#Cerita +10 menit Ini kisah tentang...
Author: dina
#Cerita +10 menit
Ini kisah tentang pertemuanku dengan seorang pria di sosial media dnna menjalin hubungan selama lebih kurang delapan tahun lamanya. Ku beri judul Love in the Air
Sinopsis.
Cinta bisa datang kapan pun dan di mana pun. Bahkan jarak yang jauhpun takkan menghalangi rasa itu muncul.
Bermula dari pertemanan di facebook kemudian menjalin hubungan serius. Nadin adalah seorang karyawan berumur 25 tahun, mendapatkan kenalan dari facebook bernama Endru.
Awal perkenalan hanya sebuah basa basi untuk tahap perkenalan, namun lama-kelamaan tumbuh rasa nyaman di antara keduanya, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan serius.
Hubungan yang berlanjut selama delapan tahun, melewati suka duka bersama, saling memahami satu sama lain, membuat keduanya sepakat untuk meresmikan hubungan mereka dalam satu ikatan pernikahan. Namun sayang, saat hari yang telah disepakati tiba, Endru sakit parah dan membuatnya tak kuasa menahan kesakitannya.
Akankah Endru tetap bertahan dan melanjutkan kisahnya bersama Nadin?
Bab 1: Perkenalan di Dunia Maya
Malam itu tepat jam 22.00 WIB tanggal 30 Desember 2011, Nadin bersama dengan keluarganya tengah berkumpul mempersiapkan malam tahun baru. Saat itu Nadin tidak bersama mama dan papanya karena memang Nadin bekerja di luar kota dan tinggal bersama saudara mamanya. Dirumah yang sederhana dan cukup luas itu hidup sekitar lima sampai enam anggota keluarga yang terdiri dari nenek, kakek, om, tante dan adik-adik sepupu nadin. Diluar tetangga Nadin juga sedang menunggu malam tahun baru tiba, karena memang saat itu Nadin beserta keluarga dan tetangga sebelah rumah ingin merayakan malam tahun baru dengan membuat ayam bakar.
Para anggota keluarga tengah mempersiapkan racikan bumbu ayam bakar yang sudah dibuat dari jam 18.00 WIB tadi. Sementara para lelaki mempersiapkan api unggun untuk memanggang ayam yang akan disantap bersama nanti.
Sedangkan Nadin dan adik-adik sepupunya seperti biasa ikut membantu tapi kali ini karena kegabutan dan rasa kangen ingin bertemu mamanya Nadin iseng-iseng membuka Facebook.
Memang beranda Facebook Nadin selalu saja dipenuhi dengan komen dan like dari teman-teman dunia mayanya, tapi entah kenapa waktu itu Nadin iseng coba cari-cari teman cowok di Facebook, tanpa sengaja Nadin melihat satu akun yang dikasih nama ala-ala korea gitu, karena waktu itu lagi demam K-Pop rasa ingin tahu Nadinpun mulai meronta dan Nadin mencoba untuk menyapa orang itu.
Nadin segera mengklik akun yang bernama Kim Soo hyun itu. Sambil berpikir siapa sebenarnya orang ini kenapa dia menggunakan nama korea?, padahal wajahnya tidak ada mirip korea sedikitpun. Nadin mulai menyapa lelaki di Facebook itu
"Hai " sapa Nadin dihalaman beranda lelaki itu
Tidak butuh waktu lama si pemilik akun itupun menjawab "Hai 😁"
Sambil menunggu waktu tahun baru tiba, Nadin melihat balasan sapaannya kepada lelaki itu tapi Nadin tidak melanjutkan percakapan karena malam itu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, Nadin tidak ingin mengganggu dan setelah beberapa lama kemudian saat yang ditunggu-tunggupun telah tiba. Terompet tahun barupun ditiupkan dan terlihat dikejauhan kerlap-kerlip cahaya kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam. Semua orang bersorak bergembira, anak-anak kegirangan melihat pemandangan indah tersebut. Nadinpun memoto keindahan yang baru saja dilihatnya dan langsung mempoatingnya diberanda Facebook.
Tidak terkira langsung saja banyak yang menyukai postingan Nadin dan banyak yang memberikan komentar selamat tahun baru dipostingan itu. Tiba-tiba Nadin mendapatkan chat dimessenger "sibuk ya sampai-sampai kamu ga mau ngobrol sama aku" ujar lelaki yang baru saja disapa Nadin beberapa jam lalu di messenger.
Nadin terkejut membaca chatnya dan menjawab " ga kok cuma ngumpul aja sama keluarga" sambil melontarkan emotikon senyum dichatnya.
Kim Soo Hyun lelaki yang tengah berbicara dengan Nadin membalas chat Nadin "oh... lagi sama keluarga"
"Iya kenapa emangnya"Nadin membalas chat Kim.
"Ga, cuma pengen ngobrol sama kamu aja," jawab Kim datar.
"Tapi udah malam besok aja ya kita lanjutin ngobrolnya," jawab Nadin singkat.
"Kenapa? Aku ganggu ya, maaf deh kalo gitu," jawab Kim sambil memberikan emoticon sedih
"Ga. Kamu ga ganggu cuma ga enak aja kalo ngobrol udah malam-malam begini" jawab Nadin canggung kepada kim
"Kamu udah mau tidur ya," tanya Kim padanya
"Mmm... iya sich... aku ngantuk lagian besok mesti kerja juga?" jawab Nadin sambil menguap membaca chat dari Kim
"Okay, selamat malam. Oh iya jangan lupa bangunin aku besok pagi. Itupun kalau kamu ga keberatan" jawab Kim sambil bercanda.
"Okay kalau aku inget aku bangunin ya, tapi kalau aku ga bangunin kamu itu artinya aku buru-buru berangkat kerja" balas Nadin menanggapi chat Kim.
***
Pagi itu tepat jam 06.00 wib Nadin membuka chatnya di Facebook dan menyapa Kim. " hai... udah bangun belum?". Hampir dua jam Nadin menunggu ternyata belum ada jawaban dari Kim. Nadinpun menutup chatnya dan segera berangkat kerja.
Saat diperjalanan ke kantor Nadin merasakan handphonenya berdering, setelah membuka chat dihandphonenya ternyata itu chat dari Kim. " hai, maaf telat balas chat kamu aku baru bangun" jawab kim sambil memberi emoticon senyum dichatnya.
"Hah jam segini baru bangun?" jawab Nadin sedikit kesal membalas chat Kim.
"Maaf, tadi malam aku pingsan. Ini aku baru aja sadar dan sekarang aku lagi di Rumah Sakit," jawab Kim sambil merasakan lemas diseluruh tubuhnya.
"Kamu di Rumah Sakit?" tanya Nadin penasaran.
"Iya kenapa emgnya?" Kim bertanya balik.
"Hmm, kenapa kamu sampai pingsan gitu? Sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Nadin sambil berpikir membaca chat Kim.
"Ahh, biasalah. Rumah Sakit udah jadi rumah kedua buat aku," jawab Kim sekenanya menjawab pertanyaan Nadin.
Kaget dan penasaran merasuki pikiran Nadin dan Nadin kembali bertanya "kok kamu jawabnya gitu? Aku nanya serius kamu sakit apa?"
"Cuma sakit perut," jawab Kim sambil memejamkan mata
" sakit perut kok sampai pingsan dan opname ke Rumah Sakit?" Tanya Nadin serius.
"Aku di vonis sakit ginjal dan ini udah untuk kesekian kalinya aku opname" jelas Kim pada Nadin.
"Oh begitu ya? Baiklah aku mengerti," jawab Nadin mengakhiri pertanyaannya.
"Kamu lagi sibuk ga?" Tanya Kim sambil membalas chat Nadin.
"Aku baru aja sampai kantor," jawab Nadin singkat.
" oh kamu lagi kerja ya?" Tanya Kim sambil melihat jam dinding Rumah Sakit.
"Iya aku lagi di kantor tapi belum sibuk kok," jawab Nadin membalas chat Kim sambil menata ruangan kantornya.
"Ya udah kamu lanjut dulu, aku mau tidur sebentar. Nanti aku hubungi lagi," jawab Kim yang mulai merasakan ngantuk berat.
"Okay. Aku juga mau kerja dulu. Nanti sore pulang kerja aku hubungin kamu" balas Nadin mengakhiri chat mereka.
Sejak chat dengan Kim, Nadin mulai kepikiran tentang Kim, tapi Nadin masih belum percaya 100% tentang kisah Kim, karena memang Nadin belum pernah bertemu dengannya dan itu sangat membingungkan buat Nadin. Hanya dengan via chat mereka jadi begitu dekat dalam waktu singkat. Nadin memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan pembicaraan mereka dan Nadin tidak memberikan kabar apapun pada Kim.
***
Malam haripun tiba.
Kim teringat pada Nadin dan langsung menghubunginya.
"Nadin, kenapa ga hubungin aku lagi? Apa kamu mulai bosan denganku?
Lama menunggu balasan chat Nadin dan tidak melihat ada tanda Nadin lagi online, Kim pun tertidur.
Saat malam tiba, Nadin baru saja merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil main handphone. Nadin langsung teringat pada kim dan melihat chatnya dengan Kim pagi tadi. ternyata ada chat dari Kim, Nadin segera membalas chat Kim.
"Maaf, aku tidak membalas chatmu tadi. karena dari tadi aku sibuk dengan urusan rumah dan aku menginggalkan handpone di kamar. Bagaimana keadaanmu Kim? Apa kamu baik-baik saja?
Sudah hampir pukul 22.00 WIB tidak ada balasan dari Kim, Nadinpun memutuskan offline dari chat dan tidur.
Bab 2 :Cinta diantara Kim dan Nadin
Saat malam tiba, Nadin baru saja merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil main handphone. Nadin langsung teringat pada kim dan melihat chatnya dengan Kim pagi tadi. ternyata ada chat dari Kim, Nadin segera membalas chat Kim.
"Maaf, aku tidak membalas chatmu tadi. karena dari tadi aku sibuk dengan urusan rumah dan aku menginggalkan handpone di kamar. Bagaimana keadaanmu Kim? Apa kamu baik-baik saja?
Sudah hampir pukul 22.00 WIB tidak ada balasan dari Kim, Nadinpun memutuskan offline dari chat dan tidur.
Waktu berlalu begitu cepat, malam berganti pagi. Saat Nadin membuka mata, diapun teringat pada obrolannya dengan Kim. Ternyata tidak ada balasan dari Kim. Nadin merasa khawatir dan mencoba menghubungi Kim, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Nadin mulai gelisah memikirkan tentang Kim.
Siang haripun tiba, Kim menghubungi Nadin.
"Hai Nadin, lagi ngapain?
Nadin membuka chatnya dan menjawab "kamu dari mana? Dari malem aku tungguin balasan km kok baru jawab sekarang?"
Kim menjawab "kenapa Nadin, kamu khawatir ya ( sambil memberikan emoticon senyum)
"Iiicchh ... Kim aku tu nanya serius, malah becanda." gerutu Nadin kesal.
"Jawab dulu, kamu khawatir ga sama aku?" cecar Kim sambil bercanda.
"Iya, aku khawatir!!! Puas kamu." jawab Nadin sambil berpura-pura marah.
"Ciee ... ternyata kamu khawatir ya?" Kim mulai menyelidiki perasaan Nadin.
"Ya udah, kalau aku ga boleh khawatir. Aku ga nanyain kamu lagi." jawab Nadin pura-pura.
"Aku ga bisa tidur." ujar Kim mulai serius.
"Emang ga bisa tidur kenapa?" selidik Nadin pada Kim.
"Aku kepikiran kamu." lirih Kim sambil bercanda.
"Kim, bisa ga kamu itu serius sedikit jawab aku?" tanya Nadin sedikit kesal.
"Iya Nadin, aku serius aku kepikiran kamu. Abisnya aku hubungin kamu ga jawab." jawab Kim datar.
"Maaf Kim, aku tadi malam sibuk menyelesaikan kerjaan aku, jadi maaf kalau aku lama menjawab chat kamu." tutur Nadin dengan pelan.
"Aku akan maafin kamu, tapi dengan satu syarat". balas Kim
"Syarat apa Kim?" tanya Nadin penasaran.
"Mmm, gimana kalau hari ini kita ketemuan." ajak Kim pada Nadin
"Ketemuan?" tanya Nadin sedikit bingung
"Kenapa, kamu ga mau ketemu aku?" protes Kim pada Nadin
"Mau Kim, tapi apa kamu yakin mau bertemu denganku?" bujuk Nadin sambil malu-malu.
"Kenapa engga Nadin?, kalau kamu mau, aku tunggu kamu di Cafe Pelangi sore ini jam 17.00 WIB." pinta Kim.
