Tragische liefde in Soerabaja
[08.06.1938]
Pagi hari yang indah di kota Surabaya. Hilir pikuk orang berlalu lalang. Teriakan semangat para jenderal Belanda untuk para pasukan nya terdengar mengaum di udara pagi ini.
Para saudagar-saudagar kaya mulai menghampiri sebuah pasar terkenal di Surabaya, pasar Turi. Bunyi telapak kaki kuda menghiasi jalan di sekitar pasar itu. Teriakan para penjual hampir mengalahkan teriakan para jenderal.
Aku turun dari sebuah kereta kuda. Merapikan kebaya dan rambut ku serta mengambil barang-barang ku. Aku berjalan masuk ke area pasar, dan di depan pasar terlihat lah beberapa serdadu Belanda yang berjaga. Salah satu dari mereka menyapa ku.
"Goedemorgen mevrouw". Aku tersenyum membalas sapaan selamat paginya. Aku termasuk wanita yang beruntung diantara wanita-wanita Indonesia saat ini. Ayahku bersekolah di STOVIA jadi semua orang segan kepada keluarga kami.
Saat aku menyusuri area pasar, tampak para pedagang menawarkan ku beberapa barang, ikan, pakaian bahkan beberapa dari mereka memuji ku agar tertarik membeli dagangannya.
10 menit berselang, saat aku sedang riang-rianhnya berbelanja terdengar dentuman keras dari arah gerbang pasar.
BUUUM!
Tiga serdadu Belanda yang berjaga di gerbang seketika terpental, termasuk serdadu yang tadi baru saja menyapa ku.
Wajahku langsung pucat, para orang-orang berhamburan. Aku baru teringat masa ini adalah masa dimana kota Surabaya sedang dipenuhi oleh pejuang kemerdekaan. Jika di tempat lain perlawanan berkurang justru ditempat ini hampir setiap bulan gerilyawan menyerang serdadu Belanda. Mereka diam-diam menyusun rencana lalu tiba-tiba menyerang disaat tidak terduga. Pagi ini dua belas pejuang kemerdekaan berani melawan dan melemparkan granat ke arah posko Belanda.
Aku mematung,mata ku terus tertuju pada seseorang yang menyapa ku tadi pagi, dirinya tergeletak disana..bersimbah darah..dan tidak berbentuk lagi. Para pengunjung dan pedagang berlarian, hingga aku ikut terseret mereka.
Ujung sarung ku terinjak orang lantas aku terjatuh begitu saja. Orang-orang menginjak-injak tubuhku, aku berusaha bangkit tapi tidak bisa.
Lantas, pertemuan itu terjadi. Pertemuan yang aku harap tidak akan pernah terjadi.
Salah seorang serdadu Belanda selamat dari ledakan, dengan tubuhnya yang berlumuran darah, dia terseok-seok menghampiri ku dan mengulurkan tangannya.
Waktu terasa berhenti seketika,mata birunya menatap lurus padaku, tangannya bergetar meraih tangan ku, darah bersimbah dari kepala hingga membasahi seluruh tubuh nya. Dan lihatlah wajahnya, dia tersenyum. Dia menawarkan bantuan kepada ku.
Aku meraih tangan nya. Oh Tuhan, andai dia tidak usah menyelamatkan ku saat itu.
Dia menaruh tangan nya di pinggang ku, dengan jalan terseok-seok dia berjalan membawa ku entah kemana. Aku menatap ke arah nya, dan mata biru itu memandang ku dengan lembut. Senyum itu..senyum itu terukir di wajahnya yang bersimbah darah.
Dan akhirnya dia berbicara, dengan nafas nya yang tersengal-sengal."nona..senang bertemu dengan mu".
Aku tidak menjawab nya. Dia berbicara padaku dengan bahasa Belanda nya yang khas. Dia sepertinya orang Belanda asli. Akhirnya kita sampai, dia membawa ku ke salah satu posko serdadu Belanda terdekat.
Para pejuang kemerdekaan tampak nya belum sampai ke tempat ini. Jadi sejauh ini kita aman.
Dia mulai berdiri dan mengambil kotak obat "apakah kau terluka, nona?" . Oh Tuhan rasanya aku ingin menangis, lihatlah dirimu dahulu. Dirinya bersimbah darah, kaki nya seperti nya terluka terkena ledakan tadi. Dan dia..masih mengkhawatirkan ku.
