Halloween Day, Black Day.
Orang-orang di kelasku tampaknya mulai membicarakan persiapan kostum yang rencananya akan di pakai mereka dalam mengikuti acara tahunan dengan tajuk Happy Hallowen di sekolah. Semuanya tampak bergembira saat membicarakannya, terkecuali aku. Aku, Evania Canola. Tidak pernah sekalipun aku mengikuti acara semacam itu. Terkecuali aku benar-benar terpaksa mengikutinya bila acara tersebut diwajibkan oleh sekolah untuk dihadiri. Mungkin sebab itu juga, aku tidak begitu akrab dengan siapapun di sekolah. Hanya saja, satu orang bernama Kyle Trevor yang juga sekelas denganku tampaknya cukup mengakui keberadaanku dengan sesekali mengajakku bercengkrama. Dia tampan, dimata orang-orang kebanyakan. Tetapi, aku lebih cenderung menyenangi sikapnya yang alami dan cukup berhasil menyesuaikan diri dalam menarik topik pembicaraan yang seru disetiap percakapan kami. Kupikir, hal itu juga menjadi kelebihan yang membuatnya pantas menjadi salah satu orang populer di sekolah.
Suatu hari, dalam percakapan kami, ia mengatakan sesuatu yang membuatku mulai memperhatikannya dari sudut pandang berbeda.
"Ku harap kau bisa datang ke acara halloween tahun ini, mengingat tahun tahun depan kita sudah lulus dari sekolah ini. Kapan lagi aku bisa melihat mu mengikuti acara seperti ini..."
"Aku mengharapkan kedatanganmu." Bagiku, perkataannya di telingaku terdengar seolah dirinya berharap besar padaku.
Perbincangan itu membuatku memikirkannya. Jadi kuputuskan untuk mengikuti acara tersebut. Untuk pertama kali sekaligus yang terakhir kalinya, aku dibuat sibuk bekerja mencari kostum.
Perasaanku sedikit tersentuh. Ada perasaan senang juga sebab kali ini ku merasa tampak berusaha ingin menampilkan penampilan terbaik.
Setelah berpikir panjang, ku putuskan dalam acara halloween kali ini, aku berminat penuh untuk berpenampilan layaknya Ratu Putih dalam serial film 'Alice In Wonderland'. Wanita dalam balutan gaun putih itu tampil elegan yang bahkan tetap terlihat cantik dengan rambut putih panjangnya.
Harap-harap kostum itu di tubuhku tidak akan membuatku terlihat buruk. Aku pun menyiapkan yang terbaik untuk kostumnya.
* * *
Suatu ketika, pembicaraan Cassy dan Nari terdengar oleh ku disaat secara kebetulan diriku sedang dalam perjalanan menuju ke kelas. Kedua orang itu tampak asik berbicara tanpa memperdulikan orang yang mendengarkan percakapan mereka bisa saja menatap mereka karena berani bergosip terang-terangan.
"Bella, dia menjadi putri tidur...? Bukankah selama ini dia selalu ingin mencuri perhatian?" Ucap Cassy tidak senang.
"Selama dua tahun dia mengenakan kostum ala putri dalam acara halloween, dia seperti sengaja menegaskan dirinya pada orang-orang agar dirinya dikenali bertampang cantik." Nari berdalih.
"Sialan, wanita rubah memang." Maki Nari yang diikuti anggukan setuju oleh Cassy.
"Oh iya, kau ingat cerita creepy tentang sekolah kita...?" Lanjut Nari.
"Ah, Si Terbunuh sekaligus Pembunuh...?" Siapa yang tidak mengenali cerita kelam dibalik julukan itu.
Dikatakan, dahulu kala di sekolah kami terdapat salah satu murid laki-laki memiliki ketampanan yang luarbiasa hingga membuatnya menjadi legenda karena berhasil membuat hampir seluruh murid perempuan berani mengambil sikap untuk memutuskan pacarnya jika mereka tidak lagi lajang, hanya demi memenuhi keinginan untuk diperhatian oleh lelaki itu. Melihat kegilaan para murid perempuan terhadap lelaki tersebut.
