Dibawah langit Bontang
Bontang adalah salah satu kota terkaya di Indonesia. Kota Bontang mempertemukan dan mempersatukan keberagaman latar dan budaya penduduknya dari segala penjuru di kepulauan Indonesia dalam satu ikatan yang terbentuk dari pengalaman yang sama.
Mungkin beberapa dari kalian membayangkan Kota Bontang adalah salah satu kota penghasil gas bumi terbesar di Indonesia, nyatanya hal itu berbeda dengan Meisya, gadis kelas 3 SMA ini menganggap Bontang merupakan kota yang mempunyai banyak keragaman budaya dan alam yang sangat indah.
Berawal dari 3 tahun yang lalu saat ia baru saja naik ke kelas 10 bertemu dengan sosok lelaki bertubuh jangkung bernama Azzam yang kebetulan mereka ternyata sekelas.
Awalnya mereka hanya menghabiskan waktu bersama saat sedang merasa bosan hingga akhirnya mereka menjadi sahabat.
***
Sedari tadi mata Meisya tak lepas dari jarum jam yang sedang berputar didinding kelasnya, sekarang sedang jam kosong dan itu membuat Meisya sangat bosan hingga mempunyai niatan ingin pulang.
Keadaan kelas yang tadinya sangat sunyi berubah menjadi seperti pasar saat guru beranjak dari kelas XII IPS dan tak lama kemudian sang ketua kelas mengumumkan bahwa akan ada jam kosong untuk pelajaran selanjutnya membuat murid yang ada di kelas itu bersorak riang.
Begitupun dengan Azzam, tapi setelah itu ia memilih untuk tidur dan menyusun mimpinya.
Setelah bel pulang dibunyikan, Meisya mengembangkan senyum dan langsung keluar kelas dengan ransel berwarna merah muda berada di gendongannya. Dia tidak sendiri, di depannya ada Azzam yang sedari tadi hanya berjalan dalam diam.
"Azzam tungguu!" Teriak Meisya saat tak mendapati Azzam di sampingnya dan melihat Azzam sudah jauh dari pandangannya. Gadis itu sontak berlari untuk mensejajarkan langkah mereka.
"Ikut kah?" Tanya Azzam saat Meisya sudah berada di sampingnya.
"Kemanaaa?" Tanya Meisya dengan semangat
"Nonton Tingkilan" Ucap Azzam sambil menoleh ke arah Meisya
"Tingkilaann? ih mau mauu" Seru Meisya dengan semangat
"Yaudah ayo sudah cepati biar kita ga ketinggalan" ucap Azzam dan diangguki oleh Meisya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 menit dengan sepeda motor akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Disana,mereka dapat melihat Tingkilan akan segera di mulai dan orang orang mulai berkerumun.
Pertunjukan seni tradisional khas Kalimantan Timur itu dimulai. Alunan musik Tingkilan bercampur Melayu mulai terdengar di telinga orang orang yang menontonnya, begitupun dengan Azzam dan Meisya.
Tingkilan merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional masyarakat Kutai di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.
Musik ini lahir seiring dengan masuknya Islam ke Kutai dan sedikit banyak memiliki kesamaan bunyi dengan kesenian rumpun Melayu lainnya.
"Enak banget kedengarannya, yang mainin musiknya juga betul iyakan ces?" Tanya Meisya dengan mata tertuju ke depan
Azzam mengangguk sambil tersenyum, tentu dia setuju. Alunan musik khas Kalimantan yang terdengar di telinga para penonton memang sangat candu, dan juga tak lepas dari adat Kalimantan yang masih kental.
"Zaman sekarang jarang betul tau ada anak muda bisa main musik tradisional , apalagi anak muda sekarang kebanyakan lebih suka main game" Ucap Azzam ketika melihat salah satu pemain seumuran mereka.
"SETUJUUU mereka keren plus hebat betul kuliat, karena bisa ngejaga seni yang ada di Kalimantan, semoga besok dan seterusnya tetap kaya gini" seru Meisya dengan semangat dan harapan
.
Pertunjukan Tingkilan sudah berakhir, Azzam, Meisya, dan para penonton memberikan tepuk tangan meriah dan apresiasi kepada para pemain Tingkilan.
Perlahan kerumunan orang yang sedang menonton memudar menjadi hitungan jari, Azzam dan Meisya beranjak dari depan panggung ke parkiran tempat motor mereka.