Aku menggeleng "tidak perlu.. khawatir kan dirimu sendiri..". Dia tersenyum lalu mengobati dirinya sendiri sembari jongkok di samping ku.
Orang-orang masih kalang kabut diluar sana, para pejuang kemerdekaan mulai melemparkan granat kesana kemari.
Dia menatap ku dengan mata biru nya lalu bertanya "siapa namamu, nona?" . Dan oh Tuhan dia tersenyum...aku menatap mata biru nya "Sukirnah.."
Dia kembali menatap luka nya lalu melanjutkan mengobati dirinya sendiri "nama yang indah, perkenalkan aku Aldert"
Dia menyodorkan tangannya, tangannya yang kasar.. tangan nya yang tadi menolong ku, aku menyambut uluran tangannya. Kita bersalaman.
Tiba-tiba suara dentuman kembali terdengar. Kali ini sangat dekat. Aldert langsung berdiri, dan menyuruhku sembunyi.
"Sembunyi!"
Belum sempat aku bersembunyi, salah seorang pejuang kemerdekaan melihat ku dan Aldert. Dia mengarahkan senapannya ke kepala ku.
"Nona..mundurlah..jangan bersama makhluk keji ini"
Tanpa berkata apa-apa, Aldert langsung melempar kan senapan itu ke tanah lalu ia mengambil nya dan menembakkan nya ke kepala pejuang kemerdekaan itu.
Suara senapan itu sepertinya mengundang para pejuang kemerdekaan. Mereka datang dan salah satu dari mereka berseru.
"TANGKAP MEREKA!"
Aldert langsung menarik tangan ku lalu kita berlari menembus kerumunan orang yang sedang melarikan diri juga. Dia membawa ku bersembunyi di kereta kuda, yang kebetulan kereta kuda keluarga ku.
"Naiklah!"
Aku menarik kereta kuda itu, Aldert berbalik para pejuang kemerdekaan itu menuju ke arah kita. Mereka membawa senapan yang mereka ambil dari serdadu Belanda yang sudah mati.
Supir keluarga ku terkejut melihat ku ada disitu dan langsung menaiki kereta kuda itu.
Aldert berkata ke arah supir ku
"Bawa dia ke tempat aman!"
"Siap, berpegangan nona!"
"Berhenti!" Aku menoleh ke arah Aldert dan dia menatap ku heran "pergilah Sukirnah!"
Aku menggeleng kuat-kuat "tidak..! Kau harus pergi bersama ku! Kau sudah menyelematkan ku!"
Aldert menghampiri ku dan mengusap pipi ku lembut, para pejuang kemerdekaan sudah semakin dekat.
"Maaf Sukirnah..aku harus pergi"
Supirku langsung menjalankan kereta kuda. Saat kereta kuda mulai menjauh dari tempat awal, Aldert terlihat melihat ku, menatap ku lalu tersenyum dan para pejuang kemerdekaan itu langsung menembak kan peluru tepat di kepala nya.
Aldert tumbang di tempat, dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Aku berteriak berseru namanya, dia menatap ku.. tubuhnya bersimbah darah dan para pejuang kemerdekaan itu menginjak-injak tubuhnya sehingga darah keluar dari mulutnya..Aldert tewas di tempat. Tewas persis di depan mataku.
Air mata...air mata kesedihan mulai turun dari pipiku. Oh Tuhan..kenapa dia harus menolong ku saat itu? Kenapa..dia tidak membiarkan ku mati? Kenapa dia tidak lari saja membiarkan ku? Kenapa?
Tapi, takdir Tuhan sudah terjadi. Setiap insan yang bertemu pasti akan berpisah jika sudah waktunya. Entah dalam waktu berpuluhan tahun atau hanya beberapa menit. Itu sudah takdir Tuhan.
Hari hari berikutnya, ketika orang mengajakku ke pasar Turi aku menolaknya. Aku tidak ingin kembali..aku tidak bisa melupakan dirimu yang tewas di hadapan ku saat itu, aku tidak bisa melupakan setiap menit, setiap tatapan, setiap senyuman, setiap sentuhan. Aku tidak bisa.
Tapi inilah akhir dari kisah cintaku, kisah cinta pertama dan terakhir. Aku tidak mau menikah karena aku masih teringat dengan mu, Aldert. Memang pertemuan kita hanya sebentar, tapi itu akan terukir di hati ku untuk selamanya.