Tentu saja, murid laki-laki lainnya menjadi kesal dan melihatnya sebagai musuh. Lalu, disuatu ketika, insiden buruk terjadi pada lelaki dengan tingkat ketampanan extraordinary itu. Ia menjadi korban kekerasan dari murid-murid pria yang bersatu dalam sebuah kelompok.
Dirinya ditemukan meninggal dengan sadis di area dekat dari lingkup sekolah, rasa sakit dan kehabisan darah membunuhnya. Sekujur tubuh terkecuali wajah tertancap tajamnya mata pisau cutter.
Dikatakan, karena ia terbunuh dengan kejam, arwah nya tidak bisa tenang. Lelaki tampan itu menjadi hantu pembunuh dengan dikelilingi aura gelap yang sangat pekat setelah menyerap sensasi kegilaan pelaku yang menyiksanya sampai dirinya berhenti menghembuskan napas.
Itulah, alasan mengapa julukan menakutkan itu ada. Si Terbunuh, Pembunuh.
Tetapi, pada akhirnya semuanya itu dianggap sebagai cerita fiksi belaka tanpa konfirmasi yang jelas dari sekolah. Hal itu juga diragukan dari sebab nama si korban penyiksaan tersebut bahkan tidak diketahui sehingga menambah kecurigaan bahwa cerita tersebut adalah karangan semata.
"Kudengar Brian ingin mencoba berpenampilan seperti itu..."
"Ah, paling nanti dia tidak ada seram-seram nya... lucu, iya."
Menyadari aku menguping pembicaraan mereka, mereka berdua beralih memperhatikan ku seperti sedang mencari masalah.
"Eh, Eve..."
"Aku dengar kau akan datang ke acara halloween tahun ini..." Kata Cassy.
"Apa kau percaya diri dengan penampilanmu? ckck." Sahut Nari. Mereka kompak tertawa merendahkan setelahnya.
"Aku akan berekspetasi tinggi pada penampilanmu di pesta..." Lanjut Nari, bersama Cassy memberi tatapan menyindir. Mengakhiri singkatnya percakapan tidak mengenakkan yang dilontarkan oleh mereka, keduanya kemudian memilih masuk ke kelas.
* * *
Tiga hari sebelum pelaksanaan acara halloween digelar, hal aneh mendadak mengusik ku selama berada di sekolah.
Berbagai hal yang ku maksud itu seperti direncanakan muncul secara beriringan, seperti; telingaku dengan jelas menangkap suara erangan kesakitan seseorang secara singkat diwaktu acak selama beberapa kali di sekolah dan hanya disadari oleh diriku seorang diri. Ataupun penampakan seseorang pria yang terlihat asing namun sangat tampan, memperlihatkan dirinya padaku dimana pun aku berada selama di sekolah.
Tetapi, paling aneh dan bahkan misterius diantara kejadian yang kualami dalam rentan waktu itu adalah ketika aku diminta seorang guru membawa buku-buku cetak yang dipakai murid di kelasku selama mengikuti pembelajarannya untuk dibawa kembali ke perpustakaan. Termasuk sekaligus menyusun buku-buku tersebut dengan rapi di sebuah rak buku.
Ditengah menyusun buku-buku tersebut, sebuah buku yang berada di kolom teratas sebuah rak buku tiba-tiba saja menimpa kepalaku dengan sendirinya. Aku meracau kesakitan sampai dibuat jatuh dalam posisi terduduk.
Saat ku pikir seseorang tengah mengerjaiku, aku pun dibuat bingung sebab tidak mendapati seseorang dibalik rak buku tersebut. Aku sebaliknya menemukan buku lainnya yang terjatuh rak seberang. Saat aku merasa ingin meninggalkan perpustakaan, tetapi sebuah kertas mencurigakan di lantai mencuri perhatianku.
Aku pun mengambil kertas tersebut dan membaca sebuah tulisan di dalamnya.
[ Brahms ]
[Aku melihatmu dalam pandanganku setiap hari. Aku cemburu, orang-orang tampak menyemangatimu dengan keras. Aku juga ingin melakukannya. Semangat, Brahms! Tetapi, aku tahu diri, dengan penampilan ku, aku pasti akan membuat pikiranmu tidak nyaman. Mauriel adalah namaku, aku ingin mengungkapkan bahwa aku menyukaimu, Brahms.