***
Langit sudah berganti menjadi gelap dan udara semakin dingin di Bontang. Setelah pulang dari menonton Tingkilan tadi, Meisya langsung melakukan rutinitasnya seperti biasa lalu duduk di kursi meja belajarnya. Tidak,dia tidak belajar. Sedari tadi ia sibuk mencari tempat wisata menarik yang ada di Bontang untuk di kunjungi bersama Azzam di akhir pekan.
Mereka berdua - Azzam dan Meisya memang memiliki kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak kelas 10 , yaitu mengunjungi tempat wisata yang ada di Bontang setiap akhir pekan.
Handphone Meisya menampilkan pulau yang dulu pernah ia datangi bersama keluarganya. Ah tiba tiba Meisya merindukan pulau itu.
Pulau Beras Basah merupakan sebuah pulau kecil yang berlokasi di Selat Makassar timur bagian Pulau Kalimantan. Secara administratif, pulau ini berada di bawah pemerintah Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur
.
Meisya berniat ingin mengajak Azzam kesana, ia akan mengajak Azzam secara langsung bukan melalui handphone karena Azzam merupakan orang yang sibuk. Tapi menurut Meisya Azzam itu sok sibuk.
***
Hari demi hari telah berlalu, pagi yang biasanya mereka gunakan untuk bersiap siap untuk sekolah kini telah berubah menjadi pagi yang digunakan untuk bersantai.
Ya, Azzam menyetujui ajakan Meisya untuk pergi ke Pulau beras basah. Sekarang mereka sudah berada di pelabuhan dan menunggu kapal untuk membantu mereka menyebrangi lautan dan menuju pulau Beras Basah.
Tak lama kemudian kapal yang mereka tunggu sedari tadi telah tiba, orang orang mulai menaiki kapal tersebut begitu pula dengan Azzam dan Meisya. Di sepanjang perjalanan Meisya tak henti hentinya memotret pemandangan di tengah tengah laut. Berbeda dengan Azzam, pemuda itu hanya diam dan mengawasi Meisya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit kini mereka telah sampai ke pulau tujuan mereka. Pemandangan pertama yang mereka lihat ketika baru sampai adalah jembatan panjang yang berfungsi mengantarkan pengunjung ke pulau tersebut.
“Mei sini dulu bentar, lihat dibawah banyak sekali ubur ubur” sontak meisya yang mendengar itu mendekati Azzam dan benar saja saat ia melihat ke bawah jembatan bukan hanya ada ubur ubur, tapi ikan dan biota laut lainnya ada di bawah jembatan dan mereka masih terjaga.
“Wihh masi kejaga ya laut disini ” ucap Meisya sambil berjalan menuju pasir pantai yang putih.
Bunyi ombak yang sedang maju mundur karena terkena aingin dan pasir putih yang terhampar di pulau itu membuat siapa saja yang berada disana ingin terus menetap dan berlarian kesana kemari.
Meisya dan Azzam menyusuri bibir pantai sambil bercengkrama riang. Tak jarang mereka bertengkar karena memperdebatkan warna dari air laut tersebut bewarna biru ataukah hijau tosca.
“Dari jauh warnanya biru Meisya” ucap Azzam membela pikirannya
“Tapikan kalau dekat warnanya tosca Azzam” jawab Meisya tak mau kalah.
Seperti itulah perdebatan mereka yang menyita banyak waktu, tetapi sadar tidak sadar waktu itu akan menjadi kenangan.
Tak terasa siang telah berganti menjadi sore menandakan mereka harus meninggalkan pulau itu untuk kembali ke rumah masing masing.
Ditengah laut perjalanan menuju pulang matahari sore yang akan terbenam menghiasi langit membuat siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum karena keindahan perpaduan warna orange,ungu,dan biru langit.
“Ck,langit sore Bontang memang gapernah gagal” decak Meisya sambil melihat ke atas
“Bukan langit Bontang yang gapernah gagal Mei,tapi ciptaan Tuhan yang ga pernah gagal” tutur Azzam.
“Tumben betul kamu, ciptaan Tuhan kalau di ukur keindahannya memang gapernah ada habisnya Zam. Mau secanggih apapu. ciptaan manusia nda bakal ada tandingannya sama ciptaan Tuhan” ucap Meisya yang masih terkagum kagum dengan perpaduan laut dan langit di sore itu.