"Baiklah, tapi kamu belum jawab pertanyaanku tadi Kim." tukas Nadin pada Kim.
"Nanti aku jelasin semuanya setelah kita ketemu." balas Kim
"Baiklah," Nadin mengakhiri percakapan merekapun mereka.
***
Jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB, Nadin teringat akan janjinya pada Kim saat itu. Nadin segera bergegas menyusun berkas-berkas kerjanya dan segera merapikan diri kemudian menuju ke tempat parkiran. Secara tidak disangka-sangka ada seorang lelaki mengenakan jaket kulit dan mengendarai motor sport Yamaha Vixion menghampirinya.
Nadin hanya terpaku dan bingung menatap lelaki itu, tetapi lelaki itu tersenyum dan mengajak Nadin naik ke motornya, otomatis Nadin menolak dan meninggalkan lelaki itu, tetapi lelaki itu tetap mengikuti Nadin dan memegang tangan Nadin, lalu berkata " Nadin, ayo naik."
Nadin menoleh kearah lelaki itu dan berkata "hei, kamu siapa? Aku tidak mengenalmu."
Sambil tersenyum Kim membuka kaca helmnya dan berkata "aku Kim, orang yang beberapa hari ini chat denganmu di Facebook."
Nadin sedikit kaget dan terpesona menatap lelaki itu, karena yang dilihatnya hari ini jauh lebih tampan dari yang difoto.
Kim memetikkan jarinya ke mata Nadin dan berkata
"Hai, kita jadi ke Café?"
Nadin terkejut dan menjawab "kamu ... kamu ..."
"Kamu ... kamu, ini aku Kim" jawab Kim sambil memberikan helm pada Nadin.
"Ah ... iya Kim, maaf aku pikir kamu siapa?" ujar Nadin sambil mengambil helm dan tetap menatap Kim.
"Udah, buruan naik," ajak Kim.
Nadin mengikuti perkataan Kim sambil menaiki motor yang dikendarai Kim. Dalam perjalanan Nadin hanya diam, masih belum percaya kalau orang yang baru dikenalnya sangat tampan seperti bintang film korea favoritnya (Lee Min Hoo) dan terlihat tajir. Nadin merasa agak canggung bersama Kim, tapi Nadin tetap berusaha menenangkan hatinya.
"Nadin, kok diem aja sich. Ngomong napa?" ucap Kim pada saat pemberhentian lampu merah.
"Mmm, iya kenapa?" tanya Nadin kaget.
"Aku bilang kamu kenapa diem aja dari tadi?" cecar Kim balik pada Nadin.
"Aku masih belum percaya aku jalan sama kamu hari ini, dan aku masih memikirkan bagaimana kamu bisa tahu aku kerja di tempat itu?" ucap Nadin sambil memperhatikan Kim.
Kim menjawab "itu mudah Nadin, aku tinggal cari di GPS kamu ada dimana. Lagian kantor kamu ga jauh dari rumahku."
Nadin hanya bingung tidak mengerti dengan jawaban Kim. Lampu lalu lintas mulai hijau, Kim melanjutkan perjalanan, merekapun tiba di Café dan ternyata Kim telah memesan tempat VIP buat mereka. Seketika Nadin terkesima saat memasuki Café, ternyata Café yang dimaksud Kim sangat mewah dan elit.
Nadin semakin bingung dan hanya terdiam seribu bahasa saat Kim mengajaknya di kursi makan yang diatas mejanya telah tersedia minuman pembuka dan lilin-lilin indah, terasa berada di dalam kencan dan dengan diner romatis.
Kim langsung menawarkan menu makanan pada Nadin "kamu mau makan apa?" tapi Nadin hanya berkata "terserah kamu, aku ikut aja". Kim mulai memilihkan makanan istimewa ditempat itu " disini menu paling enaknya nasi goreng special" kata Kim.
"Baiklah, aku mau" jawab Nadin. Emang sich Nadin ini tipe cewe yang nurut dan ga banyak milih-milih. Dan Kim juga tipe orang yang cuek dan royal.
Waiters menghidangkan makanan mereka dan mempersilahkan mereka makan. Kim menatap mata Nadin yang sedari tadi melihat-lihat sekeliling Café dan bertanya "kamu udah pernah ke sini?" Nadinpun menjawab dengan polosnya "belum sama sekali".
"Jadi aku orang pertama yang mengajakmu ke tempat ini?" ujar Kim lagi.
Sambil tersedak Nadin menjawab "iya, eh maksud aku_"
Kim memberikan minuman pada Nadin yang terlihat gugup dan wajahnya mulai memerah karena tersedak. Kim hanya tersenyum melihat Nadin yang salah tingkah.
Nadin, teringat pada percakapan mereka tadi malam dan berkata "Mmm tadi kamu bilang mau bilang kenapa kamu ga menghubungiku tadi malam."
Sambil tersenyum Kim menjawab "oh... itu. Iya aku tadi malam ga bisa tidur dan aku nge track"
"Nge track??? tanya Nadin bingung.
"Iya kenapa? Ada yang salah?" ujar Kim heran.
"Bukan itu maksudku, kamu bisa ngetrack ?" tukas Nadin kembali.
"Iya aku emang suka ngetrack dan itu hobiku" jawab Kim.
Nadin hanya tersenyum memandangi Kim. Nadin hanya sedikit heran, dengan postur tubuh Kim yang sangat kurus, bagaimana dia bisa melakukan itu.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan." celetuk Kim.
"Emang menurut kamu aku mikirin apa?" tanya Nadin pada Kim penasaran.
"Kamu pasti herankan bagaimana aku bisa nge track? Padahal kalau dilihat-lihat postur tubuh aku yang mungil gini ga mungkin nge track" jawab kim pada Nadin.
Nadin tersedak sambil senyum kecil " maaf bukan itu maksudku, aku Cuma bingung aja kenapa kamu hobi nge track".
"Ceritanya panjang kapan-kapan aku bakal cerita ke kamu". Jawab Kim sambil memakan makanannya. " oh iya, tadi malam aku menang taruhan," timpal Kim.
"Taruhan apa?" tanya Nadin dengan wajah lugunya.
Sambil menatap Nadin, Kim berkata "ya nge track nya Nadin. Aku yang jadi pemenangnya."
"Oh gitu. Selamat ya," ucap Nadin singkat sambil tersenyum. Kim hanya bingung melihat ekspresi Nadin dan melanjutkan makannya.
Bab 3: Tentang Kim
Pertemuan singkat diantara mereka benar-benar sepesial buat Nadin dan Kim benar-benar memperlakukannya sangat istimewa. Entah kenapa sejak percakapan mereka di chat facebook saat itu Kim merasa nyaman dan sangat menyukai Nadin. Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan diner, jalan-jalan keliling kota dan cerita-cerita di taman. Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, Nadin mengatakan pada Kim "udah malam, udah waktunya kita pulang".
Sambil tersenyum Kim menggenggam tangan Nadin dan mengajaknya ke motor Kim " baiklah aku antar kamu pulang".
Nadin menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Kim. Dalam perjalanan mereka hanya diam dan saling tersenyum mengingat apa yang telah lewati hari itu. Sepertinya mereka mulai saling menyukai satu sama lain.
***
Setibanya di depan rumah Nadin merekapun berpisah. Kim menatap Kim yang menuju ke pintu rumahnya dan berteriak " Nadin".
Nadin menoleh ke arah Kim sambil tersenyum, Kim mengucapkan kiss bye dari kejauhan. Nadin hanya membalasnya dengan senyuman sambil tersipu malu. Pertemuan merekapun berakhir untuk hari itu.
Kenyataannya meskipun mereka sudah berpisah pada hari itu, Kim merasakan ada getar-getar cinta antara dirinya dan Nadin, sejak pertemuan itu Kim tidak bisa melupakan wajah Nadin, ekspresinya, senyumannya dan semua tingkah laku Nadin yang sangat lucu. Begitupun dengan Nadin, dia merasakan kembali rasa yang telah ditinggalkannya dua tahun lalu. Ya, memang dulu Nadin pernah dekat sama cowo tapi mereka lost contact karena suatu alasan. Sampai pada akhirnya dia dipertemukan dengan Kim.
Dimata Nadin, Kim adalah lelaki yang baik dan dari penampilannya Nadin mengerti kalau Kim bukan orang sembarangan dan pastinya Kim adalah cowo tajir, tapi itu bukan hal utama bagi Nadin, karena pada dasarnya Nadin penasaran dengan lelaki yang baru saja dikenalnya beberapa hari ini lewat media facebook dan sepertinya Nadin tertarik untuk mengenal Kim lebih jauh.
begitu pula dengan Kim, sepertinya merasakan Nadin juga menyukainya, mengapa tidak mencoba untuk mendekati Nadin saja. Mungkin saja mereka cocok.
Bab 3: Kim itu sebenarnya adalah Endru
Minggu pagi adalah hari yang dinantikan Nadin, setelah enam hari bekerja disibukkan dengan segala aktifitas, inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Joging bersama adik-adik dan sodara nadin. Ya, emang sich kalau tinggal sama sodara harus selalu bersama melakukan apapun. Nadin sangat enjoy melewati kebersamaan itu, apalagi dirumah tempat Nadin tinggal banyak anak-anak kecil yang pastinya Nadin sangat menyukai anak-anak itu.
Benar saja, saat itu Nadin merasa sangat senang selain bisa menghabiskan waktu bersama bocil-bocil dan sodara Nadin yang hampir seumuran dengan Nadin, Nadin merasa mempunyai banyak teman ditempat itu.
***
Sesampainya dirumah Nadin baru membuka handphonenya dan ternyata ada chat dari Kim.
"Pagi, gimana kabar kamu? Apakah tidurmu nyeyak tadi malam?"
Nadin sangat terkejut membacanya, merasa deg-degan dan diberi perhatian, Nadin membalas chat itu sambil tersipu malu, "ya aku baik-baik aja dan baru aja pulang joging,"
"Joging? Sama siapa? Dimana?" selidik Kim.
"Sama adek dan sodaraku." jawab Nadin jujur.
"Cowo ato cewe?" Selidik Kim lagi.
"Ada cowo, ada cewe" ucap Nadin membuat Kim penasaran.
Merasa curiga, Kim memburu Nadin dengan pertanyaannya lagi "ada cowo juga!!!"
"Iya, ni bocil-bocilnya cowo, kenapa emangnya?" tanya Nadin heran pada Kim.
"Oh ... bocil ya." selidik Kim masih tidak percaya.
"Ya bocillah. Ne aja mereka masih maen ke sana kemari, udah kayak gasing aja di depan rumah." jawab Nadin sambil memperhatikan para bocil yang bermain dengan gembira sedari tadi.
"Syukur dech kalo sama bocil, titip salam sayangku buat mereka ya" balas Kim pada Nadin.
"Oke. Eh iya, Kim aku mandi dulu nanti aku hubungi lagi" ucap Nadin mengakhiri percakapan mereka.
"Iya Nadin, jangan lupa hubungi aku lagi." jawab Kim sambil meregang badannya yang terasa masih lemas, karena Kim baru saja bangun.
Sambil menunggu Nadin, Kim mencuci motornya. Nadin yang baru saja selesai mandi langsung mengambil handphone dan menghubungi Kim. "Hai... lagi apa kamu? Aku baru aja selesai mandi,"
Kim yang masih asyik mencuci motornya tidak mendengarkan suara chat dihandphonenya yang berdering. Cukup lama Nadin menunggu balasan dari Kim, tiba-tiba ada seseorang yang membalas chat Nadin, "ini siapa ya?"
Nadin membalas chatnya "kamu bukannya Kim? Kok malah nanya aku siapa?"
"Mbak ini siapa?" tanya orang yang menjawab chat Nadin
" ku Nadin, teman chat kamu." jawab Nadin bingung melihat chatnya.
"Oh, mbak temannya Kim. Emang kenal dimana? Selidik orang itu.
"Aku kenal dengan Kim di facebook. Kamu itu siapa" jawab Nadin sedikit kesal.
"Aku Lexy, temannya Kim". balas orang itu.
***
Kim baru saja selesai mencuci motornya dan melihat Lexy yang menunggunya dari tadi. Kim segera menghampiri Lexy "Kim, tadi ada seorang wanita menghubungimu"
Kim menatap Lexy dan berkata " ah... Nadin... menghubungimu?"
Lexy menganggukkan kepalanya memberikan handphone Kim.
"Ya kalau tidak salah dia bilang begitu padaku"
Kim hanya mengambil handphonenya dan segera berangkat bersama Lexy, dalam perjalanan Lexy tidak bertanya apapun pada Kim. 20 menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit, Kim menuju ke dokter dan memulai chek up rutinnya.