Aku ingin mengutarakannya. Tetapi, pandangan orang-orang terhadapku membuatku terlalu takut dan merasa sedih memikirkan apajadinya jika pengakuanku membuatmu kecewa mendengarkan kejujuranku.
Kau jangan peduli padaku. Orang-orang itu akan marah. Biarkan aku menghindarimu, aku tidak lagi ingin berada dalam pandanganmu.]
Sesaat setelah membaca isi kertas tersebut, entah ada apa dengan perasaanku. Membacanya terasa membuatku berbagi kesedihan dengan si penulis. Pada saat yang sama, pikiranku dibuat melayang menghayalkan bagaimana seorang gadis itu harus menelan pahit karena menyembunyikan perasaannya.
Sepintas disaat pandanganku tidak berada pada kertas yang telah dibaca olehku, tiba-tiba saja aku kehilangan kertas usang di tanganku. Karena mendadak menghilang entah kemana, seketika aku dibuat kebingungan sembari mencari kesana-kemari.
Setelah serangkaian hal itu, aku mulai terpikirkan, "Mungkinkah ini suatu petunjuk...? Kalau benar, lalu semua petunjuk itu sebenarnya mengarah pada apa...?"
Aku tidak memahaminya.
* * *
Tiba hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Hari Halloween, Jack O Lantern. Kulihat sekolah di malam hari penuh akan benda-benda yang mengarah dari hal yang misterius sampai menakutkan. Penggunaan penerangan dari lilin-lilin bercahaya temaram disengaja untuk menambah kesan seram. Patung manusia yang menakutkan di laboratorium kimia, manusia tengkorak, manekin boneka dipermak sedemikian sampai terlihat mengerikan, labu plastik berwajah seram yang memancarkan cahaya, semuanya diletakkan disepanjang koridor jalan menuju ke kelas-kelas seakan memberi aura mistis.
Sepanjang melangkahkan kaki menuju aula utama, aku sangat gugup. Sesekali aku berhenti untuk menenangkan diri.
"Ku harap kostum 'Ratu Putih' yang ku kenakan saat ini terlihat pantas untukku." Pikirku, cemas.
Untuk pertama kalinya, aku terlalu takut mendengarkan pendapat orang-orang tentang ku. Utamanya, pendapat Kyle Trevor.
"Apa pilihanku sudah benar untuk ikut acara ini?" Aku menghela napas berat, ada sedikit perasaan tertekan.
"Evania...?"
Setelah namaku disebut, kedua mataku mencari sumber suara tersebut lalu menangkap keberadaan seorang pria berpenampilan pekerja kantoran berjalan mendatangi ku. Ia datang dari arah kedatanganku.
"Kyle."
Sumber kegugupan ku bertambah berkali-kali lipat seketika laki-laki itu telah berada di hadapanku.
"Wow, kau tampak luarbiasa..." Bukankah itu pujian? Sepintas aku tidak dapat menahan untuk tersenyum.
Mendengar itu darinya membuatku ingin meledak kesenangan. Tetapi, aku berusaha keras untuk tidak menunjukkannya.
"Bersama dengan ku menuju ke Aula...?" Tanya dia, dengan cepat ku balas anggukan.
Mataku tidak berhenti melirik ke arah Kyle. Aku benar-benar bersamanya menuju ke Aula.
Sesampainya disana, kami langsung berbaur diantara para murid dengan kostum-kostum unik. Pandanganku berkeliling mengamati kostum yang dikenakan orang-orang disekitaran ku. Ada pasangan murid, dimana murid laki-laki berani mengenakan kostum Elsa (frozen) sedangkan si perempuan mengenakan kostum Olaf (frozen); tidak kalah seorang murid dengan kostum Optimus Prime, Pahlawan dalam film Avengers, monster inch, dan paling umum terlihat adalah kostum yang mengarah pada profesi pekerjaan.
