*Pesan Bapak Untukku*
Sang surya mulai menampakkan wujud sosoknya. Mulai merambat ke langit-langit memancarkan sinarnya yang menyilaukan dan seperti menusuk-nusuk mata. Sinarnya merambat kedalam pelosok sisi dinding kayu yang, bolong. Sedikit. Ya, Hehe.
Mataku mengerjap-ngerjap.
Jam berapa sudah?. Pandanganku masih merasa lelah. Aku berkali-kali menguap, lalu menggosok mata. Benar-benar hebat rasa kantukku sekarang.
Aku turun dari kasur. Sebenarnya, ini hanya sebuah dipan yang diberi alas. Hey, ada apa dengan kasurku ?. Apa semalam, sebelum aku tidur ada yang menempelkan lem tak kasat mata? Punggungku jadi sangat berat untuk bangkit.
Sembari meregangkan ototku, aku berjalan menuju teras rumah. Dimana Bapak?. Bukankah hari ini Bapak libur kerja?.
"Eh, le, wes tangi?. Kok lemes banget."
("Eh, nak, sudah bangun?. Kok lemas sekali")
Itu suara Bapak. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Malas sekali mulut ini untuk mengeluarkan suara.
Bapak merupakan orang Jawa yang merantau, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di kota ini. Hobinya mencampur adukkan bahasa, antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Syukurlah, aku mengerti.
Hei, aku Candra. Dani Candra. Aku hanyalah anak biasa yang tinggal di provinsi Kalimantan Timur. Bersama Bapak dan tanpa ibu Di salah satu kota terkaya di tanah air. Bapak pernah bilang kepadaku, "Nak, kamu harus bersyukur bisa menjadi penduduk Kota Bontang." Aku tidak tahu maksud Bapak. Apa yang perlu dibanggakan dari kota yang kecil ini?. Tapi, Bapak hanya tersenyum dan bilang kalau aku akan tahu nanti. Akan ada saatnya aku kagum.
Aku membilas wajahku dengan air yang sudah Bapak siapkan.
"Can, nanti sore, ayuk ikut Bapak mancing."
"Mancing kemana Pak?,"
"Di lautlah. Kamu ini." Bapak terkekeh.
Aku sedikit terkejut. Tumben Bapak mengajakku mancing. Pasalnya, jarang untuk Bapak mengajakku mancing, apalagi di Laut. Terakhir kalipun waktu kelas tiga, masih sekolah dasar hanya di sungai-sungai kecil dekat rumah teman Bapak, itupun aku tercebur karena terpeleset. Ditambah lagi, bukankah hari ini Bapak libur kerja?.
Aku senang Bapak mau mengajakku.
Bapak bukan seseorang pendendam yang suka menyendiri. Bapak sering mengajak warga untuk membantunya memancing di laut.
Kami bukanlah orang berada. Bahkan, terkesan kurang mampu. Tapi Bapak teguh dengan prinsipnya. Bahwa, apa yang Tuhan balaskan untuk hambanya lebih baik dari apa yang telah hambanya lakukan.
Kami tinggal di Bontang Kuala. Tempatnya para nelayan tinggal (tidak juga). Memancing sudah menjadi mata pencaharian warga di sini. Banyak ikan yang sudah kami dapatkan. Ikan bawis contohnya. Ikan bawis khas Bontang menjadi ikan kegemaran masyarakat, apalagi untuk turis yang berkunjung. Pastilah bertanya tentang Ikan Bawis ini.
"Le!, minta tolong, kui, peralatan mancingnya disiapkan dulu."
("Nak!, minta tolong, itu, peralatan mancingnya disiapkan dulu.")
"Iya, Pak!."
Aku berlari, menyiapkan segala apa yang diperlukan. Aku cukup bersemangat. Bapak adalah pemancing handal. Tidak mungkin jika anaknya tidak bisa memancing. Kalo tidak dibuktikan, tidak akan terbukti. Ini bakat turun temurun.
