Relokasi| Hanya kisahnya bukan mereka
Sebuah diffuser minyak essensial mengepul uap di udara. Adnan, laki-laki itu tersandar sembari mencekam kedua tangannya, dadanya hilir berdegub kilat, mencetus pening mengakar. Fokusnya tak berjalan lagi, kala terlukis tragedi 365 hari lalu.
Awang-awang beragasan di luar sana, sekedar percikan yang bisa Adnan lihat. Tak ada segelintir suara guntur yang merebak, akan tetapi kilatannya terlihat jelas dimata.
Bumantara gelita disusul angin menabrak lentera sadis, Adnan merengkuh napas dalam-berusaha siap untuk menyaksikan ulang tragedi hari itu.
"Hanya kisahnya. Bukan mereka yang mau saya lupakan."
•••
08.01.2029
Waktu bergerak pukul 07.15 pagi. Sinar matahari memantulkan cahaya di air laut, angin melantun lembut membawa lampion bersenandung. Susunan jalan terbuat dari papan ulin beberapa pasang kaki ikut berkeliaran di atasnya, acap kali motor melintas mengeluarkan bunyi yang khas.
Sebuah BMW-alias Becak Motor Wisata terparkir rapi di sisi jalan, dimana dari arah pelabuhan mereka mencarter untuk digiring ke lokasi tujuan.
Carter Villa Kapal. Poster komersial disangkut dipagar pembatas, di sana ter-tera jelas 'Selamat Berlibur! Nikmati perjalanan gratis anda dengan Villa Kapal.'
Adnan yang aslinya orang Kalimantan baru pertama kali mencoba benda semacam ini. Villa kapal dengan ukuran 7.5 meter berderet apik, bercat putih terukir hitam nama Relokasi. Dimana Villa Kapal dibagi menjadi dua tingkat. Dibagian bawah digunakan sebagai tempat mengemudi, dapur, dan di atas ditunggagi para wisatawan.
Ini ulang tahun ke 1 Villa Kapal dibangun di Bontang Kuala. Dan Adnan benar-benar tak menyiakan momen ini. Dia berburu karcis gratis, dan berhasil. Jadilah dia membawa dua tebenggan.
Dibalik tubuhnya ada Juanda yang menata barang bawaan, sementara Harsa sudah mengabdikan momen dengan kamera miliknya.
Waktu terus berlangsung, tepat 07.30 mereka menanjak ke atas kapal. Air ayun bergelombang kecil siap memanggul Adnan dan teman-temannya menikmati Villa Kapal yang iklannya sudah di pasang dimana-mana.
Dengan posisi bersilah di tengah beratapkan genteng, kapal melesat lembut menciptakan gelombang kecil di belakangnya. Harsa tampak sibuk memvideo sekeliling. Tersusun dari rumah panggung, tempat-tempat yang menjual semacam jajanan khas bontang Kuala. Ada rumput laut, terasi udang, ikan asin, cumi kering, sampai ke makanan paling khasnya terhirup. Gami bawis yang tiba-tiba membuat Adnan lapar.
Cafe Anjungan terpandang di sisi kiri berhasil menepati lokasi paling apas di waktu senja. Di bagian kanan didapati lapangan yag tersusun kayu ulin, sebuah podium kuning berdiri sebagai tempat pelaksanaan pesta laut, cafe-cafe berderet ramai, bahkan larian kaki anak-anak terdengar
Byurr!!!
Sebuah bola kaki tercebur dengan lancarnya anak-anak itu meloncat mengambil. Berenang dengan gesit yang terlihat menakjubkan dipenglihatan mereka.
Bontang Kuala, adalah desa di atas laut berletakan Kalimantan Timur, Kota Bontang. Tempat para nelayan tinggal, tempat mereka berbaur indah dengan alam.
Banyak yang melihat mereka berlayar, bahkan tak sesekali Harsa di sisi kanan melambaikan tangan sok ngartis. Bagi mereka tak ada waktu untuk bercakap-cakap. Pemandangan elok ini terlalu sulit untuk di alihkan.
Pelan-pelan rumah panggung Bontang Kuala mengecil, Villa Kapal menjauh dari pemukiman, walau tak bergitu jauh masih bisa mereka lihat keaktifan penduduk.
Villa Kapal mulai berehat, mesin kapal di matikan. Juanda bergerak gesit ke arah luar. Kami menyebutnya teras kapal, karena tidak ada atap di bagian sana, dengan senangnya Juanda mengumpan pancing. Memancing dengan topeng di sekujur tubuhnya.
Adnan tercekik lucu, Harsa memperolok gaya Juanda dengan wajah bertopeng pelindung matahari, yang kalau kata orang Bontang adalah pupur dingin.
"Aku nak umpat mancing lah. Ju, dimana kau taro itu pancingan?" Adnan bersuara, ikut mendekati pergerakan Harsa dengan kameranya.
"Di belakang ku taro." Juanda menoleh menunjuk dengan tangannya. Adnan pun ke kabin belakang, menarik pancingan yang terlihat menyelip. Tubuhnya pun kembali mendekati kedua temannya yang sudah berbincang-bincang ringan.