Perasaan canggung sesekali kurasakan ketika murid lain terkejut mengenali diriku berada di acara. Mereka tahunya aku sebagai orang yang tertutup, pemikiran itu memang tidak salah sepenuhnya.
Acara pun dimulai dengan tarian yang meriah.
* * *
Di saat melihat orang-orang asik dengan tarian masing-masing, kedua mataku menangkap seseorang berpenampilan menyeramkan memasuki aula, ia berdiri di depan pintu yang terbuka lebar sembari tampak mengamati.
Tubuhku yang tadinya menari mendadak berhenti. Orang itu....kulihat seperti ada aura gelap yang pekat menyelimuti disekitarannya. Dengan sendirinya, aku ditarik untuk merasa waspada.
"Kyle. Ada yang aneh dari orang itu." Tukas ku menunjuk ke arah orang yang ku maksudkan.
Kyle yang tadinya melihat ke arahku lalu beralih mengikuti arah yang ditunjuk oleh ku.
"Wah, siapa dia? Seram sekali." Kata-nya.
Belum sempat aku mencari tahu, tiba-tiba saja seruan seseorang memecah perhatian banyak orang.
"Woah. Brian..?" Seruan itu rupanya datang dari murid yang kukenali bernama Allen, aku tahu dia mungkin karena kelas kami berdampingan. Ia termasuk yang diperhitungkan sehingga namanya juga sering dikait-kaitkan dengan murid-murid populer.
"Kau keren, asli! Malam ini kau tampak benar-benar menyeramkan!" Terang-nya.
Allen yang berkostum petugas damkar menyadari keberadaan orang yang tampil paling menakutkan selama acara, dirinya tampak berjalan sepertinya bermaksud untuk mendatangi orang itu yang disangkakan sebagai teman yang dimaksudnya.
Ketika ia telah berada dalam jarak yang cukup dekat. Prasangka-nya keburu patah melihat kemunculan seseorang mirip temannya Brian—mengenakan kostum yang terlihat dipaksakan mirip dengan hantu dari urban legend sekolah 'Si Terbunuh, Pembunuh' datang dari arah pintu yang tengah menjadi pusat perhatian.
"Kawan-kawan, lihat aku! Aku hantu 'Si Terbunuh, Pembunuh' Haha..."
"Ini kau Brian...?" Allen bertanya memastikan meskipun telah mengenali pemilik suara dari seseorang yang baru saja berucap dengan girang itu.
"Iyalah!"
"Lalu dia siapa..?" Lanjut Allen, pertanyaannya diperuntukkan pada seseorang disebelah Brian.
Mengenali suara Brian, pikiran orang-orang seketika dibuat beradu menebak siapa sosok menyeramkan itu.
"Wuahh. Kau lebih seram dariku. Kau siapa?" Tanya Brian, begitu Allen menyadarkannya keberadaan orang yang tampak asing itu di sebelahnya.
"Apa mata pisau di badan dan lengan mu itu asli...?"
Slash! Slash! Slash!
Tiba-tiba saja, tubuh Brian yang berdiri tegap terpotong menjadi tiga bagian dengan rapi searah garis horizontal. Cipratan darah merembes membasahi lantai. Tubuhnya yang tidak mampu mempertahankan bentuknya, pun terjatuh menjadi seonggok daging di lantai.
Karena hal itu, seketika ramai suara lengkingan teriakan takut disusul aksi pembubaran diri.
Kakiku seolah-olah dipaku ke lantai, aku merasa kesulitan melangkah pergi dari ditempatku meski ingin. Dengan wajahku yang berubah memucat karena shok, kurasakan sebuah tangan menyambar tangan ku, ia berhasil menarik ku pergi ke arah pintu keluar aula yang lain, "Ayo,.." seruan Kyle.
Sesaat, pendengaran ku menangkap suara Allen yang berusaha menenangkan mengira hal tadi adalah sebuah tipuan. Tetapi nyatanya, itu benar-benar terjadi.
* * *
Seluruh bangunan sekolah seolah telah disihir agar kami tidak dapat meninggalkannya. Tidak satupun yang mengingat dimana jalan menuju keluar.
"Dimana jalan menuju gerbang sekolah...?"