Lexy yang masih penasaran, menghubungi Nadin. "Hai, maaf lama, kamu nungguin ya"
Nadin baru saja mau tidur dan terjaga karena bunyi handphonenya "Kim, kamu baru balas aku, dari mana aja kamu" tanya Nadin khawatir.
"Maaf mbak, ini aku Lexy. Unyil lagi di Rumah Sakit." Jawabnya singkat.
"Apa? Dirumah sakit lagi? Siapa Unyil? tanya Nadin khawatir.
"Maaf, aku belum kasih tau kamu, panggilan Kim itu Unyil." ucap lexy sambil tersenyum kecil.
"Oh gitu. Btw kenapa Kim dirumah sakit?"
"Biasa mbak, chek up" tegas Lexy.
"Chek up?" Nadin bingung.
"Iya, Kim emang harus chek up rutin tiap minggu, karena dia sakit." jelas Lexy.
"Oh begitu. Kasian dia harus seperti itu." Nadin mulai buyar dan memikirkan separah apa sakit Kim.
"Iya mbak, emang begitu. Namanya juga sakirnya udah lama. Jadi harus ke Rumah sakit dan chek up trus cuci darah." jawab lexy.
"Iya mas, aku ngerti. Kim udah pernah cerita tentang sakitnya padaku. Btw mas ini siapanya Kim?"
"Iya aku ini temannya. Lebih tepatnya teman dari sejak SMP dan sahabat dekatnya. Ini Kim masih belum sadar dia masih tidur." jelas Lexy sambil memperhatikan Kim di ruang rawat.
"Ok, terimakasih udah memberi informasi padaku. Kalo Kim sudah sadar tolong kasih tau dia agar menghubungiku." jawab Nadin ingin mengakhiri percakapan.
"Mbak khawatir ya." selidik Lexy.
"Ya gitu dech"
"Tenang mbak. Unyil baik2 aja. Nanti juga bakal hubungi mbak lagi." jawab lexy menenangkan Nadin.
Bab 4: Pertemuan Tak Terlupakan
Siang hari Kim menghubungi Nadin.
"Hai kangen ga sama aku." Canda Kim dichatnya
"Apaan sich?" tanya Nadin pada Kim.
"Kamu kangen ga?"
"Ngapain kangen sama orang jelek, weeek"
"Beneran ga kangen?"
"Kim, kamu becanda mulu. Tadi ngapain ke Rumah sakit?" tanya Nadin kembali
"Jawab dulu kangen ga?" Canda Kim lagi.
"Ga! Huuuhh pertanyaanku ga dijawab ! " gerutu Nadin.
"Tapi aku kangen" jawab Kim mulai bermanja pada Nadin.
"Kok bisa?"
"Bisalah, emang ga boleh aku kangen sama kamu"
"Boleh aja sich tapi kok bisa?"
"Ga tau, yang jelas aku kangen kamu. Pengen ketemu n ngobrol sama kamu ".
"Gimana lagi, kita jauh." lirih Nadin
"Jangan bilang seperti itu. Aku merasa kita dekat." tukas Kim
"Iya Kim, aku juga merasa seperti itu"
"Oh ya?" tanya kim menyelidik.
"Iya Kim." jawab Nadin
"Kamu senang bisa dekat denganku?"
"Aku senang"
"Terimakasih Nadin,aku juga senang banget. Oh iya, nanti sore kita ketemuan lagi ya." pinta Kim.
"Ketemuan? Kenapa?" tanya Nadin heran.
"Aku mau cerita banyak denganmu." jawab Kim.
"Cerita apa? Cerita saja sekarang" tukas Nadin penasaran.
"Aku mau kita ketemuan, nanti aku cerita semuanya padamu." jelas Kim.
"Baiklah." Nadin menyetujui permintaan Kim.
"Ok, nanti aku jemput kamu jam 17.00 WIB"
***
Sore haripun tiba, Kim menepati janjinya. Mereka bertemu dan Kim mengajak Nadin ke tempat favoritnya Bukit Bintang. Memang tempat itu agak sedikit jauh dari rumah Nadin dan Nadin belum pernah ke tempat itu.
Setibanya di Bukit Bintang "Kim kamu bawa aku kemana? Aku ga pernah ke sini sebelumnya"
Kim hanya tersenyum menggenggam tangan Nadin dan membawanya ke tempat favoritnya.
"Kim, kamu bawa aku kemana?"
"Tenang, aku ga bakal ganggu kamu. Ikut aja, kamu pasti suka tempatnya." ujar Kim sambil tetap menggenggam tangan Nadin.
Sesampainya di tempat itu, Kim mengajak Nadin duduk "Nadin, coba lihat sekeliling tempat ini, kamu pasti menyukainya"
Nadin memandangi sekeliling tempat itu dan betapa terkesimanya Nadin memandangi pemandangan malam di Kota itu. Sungguh sangat indah. Bukit yang sangat tinggi dihiasi kerlap kerlip lampu rumah penduduk,membuat suasana malam itu benar-benar romantis.
"Coba lihat ke atas langit Nadin." Icap Kim sambil menunjukkan jari ke langit.
"Wah, ini benar-benar indah Kim. Aku ga pernah melihat langit seindah ini sebelumnya." tutur Nadin sambil tersenyum bahagia.
"Kamu suka?"
"Iya, suka banget" ucap nadin sambil mengangguk dan memperhatikan sekelilingnya.
"Kamu belum pernah ke sini?" tanya Kim.
"Belum pernah"
"Masa sich? Apa pacar kamu ga pernah membawamu ke sini?" selidik Kim penasaran.
Nadin menggelengkan kepala.
"Masa? Ini tempat paling populer buat pasangan kekasih"
"Iya, dia ga pernah ngajak aku ke sini".
"Kenapa begitu?" tanya Kim sambil meletakkan makanan yang telah dibawakan waiters ke tempat duduk mereka.
"Dia jauh dan ga akan mungkin mengajakku ke sini" jawab Nadin sambil duduk.
"Kenapa?" tanya Kim lagi
" Davin ga ada disini. Bagaimana bisa dia mengajakku ke sini?"
"Jadi cowo bule itu namanya Davin"
"Gimana kamu bisa tau Davin bule?"
"Tau dong, aku kan fans kamu. Jadi apapun yang kamu lakukan, kamu sukai dan tidak sukai pasti aku tau" rayu Kim
"Kamu bisa aja Kim" senyum Nadin terukir dibibirnya.
"Oh iya udah berapa lama kamu sama dia?" selidik Kim sambil memakan makanannya.
"Baru 1 bulan,"
"Masih baru ya. Emang kalian kenalan dimana?"
"Di Facebook. Mmm aku dan Davin bertemu saat Davin ada acara tour di sini"
"Oh ya? Emangnya apa yang dia lakukan disini?"
"Dia itukan penyanyi dan punya grup band gitu. Jadi waktu itu mereka pernah di undang ke sini dan dari situ aku ketemu dia,"
"Wow!" Ucap Kim agak sedikit terganggu.
"Kenapa Kim?" tanya Nadin memperhatikan wajah Kim.
"Ah ... nggak Nad. Andai saja aku duluan kenal kamu?" ucap Kim dengan samar.
"Apa kamu bilang apa?"
Kim kaget dan berkata "ah... ga. Aku cuma bilang nasi gorengnya agak pedes"
"Bo'ong. Nasi gorengnya ga pedes kok." kilah Nadin mencurigai Kim.
Kim hanya tersenyum menatap Nadin.
"Oh ya Kim. Tadi kamu bilang mau cerita sama aku"
"Iya Nad. Aku mau kasih tau kamu sebenarnya namaku sekarang bukan Kim"
"Maksud kamu?" tanya Nadin sambil mengernyitkan alisnya.
"Sejak pindah ke Indonesia, namaku udah diganti mama jadi Endru dan teman-temanku memanggilku Unyil".
Nadin tertawa sambil menutup mulutnya.
"Loh malah ketawa" ucap Kim penasaran.
"Maaf, aku ga bermaksud menertawakanmu tapi aku agak sedikit geli dengan panggilan Unyil itu." ucap Nadin sambil menahan tawa.
"Oh itu, aku inikan badannya paling kecil diantara teman-temanku dan kalo nge track suka nyalip-nyalip. Makanya aku dipanggil Unyil"
Nadin mengangguk mendengarkan ucapannya.
"Oh iya Kim, eh... maksudku Endru. Mmm enaknya aku panggil kamu apa ya? Pikir Nadin.
"Terserah." jawab Kim sambil menaikkan bahunya.
"Endru, boleh aku tanya sesuatu?"
Endru mengangguk sambil meminum minumannya.
"Begini, tentang sakitmu itu udah berapa lama?"
"Udah lama, dari aku masih SMA"
"Itu kenapa bisa begitu?"
"Panjang ceritanya"
"Ceritakan padaku Endru." Nadin sedikit memaksa dan penasaran.
"Itu karena aku banyak masalah aja". jawab Endru sambil menatap ke arah Bukit.
"Masalah apa?"
"Kamu bener mau tau banget tentang aku?"
Nadin menganggukkan kepala sambil menatap Endru.
Endru langsung bercerita.
"Bagaimana ya aku menceritakannya" ucap Endru ragu.
Nadin tetap menatap Endru dan bersiap mendengarkannya.
"Sebenarnya aku ini bisa dibilang badung. Aku suka merokok, minum-minum, balapan dan jailin orang"
"Oh ya? terus apalagi"
"Itu semua aku lakukan bukan tanpa alasan, supaya aku bisa melupakan semua masalahku"
"Masalah apa?" selidik Nadin.
Sambil menopang dagunya dan menatap wajah Nadin, Endru bekata " banyak Nadin, tapi yang paling membuatku sedih, tentang nenek"
"Nenek kenapa?"
"Iya sejak nenek meninggal aku merasa kesepian".
"Terus orang tuamu?"
"Orang tuaku sudah berpisah. Mama dan adikku sekarang di Jakarta, papa di Amerika bersama keluarga barunya. Sedangkan aku disini bersama nenek. Aku tinggal dirumah nenek dan nenek juga yang sudah membesarkanku seperti anaknya sendiri.
Nadin terharu dengan cerita Endru. "berarti kita sama, aku disini juga dengan nenekku"
Endru tersenyum kecil dan merangkul Nadin, "iya aku tau. Kamu udah pernah menceritakannya padaku"
***
Percakapan Nadin dan Endru cukup lama, mereka membicarakan tentang diri mereka satu sama lain. Teman dekat mereka, kehidupan mereka sampai akhirnya Nadin berkata " Endru, tentang sakitmu ini apakah keluargamu tahu? Maksudku mama kamu tau?"
Endru hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa? Bukankah udah seharusnya mama dan adik kamu tau tentang semua ini?"
"Untuk apa? Aku hidup atau nggak mereka juga ga akan perduli." Ucap Endru dengan nada agak tinggi.
"Maaf, kalau aku lancang." Ucap Nadin sambil menundukkan kepala.
"Nadin, aku ga bermaksud membentakmu." Sambil menatap Nadin
Nadin menatap Endru dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling.
"Nadin, dari dulu yang perduli sama aku cuma nenek dan nenek yang tau semuanya tentang aku juga tentang sakitku ini." lanjut Endru.
"Iya Endru" jawab Nadin pelan.
"Kamu aku berbuat apa? Tanya Endru sambil membalikkan tubuh Nadin agar berhadapan dengannya.
"Ga ada Endru" jawab Nadin singkat.
"Apa aku salah?"
"Ga, Endru, kamu ga salah"
"Aku punya alasan untuk tidak mengatakannya pada mama." Endru mulai melanjutkan percakapan.
Nadin menatap Endru yang mulai mengungkapkan semuanya.
"Aku cuma ga mau bikin mama khawatir, selama ini aku udah cukup menghambur-hamburkan uang mama dan berfoya-foya. Aku ga mau mama sakit gara-gara mikirin aku"
Nadin hanya mengangguk mengerti.
"Apa aku salah Nadin?" tanya Endru sambil menggenggam tangannya.
"Ga kok, tapi kalo boleh aku saranin. Kamu harus ceritakan semuanya ke keluarga kamu. Jangan sampai mereka menyesal karena sudah terlambat mengetahui semuanya"
Endru hanya mengaggukkan kepala sambil menahan tangis.
Nadin yang menatap Endru bertanya "kamu nangis?"
Endru menggelengkan kepalanya pelan, namun dia tidak bisa membohongi Nadin karena terlihat jelas matanya berkaca-kaca.
"Ada apa Endru?" tanya Nadin lagi.
"Gapapa Nad. Nanti kalo aku udah siap pasti aku kasih tau mereka."
Nadin menganggukkan kepalanya memahami perkataan Endru.
***
Malam itu terasa sangat dingin, Endru memesan wine untuknya. Nadin tidak mengetahui itu. Saat mereka sedang bersama, tiba-tiba Nadin merasakan bau alkohol. " kamu mabuk ya?"