***
Matahari yang awalnya malu malu untuk menampakkan dirinya kini mulai terbit hingga cahayanya menembus sela sela gorden kamar Meisya. Meisya yang merasa silau mulai membuka matanya dengan perlahan.
Senin pagi ini sedang tanggal merah,jadi Meisya tidak perlu repot-repot bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.
Karena tanggal merah, Azzam dan Meisya mempunyai rencana untuk melihat pertunjukan pesta laut di Bontang Kuala sore nanti.
Pesta Laut merupakan acara adat yang dilakukan warga Kota Bontang khususnya masyarakat Bontang Kuala sebagai wujud rasa syukur kepada tuhan atas hasil laut yang melimpah di perairan Bontang Kuala.
Tempat diselenggarakannya acara ini berada di kawasan kampung wisata laut Bontang Kuala kecamatan Bontang Utara tepatnya di kawasan panggung adat yang terletak di anjungan ujung jembatan area kampung Bontang Kuala.
Pesta laut Bontang Kuala ini biasanya rutin diselenggarakan pada pertengahan bulan November hingga Desember selama 1 minggu, tentunya terdapat beragam susunan acara yang diselenggarakan untuk memeriahkan acara seperti ritual adat, penampilan tari tradisional, pengenalan kuliner khas Bontang, hingga berbagai macam perlombaan.
Biasanya pemerintah setempat akan menyediakan booth-booth untuk warga sekitar yang ingin berdagang khususnya pernak pernik hasil laut, makanan khas Bontang, hingga pakaian dan aksesoris lainnya tak heran jika acara ini paling ditunggu dan diminati oleh masyarakat Bontang
***
Azzam dan Meisya saat ini sudah berada di Bontang Kuala. Ratusan masyarakat dan paguyuban dari berbagai wilayah di Bontang tampak hadir memadati lokasi acara.
Azzam dan Meisya menyusuri jalan yang di samping kanan kirinya terdapat banyak pedagang yang menjual aneka ragam barang maupun pernak pernik yang contohnya dari kerang dan makanan hasil laut.
Kembali ke Azzam dan Meisya, mereka berdua kini tengah menonton lomba balap kapal laut. Sebelum itu mereka telah melihat ritual dan tari tarian yang di tampilkan oleh masyarakat Bontang Kuala.
Teriakan para penonton membuat lomba tersebut semakin seru. Tak jarang ada yang berdecak karena kapal yang mereka dukung tertinggal jauh.
"Seruu bangett" ucap Meisya melihat perahu yang melaju cepat di depan mereka
"Mereka juga berani sekali asli" puji Azzam
"Lomba kaya gini emang nda ada tandingannya si, balapan di sirkuit aja kalah" tutur Meisya
"Bener sih, nda semua orang bisa jalanin perahu kaya gitu. Apalagi kecepatannya di atas rata rata" ucap Azzam
"Dan nda semua orang bisa melestarikan budaya di sekitar mereka" ucap Meisya dengan tatapan memuja
Sore hari ini, langit di Bontang Kuala sangat indah. Apalagi dipadukan dengan rumah masyarakat sekitar dan air laut yang mempunyai bau khas.
Setelah menonton pertandingan tadi, Azzam dan Meisya beranjak dari tempat duduk mereka dan bergegas untuk pulang.
Selama perjalanan menuju rumah mereka,langit yang akan berubah warna dan lampu jalan khas Bontang menemani perjalanan mereka.
Menurut kebanyakan orang, kota Bontang memang hanya sebuah kota kecil. Tetapi menurut mereka yang menetap disana kota Bontang merupakan kota yang menyimpan banyak kebudayaan yang beragam dan kenangan yang tak terlupakan.
Disetiap jalan dan di setiap sudut kota Bontang menyimpan kenangan yang takkan pernah bisa di ulang. Baik itu kenangan dengan mereka yang telah gugur, mereka yang meninggalkan, ataupun mereka yang ditinggalakan.
Disetiap jalan dan disetiap sudut kota juga terdapat keberagamaan budaya khas Kalimantar Timur. Baik itu corak batik kuntul perak khas Kalimantan Timur yang pakai oleh pengendara, ataupun ukiran ukiran khas suku Dayak yang menghiasi jalanan kota.
Dari kota Bontang dan masyarakatnya kita belajar pentingnya menjaga keberagaman budaya dan keasrian alam, jika belum bisa dimulai dari sekarang dan sampai seterusnya. Karena siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan keragaman budaya yang mahal ini.