Cinta di perairan Bontang Kuala.
[20.06.2018]
Pagi yang cukup bising di salah satu kota di Kalimantan Timur. Bontang, kota kecil ini dipenuhi banyak pendatang. Terkecuali di salah satu daerah bernama Bontang Kuala yang beberapa penduduk nya merupakan orang asli Bontang.
Para masyarakat di Bontang Kuala mencari sesuap nasi dengan mengandalkan wilayah tempat tinggal yang bersifat perairan. Banyak dari mereka memilih menjadi nelayan, berdagang ikan asin, dan menjadi pengemudi sepit.
Semua orang sibuk mencari nafkah di pagi ini. Banyak pedagang yang mulai menawarkan dagangannya kepada para turis yang berada di daerah ini. Para nelayan sudah sejak tadi shubuh pergi melaut untuk mencari ikan kemudian dijual kembali. Para pengemudi sepit mulai memarkirkan sepit nya dan memanggil-manggil turis untuk menaiki sepit dan berkeliling di perairan Bontang Kuala.
Tak terkecuali pengemudi sepit yang dibilang cukup muda ini. Borno, pemuda ini sedang menunggu 1 penumpang lagi untuk naik ke sepit tua warisan ayahnya tersebut.
Di kursi sepit itu banyak penumpang asing yang sedang mengeluarkan ponsel nya. Mulai merekam apa yang menarik perhatian mereka sembari menunggu borno menjalankan sepitnya.
Tak lama, seorang gadis keturunan Chinese sepertinya, menaiki sepit tua Borno. Dengan gaun kuningnya, kulitnya yang putih bersih, mata nya yang sipit dia duduk di salah satu kursi kosong di sepit. Tangannya yang lentik mulai bergerak menutup payung merahnya.
"Bang..ayo jalan"
Suara lembut nya menyuruh Borno untuk menjalankan sepitnya. Layaknya pemuda sepantaran nya, Borno tentu saja merasa jantung nya mau copot karena sepitnya baru saja dinaiki gadis cantik.
Tangan Borno yang kulitnya sudah lumayan terbakar segera menarik tuas, dan sepit tua itu mulai berjalan menyusuri perairan Bontang Kuala.
Angin mulai menyapu wajah para penumpang kapal. Mereka mulai merekam rumah-rumah warga yang berdiri di atas laut itu. Para warga disana mulai melambaikan tangan ke arah turis, dan para turis membalasnya dengan senyuman.
Borno mengigit bibirnya, bingung mencari topik apa yang layak dibicarakan bersama gadis Chinese tadi.
"adek..adek dari mana?"
Jantung Borno rasanya ingin copot saat bertanya itu. Setengah jiwa nya memarahi mulutnya yang bertanya seperti itu. Aduh, urusan ini memang selalu rumit bagi anak muda.
"Aku dari bandung bang...nama Abang siapa?"
Suara lembutnya nya hampir tenggelam oleh suara mesin sepit.
Lihatlah pengemudi sepit ini, wajahnya malu. Rasanya ingin dia teriak memberitahu satu Bontang bahwa dirinya ditanyai nama oleh gadis cantik.
"Nama ku Borno...siapa namamu gadis manis?"
Setengah jiwa Borno ingin rasanya menyuruh tubuhnya lompat saja dari sepit sekarang. Kenapa pula dia menggoda penumpang nya?.
Perempuan itu tertawa kecil. Angin yang berhembus membuat anak rambutnya sekali-kali menghalangi pandangan nya.
"Nama yang bagus Abang... perkenalkan aku LingLing."
Jiwa Borno rasanya terbang ke langit-langit Bontang sekarang. Dirinya terkekeh mendengar nama Lingling karena teringat salah satu lapangan di Bontang.
Hening, hanya terdengar suara mesin sepit yang mengudara saat itu. Sepit Borno melesat berkeliling Bontang Kuala sekarang, sesekali berbicara mengenalkan kampung-kampung, dan beberapa makanan khas Bontang seperti ikan bawis kepada turis.
Tiba-tiba suara Lingling terdengar lagi. Dia mengeraskan suaranya agar tidak kalah dengan suara mesin sepit.
"Kenapa abang dinamai Borno?"
Borno terkekeh. Penumpang nya yang satu ini sangat menarik perhatiannya.
"Ayahku dulu pengemudi sepit yang berkeliling di perairan Kalimantan, ayahku sangat mencintai Kalimantan makanya dia menamaiku Borno yang sebenarnya sebuah plesetan dari Borneo"
Lingling ber-oh ria dan mengangguk-angguk paham.
Setelah itu tak ada yang bersuara lagi, hingga 5 menit kemudian, sepit Borno sudah selesai mengelilingi Bontang Kuala. Para penumpang turun, termasuk Lingling tapi dia membisikkan sesuatu ke Borno.