Sambil sedikit tertawa Endru menjawab "ga kok, cuma dua sloki aja ga akan bikin aku mabuk kok"
"Apa ini?" tanya Nadin sambil mencium aroma minuman Endru.
"Ini wine." jawab Endru sambil tersenyum.
"Jadi dari tadi kamu minum?" tanya Nadin sedikit jengkel
Endru hanya menganggukkan kepala.
"Endru jangan minum lagi"
"Baiklah kalau kamu yang meminta aku ga akan minum lagi." ucap Endru sambil meletakkan sloki yang berisi wine.
Melihat kondisi Endru yang agak sedikit mabuk, Nadin sedikit cemas. Nadin takut terjadi hal yang tidak baik.
Nadin mangajak Endru pulang.
"Endru, kita pulang sekarang ya"
"Kenapa Nadin?" tanya Endru.
"Kita pulang aja ya." ajak Nadin.
"Baiklah." Endru mengikuti kemauan Nadin.
***
Saat menuju parkiran tiba-tiba Endru hampir terjatuh karena agak sedikit mabuk. Nadin langsung memegangi Endru. Endru memperhatikan wajah Nadin dan Nadin segera membantu endru berjalan. Endru langsung merangkul Nadin dan memeluknya. Nadin terkejut dan berkata dengan nada sedikit takut "Endru, kamu kenapa?"
"Aku sayang banget sama kamu, jangan tinggalin aku." ungkap Endru sambil tetap memeluk Nadin.
Nadin hanya menatap Endru dan tetap membawanya menuju parkiran. Tanpa disangka-sangka Endru menghadapkan wajah Nadin dan mecoba mencium bibir Nadin.
Nadin menghindar dan berkata "Endru ... ini aku Nadin"
"Mmm iya aku tau, kamu Nadin." ucap Endru sambil berusaha mencium Nadin".
"Jangan Endru, aku bukan pacar kamu".
"Kenapa kalo aku bukan pacar kamu?? Hah?!"
Nadin hanya bingung dan sedikit takut dengan perlakuan Endru.
"Aku sayang banget sama kamu,aku cuma mau kamu" ucap Endru lagi sambil memegang wajah Nadin dan berusaha menciumnya.
Nadin hanya memperhatikan Endru sambil meletakkan jarinya dibibir Endru.
"Ahhh!" teriak Endru sambil melepaskan tangannya dari Nadin dengan kesal.
"Aku tau, kamu jijikkan sama aku?" lanjut Endru.
" Bukan gitu Endru. Aku cuma_" belum sempat Nadin melanjutkqn ucapannya, Endru langsung menarik tangan Nadin dan mengajaknya pulang "ayo aku antar kamu pulang".
Nadin mengikuti Endru dan Endru mengantarkannya pulang.
Dalam perjalanan pulang tidak seperti biasa, Endru selalu mengajak Nadin bicara, tapi kali ini Endru hanya diam dan sedikit ngebut,membuat Nadin agak ketakutan dan memeluk Endru dengan kencang.
***
Sesampainya dirumah Nadin, "udah nyampe, ayo turun. Tadi kamu bilang mau pulang"
"Iya. Makasih udah mengantarkanku pulang." ucap Nadin sambil memperhatikan Endru dan membalikkan badan menuju rumah.
"Nadin." panggil Endru
Nadin membalikkan badan, Endru segera menghampirinya dan mencium kening Nadin "jangan kapok ya jalan sama aku. Maaf untuk kejadian diparkiran tadi" ucap Endru sambil membalikkan badan menuju motornya.
Nadin hanya diam memperhatikan Endru dan membiarkannya pergi.
Bab 5: Kejujuran Endru
Pukul 02.00 WIB dini hari, Endru terjaga dari tidurnya dan langsung menghubungi Nadin. "Nadin, kamu udah tidur belum?"
Nadin, kaget mendengar bunyi handphonenya dan bergumam dalam hati siapa ya, malam-malam begini menghubungiku? Sambil mengucek matanya Nadin membuka chat di handphonenya ternyata Endru yang mengechat.
"Iya Endru. Aku baru aja kebangun"
"Aku ganggu kamu ga?"
"Kenapa? Tumben kamu hubungin aku malem-malem gini.
"Aku ga bisa tidur Nad"
"Kamu kenapa?"
"Kepalaku sakit banget." balas Endru sambil memegang kepalanya yang terasa mau pecah.
"Endru, aku harus apa? Apa yang bisa kulakukan?"
"Peluk aku Nadin"
"Apa? aku lagi dirumah gimana caranya?"
"Temani aku, aku ga kuat Nad"
"Endru, aku khawatir kamu kenapa-napa."
Endru sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya diapun pingsan dan tidak ada jawaban dari Endru waktu itu.
Nadin sangat khawatir dengan keadaan Endru tapi masih terlalu dini untuk menemui Endru, Nadin mencoba memejamkan mata tapi tetap tidak bisa, Nadin benar-benar tidak bisa tidur sampai pagi .
Sambil bersiap-siap berangkat kerja Nadin masih mencoba menghubungi Endru.
"Kamu baik-baik ajakan? Kalo udah baikan hubungi aku lagi"
Setelah jam 10.00 pagi baru ada jawaban dari Endru.
Baru saja membuka mata Endru langsung membalas chat Nadin. "Maaf tadi malam aku pingsan" sambil menatap jam dinding Endru menunggu jawaban Nadin.
" Pingsan?" tanya Nadin
"Iya, kepala aku sakit banget"
"Kenapa bisa begitu"
"Ini efek dari kecelakaan dulu"
"Terus sekarang gimana keadaan kamu?"
"Ini udah mendingan. Aku juga mau berangkat ke "Bengkel." jawab Endru sambil bersiap-siap ke bengkel
"Kamu mau kerja? Katanya kamu sakit"
"Aku mau jemput orderan, sekalian mau ke Jakarta nemuin mama. Jadi mau nyiapin mobil buat berangkat"
"Kamu berangkat sendirian ato ada yang nemenin?"
"Aku pergi bareng Lexy dan anak-anak"
"Ya udah kalo gitu kamu siap-siap dulu, nanti hubungi aku lagi ya"
"Iya sayang"
Nadin kaget memabaca chat Endru yang menyebut sayang padanya, tapi Nadin menganggap itu hanya candaan Endru.
***
Siang hari Endru menghubungi Nadin, untuk berpamitan. Sepertinya Endru akan pergi selama satu minggu ke Jakarta dan saat pulang Endru langsung akan kembali ke rumah neneknya di Jogjakarta,karena memang Endru tinggal di Jogja.
Sejak saat itu, ternyata minggu itu adalah pertemuan terakhir Nadin dan Endru, karena Endru memang sengaja datang ke Pekanbaru untuk mengikuti ajang balapan resmi dan sejak saat itu Endru tidak lagi menemui Nadin tapi mereka tetap berhubungan jarak jauh (LDR).
Disisi lain, Nadin masih berhubungan dengan Davin. Memang hubungan mereka masih seumur jagung, tapi dia belum begitu yakin dengan Davin, karena mereka hanya bertemu sekali saat Davin manggung di kota Nadin tinggal. Walaupun sudah berhubungan LDR melalui Facebook Nadin tidak terlalu yakin dengan hubungannya dan Davin. Selain karena beda usia yang jauh, Davin juga bule berkebangsaan Peru.
Perlu diketahui, Davin sangat menyayangi Nadin walaupun Nadin lebih tua 5 tahun dibanding Davin, diusianya yang baru 20 tahun sementara Nadin sudah 25 tahun, Davin merupakan cowo yang dewasa dan sangat romantis. Mungkin karena dia cowo bule, jelas lebih romantis dibanding cowo Indonesia.
Endru sendiri terpaut 4 tahun dibanding Nadin dan pastinya waktu itu umur Endru 21 tahun. Meskipun Endru mengetahui Nadin sudah punya kekasih. Entah kenapa dia begitu yakin untuk menjalin hubungan dengan Nadin. Emang sich, Endru belum mengungkapkan perasaannya kepada Nadin, tapi terlihat jelas Endru tetap kekeh untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Nadin.
Nadin mulai galau, disatu sisi dia menyukai Endru dan merasa nyaman dengannya karena Endru sangat terbuka tentang dirinya dan kehidupannya, Endru juga mau mengikuti perkataan Nadin untuk merubah jalan hidupnya agar menjadi lebih baik namun disisi lain Nadin sangat menghargai hubungannya dengan Davin dan Nadin ga mau menyakiti Davin.
Dilema yang ada dibenak Nadin membuatnya semakin bingung sebenarnya dia mencintai Endru yang baru dikenalnya beberapa hari ini atau Davin yang telah dikenalnya satu bulan terakhir ini.
Sejak dekat dengan Nadin, Endru banyak berubah. Dia mulai jarang kelayapan seperti sebelum-sebelumnya dan mengurangi minum alkohol serta merokok. Memang belum sepenuhnya tapi Endru terlihat ingin berubah demi Nadin.
***
Kembali lagi ke Endru.
Sedikit gambaran mengenai keluarga Endru. Bu Marina merupakan ibunya Endru adalah sosok ibu yang hamble dan sangat akrab pada siapapun. Ga jarang kalo teman-teman Endru sangat akrab dengan mamanya dan menganggap mama Endru seperti mama mereka sendiri karena sosoknya sangat friendly.
Endru punya satu orang adik cewe. Namanya Lianita, mereka sangat bertolak belakang. Adiknya ini tipikal anak manja dan setiap kemauannya harus dipenuhi. Itu semua karena dia tinggal dengan mamanya dan semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Gaya hidupnya juga mewah dan glamour, dikarenakan Lianita adalah seorang model papan atas yang cukup top di Jakarta.
Tepat pada hari selasa, Endru dan teman-temannya sampai di Jakarta. Mereka berkumpul untuk saling kangen, karena cukup akrab dengan mama dan adiknya Endru, mereka sudah seperti keluarga saja. Terutama Lexy, dia udah seperti anak bagi mamanya Endru dan Lianita juga sudah menganggapnya kakak keduanya setelah Endru.
Mereka beristirahat dan keesokan harinya Lexy dan teman-teman Endru berpamitan pulang, karena mereka akan mengurus bengkel di Jogja, sedangkan Endru masih melepas kangen dengan keluarganya.
***
Pagi itu Endru akan mandi, tapi dia teringat pada Nadin dan memberi kabar pada Nadin, "Nadin, aku udah nyampe di Jakarta. Aku udah ketemu mama dan adekku, tapi Lexy udah balik sama temen-temen tadi"
"Iya ndru, kamu gimana?? sehat-sehatkan disana?"
Endru tersenyum sambil membalas chat "kenapa kalo aku sakit?"
"Ya kalo kamu sakit ke dokter aja."
"Yeee kirain mau ngobatin aku."
"Aku kan bukan dokter."
"Kamu dokter cintaku, haha"
"Malah ngegombal."
"Kan ngegombalin kamu."
Nadin hanya menjawab dengan emoticon senyum
"Aku mandi dulu ya nanti aku hubungi lagi." Endru bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Diam-diam, Lianita mengendap-endap ke kamar Endru memastikan Endru sedang mandi. Merasa aman, dirinya langsung mengambil handphone Endru untuk mengetahui siapa yang selama ini dihubungi Endru. Mengapa mereka begitu akrab?
Ternyata saat Endru menghubungi Nadin, Lianita memperhatikan Endru dan dia merasa penasaran Endru sedang chat sama siapa kok kayaknya bahagia banget. Saat Endru mandi Lianita segera mengecek handphone Endru.
Lianita ini kepo banget dengan siapa kakaknya chat kok keliatannya asik. Lianita membaca seluruh chat Nadin dan Endru mulai dari perkenalan mereka hingga bisa sedekat sekarang ini. Karena meras penasaran, Lianita mengechat orang yang selama ini dihubungi Endru.
Bab 6: Lianita Kepo
Lianita mengetik chat yang segera dikirimkannya kepada orang yang baru saja dilihatnya dikontak ponsel kakaknya.
"Lu siapa?"
Mendengar handphonenya berdering Nadin langsung membalas "ini aku Nadin"
"Nadin siapa?" tanya Lianita agak ketus.
"Orang yang kamu chat dari tadi. Kamu kok malah nanya gitu sich" tanya Nadin bingung.
Mendengar Endru selesai mandi Lianita segera meletakkan handphone Endru di meja dan menghapus percakapannya dengan Nadin. Kemudian keluar kamar Endru tanpa sepengetahuan Endru.
Endru menutup pintu kamarnya dan mengenakan pakaiannya. Kemudian menghubungi Nadin "aku udah selesai mandi, udah wangi loh" goda Endru pada Nadin
"Oh baguslah" jawab Nadin singkat.
