Terkadang waktu berjalan begitu lambat tapi juga cepat, aku yg terkadang masih dalam belenggu waktu yg tak terlihat sangat mencekam seperti ada sesuatu yg sesak, tak bisa diceritakan oleh siapapun dan hanya bisa berusaha menutupi dengan senyuman hangat dan berkata "aku baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan aku!" tapi kenyataannya justru berbanding terbalik dari apa yg diucapkannya.
###
Aku berlari terus terengah-engah, sampai di depan sungai omono river, di Jepang. Aku mempererat kan genggaman tangan di jaket dan menggertakkan gigi yg saling bertumpu lalu berteriak sekencang mungkin di sungai itu karna memang suasana sedang sepi dimalam hari, hanya ada beberapa lampu penerangan perkotaan yg tampak bersinar terlihat dari sungai itu yg berada dipedesaan.
Aku berteriak dengan derai air mata yg sudah tumpah, tak bisa kuluapkan jika berada ditengah keramaian jadi aku hanya ingin, ingin meluapkan semuanya, semuanya yg selama ini terjadi denganku, yg selama ini kupendam.
"Aaahhhh!"
"Hosh... Hoshh... Aaaahhhh! Sialan, brengsek, semua orang brengsek, sama saja!"
Teriakan ku yg membuatku sedikit tenang biarpun air mata masih mengalir deras dipipiku yg manis.
"Hikss.. Hikss.. Dunia... Dunia memang tidak adil dan manusia adalah manusia sampah yg berhati munafik kejam!" Terisak-isaknya aku menangis sambil menundukkan kepala. Derai air mata yg tak kunjung berhenti itu menjadi saksi betapa kejamnya dunia. Aku tau aku harus kuat, tapi disaat aku yg lemah ini ingin berusaha untuk menahan semuanya dan tidak ada sama sekali orang yg mau jadi sandaran ku seakan-akan mereka menghilang disaat aku butuh. Ironis sekali dunia dan hidupku.
###
Disaat aku melihat bintang-bintang yg bersinar di langit disitulah aku berpikir apakah aku dapat meraih bintang itu? Dan bisa menjadikan diriku bersinar apa yg aku mau tapi nyatanya aku tetap tidak bisa menggapainya, aku melihat jembatan beton dan langsung menghampirinya.
Brakkk...
Tas yg kubawa dijatuhkan ketanah, dan aku mulai memanjat dinding jembatan beton itu, saat sampai diatas langit aku menatap lautan yg bak cermin itu dengan tatapan menerawang, angin semilir dimalam hari juga menerbangkan sebagian rok ku dan mengibaskan rambut panjangku ku kebelakang.
Angin malam, yahh... aku mulai berpikir apa yg terjadi saat aku terjatuh? apa aku akan diselamatkan oleh seseorang yg 'peduli' padaku atau berakhir lepas dari belenggu waktu yg menyesakkanku. Aku mengangkat kedua tangan yg saling mengepal didepan dada dan membiarkan diriku terjatuh oleh semilir angin kencang.
Perlahan juga tubuhku mulai miring dan aku menutup mataku saat terjatuh di sungai yg dalam, juga berharap dunia yg kejam ini bisa berakhir secepat mungkin.
"Hikss... Selamat tinggal!" ucapku lirih yg merupakan kata-kata terakhir keluar dari mulutku.
Byurrr..... Zleebbb...
Semakin jauh mungkin semakin baik agar tidak ada sama sekali orang yg melihatku, pikirku. Aku yg mulai terbawa arus sungai dalam, beban membuatku makin terdalam hingga berada didasar sungai dalam yg gelap sama sekali tak ada penerangan disana.
"Selamat... Selamat tinggal dunia kejam, selamat tinggal semua orang yg membenciku, jika kau ingin aku tiada, apa kau akan merasa sekarang senang saat aku tiada? Yahh pasti senang, karna aku orang bodoh yg memang pantas untuk dihina dan dibenci, terus benci aku... Aku tidak masalah, yg paling penting aku sudah merasa tenang sekarang setelah aku mati," batinku.