Dengan cekatan aku memasukkan segala alat yang diperlukan. Meski aku tidak pernah lagi ikut memancing, Bapak selalu menyuruhku untuk menyiapkan alat pancingan sebagai gantinya.
Sore ini, aku akan buktikan!. Aku bukan laki-laki yang kesibukannya hanya menjadi penjaga rumah. Aku akan menunjukkan bahwa aku juga berbakat menjadi seorang nelayan.
***
Sudah pukul bada ashar. Aku sudah bersiap-siap dengan kaus polos dan celana pendekku. Bapak memberiku sebuah pancingan sebagai hadiah apresiasi karena semangatku.
Mesin perahu mulai dinyalakan. Bapak mengecek semuanya. Seluruh peralatan yang diperlukan, bahan bakar cadangan, dan mesin yang bekerja dengan baik.
"Can!, Ayo! Sudah siap.",Bapak meneriakiku yang masih berada di dalam.
"Iya, Pak! Sebentar!.".
Aku mengecek segalanya yang akan kubawa. Aku juga membawa kamera. Bapak memiliki kamera, sudah lama tidak digunakan. Aku bisa memakainya untuk memotret matahari yang terbenam nanti. Pasti indah. Aku mengeceknya. Ternyata masih menyala dengan baik. Setelah semuanya siap, aku segera mengenakan ranselku.
Aku melompat ke perahu. Dan Bapak mulai menyalakan mesin perahu yang sempat dimatikan sebentar dan segera menjalankan perahu. Suara mesin perahu yang menyala mulai terdengar, semakin lama semakin memekakkan telinga. Kemudian, perahu mulai bergerak secara perlahan. Meninggalkan posisi semula dan beranjak kedepan.
Aku jadi sedikit lebih gugup.
"Pak, Candra-kan belum terlalu lancar memancing. Yang kemaren saja Candra lebih banyak mainan air daripada mancing. Ujung-ujungnya malah kecebur."
Jujur saja, aku belum benar-benar fasih dalam menggunakan alat pancing. Mungkin, ini juga salah satu faktor mengapa aku gugup. Bagaimana jika saja bukan ikannya yang terpancing, yang ada aku yang dipancing oleh makhluk di bawah sana. Menyeramkan.
Bapak menenangkanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya karena aku belum terbiasa. Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya. Kita perlu belajar. Mempelajari sesuatu meski itu tidak spesial, bisa jadi hal itulah yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Semua perlu belajar, dan kebiasaan. Kita bisa karena kita terbiasa.
Aku hanya mengangguk pasrah. Aku sedari tadi hanya memegang erat-erat alat pancing, bahkan nyaris kupeluk.
Setalahnya kami melawati beberapa menit perjalanan.
Kulihat Bapak mematikan mesin perahu. Itu tandanya kita sudah sampai.
Kami menyiapkan segalanya. Mulai dari jaring yang dikeluarkan, hingga benang pancing yang dibetulkan.
Hawa sore ini lebih sejuk. Bapak menyuruhku membawa jaket, berjaga-jaga jika kami pulang terlalu malam.
Angin berhembus pelan, suaranya lembut menyapu telinga. Langit-langit mulai menjingga, sang surya mulai menenggelamkan sosoknya ke bawah laut. Aku segera mengambil kamera. Menyalakannya dan memotretnya. Ini sungguh indah. Sinarnya mampu menyirami lautan yang biru ini menjadi oranye.
"Oy! Kamu ikut bantu Bapak mancing atau hanya memotret matahari saja?,", Bapak meneriakiku.
Aku hanya nyengir. Kuletakkan kamera ke dalam tas. Lalu segera tanganku meraih alat pancing. Menyusul ke seberang sisi Bapak. Tenang, badanku lumayan ringan. Seharusnya perahu tidak oleng karena keberatan di satu sisi.