"Loh ngomongnya singkat gitu?"
"Gapapa kok."
"Kamu marah sama aku?"
"Udahlah kalo lagi capek ga usah hubungin aku."
"Oh aku tau ni, pasti tadi Lianita yang hubungi kamu."
"Lianita siapa?"
"Itu adek aku, hehe. Dia ngomong apa aja ke kamu?"
"Oh, adek kamu. Dia cuma nanya aku ini siapa?"
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku cuma jawab aku Nadin teman chat Endru."
"Dia ga ngomong macem-macemkan sama kamu."
"Ga kok."
"Bentar ya,kayaknya ada yang dateng."
Endru mengintip dari jendela kamarnya. Merasa mendengar sesuatu, Endru keluar kamar dan melihat Lianita yang baru saja berpamitan dengan mamanya untuk pergi dengan pacarnya.
"Maaf tadi adekku mau keluar"
"Oh iya dech."
Endru berusaha membujuk Nadin, karena merasa ga enak dengan Nadin dan ga mau Nadin marah padanya. Ga terasa udah malem aja.
Tiba-tiba mama mengetuk pintu kamar Endru.
"Endru coba telpon Lianita,kok udah malem belum pulang juga."
"Bukannya tadi pergi sama pacarnya?"
"Iya tapi ini udah jam sepuluh malem kok masih belum pulang juga. Mama khawatir loh."
Endru mencoba menghubungi Lianita tapi tidak bisa dihubungi. Endru memutuskan untuk mencari Lianita keliling tempat-tempat yang biasa dikunjungi Lianita dan benar saja Endru melihat mobil Yaris masih terparkir disebuah mall.
Endru keluar dari mobilnya dan menghampiri Lianita, tapi Lianita dan pacarnya langsung masuk ke mobil dan pergi dari mall itu. Endru kembali ke mobilnya dan membuntuti mobil Liantia, dari kejauhan terlihat Lianita sedikit bertengkar dengan pacarnya dan tiba-tiba mobil itu menepi. Tanpa basa basi Endru langsung menghampiri mereka dan melihat Lianita menangis didalam mobil.
Seketika Endru murka dan memukuli wajah lelaki itu dengan sangat keras. Lelaki itu terjatuh dan Endru menarik kerah baju lelaki itu lalu mendorongnya ke pintu mobil yang sedang terbuka dan menekan kepala ke pintu mobil hingga lelaki itu tak berdaya. Lianita yang melihat kejadian itu merasa ketakutan dan memohon pada kakaknya "Endru udah jangan berantem lagi." isak tangisnya sambil memeluk Endru dari belakang. Menyadari adiknya berada dibelakangnya, Endru segera melepaskan lelaki itu lalu merangkul Lianita.
Singkat cerita, Lianita memutuskan pacarnya dan Endru membawa Lianita pulang. Kemudian menyuruh orang membawa mobil Lianita.
Sesampainya dirumah, Endru langsung membawa Lianita ke kamarnya dan mengompres kepala Lianita. Lianita sangat paham dengan kemarahan kakaknya. Dia tahu betul Endru tidak pernah menyukai mantan pacarnya itu, karena Endru sangat mengenal lelaki itu. Lelaki yang tidak punya malu dan tidak segan-segan meminta barang-barang branded ke Lianita juga selalu memanfaatkan Lianita.
Endru dan mamanya selalu memperingatkan Lianita untuk tidak berhubungan dengan orang itu, tapi Lianita kekeh mempertahankan hubungannya. Mungkin Lianita lagi dimabuk cinta dengan lelaki itu, sampai akhirnya dia membuktikan sendiri orang itu memang ga pantes buat dia.
Endru menghampiri Lianita dikamarnya, terlihat adiknya sangat syock dengan kejadian tadi, lalu memeluk Endru, dia bilang "Ru jangan berantem lagi ya, aku ga mau kamu kenapa-napa"
"iya asal kamu janji mau nurut sama omonganku sama mama supaya jangan berhubungan dengan cowo kayak gitu lagi"
"Aku nyesel Ru, aku pikir dia serius sama aku ternyata dia cuma manfaatin aku."
"Kamu itu adikku, aku sayang sama kamu dan aku ga mau kamu disakiti siapapun. Kalo bukan aku siapa lagi yang bakal ngejagain kamu sama mama?"
Mendengar ucapan Endru Lianita menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatannya, lalu bersandar ke badan Endru.
Endru mengusap kepala Lianita dan membuatnya tenang kemudian tidur dengan lelap. Setelah memastikan Lianita tenang, Endru menghubungi Nadin.
"Kamu udah tidur belum Nad"
"Belum kenapa Dru"
"Aku mau cerita, boleh"
"Silakan"
Endru menceritakan semua kejadian yang baru saja dialami adiknya pada Nadin. Nadin merasa simpatik dengan apa yang baru saja mereka alami dan berusaha menenangkan Endru, kemudian menasehati Endru agar tidak berantem lagi dan menyelesaikan masalah tanpa emosi.
Endru merasa Nadin mulai memberikan perhatiannya dan itu sangat membuat Endru bahagia. Endru semakin yakin Nadin mempunyai perasaan yang sama dengannya.
***
Dirumah Nadin...
Nadin menerima telfon dari Davin "helo honey... how are you? Do you miss me?"
"Oh baby, I'm fine how about you?"
"I'm good. What are you doing now, honey?"
"I'm just relaxing."
"Did you miss me?"
"Of course, how about you."
"I really miss you, I really want to meet you but I'm still busy with my work."
"It's okay, I can understand that."
"Oh honey you are so sweet, give me a little kiss."
"Muach ... i love you baby"
"Oh God... it makes me so happy"
"You know, what day is it?"
"It's saturday."
"Yeach I know that, but did you know it's a special day for me?"
"Special?"
"Yup. I'm 21st birthday."
"OMG! I didn't know that. I'm sorry, but congratulations, I hope you grow up."
"Yeach...thank's honey."
"If only you were here you would accompany me to celebrate my birthday"
" Sorry baby, we are so far away I can't accompany you."
"It's okay, I just want to be with you honey. Maybe someday we can be together again."
"I hope so."
" Okay honey, I'll end our conversation first, because I have to work first."
"Okay."
"I love you honey."
"Love you too."
Percakapan merekapun berakhir.
Nadin merasa senang Davin menghubunginya, lama sekali mereka tidak bertemu. Mungkin akan menjadi waktu yang sangat lama menunggu Davin kembali. Disisi lain, Nadin memikirkan keadaan Endru kenapa wajah dan semua yang telah dilaluinya bersama Endru selalu membayangi? Apakah Nadin mulai jatuh cinta pada Endru?
Perasaan itu sungguh aneh dan membuat Nadin merasa bingung menentukan perasaannya saat ini. Apakah benar dia telah merasa nyaman dengan Endru lantas bagaimana dengan Davin? Bukankah ini akan menyakiti Davin?
Bab 7: Dilema
Sejak saat itu perasaan Endru pada Nadin semakin bertambah, semakin hari semakin cinta. Ditambah lagi, Nadin udah bisa menyampaikan apa yang selama ini ingin disampaikan Endru ke keluarganya telah tersampaikan dengan tepat. Endru juga mendapatkan perhatian penuh dari mama dan adiknya Lianita.
Seharian ga menghubungi Nadin, Endru merasa kangen dan ingin bicara sama Nadin. Endru mencoba menghubunginya.
"Sayang, apa kabar?"
"Aku baik-baik aja, kamu sendiri gimana?"
"Ya beginilah, aku kangen banget sama kamu"
"Aku juga"
"Masa sich"
"Iya kan ga ada yang nemenin aku sama jailin aku"
"Jadi kangennya cuma gitu"
"Iya, maunya gimana?"
Sebenarnya Endru mau mengungkapkan perasaannya ke Nadin, tapi Endru belum berani bilang. Endru masih mau mastiin cintanya benar-benar akan terbalas.
"Nadin, makasih ya" ucap Endru mengalihkan pembicaraan
"Makasih buat apa?"
"Iya berkat kamu, aku bisa cerita ke mama dan adikku tentang semuanya"
"Oh itu, bukan karena aku tapi karena kamu yang udah mencoba jujur sama keluarga kamu"
"Iya, tapikan kalo bukan kamu yang nguatin aku, aku ga akan pernah bisa cerita ke mama dan Lianita"
"Aku seneng Dru, karena kamu udah bisa cerita semuanya"
"Satu lagi Nad, sekarang mereka perhatian banget sama aku, mau apa-apa disediain dan mereka bawel banget aku harus ini, harus itu"
"Gapapalah. Yang penting mereka udah berusaha nyenengin kamu. Kanu juga bisa ngerasakan kalo mereka sayang banget sama kamu".
"Iya sayang. Makasih ya kamu udah buat semuanya jadi lebih baik"
"Sama-sama jelek"
Diluar kamar terdengar suara mama memanggil
"Endru... buruan turun. Nich mama udah buatin makanan kesukaan kamu"
"Ya mah. Aku turun bentar lagi"
Endru mengakhiri percakapannya dengan Nadin
"Sayang, nanti kita ngobrol lagi. Mama udah bawel manggil aku, ngajak makan"
"Iya jelek, makan yang banyak"
"Makasih ya udah dengerin cerita aku"
"Sama-sama'
Nadin seneng banget mendengarkan kabar dari Endru. Akhirnya Endru bisa jujur ke mama dan adiknya mengenai keadaannya. Hal yang paling sulit diungkapkan oleh Endru selama beberapa tahun, langsung bisa diceritakan dalam waktu sehari dan hubungan Endru dengan keluarganya semakin membaik.
***
Setelah seminggu berada di Jakarta, Endru memutuskan untuk pulang ke Jogja, tapi terjadi sedikit perdebatan antara Endru dan Lianita.
"Kamu mau ke Jogja? Kenapa ga tinggal disini aja sich?"
Sambil mempersiapkan pakaian yang akan dibawa ke koper, Endru menoleh ke arah suara Lianita "aku itukan kerja Li, kalo aku ga balik ke Jogja bengkel siapa yang ngurusin?"
"Kan ada anak-anak yang ngurusin bengkel" jawab Lianita sambil menuju ke arah Endru dan duduk di ranjang Endru.
"Lah, aku juga udah ada janji sama langgananku, kemaren dia minta motornya di setting. Nanti kalo aku ga dateng, piye to kalo langgananku ngamok?" Endru tetap menyusun pakaiannya sambil memperhatikan Lianita.
"Pokok e koe disini ae!!! Kalo koe kenapa-napa disana sopo seng ngejagain?" Lirik Lianita sambil menaroh pakaian kakaknya ke luar koper.
"Aku rak popo toh. Wes, gih sono rak ganggu aku" Endru sedikit marah ke adiknya sambil mengambil pakaiannya kembali.
"Kalo disinikan koe ada yang ngelonin, aku ato mama bisa ngurusinmu. Kalo sakit ono dokter yang bisa dipanggil ke rumah" bujuk Lianita
"Rak usah mikirin aku. Aku iki kuat kok. Koe belajar ae yang pinter biar mama seneng" ucap Endru menenangkan Lianita sambil memegang wajah adiknya.
Lianita menghela nafas sambil pergi keluar kamar, tapi Lianita melihat handphone Endru dimejanya. Lianita melihat ke arah Endru dan Endru tetap menyiapkan pakaiannya. Merasa Endru tidak melihat ke arahnya Lianita langsung mengambil Handphone dan menghubungi Nadin.
***
"Kak ini aku Lianita, aku boleh minta tolong ga?"
"Iya, Lianita. Kamu mau minta tolong apa?"
"Kakak bisa bujukin Endru supaya ga balik ke Jogja?"
"Kenapa gitu Li?"
"Kakak taukan gimana keadaan Endru, dia sakit, tapi dia kekeh buat tetep ke Jogja"
"Oh itu, biar nanti aku coba bilangin ke dia"
"Iya kak, makasih ya"
Lianita mengakhiri percakapannya dan langsung meletakkan handphone Endru dimeja. Kemudian pergi keluar kamar.
Setelah menyiapkan paķaiannya Endru menghubungi Nadin.
"Sayang, aku baru aja siapin pakaian, bentar lagi aku bakal balik ke Jogja sama Lexy"
"Iya. Aku mau bicara sesuatu"
"Iya sayang ada apa" Endru sedikit khawatir
"Sebenernya tadi Lianita menghubungi aku, dia minta aku bujukin kamu supaya ga balik ke Jogja"
"Sayang mau aku tetap di Jakarta?"
"Aku ga bisa maksa kamu, aku cuma nyampein pesan adek kamu aja. Semuanya tergantung sama kamu"
"Aku ngerti kalian pasti khawatir sama aku, tapi aku ada kerjaan yang mesti diselesein di bengkel jadi aku harus ke Jogja hari ini".
