Impian masa depan
Bismillahirrahmanirrahim
Happy reading
Hai namaku Ara, aku bersekolah menengah pertama yang ada di buduran Sidoarjo.
Aku lahir di kota Sidoarjo pada tahun 2008,dan memiliki sahabat bernama Aira. Dia dan aku sudah bersahabat sejak kecil. Dia sama sepertiku lahir pada tahun 2008.
Aku anak kedua dari 3 bersaudara, keluarga kami sederhana bukan berarti miskin! Apapun yang aku turutin bisa terwujud dan bukan berarti juga aku anak manja! Ataupun orang tuaku yang memanjakanku.
Aku bersekolah seperti orang umumnya bertemu teman-teman yang baik,bertemu guru, pembelajaran, mendapat pr,dan mengerjakan pr begitupun seterusnya tetapi bagian kesukaan ku ialah saat pulang.
Ya! Aku bisa bertemu keluarga berkumpul lagi seolah-olah tidak pernah terpisah 1 detik pun! Aku mengganti baju sekolah dengan baju siang dan aku membantu ibu membereskan rumah dan dan menjadi babbysitter buat adik. Hehe,adikku berumur 2 tahun.
Walaupun dia membuatku kesal kadang menyenangkan aku tetap menyukai nya! Saat waktu luang terkadang aku main hp,mengerjakan pr yang guru berikan,membaca,menggambar,dan menata mapel untuk sekolah.
saat sudah selesai aku menunaikan sholat isya' dan meregangkan tanganku bersiap siap tidur.
Tidak butuh waktu lama aku melompat ke arah tempat tidur dan tertidur masuk ke dalam mimpi.
Pagi hari menjelang,aku bangun dan membantu beres² rumah bersama ibuku dan sarapan.
Setelah itu aku pun mandi dan mengganti bajuku dengan seragam melihat jam sudah mau menunjukkan 07.30 aku pun bergegas berangkat dan tidak lupa menyalimi tangan kedua orang tua setelah sampai aku bertemu dengan teman-teman dan guruku pelajaran dimulai dari mengaji, sholat Dhuha,dan pembelajaran.
Pada saat itu, guru masuk memberi salam dan memulai pelajaran. Beliau berdiri dan bertanya kepada kami para siswa
"Apa harapan dan cita-cita kalian dimasa depan?" Mendengar itu murid-murid masih terdiam memikirkan sedangkan aku, berdiri dan mengangkat tanganku dan menjawab.dengan perasaan bahagia
"saya ingin menjadi hafidz Qur'an 30 juz,saya ingin mengajar di TPQ,saya ingin masuk pondok pesantren,saya ingin menaik hajikan kedua orang tua saya,saya ingin bekerja secara halal dan tidak curang untuk membahagiakan kedua orang tua!" Aku pun berhenti sejenak dengan nafas yang terengah-engah.
Dan mengambil nafas sebanyak banyaknya setelah mendengar apa yang aku ucapkan semua siswa menertawaiku dengan terbahak-bahak.
"Pfft buahaha impian lu ketinggian #%@$!".
"Kalo punya impian jangan ketinggian entar jatuh nangis dek!"
Guruku yang melihat itupun menghela nafas.
"Kenapa harapan mu terlalu tinggi? Benar apa yang diucapkan temanku itu tadi, jika ketinggian nanti jatuh sakit".
Mendengar itu aku melihat ke arah guruku dan teman-teman ku dengan tersenyum.
"Saya tahu kok kata pepatah itu, kalau punya impian jangan terlalu tinggi kalau jatuh sakit. Tetapi walaupun cita-cita saya terlalu tinggi kalau saya jatuh iya sakit tapi saya tidak akan menyerah dan terus bangkit tidak ada kata menyerah dalam hidup ini.
Walaupun jika menyerah secara berulang-ulang insya Allah saya akan tetap bertahan dan tidak menyerah karena saya yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Ada Allah, saya senantiasa berdoa kepada Allah dalam setiap sholat untuk mendapatkan petunjuk karena aku pernah skenario Allah tidak akan pernah gagal dan akan berhasil skenario Allah jauh lebih baik daripada skenario yang buat tetapi untuk duniawi.
Bukan untuk akhirat lagipula apa yang akan kita bawa saat meninggal harta?,rumah?,jabatan?,dan lain lain sebagainya?.
Tidak yang kita bawa cuma satu yaitu amal kebaikan kita saat di dunia karena saya ingin sukses di akhirat tapi kalau bonus sukses juga di Dunia saya akan terima apa adanya insya Allah itu akan berhasil.