Kulihat Bapak. Lirikan matanya sangat tajam, fokus sekali, tangannya cekatan dalam pergerakan yang dihasilkan alat pancingan. Bapak memang profesional. Sekejap, Bapak berhasil mendapatkan sebuah ikan. Tidak tahu ikan apa, aku tidak pandai. Sepertinya Ikan Baronang.
"Cobalah, Can!." Bapak menyemangatiku.
Aku mengangguk, mulai menggunakan alat pancingku. Aku menyerahkan seluruh ingatanku, saat Bapak mengajariku memegang alat pancing, hingga memasang umpan. Ya, aku masih bisa. Lagipun ini masih titik tersimpel dunia nelayan. Syukurlah. Bapak jadi tidak perlu repot-repot mengurus alat pancingku.
Aku mulai mencoba.
Sedetik, sepuluh detik. Berapa detik sudah ini. Aku mulai bosan. Dimana ikan-ikan yang jumlahnya ratusan itu?. Semuanya seakan lenyap dalam sesaat setelah umpanku terjun. Pelipisku mulai berkeringat. Ayolah. Aku tahu aku tidak pandai memancing, tapi apa maksudnya ini?. Laut seperti mencemoohku, tidak ikhlas jika aku yang memancing ikan-ikan miliknya.
Secara tiba-tiba ada pergerakan. Aku terkejut. Dengan segera aku mencoba memutar roda pancing. Aduh, berat betul. Berjuanglah! Aku pasti bisa.
Ah!.
Tidak, ikannya, terlepas.
Tidak aku tidak akan menyerah. Kuambil umpan lain, dan kukaitkan di kail alat pancing. Segera kulakukan hal yang sama. Berulang kali. Terus menerus. Hingga tak terasa, sudah entah berapa lama aku melakukan hal yang sama. Puluhan kali aku melakukan hal yang sama.
Waktu mulai berganti. Tinta malam mulai menyelimuti langit-langit. Kami berada di bawah gulitanya malam. Namun, purnama tampak bersinar dengar indah, sangat terang, cahayanya menenangkan hati. Bintang-bintang bertaburan, tidak mau kalah memancarkan kerlap-kerlip sinarnya. Alam tampak sangat tenang. Begitupun laut, hidup dengan baik.
Badanku basah oleh keringat. Ekspresi wajahku terukir jelas bahwa aku kecewa. Penantianku, persekian waktu lamanya, dan ikan-ikan itu berhasil membawa kabur semua umpanku. Aku sudah berjuang, dan hasilnya malah nihil. Aku merengut saja sembari mengambil umpan baru. Kesabaran benar-benar teruji. Aku mulai bosan. Hilang sudah semangatku yang menggebu-gebu tadi.
Bapak menghampiriku, "Tidak apa, Can. Itu hal yang normal. Semua pemancing pasti merasakan hal yang sama, apalagi yang baru-baru kaya kamu."
Aku melirik Bapak, "Memang Bapak juga seperti ini sebelumnya, Pak?.
"Yo pasti to! Semua pemancing merasakan hal yang sama. Udah, udah jangan merengut terus. Ga cape ta?." Senyum simpul dilontarkan dari wajah Bapak.
Bapak memang sedang menghiburku, tapi rasanya aku masih tak terima, kecewa. Bapak melirikku, menepuk pundakku, menyuruhku untuk makan. Aku mengangguk pasrah, entah sampai kapan urusan memancing ini selesai. Tidak ada gunanya juga jika aku marah. Memang bukan nasib saja.
Aku duduk di sebelah Bapak. Membuka rantang persediaan bekal. Wah, Gammi Bawis.
"Itu tadi dititipkan sama Mbok Tari. Kamu suka Gammi Bawiskan?."