"Aku tau itu, tapi adek kamu khawatir banget, gimana kalo kamu ajak dia ato gimanalah biar dia tau keadaan kamu"
"Oke, nanti aku pikirkan lagi"
"Iya, jelek"
***
Endru langsung menghampiri Lianita yang lagi bicara dengan Lexy, kemudian mereka mulai bicara bersama, akhirnya Lianita minta agar membawanya bersama Endru, karena tadi Nadin juga menyarankan yang sama akhirnya Endru dan Lianita pergi ke Jogja sama-sama.
Awalnya mama Marina ga mengizinkan karena Lianita masih ada kontrak modeling dan akan melanjutkan kuliahnya, tapi setelah Lianita menjelaskan kekhawatirannya ke mamanya. Mamapun menyetujuinya.
Walaupun dengan berat hati melepaskan kepergian kedua anaknya dan berpesan pada Lexy untuk menjaga mereka berdua.
Endru berpamitan pada mamanya
"Mah aku berangkat ya"
"Iya kalian jaga diri ya" ucap mama sambil menahan tangisnya.
"Iya ma, mama ga usah khawatir nanti aku bakal kabarin ke mama tentang mereka" ucap Lexy menenangkan mama.
Merekapun berangkat menuju Jogja. Mereka berangkat menggunakan mobil Jeep, seperti biasa Lianita ga kuat perjalanan jauh dan dia mual,karena tidak membawa persediaan Endru menampung muntahan adiknya dengan bajunya, sesampainya di SPBU Endru membersihkan pakaiannya dan beristirahat bersama adiknya dan juga Lexy.
Sambil beristirahat Lexy menghubungi Nadin dan menceritakan kejadin yang dialaminya selama perjalanan. Nadin hanya tersenyum membaca chat Endru kemudian menyuruhnya berhati-hati mengendarai mobil.
Nadin benar-benar bingung, karena semakin hari kedekatannya dengan Endru semakin sangat jauh. Mereka merasa sangat nyaman,jika tidak saling mengabari satu sama lain sepertinya ada yang kurang, apakah mereka akan menjalin hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan?
Ini benar-benar membuat bingung Nadin terhadap perasaannya sendiri. Dirinya belum yakin akan perasaannya pada Endru. Apakah ini cinta atau sekedar rasa prihatin sebagai sesama manusia? Sedangkan Endru, sudah memantapkan hatinya untuk memilih Nadin menjadi bagian hidupnya. Dia tidak perlu bertanya banyak pada Nadin, karena sikap Nadin adalah jawaban dari apa yang dicarinya selama ini.
Bab 8: Pengorbanan Endru
Pertama kali menginjakkan kaki dirumah Jogja kesan yang pertama dirasakan Lianita adalah rumah nenek yang ditempati Endru selama ini berbanding terbalik dengan rumahnya di Jakarta. Ya rumah yang ditempati Endru memang sangat sederhana namanya juga rumah tua dan untuk melakukan pekerjaan rumah harus dilakukan sendiri, tapi Endru emang tipe cowo mandiri, dia udah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Sedangkan rumah yang ditempati Lianita dan mamanya di Jakarta rumah elit yang megah dan memiliki asisten rumah tangga juga supir, jadi wajar aja Lianita sedikit kaget dan harus beradaptasi dengan kondisi di Jogja.
"Dru... iki rumah opo kandang ayam sich??? Kecil banget mana rak ono AC lagi. Hufh!!! Keluh Lianita sambil melemparkan tasnya ke atas kursi dan duduk melepaskan penat. "Yach... namanya juga dikampung Li, yo ginilah keadaannya" jawab Endru sambil membuka gorden rumah kemudian masuk ke kamarnya. "Emang koe rak sumuk toh tinggal koyo gini?" "Udah biasa Li, lagian koe yang mokso mau tinggal sama aku" "Koe itu kakakku, yo wajar toh aku mau ngelonin koe. Nanti kalo koe sakit ato kenapa-kenapa sopo sing ngurusin?" "Aku yo wes terbiasa ngelakuin semua sendirian. Sejak si mbah ndak ada yo aku ngelakonin semua sendiri" "Iyo... aku ngerti, tapi pokok e mulai sekarang koe mesti nurut sama aku" "Yo... cah bawel."
Endru sangat memahami watak Lianita. Memang sejak kecil Lianita sangat dekat sama papanya tapi semenjak mama dan papa mereka berpisah, Endru jadi figur ayah baginya. Wajar sich, kalo Lianita terkadang manja sama Endru dan Endru sendiri juga sayang banget sama adiknya itu. Terkadang mereka suka meributkan hal sepele tapi walaupun begitu ikatan adik kakak diantara mereka sangat kuat.
***
Seperti biasa Endru selalu memberikan kabarnya pada Nadin. "Lagi apa yang?" "Iiiccchhh... kok panggil sayang terus sich? " aku kan udah bilang aku sayang sama kamu" "Hufh... terserah dech,"
"Jangan ngambek gitu,"
"Ga ngambek kok"
"Nad, kamu sehatkan selama aku ga ada disana?" "Aku sehat kok, kamu sendiri gimana?"
"Ginilah. Agak sesek aja dikit rasanya"
"Sesek gimana?"
"Dada aku sakit banget rasanya"
"Kamu pasti capek banget ya"
"Iya sich, tapi kalo udah sama kamu kayak gini udah ga kerasa capeknya"
"Idich malah ngegombal"
"Yeee aku serius"
"Udah kamu istirahat aja dulu, biar enakan"
"Iya sayang, aku istirahat" "Kamu udah makan kan" "Udah sayang, tadi aku makan diangkringan sama Lianita"
"Iya dech"
"Aku tidur dulu ya, besok bangunin aku. Soalnya aku mau ke bengkel, nyetting motor langgananku"
"Iya aku bangunin dech"
"Makasih sayang"
"Sama-sama"
Sebenarnya Nadin senang kalo Endru tinggal sama adiknya disitu, karena Endru pasti ada yang bantuin kalau keadaannya darurat. Nadin masih bertanya-tanya tentang perasaannya pada Endru, Nadin semakin yakin kalau Endru benar-benar membuatnya nyaman. Meskipun Nadin masih berhubungan dengan Davin tapi Nadin ga pernah senyaman bersama Endru dan untuk pertama kalinya Nadin bisa bicara lepas tentang apa yang dirasakannya kepada Endru. Mungkin karena Endru yang selalu berusaha membuat Nadin nyaman dan yakin dengan dirinya.
Sampai pada akhirnya Nadin memutuskan untuk break up dengan Davin.
"Hello Davin, are you busy?"
"Yeach honey, I'm not busy, do you miss me?"
"OMG, you're always teasing me. Is it too late to call you?"
"No honey... i've always been waiting for you to contact me. a pleasure for me you contacted me"
"Ok Dav, I just wanted to say something"
"What is honey"
"Do you really love me?'
"Of course, I love you with all my heart"
"If I'm honest with you won't you hate me?"
"Why honey?"
"Actually I'm close to a guy"
"Oh, then?"
"I think I'm starting to fall in love with him"
"really? then what about me"
"I'm sorry Dav, you are too good for me and I think our relationship is enough to end here"
"But honey? don't you want to keep our relationship?"
"I really can't continue this relationship Dav. I'm sorry" "okay if that's what you want"
"You're not mad at me?"
"No honey, for me you are the best woman in my life, and if you feel comfortable with him I will not force you to have a relationship with me"
Mendengar ucapan Davin, Nadin merasa lega akhirnya bisa melepaskan hubungannya dengan Davin. meskipun hubungan mereka selama ini baik-baik saja tapi Nadin tidak bisa mempertahankan hubungan mereka karena setelah berpikir lama Nadin mulai merasa lebih nyaman dengan Endru.
***
Kembali ke Endru, sejak ke Jogja Endru mulai disibukkam dengan pekerjaannya di bengkel. Emang sich Endru ini kerjaannya rapi dan sangat teliti. Makanya pelanggannya lebih suka meminta Endru yang memperbaiki,menyervis ataupun menyetting motor mereka.
Sedangkan Lianita kembali ke dunia modeling lagi, karena memang saat di Jakarta Lianita memang seorang model, tapi sebagai pekerja entertainment tidak selalu dapat objek pekerjaan dan lebih sering dirumah.
Sementara Endru kuliah sambil bekerja di bengkel.
Melihat keadaan adiknya Endru merasa kasian, ga seperti biasanya Lianita selalu banyak kesibukan semenjak di Jogja Lianita lebih banyak dirumah dan seperti bingung tidak ada yang bisa dikerjakan lagi.
Lantas Endru teringat pada Nadin lalu menelponnya. "Nad udah tidur belom?"
"Belum, ada apa tumben malem-malem kamu nelpon?" "Ga Nad, aku cuma mau cerita sama kamu,"
"Cerita aja Dru,"
"Jadi gini Nad, adekku Lianita itu semenjak tinggal sama aku malah jadi kayak banyak diem aja,"
"Mungkin dia bosen, kamu ajak jalan-jalan ato cerita kek," "Iya udah sich kalo aku peratiin kayaknya dia pengen kerja lagi kayak di Jakarta dulu,"
"Maksud kamu jadi model lagi?"
"Iya Nad,"
"Terus masalahnya apa, bukannya dia emang udah jadi model lagi?"
"Iya Nad cuma jobnya belum banyak karena dia merintis dari awal lagi"
"Hmm... gimana kalo misalnya kamu suruh dia kuliah, kan nanti bisa kuliah sambil kerja gitu?"
"Iya aku kepikiran kayak gitu juga Nad. Nanti dech aku coba tanya ke dia."
***
Singkat cerita setelah Endru menemui Lianita dan mengajaknya bercerita tentang masa depannya, setelah menanyakannya akhirnya adiknya mau kuliah broadcash seperti profesinya selama ini, walopun bisa kuliah sambil kerja tapi masih belum bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebagai kakak, Endru adalah sosok yang bertanggung jawab Endru bekerja keras di bengkelnya untuk memenuhi kebutuhannya bersama adiknya tanpa mengeluhkan kesusahannya pada mamanya.
Hanya Nadin yang tahu tentang semua yang Endru lakukan.
Sampai pada suatu hari Endru di drop out dari kampusnya karena jarang masuk kampus. Endru sangat paham dan menerima semuanya dengan lapang hati. Lalu lebih fokus lagi dengan usaha bengkelnya.
Bab 9: Curhatan Endru
Pagi itu Endru teringat pada Nadin dan langsung menelpon Nadin. "Nad aku mau kasih tau kamu,aku di DO dari kampus,"
"Kok bisa Dru?" tanya Nadin kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan Endru.
"Aku keseringan bolos dan udah lewat dari 3 tahun aku kuliah sementara aku kan cuma D3," jawab Endru datar. "Sabar ya Dru, tapi kamu ga apa-apakan,"
"Ya ga apa- apa sich asal kamu selalu sama aku,"
"Apaan sich Dru?" tanya Nadin malu-malu.
"Iya Nadin, kamu tahu semenjak aku kenal sama kamu banyak perubahan dalam hidup aku,"
"Masa sich Dru. Akukan ga lakukan apa-apa,"
"Mungkin kita emang ditakdirkan bersama ya Nad"
"Kamu ngomong apa sich Dru?"
"Beneran Nad, makin kesini aku makin sayang sama kamu. Kamu udah bikin hidup aku lebih berarti Nad,"
Sejenak Nadin terdiam mendengar perkataan Endru. Endrupun melanjutkan ucapannya. "Nad, kamu mau ga jadi pacar aku?"
"Apa? Kamu ga salah Dru?" tanya Nadin bingung mendengar pertanyaan Endru.
"Ga Nad, aku serius aku pengen menjalin hubungan serius sama kamu," jawab Endru meyakinkan Nadin. Tanpa berpikir panjang Nadin langsung mengiyakan perkataan Endru. Sejak saat itu merekapun jadian.
Semenjak jadian dengan Nadin, Edru merasa sangat nyaman dalam hidupnya. Seakan cinta lamanya bersemi kembali.
Endru selalu teringat pada Yuanita, setiap kali bersama Nadin, mungkin memang Yuanita mempunyai tempat special dihati Endru, namun perasaan Endru pada Nadin sangat serius.
Endru meninggalkan semua kebiasaan buruknya, ikut genk motor tawuran sana sini dan genknya ditakuti orang banyak karena terkenal kejam kalau sudah berantem dan selama dalam keadaan itu sebenernya Endru ga bahagia ga seneng hanya saja dia melakukan itu semua semata agar mama dan nenek datang buat sekedar peluk dia sebentar, dari tawuran itu dia mulai kenal balapan liar bukan uang yang dia inginkan tapi perhatian orang-orang dan rasa bangga padanya, uang hasil balapanya kalo pulang selalu dikasih kepada orang lewat dan ketemu dijalana entah penjual ato yang kerja menyapu jalan tiap pagi ato orang yang tidur diemperan semuanya dia kasih karena pulang subuh nenek pasti marah dan dari situ dia hanya mau cari perhatian aja.