Napas ku semakin memburu, mendengar teriakan-teriakan tercekat yang bertambah dekat sekian detiknya seolah menjadi peringatan kedatangan hantu berdarah dingin itu.
"Kita tidak bisa keluyuran di luar sini.." kata ku terdengar panik.
Di dalam pengaruh tekanan batin, Kyle berusaha untuk tetap tenang sembari memikirkan jalan keluar. Ia melihat beberapa murid membentuk kelompok, mereka bersepakat untuk menyembunyikan diri di dalam kelas.
"Kita bergabung dengan mereka."
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti arahan Kyle. Kami berhasil masuk sebelum mereka menutup pintu kelas dan mengganjal pintu dengan beberapa meja.
Terdengar jelas suara histeris ketakutan yang saling susul menyusul.
"Dia diluar sana, memotong secepat petir yang menyambar." Tukas salah seorang yang tidak ku ketahui namanya, meskipun begitu wajahnya tidak begitu asing.
Reflek saja, semua yang berada di dalam ruangan memilih untuk bersembunyi dibawah meja belajar.
"Si Terbunuh, Pembunuh. Dia datang..."
Aaaaghh!
Teriakan dari kelas sebelah disusul suara teriakan-teriakan lainnya. Kulihat beberapa diantara kami seketika menjadi panik lalu memperhatikan ke arah pintu dengan perasaan deg-degan.
Dua orang dari kami berinisiatif mendorong beberapa meja lagi untuk disusun bersama meja yang telah dihadapkan ke pintu dengan pikiran berharap benar-benar menahan pintu.
Ketika kelas seberang mendadak sunyi tanpa suara, dalam benak ku aku dibuat menebak-nebak keberadaan mesin pembunuh menakutkan itu. Sudah pasti, ia berada di...
Gubrak!
Susunan meja penahan pintu terlempar kuat menjauhi pintu. Napas ku kembali tercekat ketika tahu tidak ada lagi penghalang antara ruang kelas dengan dunia di luar. Tahu-tahu, dua murid yang menahan pintu telah mencicipi sabetan tajamnya mata pisau yang melekat pada tubuh hantu itu.
Setelah membunuh kedua orang itu, untuk pertama kalinya, hantu itu bersuara.
"Kkkkkkkkk...."
"Bersembunyi di bawah meja..."
"Percuma saja, aku tahu..."
"Perlihatkan diri kalian..."
Rasanya aku tidak ingin menggubris perkataannya. Tetapi dari cela kaki meja ku, ku melihat aura gelap yang mengelilinginya semakin pekat dan keras. Seolah mempertegas perkataannya.
"Tidak mendengar."
Tiba-tiba, hantu itu beraksi kembali. Mengibaskan tajamnya pisau yang tertancap di tubuhnya, ia membelah dua salah satu meja beserta orang yang bersembunyi di bawahnya. Kali ini korbannya adalah seorang murid perempuan.
"Masih bersembunyi."
Ia lanjut membelah dua meja lainnya membuat kucuran darah mengalir diantara hancurnya meja.
Bertindaknya hantu itu secara tidak segan-segan, kami yang tersisa tujuh di kelas, semua serentak memperlihatkan diri pada akhirnya.
"Jangan bunuh aku, kumohon."
"Aku tidak ingin ma—"
Percuma memohon padanya, sebaliknya orang yang bermohon itu langsung saja ditebas tanpa ampun disaat ucapannya bahkan belum rampung. Tubuhku bergetar ketakutan, murid laki-laki itu berjarak cukup dekat dariku. Sampai-sampai, percikan darahnya pun mengenai pakaian ku yang kini tidak lagi didominasi warna putih.
"Enam orang..."
"Siapa yang paling buruk,..." Kedua bola mata hitamnya seperti mengamati, lalu dalam sekejap mata ia telah membunuh salah seorang lagi diantara kami.
Karena ketakutan akan dibunuh menekan hingga diluar batas, seorang murid laki-laki mencoba melarikan diri dengan pikiran meninggalkan kelas. Sayangnya, baru mengambil setengah langkah untuk pergi, ia langsung tersungkur di lantai setelah ditebas halus mejadi dua bagian.