Aku tersenyum sebagai balasan. Aku memang suka Gammi Bawis, suka sekali. Menggunakan rantang titipan Mbok Tari, ada beberapa buah Ikan Bawis yang dimasak Gammi. Pertama kali Bapak memperkenalkanku dengan Gammi Bawis ketika Bapak mengajakku ke sebuah kafe sebagai hadiah ulang tahunku. Bapak juga sering membawa Ikan Bawis, tapi percuma toh, aku bukan ahlinya memasak Gammi Bawis.
Seolah lupa dengan rasa kesal nan jengkel yang menggeliat di benakku, yang sedari tadi alasan mengapa aku merengut saja tak henti-henti. Sirna semua. Lelahku seperti terbalaskan dengan sesuap Gammi ini. Rasanya masih sama, masih enak.
"Pak, dengar-dengar Gammi Bawis ini makanan khas Bontang, ya?"
"Loh, iya! Masa kamu baru tahu!. Makanan ini termasuk kebanggaan warga Kota Bontang."
"Kok bisa Pak? Perasaan banyak yang masak sambal di luar daerah Kota Bontang."
"Yang ini berbeda, le. Ikan Bawis itu khas Bontang, mana ada di daerah lain. Cuman kita yang punya, warga Bontang!.", Bapak sudah seperti juru kampanye, berbicara dengan semangat dan lantangnya.
Aku mengunyah sembari mendengarkan ocehan Bapak yang tanpa henti, membanggakan Ikan Bawis khas Bontang ini.
"Memangnya selain Ikan Bawis, Bontang punya apa pak?."
"Buanyak, kamu mau yang bagaimana?. Kalo sumber daya alam, jelas Bontang kaya. Kamu enggak tahu?. Bontang itu salah satu kota penghasil gas bumi terbesar di Tanah air. Bahkan, Bontang jadi salah satu kota terkaya loh!. Makanya, kita harus bangga. Karena Bontang bukan sembarang kota. Bontang sudah terkenal menghasilkan banyak jenis sumber daya alam. Apalagi pertambangan dan industri nya."
Aku menatap lamat Bapak. "Indonesia kaya ya, Pak. Kita beruntung lahir di Tanah air. Punya banyak kota yang menghasilkan sumber daya alam berlimpah, salah satunya Bontang. Indonesia beruntung.".
Aku menghabiskan sisa makanan yang tertinggal.
Bapak selama ini selalu menyuruhku harus bersyukur. Ketika aku kesal dengan Bontang yang sangat membosankan pikirku, Bapak justru senang tinggal di Bontang. Tenang dan asri katanya.
Aku mendongakkan kepalaku ke sang purnama yang bersinar. Melihat sekitar laut yang disirami oleh cahayanya. Deru ombak terdengar begitu tenang. Angin menghilir kesana-kemari, menari-nari, menemaniku dan Bapak.
Suatu hal. Kadang, memang terlihat biasa. Sangatlah biasa. Sampai-sampai kita meremehkan apa yang ada. Tidak sadar, bahwa benda itu berharga. Mungkinlah biasa jika kita yang melihat, tapi coba berikan benda itu kepada orang yang belum pernah melihatnya mereka pasti akan terkagum-kagum, mendamba-dambakan hal itu. Seolah benda itu adalah sebuah berlian spesial. Disaat kita membuangnya, merekalah yang memungutnya. Semuanya akan berharga, tergantung dimanakah dia diletakkan?. Tetapi sejatinya, berlian tetaplah berlian. Cahaya yang dipantulkan akan terus mengerlap, bahkan ketika kegelapan mengepung-nya. Hargailah, sebelum benda itu hilang. Bisa jadi benda itu yang membuat seseorang dihargai.
Aku membereskan semua rantang yang berserakan. Bapak memasukkan ikan-ikan hasil pancingan hari ini ke dalam box ikan. Setelah semuanya beres, aku merapikan alat pancing dan membantu Bapak menghitung ikan yang berhasil diperoleh.
Setelah semua selesai, Bapak mulai menyalakan mesin. Kamu akan segera pulang, meninggalkan ikan-ikan yang selamat di dasar laut sana.
