forhidden love
Namaku Beril aku terlahir dari dua orang tua yang berbeda negara, ibuku yang bernama Mira berasa dari Indonesia tepatnya di kota Bandung dan ayahku bernama Yong Subin dari Jepang. Awal pertemuan mereka adalah karena ibuku menjadi TKW.
Saat aku kecil aku tak tau apa yang terjadi sehingga kedua orang tuaku berpisah dan aku ikut dengan ibuku karena aku masih dibawah umur.
Aku tak terlalu peduli dengan anak perempuan dan tak pernah tertarik untuk bermain dengan mereka, awalnya aku tak tau kenapa tapi saat usiaku 13 tahun aku pun mulai menyadari kalau aku memang tak bisa tertarik sama akan perempuan Karana aku cenderung tertarik pada pria.
Hal itu aku sadari saat aku dan teman satu klub ku yang bernama Angga mandi bersama di pemandian umum setelah kami selesai latihan renang.
Sejak saat itu aku diam - diam memperhatikan dia dan selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan aku juga mulai menggambar dirinya disetiap momen yang aku dapatkan
"Kak Angga, dia sangat lucu."
Aku selalu mengaguminya, dia bukan hanya ada di klub renang bersama dengan ku tapi dia juga ikut di klub basket.
Rasa cintaku padanya semakin hari jadi semakin berkembang dan tumbuh besar dalam lubuk hatiku.
"Oh, iya tinggal 3 bulan lagi kak Angga akan keluar dari sekolah aku harus mencari tau dia akan sekolah dimana biar aku bisa mengikutinya nanti."
Setiap hari aku selalu memperhatikan dia dan hanya memperdulikan tentang dirinya. Walau dengan diam - diam aku mencari informasi dari para anggota fansnya aku merasa senang setiap kali aku mengerjakan tugasnya dan mengabaikan tugasku sendiri.
Tapi petaka itu terjadi saat salah satu teman sekelas ku mengetahui kalau aku diam - diam memperhatikan kak Angga dan menggambarnya. Dia memberitahu teman - temannya dan hal itu sampai pada kak Angga.
Aku selalu menghindari kak Angga sejak saat itu karena aku takut kalau dia jijik dengan ku yang ternyata menyukai pria dari pada wanita. Tapi seperti takdir tak bisa terus ku hindari, pagi itu setelah upacara tiba - tiba saja kak Angga mendatangiku dengan membawah buku gambarku.
"Kau yang bernama Beril" Angga
"Iya kak"
Jawabku dengan takut dan tak berani menatapnya.
"Itu buku gambar mu?" Angga
"I-iya kak."
Tubuhku mulai bergetar karena suara kak Angga terdengar sangat kesal.
"Angkat wajahmu dan lihat aku." Angga
"Maaf kak itu..." Beril
"Aku bilang angkat wajahmu saat bicara dengan ku." Angga menarik gadu Beril dan mengangkatnya
Aku sangat takut waktu itu dan semua teman sekolah ku melihat ke arah ku dan kak Angga, tubuhku tak berhenti untuk gemetar dan aku tak berani menatap wajahnya.
"Jelaskan padaku apa semua ini." Kak Angga mengangkat buku gambarku
"Maafkan aku kak." Suaraku hampir tak keluar karena takut
"Jadi kau mencintaiku? Hah, kau mencintaiku."
"Apa kau juga berkhayal kalau kau memeluk dan mencium ku hah"
"Dengarkan aku, aku tak pernah menyukai pria dan aku juga tak pernah tertarik padamu. Jadi jangan pernah berkhayal tentang hal yang mustahil, menjauh dariku itu membuatku jijik dan bila perlu enyahlah dari hadapanku, jangan pernah menunjukkan wajahmu yang menjijikan itu."
Ucap kak Angga pada ku dan merobek buku gambarku, sontak aku mengalirkan air mata yang tak mampu untuk ku bendung karena kata - katanya yang terdengar sangat kejam.
Duniaku terasa runtuh dan hancur seketika, penyemangat dan orang yang selalu ku kagumi ternyata jijik padaku bahkan tak ingin melihat wajahku.
Aku langsung lari pulang saat itu dan bilang pada ibuku untuk tinggal dengan ayahku dan aku meminta pada ibu untuk menghubungi ayah dan aku ingin pindah tinggal dengan ayah.
Selama 1 Minggu aku tak ingin masuk sekolah karena aku takut untuk bertemu dengan kak Angga juga malu pada teman - temanku, hingga pagi itu ayah datang untuk menjemput ku.
Keesokan harinya aku mengurus semua surat pindah dari sekolah dan saat aku datang aku melihat Kak Angga bersama dengan teman - temannya, aku cepat bersembunyi dan melihatnya diam - diam, karena hari itu adalah hari terakhirku untuk bisa melihatnya.
Aku pun berangkat dan tinggal dengan ayahku yang ternyata dia memiliki istri seorang pria juga dan alasan berpisah dari ibu karena ayah tak bisa melanjutkan lagi dan mengabaikan kenyataan kalau sebenarnya ayah mencintai pria.