Awal Endru dan team terbentuk dari menyewa ruko kecil kalau bayar sewa patungan sampai dia bisa merengkuh teman-temannya di satu ruko yang dia beli dengan mencicil hingga bisa sebesar sekarang ini.
Semenjak Endru kenal balapan dan kehilangan Yuanita, Endru sering ganti-ganti cewe suka pacarin banyak cewe yang hanya sekedar hura-hura saja ga ada rasa sama sekali hanya untuk pelampiasan semata.
Sejak ganti-ganti cewe dia juga ngajakin cewe itu buat check in di hotel tapi ga sampai ML, Endru selalu bawa minuman beralkohol yang kadarnya tinggi buat mabukin cewe yang bersamanya mempermainkan cewe yang bersamanya hingga cewenya cape dan tidur terus dia pulang dan ga melakukan apapun dengan cewe itu.
Pertemuan Endru dan Nadin ga sengaja kenal sama cewe yang curi semua hatinya namanya Nadin awal ketem semua terasa biasa aja tapi ga tau kenapa dia buat nyaman banget hingga Endru tinggalkan semua kebiasaan buruknya.
Kehadiran Nadin bisa merubah hidupnya benar-benar merubah hidupnya apa yang dia cari dia temukan pada Nadin, semua sayang perhatian keluarga yang dia cari yang dia inginkan telah ditemukan pada Nadin.
Harapan terbesar Endru saat ini ingin hidup bahagia dengan Nadin punya keluarga kecil dan membahagiakan mamanya dan mama Nadin juga adiknya Edru hanya ingin bisa diandalkan oleh keluarganya jadi contoh yang baik buat anak-anaknya juga bisa melindungi orang-orang yang dia cintai. Dia sebut mereka, dengan sebutan 4 bidadari surganya.
***
Kehidupan Endru dan Nadin sangat jelas berbeda, Nadin adalah cewe pemalu dan type cewe rumahan. Sedangkan Endru cowo lepas yang selalu berbuat seperti yang dia mau, namun Endru sangat serius menjalin hubungan dengan Nadin.
Sampai suatu ketika saat papa Endru kembali lagi dalam kehidupan mereka. Endru benar-benar jengah dan marah saat itu,karena masih menyimpan rasa kecewa dihatinya. Memang saat perpisahan kedua orangtuanya Endru sangat terpukul sampai Endru kembali ke Indonesia, dia merasa terasingkan karena tidak dapatkan kasih sayang kedua orangtuanya seutuhnya. Hanya nenek yang selalu menjaganya sampai nenek meninggal membuat hati Endru sangat hancur dan merasa tidak akan ada lagi yang menyayanginya.
Ketika papanya datang Endru tidak bisa menerimanya. Memang pada dasarnya mama dan papanya Endru saling mencintai tapi karena orang ketiga mereka berpisah dan papanya menikahi wanita selingkuhannya itu. Sekarang wanita itu telah tiada tapi anaknya bersama papa Endru dan tumbuh bersama papa beserta keluarga papanya.
Semenjak kejadian itu Endru tidak ingin bertemu lagi dengan papanya namun takdir mempertemukan mereka kembali ketika papanya ke Indonesia.
Ternyata selama ini papanya tidak meninggalkan mereka begitu saja. Papa Endru mengirim orang untuk mengetahui keadaan keluarganya di Indonesia. Sampai saat pertemuan tiba Endru benar-benar membenci papanya. Endru sempat mengusir papanya karena tidak ingin papanya kembali dan saat itu papanya ingin rujuk dengan mamanya tapi Endru benar-benar tidak menginginkan hal itu.
***
Malam hari tiba, Nadin menunggu kabar dari Endru tapi tidak kunjung ada kabar berita. Tiba-tiba handphone Nadin berdering, ternyata dari Endru.
"Halo, ada Endru malam-malam gini kamu nelpon aku?" Tanya Nadin.
"Aku mau cerita dan aku benar-brnar ga bisa nahan semua ini" jawab Endru sambil menahan sesak didadanya.
"Cerita padaku Dru, kamu ada masalah apa?" Tanya nadin penasaran.
"Papa kembali lagi Nad dan aku bertwngkar hebat sama papa" Endru menceritakan pertemuannya dengan papanya hingga dia mengusir papanya.
Nadin terkejut dengan apa yang baru didengarnya. Seketika pikiran Nadin jadi buyar tapi Nadin tetap berusaha menenangkan Endru.
"Endru, aku mau kasih saran sama kamu,tapi kamu jangan marah dan kesal ya" bujuk Nadin pada Endru.
"Kamu mau kasih saran apa?" Tanya Endru.
"Menurut aku, gimana kalo kamu coba menerima papa kamu kembali, mungkin aja ada hikmah terbaik dengan kedatangan papa kamu" jawab Nadin pelan.
"Ga mau... aku ga mau menganggap dia papa aku. Lianita aja waktu ketemu papa langsung bilang aku ga punya papa. Gimana mungkin aku bisa terima dia dalam kehidupan aku Nad?" Jawab Endru sedikit kesal.
"Dengerin aku baik-baik Dru, gimanapun alasan kamu dia tetap papa kamu. Hubungan mama dan papa kamu yang udah kandas biarkan aja,"
"Biarkan mereka yang nentuin hubungan mereka ke depan, tapi antara kamu, papa kamu dan Lianita hubungan kalian akan tetap ada selamanya, karena mantan istri atau mantan suami ada tapi mantan anak ga pernah ada,"
"Mungkin papa kamu pengen memperbaiki kesalahannya dimasa lalu. Cobalah untuk memaafkan walaupun sulit, karena aku juga pernah diposisi yang sama tapi aku ga mau hubungan keluarga itu hancur," Nadin mencoba memberi pengertian pada Endru.
Bab 10: Endru Tertekan
Lama Endru memikirkan ucapan Nadin, tapi akhirnya Endru mengikuti apa yang dikatakan Nadin.
Benar saja, awalnya sangat berat bagi Endru berdamai dengan diri sendiri dan menerima papanya kembali tapi lama kelamaan Endru merasakan nyaman dan hidup keluarganya semakin lengkap. Ditambah lagi Lianita juga udah mulai menyanyangi papanya kembali, karena pada dasarnya sejak kecil Lanita sangat dekat dengan papanya.
Setelah satu minggu berlalu akhirnya papa Endru kembali ke Amerika untuk menyelesaikan pekerjaannya. Endru swmpat ditawarkan oleh papanya untuk ke Amerika meneruskan usaha keluarga dan bekerja di perusahaan papanya, tapi Endru menolak karena tidak ingin berpisah dari keluarganya terutama dari cinta sejatinya yaitu Nadin.
Sempat terjadi sedikit perdebatan tapi setelah menceritakan semuanya ke papanya tentang pertemuannya dengan Nadin hingga semua keluarga bisa bersama seperti saat ini karena Nadin, akhirnya papanya mengalah dan membiarkan Endru bersama mama dan Lianita tetap di Indonesia. Sejak saat itu mereka sering berkomunikasi dengan skype dan hubungan mereka semakin membaik.
Endru semakin sayang pada Nadin dan benar punya niat serius untuk menikahi Nadin tapi Endru harus menyelesaikan semua urusannya dulu. Nadin sangat memahami kondisi Endru.
Saat ini Endru sedang merintis karirnya dan Endru juga sedang mempersiapkan lahir batinnya untuk bertemu dengan Nadin dan orang tuanya Nadin. Cukup lama Nadin dan Endru menjalin hubungan hampir 5 tahun lebih, butuh kesabaran extra untuk menjalani hubungan ini.
***
Sampai suatu ketika Endru dikabarkan oleh keluarga papanya yang di Amerika kalau papanya dalam kondisi kritis. Pembuluh darahnya pecah dan waktunya tidak lama lagi, tapi kondisi Endru tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh, karena semenjak divonis sakit jantung dan ginjal kondisi Endrupun tidak bisa dipastikan.
Akhirnya mama dan Lianita memutuskan untuk pergi menemui papanya sedangkan Endru tetap dirumah.
Setiap keadaan yang dilewatinya,Endru selalu memberitahukan Nadin. Seminggu mama dan Lianita mengunjungi papanya, tapi sayang takdir berkata lain. Papanya Endru tidak bisa bertahan lama akhirnya meninggal dunia.
Endru benar-benar terpukul dan hancur mendengar berita kepergian papanya, karena memang semenjak hubungan mereka membaik Endru benar-benar menyayangi papanya. Merekapun sangat dekat sebagai anak dan ayah tapi mungkin udah jadi jalan terbaik untuk mereka dipertemukan dalam waktu yang singkat. Meskipun sedih tapi Endru bahagia karena masih bisa merasakan mempunyai papa dan merasakan kasih sayang papanya kembali. Walau hanya sebentar saja.
Di masa-masa terpuruknya Nadin selalu menemani Endru, menenangkan hatinya dan selalu mencoba memahami kondisi Endru yang kadang stabil kadang labil. Nadin benar-benar memahami semuanya dan menghadapi Endru dengan sangat sabar.
Lama menjalin hubungan dengan Nadin, banyak rintangan yang harus dilewati saat menjalaninya. Mulai dari rintangan kecil hingga ujian terberatpun harus dilewati.
Seminggu setelah kepergian papa Endru. Mama dan Lianita kembali lagi ke Indonesia. Seperti biasa Endru menjalani aktifitasnya. Saat ini Endru hanya fokus pada bengkel dan team balapan resmi yang telah dimilikinya. Usaha Endru sangat berkembang dan sangat banyak costumer yang mempercayai bengkelnya untuk menyeting motor ataupun mobil mereka.
Pagi itu Nadin menelpon Endru karena ingin berpamitan. Langsung saja Nadin menghubungi Endru.
" Halo Dru, aku mau pamit ke kamu"
" Kok tiba-tiba gitu. Emang kamu mau kemana?" Tanya Endru penasaran.
" Maaf Dru, aku juga ga nyangka bakal dadakan seperti ini, karena mama mau ngajak aku ke Luar negri" jawab Nadin pelan.
" Emang kamu mau kemana?" Tanya Endru sedikit kesal.
" Mama minta aku nemenin mama buat urusin kerjaannya" jawab Nadin.
"Berapa lama?" Tanya Endru sedikit kesal.
" Sepuluh hari Dru"
Lama Endru terdiam mendengar jawaban Nadin. Endru melanjutkan pertanyaannya "Gimana lagi kalopun aku bilang jangan pergi kamu bakalan pergi jugakan" jawab Endru kesal.
" Kamu jangan marah, aku tau kamu ga suka aku pergi jauh,tapi aku janji bakal hubungi kamu terus," bujuk Nadin.
Dengan berat hati Endru terpaksa menyetujui permintaan Nadin " ya udah kalo gitu kamu boleh pergi tapi janji ya jangan sampe kecantol cowo laen dan mesti hubungi aku tiap waktu,"
"Iya aku janji Dru" jawab Nadin
"Tapi aku juga mau ngomongin sesuatu sama kamu" ucap Endru melanjutkan percakapan.
"Kamu mau ngomongin apa?" Tanya Nadin penasaran.
" Sebenarnya sejak papa pergi keluarga papa selalu hubungin mama minta mama, aku dan Lianita datang ke Amerika" Endru menjelaskan pada Nadin.
" Loh dadakan gitu ya. Emang kamu perginya kapan?" Tanya Nadin sedikit sedih.
" Sama barengan kamu. Jadi kemaren tuch adeknya papa nelpon, dia ngasih tau mama kalo papa udah nunjuk aku sebagai penggantinya di perusahaan yang udah dirintisnya selama ini. Jadi papa nunjuk adeknya buat bantu aku ngurusin semuanya" jelas Endru pada Nadin.
"Oh... gitu. Terus gimana,kamu sekeluarga udah urus visa, vaksin dan paspor?" Tanya Nadin lagi.
"Udah sich. Semua udah diurus sama mama, tapi aku sebenarnya ga mau pergi". Jawab Endru pelan.
"Kenapa Dru? Kan papa kamu udah kasih tanggung jawab ke kamu" jawab Nadin.
"Itu dia masalahnya aku ga mau tinggal disana. Aku udah nyaman disini. Ada teman-teman aku dan keluarga aku, aku juga mendingan ngurusin bengkel disini daripada jauh-jauh ke Amerika. Terpenting lagi aku udah ada kamu disini" jawab Endru sedih.