Pada akhirnya, aku tidak berhasil mendapatkan satupun ikan yang kuwanti-wanti. Aku tidak membawa apapun pulang. Aku tidak membantu Bapak, justru aku malah membuat susah Bapak. Umpan-umpan banyak yang terbuang sia-sia hanya karena kenaifanku. Padahal, jika aku serahkan sisanya kepada Bapak. mungkin Bapak bisa membawa lebih banyak ikan.
"Tidak usah disesali, Can. Semuanya ada manfaatnya. Kamu memang tidak membawa ikan hari ini. Tapi, kamu sadar tidak?", Bapak menghentikan kalimatnya. Balik menatapku.
Aku mendongak, kembali melirik Bapak, "Sadar apa, Pak?,".
"Hayo, coba ditebak. Kamu ini sukanya nanya, tapi gamau mikir."
Aku bersikeras. Pura-pura menaruh jemariku di dagu seperti cendikiawan yang sedang kesusahan memikirkan teorinya. Tapi, pada akhirnya aku tetap bertanya. Bapak tertawa.
"Kamu secara tidak sadar mulai terbiasa dengan alat pancing itu, Candra.", Bapak mengusap rambutku pelan.
"Lihatlah, kamu berhasil menikmati sensasi dalam memancing. Kamu memang tidak berhasil membawa ikan, tapi kamu berhasil melawan rasa lelahmu. Kamu berhenti karena kamu bosan, tapi keringatmu yang bercucuran, kamu tidak peduli sama sekali. Memang awalnya kamu sedikit gugup, kaku sekali kamu memegang alat pancing. Menaruh umpan saja jatuh-jatuh. Tapi, semakin lama kamu semakin terbiasa, mengaitkan umpan tanpa terjatuh, menarik alat pancing tanpa keraguan. Semua itu karena kamu yang mulai beradaptasi dan terbiasa."
Aku membelalakkan mataku, terkejut. Bapak bahkan sedetail itu memperhatikan segala pergerakanku. Aku saja tidak sadar jika aku mulai lancar memancing. Jadi, sedari tadi, Bapak memperhatikanku?.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Can. Bapak cuman mau berpesan, kalau kamu merasa kesulitan untuk mencoba suatu hal, teruslah mencoba, kamu pasti akan berdamai dengan keadaan. Sudah jadi sifat alamiah kalau manusia perlu beradaptasi. Hanya saja, waktu beradaptasinya yang berbeda-beda. Lewat hal sesimpel ini misalnya. Bapak harap kamu belajar. Kunci kesuksesan adalah terus mencoba. Yang terpenting adalah bersyukur. Bersyukur bisa berada disini, bersyukur diberikan kegagalan, bersyukur menjadi sukses, segalanya perlu disyukuri."
Malam terasa sunyi. Deru ombak seperti mendukung suasana malam ini. Cahaya bintang yang kerlap-kerlip mampu mengindahi momen kali ini.
Pesan Bapak selalulah teringat di benakku. Semua momen ini, sore ini tercatat sudah semuanya. Tidak akan kulupakan.
Pesan wasiat Bapak.
***
"Kali ini enaknya liburan kemana nih?. Ada ide engga?," Seorang gadis menghampiri mejaku.
Selepas tugas permintaan dosen yang terus menerus tertumpuk. Aku jadi lupa untuk liburan. Aku bahkan lupa jika sebentar lagi libur. Ya, aku sudah lulus. Sekarang, aku sedang melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Aku mahasiswa jurusan kelautan, semester dua. Mahasiswa Universitas Airlangga.
Gadis cantik di depanku ini adalah teman satu jurusanku. Hanifah, dekat sekali denganku. Hingga ada berita simpang siur, jika kami diam-diam memiliki hubungan asmara. Padahal faktanya kami memang hanya teman. Hobi gadis ini hanyalah menggodaku.