Aku tersenyum saat ayah berusaha untuk menjelaskan padaku, aku tak marah pada ayah dan aku menghormatinya. Lalu aku juga menceritakan kenyataan kalau aku juga menyukai pria dan alasanku minta pindah serta tinggal bersama dengan ayah.
Aku, ayah dan om Sin tinggal bersama dan kami sangat bahagia. Terlebih om Sin sangat memanjakan ku dan memenuhi seluruh kebutuhanku.
"Daddy, bisakah lusa menemaniku untuk perpisahan?"
Ya aku memanggil om Sin dengan sebutan Daddy dan dia sangat menyukainya, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Bahkan dia lebih peduli dengan ku dari pada ayahku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ya sudah 6 tahun aku tinggal dengan ayah dan juga Daddy ku, aku juga sesekali menghubungi ibuku yang sudah berkeluarga lagi dan aku memiliki seorang adik perempuan. Terkadang aku pulang saat hari raya tapi itu tak lama hanya 3 Samapi 4 hari saja karena aku sudah mulai sibuk dengan studiku. Dan suami ibuku juga sangat baik padaku.
"Ae, hei Ae." Yi
"Yi ngapain teriak - teriak." Beril
"Ae, apa kau dengar mahasiswa pertukaran sudah datang, dan katanya mereka adalah orang yang sangat luar biasa." Yi berkata dengan sangat antusias.
"Terus apa hubungannya dengan aku, aku tak peduli. Sudah ah aku ke kantin untuk makan mau ikut gak." Beril
"Ikut dong Ae." Yi
"Ae, lihatlah ada kak Yaya dan gengnya. Duh kak Yaya keren banget ya Ae" Yi
"Hem, sudah ayo." Beril
"Hei Ae." Yaya
"Oh halo kak." Beril
"Kakak juga mau makan ya." Yi
"Boleh gabung?" Yaya
"Tentu saja kak silakan, kosong kok." Yi
Sebulan berlalu dan semua siswa selalu sibuk dengan anak - anak yang datang perwakilan dari Indonesia
Bruk
"Oh maaf kak aku tak sengaja, apa ada yang bisa aku bantu kak."
Aku berkata dengan ramah pada seseorang yang tanpa sengaja aku tabrak karena aku buru - buru.
"Tak apa, tak masalah." ucap orang itu
"Sekali lagi maaf kak, aku permisi karena aku sudah telat." Aku pun langsung pergi begitu saja
"Ae kenapa kau bisa telat hah, hampir saja kau kena." Yi
"Maaf, aku bangun telat karena Daddy memaksa aku menemaninya minum semalam" Beril
"Hei Ae itu adalah mahasiswa pertukaran, dia cakep banget ya." Yi
"Oh orang yang aku tabrak tadi." jawab ku cuek
"Eh kau menabrak dia tadi, apa kau kena omel sama dia. Karena aku dengar dia orangnya tak ramah sama sekali, setiap gadis yang mendekatinya selalu dibuat menangis olehnya. Sampai - sampai dia dijuluki Angga sang iblis." Yi menjelaskan dengan detail dan membuat aku kaget dengan nama yang disebutkannya.
Aku menatapnya dan ku perhatikan ternyata memang benar dia adalah kak Angga, cinta menyakitkan yang pernah ku rasakan.
"Sial kenap jadi dia, dan itu benar - benar dia, kenapa tadi aku tak menyadarinya"
"Tapi pasti dia tak akan ingat aku karena ini sudah 6 tahun lewat dan namaku juga sudah ganti. Jadi tenang saja Ae, dia tak akan mengenalimu dan juga dia hanya 6 bulan di sini"
"Cukup hindari saja dia dan jangan terlibat masalah dengan dia."
"Ae, Ae..kenapa kau bengong hah, apa kau tertarik padanya?" Yi bertanya dan menatapku
"Kau gila tentu saja tidak"
"Bukannya tadi kau bilang kalau dia itu iblis, dan aku tak ingin terlibat dengannya."
Jelasku pada Yi yang selalu saja mengganggu ku.
"Ok, ayo kita ada kelas siang ini" Yi
"Aku ke kamar mandi dulu" Beril
"Ok, aku tunggu di parkiran." Yi
"Ae, masih di kampus." Yaya
"Oh ya kak, masih ada kelas tadi. Dan mengerjakan tugas sekalian." Beril
"Hem, sangat rajin." Yaya menyentuh kepala Beril dengan lembut dan Beril pun jadi tersipu.
"Kalian menghalangi jalan." ucap Angga dengan kasar pada ku dan Kak Yaya
"Baiklah aku duluan ya Ae." Kak Yaya pun pergi
Aku masuk kedalam kamar mandi dan sialnya saat keluar aku justru menabrak kak Angga lagi.
"Maafkan aku kak, aku tak sengaja." ucapku tanpa melihatnya
"Kau suka sekali ya menabrak orang." Angga
"Maaf kak, maafkan aku." Aku menunduk untuk meminta maaf sebagai sopan santun.