"Terimakasih Abang"
Oh tuhan, Borno sekarang hanya mematung tidak menjawab. Mulutnya kelu. Wajahnya yang legam memerah.
Tiba-tiba salah satu suara mengejutkan Borno dari lamunannya. Itu bukan Lingling melainkan Bang Johar, salah satu pengemudi sepit juga. Bedanya sepit bang Johar ini lebih bagus dari sepit tua Borno. Mengkilap dan berwarna biru terang, dia juga ahli berbahasa inggris jadi ketika ada turis dari luar negeri datang ingin berkeliling Bontang Kuala dia menjadi tour guide nya.
"Hei anak muda, apa yang sedang kau pikirkan"
Borno menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Tidak ada bang..hehe"
Bang Johar menatap nya dengan tatapan curiga dan tiba-tiba terselip ide jahil.
"Borno..siapalah perempuan gaun kuning itu? pasti kau suka padanya Borno.."
Wajah Borno memerah dan dia canggung seketika. Kepalanya langsung menggeleng kuat-kuat.
"T-tidak..siapa juga"
Borno memang mengatakan itu tapi lihatlah wajahnya, khas wajah pemuda yang sedang jatuh cinta.
"Aish..Borno nih...ayo pang ceritakan, kalian mengobrol tentang apa saja?"
Borno menggeleng
"Tidak ada yang spesial bang.."
"AIHHH"
Hari itu berakhir dengan bang Johar yang sibuk menggoda Borno sepanjang hari, bahkan dia memberi tahu kan gadis itu kepada ibunya Borno.Borno dibuat malu sepanjang hari, wajahku terus senyum-senyum hingga giginya kering seperti ikan asin yang dijual di Bontang Kuala.
Keesokan harinya, entah apa yang menyambar Borno hari ini. Ia bangun pagi-pagi sekali, mandi, berdandan rapi bahkan ibunya heran dengan tingkah anak muda nya itu.
"Ada apa pula dengan mu Borno..kenapa kau rapi sekali"
"Nggak ada Bu..yaudah ibu Borno pamit"
Borno menyalami ibunya dan langsung menaiki sepitnya menuju ke tempat biasa.
Sesampainya disana, Borno gelisah. LingLing tidak muncul. Ia menengok ke sepit nya, hanya tersisa satu bangku kosong. Anak muda ini gelisah sekali sekarang bahkan tangannya berkeringat dingin.
Dan akhirnya sosok yang ditunggui nya datang. Dengan payung merah yang sama tapi dengan gaun yang berbeda. Warna gaun nya kali ini putih namun ia memakai kardigan rajut berwarna merah. Cantik sekali, khas perempuan Chinese memang
Borno akhirnya sumringah dan menarik tuas sepitnya, berjalan menyusuri perairan bontang kuala.
Borno sedang sibuk dengan pikiran nya, mengapa Lingling naik sepitnya lagi? Bukannya dia sudah puas melihat pesona Bontang Kuala kemarin?
Bibirnya rasanya ingin bertanya tapi ia mengurungkan niat. Ia menganggap Lingling belum puas melihat Bontang Kuala. Karena memang Bontang Kuala secantik itu.
20 menit berselang tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Sepit sudah hampir sampai di tempat semula,dan pada akhirnya Borno memarkirkan sepitnya, para penumpang sudah mulai turun dari sepit.
Lingling turun terakhir.Akhirnya pertanyaan Borno tadi terjawab, mengapa Lingling kembali menaiki sepit nya.
Lingling menyerahkan amplop merah. Sepucuk amplop merah. Amplop yang menjawab semua pertanyaan Borno.
"Abang..ini.. undangan buat Abang"
Borno menatap Lingling, wajahnya tegang.
"Besok aku menikah abang..jadi abang datang ya"
Lingling tersenyum. Pecahlah harapan Borno. Musnalah semua perasaan nya. Hatinya hancur berkeping-keping.
Tangan Borno menerima amplop itu. Ia membalas senyuman Lingling dengan senyuman pahit.
"Baiklah..aku akan datang"
Lingling mengangguk lalu naik ke papan. Dan lihatlah, Lingling memeluk seorang pria. Pria itu menatap nya dengan tulus. Pria keturunan Chinese juga. Itu calon suaminya.
Pemandangan yang pahit bagi Borno. Dan selesailah kisah nya. Kisah cinta diatas sepit. Jika bang Johar tahu habislah ia di jahili hari ini.
Kisah Borno ini mengajarkan kita jangan terlalu cepat menaruh harapan kepada seseorang. Nanti harapan kita hanya hanyut di perairan Bontang .