Dalam keheningan yang mencekam, suasana malam itu menyelimuti lorong-lorong hotel dengan kegelapan yang menghantui.
Dengan tergesa-gesa, aku terbangun, keringat dingin mengalir di dahi.
Mimpi buruk yang mengerikan merayap dengan ganas di alam bawah sadarku.
Dalam keadaan terhuyung-huyung, aku bertahan melawan tekanan gelap yang menyelimuti jiwaku.
Tanpa ragu, aku memilih untuk melarikan diri ke kamar mandi, tempat di mana aku berharap menemukan sedikit ketenangan.
Di sana, dalam sepinya malam, aku disambut oleh pemandangan yang mengejutkan.
Lukisan seorang wanita tua terpampang anggun di depan wastafel. Ia menatapku dengan mata yang mencerminkan kesedihan tak berujung.
Bibirnya mengguratkan keraguan yang dalam. Kerutan-kerutan di wajahnya mengungkapkan kisah panjang penuh duka.
Saat aku berusaha mengabaikan kehadirannya, getaran dingin meluncur di sepanjang tulang belakangku.
Aku tak ingin terjebak oleh pesona tersembunyi, di balik goresan kuas sang seniman.
Aku mencurahkan perhatianku pada wastafel yang dingin, berusaha melupakan lukisan itu sejenak.
Mataku ingin mencari pelipur lara di bawah air jernih yang mengalir dari keran.
Setelah membasuh wajahku dengan puas, kugapai keberanian untuk menghadapi pandangan itu sekali lagi.
Lukisan yang seharusnya menggambarkan wajah sang wanita tua, sekarang berubah menjadi bayanganku sendiri.
Malam ini, dalam kesendirian yang menusuk tulang, aku menyadari bahwa aku adalah lukisan hidup yang terkubur dalam bayang-bayang kematian.
Di dalam cermin itu, aku melihat kebenaran yang menyakitkan.
Bahwa secantik apapun rupa seseorang, pada akhirnya akan hancur ketika usia menghempaskan mereka ke dalam belantara tak berujung.
***
Masihkah kesombongan menyertai langkahmu?
Masihkah berbangga diri dengan rupamu yang lebih baik dari yang lain?
Sadarkah, bahwa dibalik wajah sempurna terdapat tengkorak yang sama?