"Angkat wajahmu dan lihat aku saat bicara." suara Angga terdengar marah
Sontak aku pun takut karena teringat akan kenangan yang dulu, aku melangkah mundur dan tubuhku mulai bergetar.
"Tenanglah Ae, dia tak mengenali mu. Cukup lihat dan mintalah maaf lalu pergi." gumamku dalam hati.
"Maafkan aku kak, aku menyesal dan aku benar - benar tak sengaja tadi." ucapku menatap Kak Angga lurus
"Permisi kak, maaf aku buru - buru" aku langsung pergi meninggalkan kak Angga.
Keesokan harinya aku melihat orang berkumpul di dalam kelas dan saat aku masuk ternyata ada kak Angga didalam kelas.
"Apa yang dia lakukan." gumamku
"Ae ya ampun lama sekali, apa yang telah kau lakukan hah? Kak Angga mencari dan menunggumu dari tadi." Yi berkata dengan panik
"Apa, aku tak melakukan apa - apa." jawabku bingung
"Kau, lama sekali. Ikut aku." Kak Angga menarik ku pergi.
Kak Angga membawah ku ke kelas kosong dan menatapku dengan dalam.
"Apa yang terjadi kak." tanyaku dan bersikap biasa saja
"Jadi namamu Ae." ucap kak Angga
"Iya aku Ae." jawabku
"Kau sudah melupakan ku, atau kau sudah tak mencintaiku lagi." ucap kak Angga
"Apa maksud kakak, aku tak mengerti." aku mendorong kak Angga.
"Jangan pura - pura lagi padaku." kak Angga menarik ku yang ingin pergi
"Auh sakit kak." Aku teriak karena pergelangan tanganku yang dicengkeram kak Angga terasa sakit.
"Kau tak ingat, maka aku akan mengingatkannya. Dan lihat semuanya" kak Angga melemparkan sebuah buku padaku yang ternyata itu adalah buku gambarku yang dulu ku gunakan untuk menggambar kak Angga diam - diam yang sudah di robek didepanku, dan saat ini buku itu telah diperbaiki dan banyak tambalan disana sini.
"Apa kau sudah ingat sekarang, hah." ucap kak Angga
"Ingat, aku sangat ingat semuanya. Saat kakak berteriak padaku dan mengatak kalau kakak jijik padaku dan tak ingin melihat wajahku lagi." Beril
"Bagus jika kau masih ingat itu." Angga
"Lalu untuk apa semaunya, aku tak ingin terlibat dengan mu lagi dan aku juga sudah melupakan semua perasaan ku padamu. Jadi semua ini tak ada artinya lagi pagi ku." ucapku pada kak Angga dengan marah karena aku tak ingin lagi memiliki kenangan dengan dia.
"Tak ada artinya, sudah melupakan semuanya dan tak memiliki perasaan lagi. Benarkah, apa benar semua itu."
Kak Angga berkata dengan nada yang ditekan dan aku tak tau serta tak mengerti apa maunya dengan dia membawah dan mengingatkan aku akan kenangan pahit itu.
"Iya, semua sudah tak ada artinya dan aku tak memiliki perasaan untuk kakak karena aku sudah memiliki seseorang yang ku cin..em"
Tiba - tiba Kak Angga menarik ku dan mencium ku. Sejenak aku sempat kaget dan bingung, tapi dengan cepat aku menyadarkan pikiranku dan mendorongnya
"Apa kau sudah gila." teriakku emosi
Dia tak menanggapi ku dan kembali menarik serta menahan ku di atas meja dan kembali mencium ku, namun kali ini ciumannya sangat menuntut dan kasar.
"Uhm." aku memukul bahunya berkali - kali karena aku hampir kehabisan nafas karenanya.
"Apa masih tak mencintaiku, atau masih kurang aku untuk melakukannya." ucap kak Angga yang membuatku bingung
"Jangan lakukan ini lagi kak, aku tak menginginkan hal ini. Aku tau aku menyukai pria tapi aku juga tak akan mencium sembarang pria. Aku hanya akan melakukan pada orang yang ku cintai saja." Aku mulai marah pada kak Angga karena aku merasa dia hanya mempermainkan aku.
Aku pergi meninggalkan dia dan tak akan lagi berhubungan dengan dia, karena itu sangat menyakitkan bagiku. Aku merasa sangat terhina dan rendah.
"Ae, ada apa. Apa ada yang berbuat jahat padamu? Katakan pada Daddy akan Daddy bereskan." ucap Daddy Sin saat melihatku datang
"Tak ada Dad, semua baik - baik saja." aku menjawab dan tersenyum sekilas
"Kenapa dengan anak itu sayang" tanya ayahku pada Daddy
"Dia tak mau cerita, biarkan saja dulu nanti kalau sudah tenang aku akan tanya lagi padanya. Tak akan ku biarkan siapa pun menyakiti anak ku." ucap Daddy yang bisa ku dengar dari dalam kamarku.
Bersambung...