Setelah membunuh, menakutkannya ia kembali tampak berpikir.
"Empat orang..."
"Siapa yang paling buruk..." Ku melihat pandangan hantu itu jatuh padaku setelah berputar mengamati kami yang tersisa empat orang. Buruknya, aku tidak bisa mengalihkan diriku dari pandangannya.
Secepat kedipan mata, hantu itu mendadak berdiri berada tepat di hadapanku.
"Apa itu kamu yang terburuk...?"
Begitu jarak begitu dekat diantara kami, aku secara terpaksa mengamatinya lalu menyadari suatu hal yang sempat terlupakan oleh ku karena kekacauan ini.
Kulihat dirinya begitu mirip dengan sosok itu, pria asing yang sangat tampan dan selalu memunculkan dirinya disekitar selama tiga hari sebelumnya secara berturut-turut.
"Itu kau!" Batinku.
Ketika ia mengangkat lengannya yang dipenuhi benda tajam ke udara. Berkali-kali aku memaksakan pita suaraku untuk bekerja, tiba-tiba disaat seperti ini bibirku berhasil tergerak menyebutkan suatu kata yang tidak terduga akan ku keluarkan.
"Brahms." Pekikku, dimana pisau itu sedikit lagi hampir mengenai ubun-ubun kepalaku.
Hantu itu menarik tindakannya dariku. Kedua matanya yang gelap itu lantas memandangi ku lekat-lekat. Tiba-tiba saja aku teringat pada suatu kertas misterius yang juga menyertakan nama Brahms di tulisannya, anehnya aku mengingat dengan jelas isi dari kertas itu.
Mendadak, tanpa berpikir, aku menyatakan semua kalimat yang tertera dalam tulisan di kertas itu.
"Aku melihatmu dalam pandanganku setiap hari.
Aku cemburu, orang-orang tampak menyemangatimu dengan keras.
Aku juga ingin melakukannya.
Semangat, Brahms!
Tetapi, aku tahu diri, dengan penampilan ku, aku pasti akan membuat pikiranmu tidak nyaman.
Mauriel adalah namaku, aku ingin mengungkapkan bahwa aku menyukaimu, Brahms.
Aku ingin mengutarakannya.
Tetapi, pandangan orang-orang terhadapku membuatku terlalu takut dan merasa sedih memikirkan apajadinya jika pengakuanku membuatmu kecewa mendengarkan kejujuranku.
Kau jangan peduli padaku.
Orang-orang itu akan marah. Biarkan aku menghindarimu, aku tidak lagi ingin berada dalam pandanganmu."
Aku sedikit terkejut dengan diriku yang terdengar begitu berperasaan mengatakannya. Seolah itu benar-benar ditulis oleh ku.
Aku merasakan ketulusan dalam perasaanku sepertinya sangat nyata. Ada apa ini?
Hantu itu tertegun. Pelan, mata pisau disekujur badannya berguguran layaknya daun jatuh. Dari penampilan mengerikan, ia berubah menjadi sosok yang wajahnya tidak asing lagi ku lihat selama tiga hari pertemuanku.
Sekelebat potongan-potongan ingatan laki-laki itu terlihat dalam pikiranku. Siapa yang menduga, pria tampan sepertinya justru dibuat patah hati oleh seseorang yang dicampakkan dan dikutuk oleh semua murid di sekolah karena penampilannya.
Ia selalu berusaha untuk dekat dengan Mauriel namun tidak pernah ada kesempatan baginya. Mirisnya, pria itu menunggunya menyadari perasaan yang dimiliki Brahms untuknya.
Memancing tangis histeris ku, aku diperlihatkan bayangan saat-saat Brahms mengalami penyiksaan yang menjadi detik detik kematiannya. Namun, kurasakan ia tidak bersedih karena itu, melainkan karena perasaannya yang begitu dalam tidak bisa tersampaikan. Sampai akhirnya membuat ia meninggal dalam perasaan menyesal.
Tangis ku masih saja pecah walaupun penggalan cuplikan ingatan pria itu yang diperlihatkan padaku telah berakhir.