" Aku ngerti tapi kalo aku boleh kasih saran mending kamu ikutin dulu wasiat papa kamu. Nanti kalo emang kamu maunya tetap disini,kamu tinggal jelasin kemauan kamu" bujuk Nadin pada Endru.
"Masalahnya bukan itu aja sayang, keluarga papa itu keras. Aku ga mau waktu ke sana nanti mereka malah ngerendahin mama kayak dulu lagi". Jawab Endru pada Nadin.
"Maaf Dru aku ga ngerti maksud kamu" jawab Nadin sedikit bingung.
"Iya sayang, dulu tuch sebenernya mama dan papa itu kuliah satu kampus dan mereka saling suka terus jalin hubungan sampe ke pernikahan tapi keluarga papa tu ga suka sama mama karena mama cuma dari keluarga biasa sedangkan keluarga papa orang terpandang dan punya perusahaan besar juga. Mereka cuma nganggep mama mau nikah sama papa cuma pengen hartanya aja. Padahal mama ga pernah sedikitpun mikir kayak gitu" jawab Endru pada Nadin.
" Sekarang aku paham kenapa kamu ga suka sama keluarga papa kamu. Jadi selama ini permasalahannya seperti yang kamu jelasin tadi," jawab Nadin memperjelas cerita Endru padanya.
"Bener banget" jawab Endru singkat.
"Dru, aku ngerti banget yang kamu rasa saat ini tapi aku cuma ngerasa ada hal penting yang mesti kamu selesaikan disana. Jadi kalo menurut aku mendingan kamu pergi dulu. Kan papa kamu juga udah kasih wasiat ke kamu, jadi sebaiknya kamu datang dan selesaikan semua dengan keluarga papa kamu," Nadin mencoba memberi pengertian pada Endru.
Bab 11: Endru Kritis
Sejenak Endru terdiam mendengarkan perkataan Nadin, karena memang berat bagi Endru bertemu kembali dengan keluarga papanya. Ada rasa benci dan sakit hati yang bercampur jadi satu didalam pikiran dan hatinya kalau mengingat kembali apa yang telah diperbuat oleh nenek (ibu dari papa Endru) kepada mamanya selama mama menjadi istri papa hingga akhirnya mereka berpisah, tapi setelah berpikir panjang akhirnya Endru mengikuti perkataan Nadin.
Ya, memang Nadin sangat berpengaruh dalam hidup Endru. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Nadin merupakan suatu pesan yang sangat bermakna bagi Endru. Makanya suka ataupun tidak Endru akan selalu mengikuti perkataan Nadin dan sejauh ini Nadin selalu memberikan ajakan positif kepada Endru. Itu juga yang membuat Endru semakin yakin dan percaya pada Nadin.
***
Akhirnya waktu itupun datang, Endru dan keluarganya segera berangkata ke Amerika. Bersamaan dengan itu pula Nadin berangkat bersama mamanya ke Turki untuk menyelesaikan pekerjaan mama.
Sangat susah menghubungi satu sama lain antara Endru dan Nadin di negeri orang. Selain sinyal jarak antar negara juga jadi kendala tapi Endru dan Nadin tetap saling memberi kabar.
Beberapa hari Endru tidak menghubungi Nadin dan Nadin juga susah untuk menghubunginya. Mulai khawatir dan gelisah, Nadin bingung harus bagaimana menghubungi Endru. Sampai waktu yang ditunggupun tiba. Seseorang menghubungi Nadin, mengabari bahwa Endru masuk rumah sakit.
Ternyata orang itu adalah paman Endru tepatnya adik dari papanya Endru. Dia memberitahukan Nadin tentang keadaan Endru, bahwa saat ini Endru berada di Rumah Sakit. Nadin sangat terkejut dan merasa tidak percaya, Nadin mencoba bertanya kembali benarkah orang itu pamannya Endru? Orang itu menegaskan kembali bahwa dia keluarga papanya Endru.
Dia menceritakan Endru bersama mama dan Lianita telah sampai di Amerika tapi karena kondisi Endru yang masih kurang fit ditambah lagi banyak permasalahan yang mesti diselesaikan disana kondisi Endru jadi drop dan saat ini Endru dirawat di Rumah Sakit.
Nadin sangat khawatir,karena Nadin tahu banget Endru kalau udah sakit pasti bakalan drop banget sampai-sampai bisa anfal, tapi Nadin tetap berusaha tenang dan menunggu kabar Endru selanjutnya.
***
Seminggu berlalu. Nadin belum mendapatkan kabar dari Endru sedangkan Nadin masih dalam perjalanan pulang dari Turky dalam perjalanannya Nadin transit dulu di Malaysia dan menginap satu malam disana. Tiba-tiba Nadin mendapatkan chat dari seseorang.
"Nadin sayang, ini aku Endru. Maafin aku ya ga ngasih kamu kabar beberapa hari ini.
Membaca chat dari Endru, Nadin sedikit lega tapi masih belum tenang, lalu bertanya "Dru, kamu kemana aja kok ga ada kabar?"
Endru menjawabnya " Nad, aku baru aja pulang ke rumah, kemaren-kemaren aku di Rumah Sakit".
"Kamu di rumah mana?" Tanya Nadin khawatir.
"Aku masih dirumah nenek, kemaren aku sempat ngedrop karena ngurusin urusan kerjaan disini dan semua aset-aset papa" jelas Endru pada Nadin.
Nadin kembali bertanya "terus gimana keadaan kamu sekarang?"
Endru menjawab "aku gapapa sayang. Kamu tenag aja Endrumu ini masih kuat kok. Asalkan kamu tetap sama aku, sesakit apapun dan sesusah apapun semua bisa aku lewati"
Nadin bingung dengan perkataan Endru, sepertinya ada yang ga beres. " Dru kamu itu kenapa coba cerita sama aku. Jangan buat aku bingung".
Endru memulai semua ceritanya pada Nadin "aku mau cerita sama kamu tapi aku mau kamu tenangin pikiran kanu dulu". "Iya tapi apa Dru" Desak Nadin padanya. "Sebenarnya kemaren itu aku sempat ribut sama keluarga papa. Nenek bersikeras nyuruh aku tetap disini dan meneruskan usaha papa. Udah gitu nenek juga maksain aku buat dijodohin sama anak relasinya papa. Ya aku langsung tolak semuanya".
Mendengar cerita Endru, Nadin langsung buyar, sempat berpikir dirinya memang ga pantes buat Endru, dari segi kehidupan saja jauh berbeda. Nadin cuma gadis biasa sedangkan Endru orang kaya raya.
" Dru, aku rasa itu kesempatan baik buat kamu mestinya kamu terima aja kan kamu, mama dan lianita bisa tinggal disana"jawab Nadin
"Ga... mana mungkin aku tinggalin kamu. Aku udah lama jalin hubungan sama kamu bukan satu ato dua hari Nad. Aku ga suka dipaksa, kemaren kalau kamu ada disini pasti kamu bakal tenangin aku."
"Orang-orang disini cuma mau buat aku ikutin kemauan mereka. Terutama nenek maksa banget supaya aku tetap disini tanpa mikirin mama dan Lianita. Gampang banget dia bilang aku mesti tinggal disini lanjutin usaha papa biar mama dan Lianita balik ke Indonesia."
"Dia juga bilang, siapa itu Nadin, pasti cuma perempuan biasa yang ga berkelas, lebih baik kamu menikah sama orang yang udah nenek kenalkan kemaren, dia cantik, pintar dan juga punya karir cemerlang".
"Kamu tau Nad, ucapan nenek itu yang bikin aku kesel banget. Aku sampe marah banget pas dia nyinggung tentang kamu,kalo ga nginget dia orang tuanya papa mungkin aku udah bunuh dia. Untung aja mama dan lianita langsung meluk aku dan ingetin aku tentang kamu. Jadinya aku mulai tenang tapi aku sesak banget jantung aku sakit banget sampe akhirnya aku sampe dirumah sakit dan baru sadar hari ini,"
Aku langsung minta pulang supaya bisa hubungi kamu lagi"
Nadin bingung dan benar-benar tidak tahu harus bagaimana, hanya menjawab " Dru, aku akan selalu dukung kamu. Mau apapun yang kamu lakukan aku pasti selalu ikutin yang penting kamu bahagia".
Endru langsung menjawab "kamu kebahagiaanku Nad, kalo aku ga pernah kenal kamu mungkin aku udah mati dijalanan, kamu tau bangetkan Nad, kamu hidupku aku ga mau kehilangan lagi Nad".
Nadin terdiam sejenak akhirnya Nadin menenangkan Endru. "Baiklah kalau itu kemauan kamu aku tunggu sampai kamu kembali lagi ke Indonesia. Aku cuma berharap kamu baik-baik disana. Jangan suka marah-marah dan jaga kesehatanmu".
Mendengar ucapan Nadin Endru mulai tenang dan Endru terlelap diheningnya malam.
***
Pagi harinya Endru bersiap-siap ke kantor papanya, kemudian menyelesaikan semua pekerjaan papanya yang tertunda. Ya... memang pada dasarnya Endru sangat berkompeten dalam usaha yang dijalani papanya, mungkin karena darah pebisnis sang papa mengalir ditubuhnya jadi semua bisnis yang dilakukannya lancar.
Disisi lain, paman Endru memperhatikan kinerja Endru dan dia juga berpikir untuk membujuk Endru menetap di Amerika untuk melanjutkan usaha papanya, tapi Endru tidak mau dan memutuskan kembali ke Indoesia.
Sesampainya di Indonesia, Endru mempersiapkan pernikahannya dengan Nadin, Endru telah berencana memberikan kejutan pada Nadin dihari ulang tahunnya untuk membawa keluarganya ke tempat Nadin di Pekanbaru.
Semua udah direncanakan dengan sangat matang, mulai dari pertemuan, hadiah untuk oran tua Nadin dan cincin pertunangan hingga persiapan untuk pernikahan. Semua telah dipersiapkan dengan matang, namun takdir berkata lain. Rencana tinggal rencana dan Endrupun tidak mampu bertahan.
Bab 12: Merelakan
Tiga hari setelah kepulangannya ke Indonesia, ternyata Endru ngedrop lagi dan kali ini Endru tidak berdaya. Endru koma beberapa hari, dokterpun telah menyerah dengan kondisi Endru yang semakin kritis, sampai suatu hari Endru hanya menyebut nama Nadin, keluarga yang menyaksikan keadaan Endru sangat sedih dengan keadaannya dan dokter yang melihat keadaan Endru menyatakan pada keluarga Endru kalau Endru harus dipertemukan dengan orang yang disebutkannya, mungkin saja ada yang ingin disampaikannya.
Benar saja Lianita langsung menghubungi Nadin dan meminta Nadin berbicara di Voice note untuk Endru. Nadin sangat terkejut dengan berita dari Lianita dan langsung menyemangati Endru dengan mengingatkan kembali masa-masa mereka bersama dan menguatkan Endru. Ya... waktu itu ada perubahan, Endru mulai stabil tapi setelah keesokan harinya Endru kritis lagi dan akhirnya Endru menutup mata untuk selamanya.
Hati keluarganya sangat hancur begitu juga dengan Nadin. Semua impian mereka hancur begitu saja. Tidak bisa menerima kenyataan tapi itulah takdir yang telah digariskan padanya. Mau tidak mau harus terima dengan keadaan. Akhirnya pemakaman Endru dijalankan tapi Nadin tidak bisa menghadiri pemakaman Endru karena waktu itu pandemi dan tidak bisa keluar kota.
Nadin hanya menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Endru. Mereka bisa maklum dan Nadin masih berhubungan baik dengan keluarga Endru. Terutama Lianita. Sejak Endru pergi Lianita selalu menghubungi Nadin dan menganggap Nadin sepeti kakaknya sendiri.
Setelah dua tahun kepergian Endru, Nadin benar-benar tidak bisa fokus dalam hidupnya. Rasa yang telah trrjalin begitu lama membuat Nadin begitu kehilangan saat Endru telah meninggalkannya. Hidup Nadin terasa kosong.
Bahkan Nadin masih menganggap Endru masih ada menemaninya, untuk mengisi kekosongan hatinya Nadin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Setelah dua tahun kepergian Endru, Nadin benar-benar tidak bisa fokus dalam hidupnya. Rasa yang telah terjalin begitu lama membuat Nadin begitu kehilangan saat Endru telah meninggalkannya. Hidup Nadin terasa kosong.
Bahkan Nadin masih menganggap Endru masih ada menemaninya. Memang ini terkesan berlebihan tapi mungkin itulah cinta sejati yang tidak akan hilang begitu saja. Benar tidak saatnya untuk tetap berada dalam keterpurukan tapi setiap orang punya cara sendiri menikmati cintanya.