"Kamu sukanya kemana?," Kusimpulkan senyum khasku.
"Hatimu aja, boleh?, Hahaha! Aku hanya bercanda!. Aku pengen banget nih yang bernuansa laut. Kangen banget sama air. Semenjak skripsian, aku cuman tiduran di kasur doang!. Kamu ada saran ga?."
Terbesitlah satu opsi yang menurutku terbaik.
"Mau berkunjung ke kota tempat aku dulu lahir?. Di sana ada pantai. Aku yakin kamu pasti terpukau. Agak jauh dari perkotaansih, namanya juga pantai, dasar laut."
"Pantai? Biasa, ah. Di sini juga banyak pantai!."
"Yang ini beda, banyak yang spesial di sana. Aku yakin kamu menyesal kalo enggak kesana." Aku mengacungkan jempolku.
"Wah boleh deh. Dimana sih?" Hanifah merongoh sakunya, mencari-cari ponselnya.
"Beras Basah, di Kota Bontang, di Kalimantan Timur sana."
"Hmm, aku belum pernah kesana. Kalau ke Bontangnya sih pernah, waktu ayahku bertugas. Tapi, kalo ke Beras Basahnya belum. Kalau aku ke sana, kamu mau engga temenin aku?. Aku gaada kenalan." Hanifah memasang wajah sok sedihnya.
"Boleh, aku juga sudah lama. Kangen juga sama Bapak."
"Nanti, sekalian kita kunjungi makam bapakmu. Sudah berapa lama kamu engga pulang?."
Ya. Bapak sudah meninggal, dua tahun yang lalu. Saat aku baru saja memulai hariku sebagai anak perkuliahan. Bapak pergi meninggalkanku, diantar menuju bidadari terkasihnya yang berada di surga, Ibu.
Saat itu aku jadi sedikit kehilangan semangat dan fokus belajar. Bapak, orang satu-satunya yang kupunya, hanyalah Bapak. Hari-hariku menjadi lebih suram. Sampai akhirnya aku ingat pesan Bapak enam tahun silam, "manusia hanya perlu beradaptasi.".
Sore itu terus terukir dengan jelas di benakku. Selalu jika mengingat Bapak, pesan itu melintas sejenak. Mau bagaimanapun, jika ditanya apa momen terindah dalam hidupku, itulah momennya. Momen dimana hidup menjadi lebih bermakna. Bapak berhasil mengubah cara pandangku tentang kegagalan. Hingga sekarang, aku selalu bangkit walaupun berkali-kali gagal. "Manusia hanya perlu beradaptasi.".
Hari ini, aku bangkit. Di waktu ini, di menit ini, di detik ini. Aku hidup, hidup dengan prinsip Bapak. Selalu bersyukur dan terus mencoba. Hey, apa kamu tahu? Aku sekarang mampu memperoleh ikan hasil pancinganku sendiri loh!. Tidak penting sebenarnya, tapi aku tetap akan menceritakannya. Walau jumlah ikannya tidak sebanyak yang Bapak peroleh. Setidaknya aku bisa memperoleh ikan. Setalah sore itu, aku menjadi lebih rajin ikut bapak memancing, lebih rajin menemanj Bapak kerja. Aku menyatu dengan alam, di bawah gulitanya malam, di atas dalamnya laut. Hingga sekarang, aku memilih jurusan kelautan, karena aku mencintai laut. Semua itu berkat Bapak, Bapak juga yang mampu merubahku menjadi seorang pecinta laut. Dan, Bontang. Kota dengan kenangannya yang begitu indah. Terimakasih, telah hadir memenuhi masa kecilku dengan alammu. Berkat Bapak dan Kota Bontanglah aku hidup menjadi pemuda yang akan meneruskan generasi Tanah air. Menjadi yang lebih baik, dari yang terbaik.
Terimakasih Bontang, terimakasih Bapak.