"Jika saja boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak sama sekali dilahirkan untuk yg kedua kalinya," lanjutnya dalam hati sendu.
Tapi disaat itu pula seseorang pria tak diundang malah menarik tanganku yg sudah berada didasar sungai yg seperti laut dalam. Dia menarik sekaligus merangkul pinggangku dan langsung membawanya kedasar daratan.
"Apa yg kau lakukan? Kau gila ya, membunuh dirimu sendiri dihadapan cobaan Tuhan, kau hanyalah akan dianggap pengecut dimata Tuhan jika kau lari dari tugas," batinnya khawatir.
Setelah sampai atas daratan tepatnya dibawah jembatan atas rumput, dia mulai memberiku nafas buatan yg membuatku bangun.
Aku terbangun, dan terkejut melihat seorang pria berambut putih perak dengan kedua bola mata biru muda yg tampak bersinar seperti bintang, jelas seperti bintang, seperti sebuah bintang yg ingin kugapai. Tapi aku merasa terheran, mengapa dia mau menolongku tadi? Dan kenapa dia ada disini?
"Uhukk... Uhukk.. K-kau siapa? Kenapa kau menyelamtkanku, biarkan aku sendiri, aku ingin-- " terpotong oleh jarak telunjuk dari pria itu. Dia menatapku intens dan malah balik bertanya.
"Seharusnya aku yg mengatakan, kenapa kau menceburkan dirimu di sungai dingin pada malam hari? kau akan mati beku jika terjatuh disana!"
Melihat seseorang yg tidak kukenal menatapku dengan tatapan khawatir, jelas aku seolah malah bersalah padahal aku tidak mengenalnya!
Aku malah menangis di depannya, sedikit demi sedikit, air mataku mulai tumpah hingga membuatku menunduk dan mendekap kedua tangan pada wajahku.
"Hikss... Hikss... Aakkhhh... Kenapa? Kenapa kau menyelamatkanku? Aku tidak butuh diselamatkan?!"
"Hikss... Dunia memang kejam dan tidak pernah memihak ku! Aku.. Hekkss.. Aakkhhh..." Teriakku yg tak terbendung dan tak peduli sudah berapa banyak air mata yg ku keluarkan, sementara pria itu hanya menghela nafas dan langsung mendekapkanku ke dadanya, seolah-oleh ingin menjadikannya sebagai sandaran sementara.
Dan aku terkejut dengan air mata yg tak kunjung berhenti, aku terkejut melihat tubuhnya yg bersinar.
"Tidak apa, ceritakan semuanya padaku, aku akan mendengarkan ceritamu, semuanya kau tahu. Jika tidak sanggup mungkin setengahnya saja sudah cukup," ucapnya yg penuh penuh kelembutan dan senyum tulus terukir dibibirnya membuat dirinya semakin bersinar, entah karna wajahnya yg tampan atau karna hal lain?
"Ka-kau, bersinar? apa yg terjadi pada dirimu sendiri?"
Pria itu hanya tersenyum melihatku yg terheran kebingungan.
"Oops... apa aku ketahuan?"
Aku menggelengkan kepala.
"Tidak, cepat kasih tau, kau ini apa?!"
Pria itu mulai membuka suaranya.
"Aku ini bintang yg ingin kau gapai saat tadi, tau!" senyumnya.
"Hahhh?? Bintang apa maksudmu? sejak kapan?"
Pria itu mulai tertawa kecil dan mendorong dahiku dengan satu jarinya.
"Kau lupa, setiap malam aku selalu melihatmu dari atas, kau terduduk melamun diatas jembatan entah mikirin apa dan saat kau sengaja menceburkan dirimu ke sungai itu , aku merubah diriku menjadi manusia sekarang untuk menolongmu," ujarnya jelas.
"Aku hanya tidak ingin melihat gadis cantik didepanku ini, mati. Aku akan menyesal jika tidak menolongmu tadi," lanjutnya dengan raut wajah yg menyorot jelas ada kekhawatiran dari nya. Aku yg mendengarnya langsung memerah karna tersipu, jadi aku cuma bisa menyembunyikan wajahku dengan mengalihkan pandanganku pada objek lain.