"Bertahun-tahun aku merantau Sura, Bontang Kuala udah banyak berubah ya." Adnan mulai menimpali, Harsa di belakangnya ikut mengangguk setuju. Dirinya juga anak rantau, bedanya di pulau Sumatera.
"Iyalah pok, liat aja di ujung sana! Udah ada Villa, ke arah Cafe Kapal juga ada Villa Mulya dibangun." Mata Adnan tiba-tiba kagum mendengarnya. Terlampau jauh sudah Adnan tertinggal, sekarang Bontang Kuala sudah berubah. Jauh lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya.
Berjam-jam mereka bercakap ringan sampai Juanda dan Adnan banyak memperoleh ikan. Mereka sempat menikmati gami bawis yang di masak di lantai bawah. Dan sekarang waktu sudah menepati jam 21.28.
Adnan bangun dari tidurnya, matanya mengejap melihat Juanda dan Harsa masih terlena. Diliriknya buritan bawah, ada awak kapal-Pak Hasan yang tengah merokok menghembus mengudara.
Adnan berpaling ke ujung sana kampung Bontang Kuala bersinar hidup, samar-samar nyanyian karaoke merebak sampai sini dibawa angin malam. Ombak bergerak di balik awan malam membuat kapal bergeser pelan-pelan.
Lega sekali sampai Adnan dan Pak Hasan tidak menyadari bahwa hari itu hujan turun dengan keracak. Ombak masih membawa Kapal berbeda dari keadaan awalnya. Sampai Juanda dan juga Harsa tercegak spontan.
"Ada apa?" Suara genteng terhembus angin terbetik kencang. Bahkan telingan Adnan tak lagi mendapati alunan karaoke di ujung sana. Suara hujan menyamarkan semuanya.
Pak Hasa berjalan cepat ke atas, mendatangi ketiganya. "Gelombang pasang Mas. Angin datang bawa hujan. Bismillah jak kita balik."
"Pak Hasan, saya bantu!" Adnan melangkah ke buritan, melekati kemudi yang di bawa Pak Hasan. Senyampang di atas sana Harsa menjamah kepalanya yang tiba-tiba pening, terlalu cepat dia menangkil situasi ini selepas bangun dari tidurnya.
"Kenapa-" Belum sempat Juanda bersua, tiba-tiba saja kapal sudah buncang ke kiri kanan. Arus ombak terlihat menendang bagian sisi kapal, membawa percikan membasahi lanti. Maraknya guntur terdengar di ujung sana, Juanda mencekam papan penyangga.
"Turun kalian ke bawah, tapi pelan-pelan jak turunnya!" Samar-samar teriakan Pak Hasan terdengar, Harsa yang belum tuntas apapun terpelanting ke kanan menarik pengampu kecil. Juanda ikut berpindah posisi, berusaha merengkuh tangan Harsa.
"Jangan kalian terlalu ke kanan, bagi posisi jangan ke kanan semua!!!" Adnan beserta Pak Hasan panik berteriak saat kapal terasa bener-bener oleng. Juanda memperkuat pegangan tangan Harsa yang berhasil dia capai, mengerakkan kakinya ke posisi kanan. Berusaha untuk tidak melepas tautan mereka.
"Pegang tangan kuat-kuat, Har!!" Harsa menjerit takut. Dia bisa melihat jelas disampingnya ombak terus menabrak kapal. Namun lagi-lagi guntur mengerutu ganas. Ombak mendepak kencang, membawa percikan air yang besar, dan secepat mata mengedip. Tangan Harsa terlepas.
Ceburan air merebak pecah. Juanda membulatkan matanya, tanpa pikiran bersih dia ikut melompat.
"Juanda!!! Harsa!!!" Adnan menatap di balik kaca kemudi, langkah kakinya sudah siap keluar, namun tiba-tiba ombak menerjang. Tak henti-henti menendang kapal yang sudah oleng berantakan.
"Pegang tangan ku!!!" Juanda berusaha berenang, meraih Harsa yang tergiring gelombang. Tepat saat keduanya nyaris mendekat dan suara Adnan yang mengudara, ombak besar kali ini benar-benar datang. Menghantam sadis Villa Kapal yang semakin menjauh. Membawa Adnan dan Pak Hasan menjauh dari Juanda dan juga Harsa.
Mata Adnan terbuka akas. Tak sanggup mengingat tragedi menyakitkan dalam hidupnya. Bontang Kuala adalah istana Kalimantan Timur, dia punya ciri khasnya sendiri, namun untuk kejadian Relokasi itu kesalahan Alam. Alam tak bisa ditebak, jika memang harus terjadi maka terjadi.
Adnan meneteskan air matanya. Rintik hujan di depan sana masih tercetak, sebuah bantal di balik kepala berpindah dipangkuan, dia mencekamnya begitu kuat.
"Saya bakal pulang ke sana, Dok. Tapi tanpa kenangan apapun." Dengan suara serak sehabis menangis Adnan bersuara.
"Kenapa?" Psikiater di sisi kanan bertanya. Adnan tersenyum kecil, menarik atensi ke luar sana, menyaksikan kilatan yang masih melangit sengit.
"Di sana saya lahir. Di Bontang, keluarga saya tinggal."