Start your day bismillah,finish your day Alhamdulillah" setelah mengatakan itu semua siswa termasuk guru terdiam tidak lama setelah itu terdengar suara tepukan tangan yang meriah aku bersyukur aku bisa menyebar dakwah tidak sampai disitu,anak perempuan yang sedari tadi diam dari bangku pun berdiri dan tepat di depanku.
"Ck, emang kau akan mampu? Emang sanggup? Kalo iya buktikan kalau bisa Ara!" Perempuan itu mengatakan itu dengan raut wajah benci dan betapa terkejutnya aku mendengar kata-kata nya dan yang mengataiku itu adalah orang yang sudah bersama ku sejak kecil,suka duka selalu bersama,dan tertawa riang saat melakukan yang kita sukai, sekarang malah tidak mempercayaiku dan perempuan itu adalah sahabatku sendiri Aira.
Bagaikan ditusuk pisau dari belakang seketika aku menangis melihat dia tidak mempercayai impian apa yang kita janjikan dulu cuma bualan semata?
"Kita janji oke? Kita akan memiliki cita² yang setinggi langit dan bisa mewujudkannya bersama!" Kata² sejak kecil yang kami bicarakan saat sudah besar nanti kini berputar di kepala Setelah itu aku pun menyeka air mataku dengan mantap dan berkata.
"Ayo kita buktikan!"
Mendengar itu kami saling pandang seperti ada sengatan listrik aku harap dia tidak lupa apa yang pernah ia katakan dulu.
20 tahun kemudian
Seorang perempuan cantik yang menunduk saat ada laki-laki yang bukan mahram itu memakai sebuah cadar berwarna hitam dan baju gamis yang berwarna merah pekat walaupun kelihatan sederhana ia tidak peduli ia hanya ingin terlihat sederhana Dimata sang pencipta nya yaitu Allah.
Berkat ketakwaannya kepada sang pencipta dia Sudah menikah dengan seorang Gus dan beruntungnya Gus itu adalah pemilik pondok pesantren yang sempat Ara tempat mengajar agama Islam lebih dalam.
Dan kini ia menjadi hafidz Qur'an 30 juz seperti yang ia inginkan dan dia membangun pondok pesantren nya sendiri yang bernama pondok pesantren darul Istiqomah.
Bahkan, dia sudah menaikkan hajikan kedua orang tuanya ke tanah suci Arab dan mengajar di TPQ.
Saat dia tidak sengaja melihat ada sahabat nya dulu yang pernah mengajaknya taruhan pun dia menghampirinya.
"Mau kemana kamu? Ayo pulang bentar lagi mau Maghrib sholat berjamaah habis tadarus Alquran bareng yuk"
"Ih bentar atuh mas Abi, mataku tidak sengaja melihat temanku yang kuanggap saudara sendiri."
"Yaudah jangan lama-lama ya"
"Iya, yaudah assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku pun berlari meninggalkan suamiku sendirian. Saat aku sampai tepat di depannya dia menatap ku seperti orang baru kenal.
"Maaf ukhti siapa ya?"
"Ini aku Ara,Masya Allah Aira kamu cantik sekali memakai gamis biru laut dengan kerudung yang menutupi aurat rambutmu dan dadamu kamu hebat GK ngikutin trend" aku ingin sekali memeluk dia walaupun dia pernah menyakiti hatiku pun aku tetap memaafkan dia Allah saja maha pemaaf masa aku ciptaannya tidak bisa memaafkan? Kan malu jadi hambanya Allah dan umatnya nabi Muhammad hehe batinku.
Melihat itu pun dia ragu dan sedikit menjauhiku dengan mata yang seakan ingin menangis.
"Ara..maafin aku hiks, aku lupa kalau kita pernah janji bersama malah dulu aku menyakiti dengan perkataan sendiri maafkan aku hiks,hiks kita masih sahabat kan?"
Melihat itupun aku aku aku merasa senang akhirnya dia ingat apa yang pernah kita janjikan dulu melihat itupun aku memeluknya tanpa sadar aku menangis.
"Iya tidak apa-apa kok,sebelum kamu bisa minta maaf aku sudah memaafkan mu,kita tetap sahabat kan?" Aku melepaskan pelukan ku dan menatap nya lekat lekat menunggu Jawaban darinya.
"Hmm kita tetap sahabat Tan aku janji tidak akan begitu lagi" mendengar itu dia pun menyodorkan jari kelingking ke arahku.
"Janji?"
"Umm, janji! Menjadi sahabat Dunia dan akhirat!"
Terimakasih ya Allah berkat-Mu aku bisa bertemu sahabatku dan dia sudah minta maaf kepadaku
Maaf cerpen saya ambaradul🙇