"Ohh, tapi kenapa kau selalu melihatku dari atas?"
"Melihat dari atas, duhh.. Kok bisa sih?!" batinnya menahan malu.
Mendengar pertanyaanku pria itu hanya tersenyum dan langsung mengacak-acak rambut ku yg sudah sedikit mengering akibat basah tadi.
"Itu rahasia, Ehh, aku lupa perkenalan ku! Namaku Minami no Hoshi, karna aku merupakan bintang selatan di alam langit. kau bisa panggil aku minami-san!" sahutnya berbinar.
"Sekarang namamu?"
Aku mengangguk pelan dan langsung memperkenalkan diri.
"Namaku Hana Kaguya, mungkin panggil Hana tidak keberatan, Ya Minami-san," senyumku.
"Umm, Tentu saja, Hana-chan!"
Pria itu memanggilku dengan sebutan 'chan' membuatku tersipu merah padam, selama ini tidak ada sama sekali orang yg mau memanggilku dengan nama depan meraka hanya memanggilku dengan sebutan marga ku saja, jadi dia adalah orang pertama yg menyebut namaku dengan nama depan.
Pria itu mendelik dan langsung ke topik utama.
"Nah, Hana-chan! sekarang apa kau bisa menceritakan apa yg terjadi padamu selama ini, yg dapat membuatmu terpuruk dalam masalah? Dan tenang saja aku akan mendengar semuanya biarpun aku tidak dapat membantu masalahmu," sahutnya tersenyum.
"Jangan biarkan batu yg ada didalam terus memenuhi pikiranmu, berat kau tidak akan sanggup, keluarkanlah jangan menahan batu itu, keluarkan supaya batu itu menghilang yahh biarpun tak akan sepenuhnya menghilang yg terpenting itu dapat membuatmu tenang dan tidak terganggu," sorot mata yg jelas.
Mendengarnya, aku hanya bisa menganggukan kecil kepalaku.
"Ap-apa kau yakin, kau akan mendengarkanku?"
Pria itu tersenyum tulus supaya dia mau sepenuhnya percaya padanya.
"Ya, ceritakanlah jika kau mau, aku tidak memaksamu, untuk sekarang mungkin aku masih memiliki banyak waktu sebelum aku balik ke langit dan merubah wujudku."
Sekali lagi mendengar perkataanku membuatku khawatir dan langsung menariknya supaya tidak pergi.
"A-aku akan menceritakan semuanya, semuanya! Aku percaya padamu! jangan pergi! " Teriakan itu cukup membuatnya tergerak dan langsung mengacak-acak rambut ku sekali lagi.
"Siapa yg pergi, nanti aku akan pergi setelah membuatmu tenang dan tidak berpikir untuk mengakhiri hidupmu lagi,"
Aku merasa tenang mendengarkannya, baru kali ini ada orang yg mau mendengarkan ku dan mau menjadi sandaran ku saat aku jatuh. Mendadak badanku tergerak dan langsung memeluknya dengan erat.
"Aku percaya padamu, Minami-san,"
Pria itu mempererat pelukanku sambil mengecupkan puncak kepalaku.
"Tenang saja, kau tidak perlu takut, jika dunia ini terlalu kejam untukmu berarti kau yg harus bertambah kuat lagi tapi jangan terlalu kuat, terkadang kau membutuhkan seseorang teman untuk mendorongmu dan mau mendengarkan keluh kesahmu."
Setelah itu kami mereggangkan pelukan dan aku mulai menceritakan semuanya, ya semuanya yg sudah memenuhi isi kepalaku sampai membuatku putus asa hingga depresi berat.
Benar saja ternyata menceritakan dan yakin terhadap seseorang yg mau mendengarkan ceritaku dapat membuatku cukup tenang hingga pikiran menakutkan itu mulai menghilang sedikit demi sedikit.