"Mengapa hal itu menjadi penyesalan mu...?"
"Seharusnya kematian mu yang tidak adil adalah penyesalan terbesar mu..."
"Jangan maafkan mereka. Mereka tidak bisa dimaafkan. Mengapa... Mengapa ada manusia sekejam itu...?"
Entah mengapa hatiku bergejolak marah bercampur rasa sedih, tidak ada lagi takut. Aku seperti bukan diriku. Sosok Mauriel seolah merasuki ku dan berbicara pada Brahms melalui diriku.
"Maafkan aku, Brahms. Seharusnya aku tidak menyerah padamu." Tanganku bergerak ke sisi lembut pipi Brahms.
Brahms sepertinya juga menyadari hal yang kurasakan. Ia memelukku, pelukan itu bahkan terasa hangat. Namun aku sadari betul, pelukan itu adalah kerinduannya pada Mauriel.
Seketika aku dibuat mengerti situasinya. Selama ini, Mauriel sendiri merasa menyesal. Rasa sesal menjelma menjadi roh, yang tercipta atas perasaan Mauriel, bersembunyi pada kertas pengakuan tertulis yang kutemukan di perpustakaan dan dibaca oleh ku.
Merasa ada suatu hal yang mengganggunya, hantu Brahms mendadak melepaskan pelukannya.
"Aku menyadari telah membunuh banyak orang." Kata Brahms mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang tersisa di dalam ruang kelas.
"Tetapi, perlu kalian tahu, hal itu tidak direncanakan olehku."
"Gairah membunuh itu bukan sesuatu yang datang dariku. Kegelapan yang menyelimuti hari ini benar-benar menyesatkan ku."
Mendadak, aku dikejutkan oleh suara mengerang kesakitan yang hebat datang dari hantu Brahms. Hal itu rupanya akibat serbuan mata pisau timbul keluar dari kulit hantu itu.
"Pergilah ke aula. Begitu berada di dalam, tutup setiap pintu yang ada. Hanya itu satu-satunya cara yang dapat mengeluarkan mu kembali ke dunia mu yang sesungguhnya." Kata Brahms padaku.
Mendengar itu, murid-murid yang tersisa di kelas langsung berlari keluar kelas. Menyisakan aku seorang diri. Aku hanya terpaku melihat keadaan Brahms.
"Cepat pergi!" Seruan Brahms lalu kembali mengerang hebat.
Kyle yang tadinya beranjak keluar, ia kembali ke kelas.
"Apa yang kau tunggu?" Tangan ku ditariknya yang otomatis mengikuti dia berlari menuju aula. Sesaat sebelum meninggalkan kelas, aku melihat Brahms. Aura kegelapan yang menyelimuti dirinya terus melebar hingga sampai menelan dirinya.
* * *
Begitu kami menemui titik persimpangan terakhir menuju aula, terdengar suara langkah kaki yang cepat bersama teriakan seseorang.
"Dia di sini!!!" Seorang murid yang ku kenali menemani kami bersembunyi di kelas tadi berteriak mengingatkan disela sedang berlari.
Sedetik usai perkataannya, bagian atas dari badan berpisah. Darah mengucur dari tubuhnya yang terbelah membuatku refleks histeris takut.
Brahms mendadak muncul dari arah datangnya orang itu, kembali dengan penampilan seram nya.
Kyle kembali menarik tanganku, "Kita lewat pintu samping."
Kami berlari lagi, kali ini lebih kencang sampai-sampai jantungku berdebar tidak karuan. Laki-laki yang bersamaku itu mengingatkanku untuk tidak menoleh ke belakang. Karena itu, aku hanya fokus ke melihat ke arah depan.
Sesaat di depan pintu, Kyle mendadak mendorong ku. Aku jatuh tersungkur di lantai, tetapi karena aksinya itu aku sudah berada di dalam aula. Ku lihat tangannya bergerak dengan gesit memindahkan mayat yang menghalangi pintu, lalu buru-buru menutup pintu dari luar.
Pikiranku blank, Kyle telah menyelamatkan ku. Melihat kucuran darah yang tiba-tiba muncul mengalir sangat banyak di cela bawah pintu seolah menjadi pertanda kematian laki-laki itu.
