." ujarnya lagi seraya menatap manik milik sang gadis.
"uhmm... ok makasih?"
Saut Davira masih sedikit bingung dan gugup bagaimana tanggapan yang cocok untuk ia katakan kepada sang pria.
Andrean pun mengangguk sebagai tanggapan dan ikut menyender di pohon yang kini sedang disenderi oleh sang gadis juga. Ia pun mulai mengambil gitar miliknya yang tergeletak di rerumputan dan mulai memainkannya.
Alunan musik yang ia mainkan, suaranya yang begitu indah dan memikat hatinya tentu membuat perhatian sang gadis teralihkan lagi kepadanya. bahkan angin seperti ikut mengikuti lantunan yang ia nyanyikan. Matanya benar-benar berbinar karena terkagum dengan bakat yang ia miliki.
"kamu jago nyanyi juga ya... gw kira cuman main alat musiknya doang." ujar Davira setelah ia beres menyelesaikan lagu yang ia nyanyikan.
"cieee terpanah sama suara gw yaa jiaakkkhh, ya jelaslah gw gitu loh" Andrean pun mulai bersikap seperti orang gila karena bahagia setelah mendengar pujian dari pujaan hatinya itu.
"..."
Davira kini benar-benar mengepalkan tangannya karena dibuat emosi lagi. Amarahnya kini benar-benar ingin meledak karena hampir mencapai batasannya olehnya. Ternyata memuji makhluk seperti dirinya merupakan pilihan yang buruk ya. dirinya benar-benar menyesal dan ingin menarik kembali ucapannya itu.
Tanpa seizinnya kepada sang gadis pria itu pun mendadak menyenderkan kepalanya kebahu Davira tanpa aba-aba.
"IH JAUH-JAUH SANA MAIN NYENDER AJA LO SANA HUSSHHHH!!"
Sang gadis pun kembali merah padam karena tersipu akan perlakuan pria aneh itu dan secara cepat ia langsung mengjauhkan bahunya dari Andrean yang menyebabkan kepalanya terjatuh ke hijaunya rumput yang masih basah karena habis dibasuh oleh hujan.
"kok kamu jahat banget sama aku?" Tampang Andrean pun mulai cemberut seraya mendengus.
"GOSAH PKE AKU KAMU AKU KAMU-AN EWW."
Seru sang gadis yang membuat Andrean semakin ngambek akan perkataan ceweknya. Dirinya hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata kepadanya dan kembali duduk untuk memandangi bintang yang terlihat seperti mulai menertawakannya dari langit.
Setelah saling diam-diaman selama 5 menit Andrean pun mulai memecah kesunyian dan mengembalikan senyuman hangatnya lagi seraya menunjuk langit dengan matanya yang melebar dan berbinar-binar.
"eh liat tuh ada bintang jatuh."
Dirinya mulai menunjuk salah satu bintang dilangit yang kini sedang terjatuh dengan hebohnya.
"terus?" Sang gadis pun bertanya sambil mengangkat salah satu alisnya karena bingung akan tingkah pria disampingnya ini.
"make a wish, idiot."
"lo masih percaya sama yang gituan? yaudah sih."
Ya Andrean merupakan salah satu manusia yang masih percaya dengan hal ini. Ya ia sebenarnya tau bahwa hal seperti ini hanya tipuan belaka yang bertujuan untuk menyenangi hati anak kecil. Tapi apa salahnya beetingkah seakan-akan percaya dengan hal seperti itu?
Sang gadis yang masih terheran-heran akan pola pikir pria ini tetap berujung ikut menutup matanya lalu berdoa dan memberikan harapannya dengan tulus kepada bintang tersebut dengan tujuan membuat pria itu sedikit senang karena telah menuruti hasratnya.
"udah. emang klo lo berharap apa?"
Setelah selesai memberikan harapannya sang gadis pun kini mulai membuka matanya dan menatap mata sang pria. Hanya saja kali ini sedikit memberikan kesan hangat dan tenang.
Sang pria itu pun kembali menggoda sang gadis setelah mengetahui bahwa tatapannya terlihat bahwa ia mulai mempercayai dirinya. Tentu itu membuatnya ingin ngusil agar bisa melihat tingkah lucu sang gadis saat sedang marah lagi kepadanya.
"hmm~ kasih tau gak yahh~?? ada deh~ tumben kamu jadi kepoan gini..."
Dahi sang gadis mulai mengkerut karena merasa sedikit marah lagi. Ya siapa yang gak marah? udah nurut malah banyak gaya.
"tck tinggal kasih tau aja loh susah amat."
Ia pun kini mulai bungkam untuk menunggu apa permintaan sang pria. Dirinya benar-benar penasaran sebenarnya apa yang ia inginkan sampai-sampai menyuruhnya untuk ikut berharap kepada bintang jatuh tersebut.
Sang pria pun mulai meraih dan mengusap tangan Davira dengan lembut. Elusan tangannya yang begitu hangat seperti tatapan yang selalu ia berikan tentu akan meluluhkan hati siapa saja yang berada diposisi sang gadis ini.
"ofcourse to be with u forever, silly~ thats what all i want...."
Ujar sang pria seraya mengecup tangan milik sang gadis dengan penuh kasih sayang. Dan kasih sayang tersebut tentu hanya berlaku kepada Davira. Tiada orang lain yang dapat merasakan kehangatan itu selain Davira. Hanya dirinya yang berhak mendapatkan seluruh kasih sayang nya ini.
••• _____________________ •••
HEHEHEEHEHE SORRY KLO KAGAK BISA BIKIN BAPER. PERTAMA KALI BIKIN KISAH ROMANCE SOALNYA 😙😙🤙🤙