Tubuhku melemas. Tangis ku memecah keheningan. Perasaan ku bentrok, bercampur adu; sedih, shok, marah, tidak terima. Disaat pikiranku masih tertuju pada Kyle, ku mendapati pintu utama aula rupanya terbuka.
Tadinya aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi untuk hidup. Setelah kejadian Kyle, pikiranku tidak lagi jernih seperti menganggap diriku juga sudah berakhir.
Tetapi, ingatan tentang usaha Kyle dalam menyelamatkan ku. Membawa diriku tiba-tiba memiliki keinginan untuk menghargai hidupku, hidup yang diperjuangkan orang lain demi kepentingan ku.
Meski lemas, aku memaksakan diri untuk bangkit berdiri lalu berlari menggapai pintu yang sedang ku datangi.
Ketika hampir sampai di pintu, penampakan Brahms yang melangkah memasuki ruangan dari pintu yang hendak ku tutup membuat langkah ku terhenti.
"Aku berakhir." Kakiku seperti kehilangan tenaganya, tidak mampu menopang tubuhku sehingga membuatku jatuh terduduk.
Sekejap mata, posisi Brahms berpindah ke hadapanku. Raut wajahnya begitu dingin, menatap ke arahku.
Aku pasrah di tempatku, ku kembali menangis. Kali ini tanpa suara.
Mataku terpejam. Ku tersentak kecil setelah kurasakan angin kecil membelai sedikit rambutku. Namun, tidak terjadi apa-apa. Karenanya aku pun memberanikan diri untuk membuka mata.
Ku lihat tangan Brahms mengarahkan mata pisau sangat dekat beberapa inch di depan mataku. Tetapi, mata pisau itu tidak bisa maju lebih jauh dikarenakan tertahan oleh salah satu tangan Brahms yang lainnya.
Brahms sepertinya berusaha memberontak dengan mencoba menguasai kembali kesadarannya. Meski masih dikelilingi aura gelap tersebut, tetapi Brahms berhasil menjauhkan mata pisau di tangannya dariku.
"Maaf."
Ia kemudian memaksakan melangkah pergi meninggalkan ruangan, lalu menutup pintu aula utama dari luar.
Keheningan. Seorang diri di dalam ruangan dikelilingi kekacauan. Merah darah mewarnai hampir seluruh tempat di dalam ruangan akibat mayat yang tergeletak dimana-mana. Aku tidak bisa bertahan setelah semua ini. Pandanganku perlahan buram, sekali lagi tubuhku tidak bertenaga. Aku kembali tersungkur diatas lantai sebelum akhirnya seluruh pandanganku menghitam.
* * *
"Breaking News Report.
Berita khusus. Kasus hilangnya sejumlah siswa di SMA Harvey Ascord secara misterius.
Diketahui mereka yang hilang adalah siswa kelas dua belas, jumlah mereka terbilang cukup banyak yakni seratus sembilan puluh siswa. Orang tua murid memberikan informasi keberadaan terakhir dari anak mereka yang tidak lain adalah berada di sekolah untuk mengikuti acara perayaan hari Halloween yang berlangsung tiap tahunnya. Untuk saat ini, kepolisian masih bekerja keras menyelidiki kasus ini."
Google, hot topic :
SELURUH SISWA KELAS DUA BELAS DI SMA HARVEY MENGHILANG SECARA MISTERIUS.
PERAYAAN HALLOWEEN DI SMA HARVEY, MURID MENGHILANG SECARA MISTERIUS.
EVANIA CANOLA, SATU-SATUNYA SISWA KELAS DUA BELAS SMA HARVEY DITEMUKAN DI SEKOLAH MENGALAMI GANGGUAN MENTAL.
KISAH SERAM SMA HARVEY, BERKENALAN DENGAN HANTU 'SI TERBUNUH, PEMBUNUH'
SI TERBUNUH PEMBUNUH, SMA HARVEY BENARKAH MENJADI PENYEBAB HILANGNYA MURID...?
HALLOWEN DAY, BLACK DAY.